2. Bryant Thompson (2)

1472 Words
Chapter 2 : Bryant Thompson (2) ****** KEITH mengarahkan kepalanya ke arah pintu masuk, mengode teman-temannya. Dokter Gray dan Pelatih Andrew lalu menggiring mereka semua untuk masuk setelah mengeluarkan seluruh barang-barang mereka dari dalam mobil. “I’ll guide you,” kata Keith sekali lagi, sebelum membuka pintu utama vila itu. “Aku akan menunjukkan kalian ruangan-ruangan di vila ini.” “Tawaran yang bagus.” Dokter Gray menyetujui. Mereka memang perlu sedikit tour di vila yang tinggi dan luas ini, terutama di ruangan-ruangan yang paling dibutuhkan, misalnya kolam renang, dapur, kamar mandi, ruang kesehatan (untuk Dokter Gray), kamar, dan ruang bersantai. Namun, agaknya Keith berencana untuk memberitahu seluruh ruangan yang ada di vila itu. ****** Hari sudah malam. Mereka sampai tadi sore, tour sebentar di dalam dan di luar vila, lalu meletakkan barang-barang mereka di dalam kamar-kamar yang sudah disediakan oleh Keith. Setelah itu, mereka semua membersihkan diri dan menyiapkan makan malam bersama-sama. Vila itu sudah dilengkapi dengan banyak bahan makanan, jadi mereka tidak perlu khawatir selama sebelas hari kedepan. Fun fact, vila milik Keluarga Saunders ini ternyata juga memiliki gym! Jadi, pembagian kamar mereka adalah: Kamar pertama, di lantai satu: Thomas, Lucas, Ibarra, dan Chris. Kamar kedua, di lantai satu: Russel, Kane, Bryant, dan Castro. Kamar pertama, di lantai dua: Austin dan Keith (for your information, Keith adalah sahabatnya Austin, jadi Keith selaku pemilik vila ini tentu mengajak Austin untuk tidur sekamar dengannya saja daripada dia canggung tidur bersama pelatih dan dokter). Kamar kedua, di lantai dua: Pelatih Andrew dan Dokter Gray. Setelah makan malam, mereka semua (minus Pelatih Andrew dan Dokter Gray) langsung bersama-sama pergi ke lokasi latihan utama mereka selama sebelas hari ke depan: kolam renang. Kolam renang vila ini terletak di salah satu ruangan yang ada di lantai satu. Indoor pool. Kolam renang tersebut sudah dilengkapi dengan tali lintasan, balok start, dan papan sentuh pengukur waktu otomatis. Mereka semua masuk ke sana dan duduk di kursi-kursi lipat yang ada di pinggir kolam. Ada juga yang duduk di lantai dan kakinya masuk ke dalam air kolam. Hari ini mereka berencana untuk istirahat dulu sebelum bertempur latihan pada keesokan harinya. Mereka meminum jus jeruk dan memakan beberapa snack (yang tentu saja atas izin pelatih) seraya mendengarkan musik, mengobrol soal turnamen yang sebentar lagi akan diadakan, bertukar informasi seputar renang, dan juga bertukar informasi seputar kemampuan mereka masing-masing. Mereka juga mengobrol tentang kemampuan teman-teman setim mereka yang tidak ikut latihan bersama mereka saat ini. Di dalam pembicaraan yang berbobot itu, mendadak Castro bersuara dengan sedikit kencang guna mengalihkan perhatian semua orang. “Hei, guys!” ucapnya seraya cengar-cengir tak keruan. Semua orang sontak menoleh ke arahnya. “Jangan beritahu Coach Andrew dan Dokter Gray, oke?” katanya lagi seraya menempelkan jari telunjuknya ke depan bibirnya. “Aku membawa alkohol bersamaku. So...let’s drink!” Kane menganga. Pemuda itu pun tertawa. “You whaaaaaatt?!” “Damn!” sahut Bryant. “Ide