Kenawhy?

918 Words
Fairel berjalan menyusuri pantai, menikmati air yang menyentuh kakinya. Lusa ia dan kedua temannya harus kembali ke Jakarta, dan rasanya Fairel tidak ingin pulang, masih betah berada di pantai yang penuh keindahan itu. Tapi harus bagaimana lagi? Mereka harus kembali bekerja karena memang itu sudah menjadi tanggung jawab mereka. Apalagi Adli yang sudah mempunyai istri, tidak bisa seenaknya pergi. Dari jarak dua puluh kilometer, Fairel melihat pemandangan yang menyegarkan mata. Dimana, terlihat sepasang suami-istri tengah bercanda ria sembari bermain air pantai. Sang wanita mengenakan dress panjang lengkap dengan cadar yang menutupi sebagian wajahnya. Sedang sang pria terlihat mengenakan pakaian santai. Tanpa Fairel sadari, kedua sudut bibirnya melengkung indah menambah ketampanannya. Hatinya menghangat melihat keromantisan sederhana pasangan itu. Tidak ada dosa yang menyelimuti, melainkan pahala yang terus mengalir. Tak ingin melewatkan momen itu, Fairel segera membidikkan kameranya ke sana. Dalam hati Fairel, ia sudah ingin menikah. Namun sepertinya, Allah masih merencanakan pertemuan indah dengan calon kekasih halalnya. Dan yang mesti Fairel lakukan sebagai hamba-Nya harus selalu memantaskan diri menjadi lebih baik agar disandingkan dengan yang baik pula, begitulah janji Allah. Fairel melirik arloji yang melingkar dipergelangan tangannya. Sebentar lagi waktu ashar tiba. Ia pun melangkahkan kakinya menuju penginapan. Saat sedang serius berjalan sambil melihat hasil foto di kamera, tiba-tiba tubuhnya bertubrukan dengan seseorang. Namun bukan dirinya yang terjatuh melainkan orang itu. Ponsel serta power bank yang dibawanya pun jatuh di atas pasir putih. "Aduh, maaf ya saya nggak sengaja," ucap orang itu penuh rasa bersalah sembari mengambil ponsel serta power bank-nya. Tidak sampai sepuluh detik Fairel menatap seorang perempuan yang tengah berjongkok di hadapannya. Buru-buru ia mengalihkan pandangan ke arah lain agar tidak terjadi zina mata. "Sekali lagi saya minta maaf ya, saya be---," ucapan perempuan itu terhenti begitu mendongak untuk menatap lawan bicara yang hanya berdiam diri tak berniat membantunya. Detik selanjutnya ia terkejut saat tahu siapa yang bertabrakan dengannya barusan. "Lo lagi?!" Fairel menoleh sekilas dengan raut wajah datar. Sebenarnya ia sudah sadar siapa perempuan itu. Zhaira. "Dunia bener-bener sempit ya? Bosen gue ketemu lo terus." Zhaira langsung berdiri ketika ponsel serta power bank-nya sudah dalam genggaman. Kedua matanya menatap Fairel sebal. "Jangan-jangan selama ini lo ngikutin gue, iya?!" Fairel menarik napasnya dalam-dalam. "Saya minta maaf atas kejadian tadi. Kalau saja saya tidak terlalu fokus sama kamera, mungkin insiden kecil ini tidak akan terjadi," ucapnya tanpa menatap Zhaira. Zhaira menatap jengkel pada laki-laki di depannya itu. "Assalamualaikum...." Fairel mengambil langkah untuk pergi ke resort. Namun, secara tiba-tiba Zhaira menarik pundak Fairel sekuat tenaga hingga laki-laki itu membalikan badannya. Buru-buru Fairel menepis tangan Zhaira dari atas bahunya. "Lo tuh kenapa sih?! Sebegitu jijiknya ya lo sama gue? Sampai kalau ngomong lo nggak pernah natap gue," ucap Zhaira dengan nada tak suka. Fairel tersenyum miring. "Jadi kamu berharap ditatap sama saya?" Skakmat. Mulut Zhaira terbungkam mendengar ucapan Fairel. Sialan! Fairel kembali melanjutkan langkahnya, meninggalkan Zhaira yang masih berdiam diri di tempat dengan telapak tangan berada di atas bibirnya. "Bodoh! Bodoh! Ini mulut nggak punya sopan santun banget, sih! Main seenaknya ngomong kayak gitu sama dia. Ish, bisa besar kepala itu cowok," gerutu Zhaira seraya menepuk-nepuk pelan bibirnya. ***** Angin malam berhembus menerpa lembut kulit tiga lelaki yang sedang duduk di halaman penginapan. Di sana, Fairel duduk sembari memangku gitar yang ia sewa. Perlahan mulai memetik senar gitar sehingga tercipta alunan nada yang indah. Ditambah lagi oleh suara mereka yang merdu, membuat suasana malam menjadi semakin syahdu. Andai ada keajaiban Ingin ku ukir kan Namamu di atas bintang-bintang angkasa Agar semua tahu Kau berarti untukku Selama-lamanya kamu milikku Namun kusadari diriku Takkan mampu selalu Bahagiakan kamu Tapi akan diperjuangkan untukmu yang terhebat Kekasih impian ***** "Ish, apa sih namanya? Jangan-jangan dia nggak punya lagi," gerutu Zhaira menatap ke arah layar ponselnya. Dua ibu jari tangannya terus menari di atas keyboard. Salsa yang duduk di sebelahnya menatap heran pada Zhaira. Pasalnya, sudah lebih dari sepuluh menit gadis itu terus menggerutu pada ponselnya. "Atau pakainya 'Y' kali, ya?" gumam Zhaira. "Lo lagi apa sih, Zha?" tanya Salsa mencoba mengintip apa yang tengah temannya lakukan itu. Zhaira mendorong pelan kepala Salsa agar menjauh darinya. "Kepo banget sih lo." "Gue emang kepo, Zha. Daritadi gue nggak dianggap sama lo, malah fokus terus main hape," ucap Salsa sembari mencebikkan bibirnya. Zhaira melirik sekilas pada Salsa, selanjutnya kembali fokus pada ponsel. "Sebentar, Sal. Gue lagi dilema nih, masa daritadi nggak ketemu-ketemu." Salsa memutar bola mata jengah. Ia menatap ke setiap penjuru pesawat. Orang-orang tengah tidur. "Gue mau pipis dulu ah," ucap Salsa. "Ya udah sana, lo nggak perlu kawalan dari gue, kan?" Salsa mendengus kesal. Lantas berjalan menuju toilet sambil menggerutui Zhaira yang tega menduakannya dengan benda mati. Setelah mengeluarkan apa yang ia tahan. Salsa kembali duduk di bangkunya. Ia menatap malas pada Zhaira yang masih saja fokus pada benda pipih itu. "Yeay! Akhirnya kemmpphhh---" Buru-buru Salsa membekap mulut Zhaira yang seenaknya menjerit senang. "Mulut lo, Zha." Zhaira menurunkan tangan Salsa dari atas mulutnya lalu menyengir lebar menunjukkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi. "Gue berhasil," pekiknya tertahan. "Iya, iya, lo berhasil. Selamat ya," ucap Salsa hanya untuk menambah kesenangan Zhaira, meski ia sendiri tidak tahu apa yang berhasil. Setelahnya, Zhaira memasukan ponsel ke dalam tas kecil yang berada di atas pahanya. Kemudian mencari posisi nyaman, tak lama setelahnya ia terlelap dalam tidur. Salsa yang saat itu hendak menyusul Zhaira untuk tidur, tiba-tiba ponselnya berdering menandakan adanya panggilan masuk. "Tante Sarah?" gumam Salsa sebelum mengangkat panggilan masuk dari Mami Zhaira. "Halo, Tante. Kenapa?" "...." Refleks, Salsa menutup mulutnya yang menganga tak percaya dengan apa yang ia dengar. Air matanya mengalir deras di pipi. Dengan gerakan slow motion, ia menoleh menatap Zhaira yang terlelap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD