9~A Mafia Obsession

1217 Words
Fania berlari dengan menyeret kedua kakinya yang terluka karena terekspos langsung dengan aspal. Keringat yang sudah mengalir membasahi wajah nya juga rambut hitam lebat nya,membuat Fania yang terus berusaha berlari di tengah gelap nya gulita malam terlihat seperti seorang perempuan yang sedang berusaha melarikan diri dari para perampok. Rasa lelah sudah nencapai maksimum tubuh nya, membuat deru nafas Fania semakin tak beraturan. Saat tak mendengar lagi suara jejak sepatu yang mengikuti nya membuat Fania berhenti sejenak untuk memulihkan tubuh nya dari rasa lelah. Dan sekarang diri nya tidak tauh berada di mana di tengah jalanan yang sepi tanpa menemukan apa - apa. Tidak ada rumah, kendaraan, ataupun cahaya. Hanya ada pohon yang lebat, lampu jalanan yang temaram, dan jalanan panjang yang beraspal. Fania tidak bisa memungkiri bahwa diri nya ketakutan berada si sini. Seorang perempuan di tengah gelpnya gulita yang tak memiliki uang dan tenaga yang sudah terkuras habis. Mangsa yang sangat cocok menjadi korban kejahatan kriminal. Fania mengusap lengan nya saat pikiran - pikiran menakutkan mulai merasuk ke dalam kepala nya. Ingin rasa nya diri nya kembali berbalik ke mansion lelaki bermata amber itu, setidak nya di sana jauh lebih aman di banding saat ini. Meskpun Fania sangat ingin hal tersebut, diri nya tidak akan bisa. Tempat ini sangat terasa asing bagi nya. Fania bahkan tidak tauh jalan kembali kedalam mansion. Meskipun Fania ingat jalan kembali kedalam mansion tersebut, dirinya tetap tidak akan kembali dengan kaki nya sendiri. Itu melukai ego nya. Merasa tidak nyaman untuk berlama - lama istrahat di tempat tersebut membuat Fania kembali melangkahkan kaki nya. Tetapi, kali ini diri nya hanyalah berjalan tidak berlari. Mengikuti jalanan aspal yang ada di depan nya, tanpa tauh kemana diri nya melangkah. Tapi, Fania yakin ini lebih baik daripada hanya berdiam diri menunggu pagi menjelang. Aku berhasil... Pergi. Breanch yang tengah menyesap kopi milik nya di tengah malam dengan mata yang tak pernah lepas dari laptop di depan nya, merasa terganggu saat ponsel nya berdering. Tidak menunggu lama Breanch menarik ponsel nya untuk mengetahui nomor pemilik yang menelphone nya di tengah malam begini. Dan itu adalah nomor dari Erthan orang kepercayaan nya. "Tuan, nona Estefania melarikan diri." Itu adalah kalimat pertama yang di dengar nya dari orang kepercayaan nya. Membuat Breanch menutup kedua bola mata nya, meredam kemarahan nya. "Temukan dia." Dan panggilan diputuskan. Hingga laptop juga gelas berisi kopi tersebut jatuh dan pecah akibat dorongan tangan dari Breanch. "Kau. Aku sudah memperingatkan mu. Dan kau melanggar nya." Geram Breanch dengan kedua tangan yang mengepal kuat. "JAVAS JAVAS JAVAS !!!" teriak Breanch memanggil nama pelayan nya, hingga di lihat nya lelaki bertubuh jangkung dan kurus itu berdiri di depan nya dengan tubuh gemetar menahan ketakutan. "Y-ya tuan." sahut Javas dengan susah payah. "Aku akan pulang malam ini ! Siapkan semua nya." perintah Breanch membuat Javas sang pelayan mengangguk patuh lalu berbalik pergi dengan setengah berlari dari hadapan tuan nya. Di lain tempat Fania yang sudah menghabiskan perjalanan selama 3 setengah jam. Akhir nya tiba di kota. Sekarang aku harus bagaimana ? Pikir Fania bingung. Diri nya tidak tauh harus kemana lagi setelah ini. Fania sadar diri nya kini mengundang tatapan bingung dari orang - orang di sekitar nya. Melihat pakaian Fania yang acak - acakan juga keringat yang bercucuran membasahi tubuh nya di tambah dengan kaki nya yang tidak memakai alas kaki apapun, membuat diri nya menjadi pusat perhatian. "Permisi." Tanpa sadar Fania yang masih mengamati sekeliling nya tersentak kaget saat merasakan tepukan di pundak nya. "Anda baik - baik saja nona ?" tanya seorang pria paruh baya yang Fania yakin pria berumur 45 tahun itu bekerja sebagai sopir Taxi. Itu di lihat nya dari pakaian yang di pakai pria tersebut. Fania