bagus!” Russel menyela, “Heh. Kalian ke sini ingin latihan atau ingin bermain-main?” Thomas lalu menepuk pundak Russel dan tertawa. Ia pun menjawab Castro seraya menggeleng, masih tertawa. “Cas, kau sudah gila.” Castro, Kane, dan Bryant semakin tertawa kencang. Austin lalu membuka suara, “Kita ini atlet. Alkohol akan memperlambat gerakan kita. Jangan macam-macam, kalian.” “Ototmu juga akan sulit untuk berkontraksi dan akan kehilangan kekuatannya. Jangan harap kita akan menang kalau kau mengikuti nafsumu untuk minum alkohol,” ucap Ibarra, nada bicara pemuda itu terdengar seperti ada template-nya sendiri. Bicaranya kaku, nadanya tertata, seperti terbiasa dilatih di militer. Jadi, dia kurang gaul. Bicaranya kurang luwes. “Astaga, hanya untuk hari ini saja, lho!” ucap Castro. “Besok kita akan latihan. Hari ini kita belum mulai latihan, apa salahnya sehari saja kita cheating?” “Kalau kau minum alkohol malam ini, besok pagi kau akan merasa pengar. Tidak fit untuk latihan. Kita akan jogging dan latihan fisik besok pagi,” sahut Chris. “Jangan membuat tim kita kalah karena kebiasaan burukmu, Cas,” timpal Keith. “Kuharap kau membuang alkohol yang kau bawa.” Castro pun akhirnya memutar bola matanya. “Iya, deh, iya. Teman-temanku ini sangat ketat.” Thomas, Bryant, dan Kane tertawa. “Karena kami ingin menang,” jawab Lucas. Peserta yang lain (selain pendukung Castro) langsung mengangguk setuju. Castro melihat mereka-mereka yang mengangguk itu dan ia sadar bahwa ia telah kalah suara. Mendengkus, akhirnya Castro pun mengangkat kedua tangannya ke atas, pertanda bahwa ia menyerah. “Oke, oke. Aku kalah. Akan kubuang alkoholku.” Kane menepuk pundak Castro, bermaksud memintanya untuk sabar, tetapi wajah pemuda itu tampak menahan tawa. Obrolan kesepuluh peserta itu pun kembali ke default, yaitu tentang perlombaan, porsi latihan yang kira-kira akan diberi oleh Coach Andrew, dan tentang kelebihan serta kekurangan mereka masing-masing di dalam renang. ****** Malam itu, Chris terbangun karena mendadak merasa haus. Pemuda itu kemudian separuh bangkit, menyingkap selimutnya, lalu meraba ponselnya yang ia letakkan di balik bantalnya sebelum ia tidur. Saat telah mendapatkan ponsel tersebut, Chris lalu menghidupkan ponsel itu sejenak. Cahaya dari layar ponsel itu sempat membuat matanya agak sakit. Silau. Oh. Ini jam dua pagi. 2.30 AM. Chris lalu melihat ke samping. Di sana ada Thomas yang masih terlelap dengan pose yang berantakan. Ia lalu melihat ke arah satu ranjang lagi yang berada tidak jauh dari ranjang mereka, di mana ada Ibarra dan Lucas di sana yang juga sedang tertidur pulas. Chris bangkit, turun dari ranjang, dan mulai berjalan ke luar. Sayangnya, ia lupa menutup pintu kamar sehingga pintu kamar itu terbuka separuh. Namun, ia tak begitu memedulikannya, toh ia akan kembali lagi setelah minum di dapur sebentar. Lorong yang ia lewati tampak sangat sepi. Agaknya, semua orang memang sudah tidur karena esok hari harus bangun pagi. Berjalan di luar kamar sepertinya merupakan ide yang cukup buruk apabila kau ke luar di jam dini hari seperti ini, soalnya angin malam tetap terasa menusuk walaupun vila ini adalah gedung yang besar dan tinggi. Ini bukan tanpa sebab. Vila ini berada di lokasi