Chapter 3 :
Lucas Anguiano (1)
******
ADA empat orang polisi yang datang ke vila milik Keluarga Saunders. Jam sudah menunjukkan hampir pukul tiga pagi dan polisi sudah memulai penyelidikan mereka. Dua orang polisi mulai membentangkan police line untuk mengelilingi daerah kolam renang. Jenazah Bryant sudah diletakkan di pinggiran kolam dan diselimuti dengan sebuah kain berwarna putih.
Tepat setelah Chris berteriak, semua orang sontak terbangun dari tidur mereka, terutama orang-orang yang berasal dari kamar yang sama dengan Chris. Chris tidak menutup kembali pintu kamar mereka tatkala pria itu ke luar. Jadi, suara teriakan Chris benar-benar terdengar oleh mereka semua yang ada di kamar itu.
Semua orang yang mendengarkan teriakan histeris Chris itu lantas melompat dari tidur mereka, panik, dan langsung berlari keluar dari kamar. Ada peserta-peserta yang sempat membangunkan teman-temannya yang tidak terbangun—karena tidurnya seperti tidur mati—lalu mereka semua akhirnya pergi dengan terburu-buru demi menghampiri asal suara, yaitu dari arah kolam renang.
Begitu mereka sampai di kolam renang dan melihat apa yang ada di sana, kontan mereka semua terkejut setengah mati. Ada yang berteriak, ada yang terdiam kaku seraya melebarkan mata, dan ada yang menatap mayat di permukaan kolam dengan wajah yang pucat.
Pelatih Andrew yang melihat keadaan itu jelas langsung panik. Dia berjongkok dan langsung memegangi bahu Chris, lalu menanyakan tentang apa yang sebenarnya telah terjadi.
“A—aku—aku ingin ke dapur. Aku hanya ingin minum!” teriak Chris dengan suara yang bergetar hebat. “Namun, aku melihat pintu kolam ini sedikit terbuka. Lampunya hidup. Saat aku masuk ke dalam sini, Bryant—Bryant sudah mengambang di kolam!”
Mendengar itu, Pelatih Andrew dan Dokter Gray sontak membulatkan mata. Dengan cepat Dokter Gray langsung menenangkan Chris beserta semua peserta lain yang ada di sana, sementara Pelatih Andrew langsung menelepon polisi dan kerabat Bryant.
Polisi langsung datang sekitar sepuluh menit kemudian; mereka langsung diarahkan ke kolam renang. Para polisi itu lalu memerintahkan semua orang untuk tetap berada di tempat. Tidak ada yang boleh pergi dari sana demi kepentingan penyelidikan.
Saat ini semua peserta serta Dokter Gray dan Pelatih Andrew tengah berdiri di luar pintu ruangan kolam. Mereka menunggu di koridor itu dengan gelisah karena tentunya mereka masih panik bukan kepalang. Beberapa dari mereka terdiam dengan wajah yang pucat.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi?
For God’s sake, mereka baru saja sampai di vila ini dan sudah ada kejadian seperti ini. Bryant, teman mereka, sudah meninggal karena tenggelam di kolam renang! Mengingat bahwa Bryant adalah atlet renang, tenggelam di kolam renang tentu adalah skenario yang mustahil. Namun, lihatlah apa yang terjadi!
Setelah menunggu selama beberapa waktu, tiba-tiba pintu ruangan kolam renang itu pun terbuka. Keluarlah seorang polisi dari dalam sana, seorang polisi yang tampaknya ditugaskan untuk memimpin penyelidikan ini. Semua orang yang melihat polisi itu keluar dari ruangan pun langsung berkumpul, mereka semua berdiri tegap dan menghampiri polisi tersebut. Menunggu apa yang akan polisi tersebut katakan.
Pelatih Andrew lantas mendekati polisi itu. Ia dapat melihat name tag di seragam polisi itu dan dari sana dia tahu bahwa nama polisi tersebut adalah Mateo Benjamin.
“Bagaimana, Pak?” tanya Pelatih Andrew dengan khawatir. Kedua matanya melebar. “Apa yang sebenarnya terjadi?”
Mr. Benjamin pun melihat ke arah Pelatih Andrew. Polisi yang bertubuh agak pendek dan berkumis itu pun lantas berkata, “Apakah Anda pelatih mereka?”
“Yes—yes, I am,” jawab Andrew cepat. Saat dia menelepon polisi tadi, dia menjelaskan semua situasinya secara singkat dan mengatakan bahwa dirinya bertugas sebagai pelatih dari semua peserta yang ada di sini. “Apa yang terjadi, Pak?”
Mr. Benjamin mengangguk. Ia pun mengulurkan tangannya untuk menunjuk ke depan—ke arah ruang tamu—lalu ia mengarahkan mereka semua untuk pergi ke sana. “Ayo kita berbicara di sana. Semuanya tolong duduk di sana.”
“Yes, Sir,” jawab Dokter Gray. Dokter itu pun mulai mengarahkan seluruh peserta untuk berjalan ke ruang tamu dan duduk di sana. “Let’s go, all of you.”