menatap wajah pria paruh baya tersebut dan Fania yakin pria di depan nya ini orang yang baik. Tanpa sadar Fania menggenggam kedua tangan pria tersebut, membuat pria tersebut tersentak kaget. "Tolong saya." pinta Fania dengan wajah yang memelas. "Apa anda perlu di antar ke kantor polisi ?" tanya pria di depan nya dan dengan cepat Fania menggelengkan kepala nya. Pria tersebut membukakan pintu Taxi untuk Fania lalu mempersilahkan Fania masuk ke dalam. Fania memberikan alamat tempat yang akan di tuju nya kepada pria tersebut, yang langsung di angguki oleh pria paruh baya di depan nya. "Tapi, apa anda benar - benar tidak perlu di antar ke kantor polisi ?" "Tidak. Tolong antar saja saya ke alamat tersebut." Sekarang diri nya berdiri di depan pintu apartemen. Tidak. Ini bukan apartemen nya tetapi, apartemen milik Rio, sahabat nya. Fania sudah memencet bel dan mengetuk pintu apartemen di depan nya tetapi, pintu di depan nya ini belum juga terbuka - buka. Membuat Fania merasa ketakutan juga gelisah. Fania hanya berjongkok di depan pintu apartemen itu dengan kepala menunduk. Diri nya tidak tauh harus pergi kemana lagi, jika bukan di Rio. Cukup lama Fania dengan posisi itu, memikirkan segala sesuatu yang tiba - tiba saja masuk kedalam kehidupan nya dalam waktu yang cepat. "Fania ?" Hingga sebuah suara yang di tunggu - tunggu nya merasuk ke dalam indera pendengaran nya, membuat Fania mendongakan kepala nya. "Fania itu kau! " pekik Rio dengan keras lalu setengah berlari menghampiri perempuan di depan nya, membantu Fania berdiri dari posisi jongkok nya. "Rio..." lirih Fania mulai menetaskan air mata nya. Melihat sahabat nya menangis membuat Rio menarik perempuan di depan nya ke dalam pelukan nya. Mengelus rambut nya mencoba menenangkan sahabat nya. "Ayo, kita masuk dulu." Rio mulai merangkul Fania masuk kedalam apartemen milik nya setelah pintu tersebut terbuka. "Tunggu di sini. Aku akan mengambilkan mu air putih." Dengan gelengan kepala Fania kembali menarik tangan Rio membuat lelaki di depan nya menghela napas lalu ikut duduk dan kembali memeluk sahabat nya. Membiarkan sahabat perempuan nya menangis di dalam pelukan nya. Dengan baju yang sudah mulai di basahi oleh air mata Fania. Breanch berjalan keluar dari bandara. Sekarang sudah jam 2 a.m dini hari. 5 jam perjalanan yang di lalui nya membuat diri nya benar - benar lelah. Tetapi, mengingat Fania yang memberontak melawan nya membuat rasa lelah Breanch terbakar habis. Erthan, orang kepercayaan Breanch atau bisa di bilang tangan kanan nya. Dengan sigap berjalan menghampiri Breanch yang di ikuti dengan beberapa pengawal lain nya di belakang Erthan. Breanch berhenti berjalan ketika orang kepercayaan nya berada di depan nya membungkuk di ikuti dengan pengawal lain nya. "Saya senang anda kembali dengan selamat." ucap Erthan setelah selesai membungkuk. "Dimana perempuan pemberontak itu ?" tanya Breanch langsung ke inti nya, tidak menghiraukan sapaan dari Erthan. "Kami masih berusaha mencari keberadaan dari nona Est--" BUGH... Dan satu kepalan tangan keras mengenai pipi Erthan, menyisakan memar di pipi nya dengan ujung bibir yang robek mengeluarkan darah. "Kau masih mencari nya ?" sinis Breanch dengan menatap tajam Erthan yang hanya menundukan kepala nya. Suara mengintimidasi kembali terdengar dari sepatu yang dikenakan Breanch, saat melangkah mendekati Erthan yang hanya berjarak 3 langkah dari nya. Breanch menarik jas yang di kenakan Erthan saat tidak ada lagi jarak yang tersisa di antara mereka, hingga pria tersebut tertarik mendekat ke arah nya, Breanch dengan mudah berbisik di telinga nya. "Kau orang kepercayaan ku, Erthan. Jangan membuat ku murka." bisik Breanch sebelum kembali memberi jarak lalu menepuk pipi Erthan. "Obati lukamu. Lalu segera temukan perempuan pemberontak itu." "Baik." Angguk Erthan dengan patuh. Membuat Breanch kembali berjalan menuju mobil hitam yang sudah menunggu nya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD