Aku sampai di rumah sore hari. Setelah memandikan Gio lalu menyuapinya makan, dia tertidur di depan televisi. Aku tersenyum melihat wajah polos Gio. Ada sesak berkelindan di dalam d**a membayangkan putraku akan hidup tanpa sosok seorang Ayah. Tak mungkin aku mempertahankan pernikahan yang telah ternoda. Hatiku yang sudah kebas perlahan mati rasa mengetahui Mas Dayat sering berbagi keringat dengan wanita lain. Aku tidak mengira lelaki yang terlihat baik dengan senang hati menceburkan diri ke lautan dosa.
Aku membuka kembali map yang kubawa dari rumah Ibu mertua untuk memastikan kelengkapan sertifikat rumah dan ruko. Apa yang ada di pikiran Mas Dayat? Dia pikir bisa mengalihkan kepemilikan keduanya tanpa tanda-tanganku? Atau mungkin saja bisa kalau dia menyogok oknum di BPN. Mulai hari ini aku harus ekstra hati-hati. Aku teringat kotak perhiasanku, jangan sampai lelaki itu mengetahui tempat penyimpanannya juga. Gegas langkahku ke dapur, mendorong kulkas ke depan untuk mengambil kotak kayu yang kusembunyikan di belakangnya. Aku mengembuskan napas lega melihat perhiasan peninggalan Mama masih utuh, sebaiknya surat-surat berharga dan semua perhiasan ini kusimpan di safe deposit boks di Bank. Aku melirik jam di dinding, sudah pukul tujuh malam, sebentar lagi Mas Dayat pulang. Aku harus menyimpan semua benda ini sebelum dia melihat.
Baru saja mendorong kulkas ke tempat semula, aku mendengar suara pintu dibuka dari luar. Aku menyongsong untuk melihat siapa yang masuk.
"Imah, tadi kamu ke rumah Ibu?" Wajah Mas Dayat tampak cemas.
"Iya, kan, tadi Mas nyuruh beliin martabak manis." Aku menjawab acuh tak acuh sambil mengangkat Gio lalu memindahkannya ke pembaringan di kamar.
"Kamu masuk ke kamarku?" Mas Dayat mengekori langkahku. Aku berani berani bertaruh dia pasti mencari sertifikat-sertikat tadi.
"Iya, aku ambil baju kotor Gio. Kalau bukan aku yang nyuci siapa lagi? Dibiarkan di sana pasti jamuran."
Mas Dayat memegang pundakku hingga mau tak mau aku menatapnya. "Kamu ada lihat map di laci?"
Ingin rasanya aku tertawa melihat raut cemas Mas Dayat. Aneh, sertifikat milik siapa kenapa dia yang kelabakan? Dasar pencvri!
"Aku gak lihat. Memangnya map apa? Kok, kamu keliatan panik gitu?"
Mas Dayat menggaruk tengguknya, jelas sekali dia terlihat gugup. Ayo, Mas, lakukan kebohongan lain untuk menutupi kelicikanmu.
"Enggak, siapa yang panik? Aku cuma nanya barangkali kamu lihat."
"Aku udah bilang gak lihat. Lagian bukan sifatku mengambil milik orang lain, gak berkah, Mas. Aku harap kamu jangan gitu, ya."
Aku sengaja bicara seperti itu untuk menyindir Mas Dayat. Sepertinya dia merasa, tetapi hanya sebentar. Memang hatinya sudah batu hingga sentilanku tidak sampai ke nuraninya.
"Ya, udah, aku mandi dulu." Mas Dayat buru-buru berjalan ke kamar mandi.
Aku mengembuskan napas panjang, beruntung aku mengikuti naluriku, kalau tidak mungkin lelaki itu akan mendepakku dalam waktu dekat. Lihat saja, Mas, kau yang memulai mengobarkan 4pi, aku hanya mengikuti alur permainanmu. Aku pastikan kau yang akan terba-kar nanti.
Setelah mandi, aku melihat Mas Dayat berjalan ke teras sambil memegang ponsel. Aku yakin dia pasti menghubungi Fina, si pelakor itu. Dengan langkah pelan aku mendekat lalu mengintip. Beruntung Mas Dayat duduk membelakangi jendela hingga aku bisa melihat kode ponsel yang dia gunakan. Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga. Tanpa bersusah-payah aku mengetahui sandi benda itu. Nanti malam aku akan mencari tahu apa yang dia sembunyikan. Setelah menghapal sandi ponsel Mas Dayat, aku beranjak ke ruang makan bermaksud menyiapkan makan malam.
"Mas, makan dulu." Aku menegur pelan Mas Dayat ketika melihatnya masuk ke kamar.
"Nanti aja, aku mau ke rumah Ibu. Ada yang penting katanya."
Aku diam, kalau sudah menyebut, Ibu, tidak ada yang bisa mencegah Mas Dayat pergi. Namun, aku yakin itu hanya akal-akalnya saja, sebab sekilas aku membaca pesan whatsappnya dengan Fina.
"Pulang jangan malam-malam, Mas, kasian Gio nanyain kamu. Besok libur ke toko dulu, temani dia main."
Kalau bukan untuk memuluskan rencana tak mau aku bermanis-manis seperti ini padanya. Aku sengaja agar dia mengira aku istri yang bo-doh dan tak tahu apa-apa.
"Lihat saja nanti. Aku pergi dulu." Singkat jawabannya, aku hanya menatap dengan pikiran berkecamuk, apakah diam di rumah atau mengikuti ke mana dia pergi? Tapi dengan siapa Gio tinggal? Sudahlah, lebih baik bersikap tenang, aku yakin cepat atau lambat kebenaran akan muncul sendiri ke permukaaan.
*
Pukul dua belas malam Mas Dayat pulang. Aku pura-pura terlelap karena dia membawa kunci sendiri. Aku bisa merasakan kasur di sebelahku melesak ke dalam, tak lama terdengar dengkur halus Mas Dayat. Aku menunggu sampai lelaki itu benar-benar terlelap agar aksiku memeriksa ponselnya tidak ketahuan.
Setelah tiga puluh menit menunggu dan memastikan lelaki itu benar-benar lelap, aku meraih ponsel yang dia letakkan di atas meja tepat di samping tempat tidur. Aku tersenyum ketika berhasil membuka sandi ponselnya. Jariku menjelajah ke aplikasi w******p lalu membaca satu per satu percakapan di sana. Satu percakapan dengan nomor tidak tersimpan di kontak Mas Dayat menarik perhatianku. Mataku melebar melihat chat-chat mesra memancing bir@-hi, kemudian foto tak pantas Fina juga bertebaran di sana membuatku semakin jijik. Ternyata ini yang disembunyikan Mas Dayat. Aku menyalin semua percakapan Mas Dayat dengan pelakor itu untuk dijadikan bukti di pengadilan kelak.
Aku juga membaca chat Mas Dayat dengan Mbak Anis. Aku mengvmpat dalam hati ketika membaca percakapan keduanya. Rasanya gelar ipar benalu dan tidak tahu diri pantas kusematkan padanya, sebab Mbak Anis menyuruh Mas Dayat cepat-cepat menceraikanku lalu menikahi Fina. Berarti, dia tahu perselingkuhan adik lelakinya. Jangan-jangan Ibu mertuaku juga tahu?
"Ngapain kamu?"
Aku tersentak mendengar suara Mas Dayat. Badanku seketika kaku, jangan sampai dia memergokiku memeriksa ponselnya.
*
Duh, Imah ketahuan gak, ya?
Baca juga cerita yang lain
Memba-las Suami Pengkhianat dan Selingkuhannya
Kisah hidup Salsa sangat menyedihkan. Diselingkuhi, dirudapaksa, lalu dicerai saat hamil membuatnya ingin ma-ti saja. Namun, pertemuan dengan seseorang membuat keinginan menuntut ba-las berkobar di hati wanita tersebut.