Mr. Benjamin yang baru saja mau berjalan mengikuti mereka, tiba-tiba dipanggil oleh rekan sesama polisinya. Rekannya itu tampak sedang membisikkan sesuatu, kemudian Mr. Benjamin mengangguk. Tatkala Mr. Benjamin kembali menghadap ke depan, dia langsung melangkah menghampiri seseorang di depan sana yang sedang mengenakan baju berwarna biru langit, yaitu Pelatih Andrew.
“Oh, wait, Mr. Cervantez!” panggil Mr. Benjamin, dia sedikit berlari untuk menghampiri Pelatih Andrew, lalu ia menepuk pundak pria itu. Pria itu—yang dia pikir adalah Andrew—pun berbalik.
Namun, ternyata itu bukanlah Pelatih Andrew. Itu adalah salah satu peserta turnamen renang, Lucas Anguiano (tetapi Mr. Benjamin belum tahu siapa namanya). Mr. Benjamin kontan terkejut, matanya sedikit melebar.
“Oh, forgive me. Kupikir kau adalah Pelatih Andrew,” ujar Mr. Benjamin, matanya masih sedikit membulat. “Silakan lanjut berjalan.”
“Aah, mungkin karena kami memakai kaus dengan warna yang sama hari ini, Pak,” ujar Lucas dengan ramah, tetapi wajah Lucas masih terlihat pucat. Mungkin karena masih shock dengan kejadian ini. Well, itu sangat normal.
“No no no.” Mr. Benjamin menggeleng. “Bukan hanya itu. Postur tubuh kalian sama.”
Lucas mengangguk perlahan, sedikit menganga. Matanya melebar. Dia tak menyadari hal itu selama ini. “Ah…begitu, ya.”
“Ayo ke sana, kalau begitu,” ajak Mr. Benjamin seraya menepuk punggung Lucas. “Aku akan menjelaskan tentang apa yang sudah kulihat tadi.”
Lucas pun mengangguk. Mereka berdua akhirnya berjalan bersama menuju ke ruang tamu vila dengan Lucas yang berjalan di depan. Mr. Benjamin memperhatikan punggung Lucas dari belakang seraya menyatukan alis. Matanya sedikit memicing; dia melihat tubuh Lucas dengan saksama. Postur Lucas dan Andrew benar-benar terlihat sama.
Ketika sudah sampai di ruang tamu, Lucas pun ikut duduk di salah satu sofa panjang yang ada di sana bersama seluruh peserta yang lain. Mereka semua sudah duduk dan menunggu Mr. Benjamin dengan tatapan serius. Dahi mereka berkerut.
Tatkala Mr. Benjamin sampai di sana, polisi tersebut langsung mengambil posisi duduk di sofa yang berseberangan dengan mereka. Ia duduk, lalu menghela napasnya dan menatap semua orang yang ada di sana satu per satu. Tatapannya seakan menelusuri mereka semua, mulai dari barisan sofa kanan, lalu sofa tengah, dan akhirnya ke sofa kiri. Semuanya diperhatikan oleh Mr. Benjamin tanpa tertinggal satu orang pun; mereka semua seolah sedang diabsen oleh Mr. Benjamin dengan menggunakan tatapan matanya.
Setelah selesai memperhatikan mereka semua, Mr. Benjamin pun mulai bersuara, “Maaf, aku ingin bertanya terlebih dahulu. Apakah di vila ini tidak ada CCTV?”
Keith, selaku anak dari pemilik vila itu, menghela napas. “Sayangnya, tidak ada, Pak. Keluargaku menganggap lingkungan di sini aman. Kami tidak meletakkan harta apa-apa juga di dalam sini. Jadi, kami tidak memasang CCTV di sini.”
Mr. Benjamin diam, kepalanya sedikit tertunduk. Dia juga jadi menghela napas; dia menyatukan alisnya, berpikir dengan intens. Kalau tidak ada CCTV, dia tidak bisa memastikan kebenaran dari kesaksian orang-orang yang ada di sini.
Akan tetapi, meskipun sempat terdiam sejenak, Mr. Benjamin tetap melanjutkan pembicaraan. Pria paruh baya itu mengangkat kepalanya kembali; dia lagi-lagi memperhatikan satu per satu orang yang ada di depannya, lalu mulai berbicara, “Jadi, kalian semua adalah atlet renang?”
Semua peserta yang ada di sana pun mengangguk. Russel yang dahinya masih berkerut pun mulai menjawab, “Ya. Kami semua adalah atlet renang. Kami akan mengikuti turnamen nasional sebentar lagi, mewakili Sonoma.”
Mr. Benjamin pun mengangguk, tetapi dalam tempo yang lambat. Dia mencoba untuk mencerna segala situasinya, tetapi dia melakukan itu seraya melihat ke arah Russel dengan tatapan penuh selidik.
“Lantas apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Mr. Benjamin, pria itu menaikkan sebelah alisnya. “Bukankah seharusnya kalian ada di Sonoma?” []