yang dipenuhi dengan pertanian dan perbukitan. Tentu akan terasa dingin di malam hari. Chris menyilangkan tangannya di depan d**a, lalu ia menggosok-gosok lengannya sendiri. Langkahnya ia percepat; ia tahu bahwa posisi dapur terletak agak jauh dari kamar mereka. Dia harus melewati ruang untuk kolam renang dan juga ruang tamu. Jadi, di lantai satu rumah itu terdapat ruang santai atau ruang tamu yang sangat luas di tengah-tengah. Ada dua sayap di samping kanan dan kiri ruang tamu itu. Sayap kanan adalah dapur dan kamar rombongan Russel, sedangkan sayap kiri adalah kamar rombongan Chris dan ruangan untuk kolam renang. Lantai dua juga disusun sedemikian rupa. Oh, ya, ruangan kesehatan untuk Dokter Gray akan ada di sebelah kamar tidur yang ditempati oleh Pelatih Andrew dan Dokter Gray. Saat baru saja ingin melewati ruangan untuk kolam renang, Chris yang sedang terburu-buru itu mendadak terhenti. Ia melihat pintu kolam renang itu sedikit terbuka. Ini cukup aneh, soalnya ia ingat Keith tadi sudah mematikan lampu dan menutup pintu ruangan itu saat mereka semua keluar dari sana. Chris lalu mendekat ke pintu ruangan tersebut—bermaksud untuk menutup pintunya kembali—saat ia menyadari bahwa ada sesuatu yang janggal. Lampu ruangan itu hidup seluruhnya. Namun, bukan. Bukan hanya itu. Karena lampunya hidup, Chris jadi bisa melihat ke dalam ruangan itu dengan jelas. Ada sesuatu yang mengambang di permukaan air. Seperti ada topi berwarna hitam—topi renang—dan…baju berwarna krem? Itu kulit atau baju renang? Tunggu. Pakaian siapa yang tertinggal di sana? Chris pasti salah lihat. Pemuda itu mengucek-ngucek matanya, ia betul-betul mengira bahwa ia pasti sedang mengantuk…dan hanya melihat hal yang seharusnya tidak ada di sana. He’s so sure that he’s seeing things, to be more precise. Namun, sayangnya ia masih melihat sesuatu itu, bahkan saat ia sudah mengucek matanya berkali-kali dan memfokuskan pandangan matanya untuk melihat dengan lebih jelas. Sesuatu itu masih ada di sana. Mengambang. Dengan cepat Chris langsung membuka pintu ruangan kolam renang tersebut dan berjalan mendekati kolam renang. Ia ingin memastikan bahwa penglihatannya memang tidak salah. Bahwa ia tidak sedang mengantuk; bahwa ia tidak sedang berhalusinasi. Setelah nyaris dua meter lagi Chris sampai di pinggiran kolam renang, langkah pemuda itu terhenti. Jantungnya serasa hampir tercelus hingga ke perut. Matanya memelotot, wajahnya lantas pucat. Kaki dan tangannya mendadak terasa kaku. Ia merinding sebadan-badan. Tak ayal, Chris pun berteriak kencang. “AAAAAAAAAAAARRRGHHHHH!!!!” Chris terjatuh. Ia mencoba untuk beringsut ke belakang—menarik dirinya untuk keluar dari ruangan itu—menuju ke pintu meski dengan rasa takut dan terkejut yang sedemikian tinggi. Ia ingin memberitahukan hal ini kepada teman-temannya. Ia harus membangunkan semua orang; ini urgent! Urgent! Teman-temannya harus bangun sekarang juga, lalu datang ke sini dan melihat apa yang ada di permukaan kolam. Karena di depan sana, di permukaan kolam itu, terdapat Bryant yang tubuhnya sudah mengambang dan terlihat kaku. Posisi tubuhnya tertelungkup, sementara wajahnya mengarah ke pintu, ke arah Chris. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD