Nyaris

775 Words
"Ngapain kamu?!" Badanku seketika menegang, keringat dingin mulai keluar melalui pori-poriku. Satu, dua, sampai tiga detik tak ada pergerakan. Dengan perlahan aku menoleh ke belakang, rasa takut yang tadi sempat hinggap di d**a seketika lenyap melihat Mas Dayat masih tertidur, rupanya dia ngelindur. Aku menghela napas lega lalu bergerak turun dari pembaringan. Aku memilih duduk di lantai agar lelaki itu tidak memergoki perbuatannya, lagipula dari sini aku bisa mengawasi pergerakan Mas Dayat. Aku mengirimkan semua percakapan Mas Dayat dengan keluarganya ke whatsappku. Selagi bisa aku harus mengumpulkan bukti agar di pengadilan nanti mereka tidak berkutik. "Mas, jangan lupa, ya, besok kirim aku u@ng 100 juta. Kamu janji mau bayarin Dp rumah untuk aku." Satu pesan masuk dari Fina segera k****a. Dasar wanita gat@l, dia pikir nominal 100 juta sedikit? "Iya, liat nanti." Aku membalas pesan Fina. Aku muak melihat wanita itu membalas dengan mengirimkan fotonya yang hanya mengenakan bra dan celana dalam saja. Ternyata untuk jadi pelakor tak perlu cantik, cukup gatal dan tidak punya malu. Setelah mendapatkan apa yang aku mau jariku bergulir ke aplikasi M-bangking Mas Dayat. Beruntung dia masih menggunakan sandi yang sama hingga aku bisa melihat berapa saldonya. Pegangan tanganku mengerat ke ponsel melihat jumlah yang fantastis. Ternyata Mas Dayat menumpuk u@ng di tabungan dan memb0hongiku Cukup, Mas! Aku tak akan biarkan hasil tokoku kau gunakan untuk pelakor itu. Aku mentransfer uang ke rekening milikku dan hanya menyisakan tiga puluh lima ribu rupiah. Aku yakin besok dia akan kelabakan tak bisa memenuhi permintaan Fina. Aku juga menghapus riwayat transfer dari M-bangking dan chat Fina yang baru masuk. Aksiku ini pasti akan ketahuan kalau Mas Dayat men-cek ke Bank. Biar saja, setidaknya aku sudah menyelamatkan hakku dan Gio. * Pagi-pagi sekali Mas Dayat bangun dan pertama yang dia lakukan mengecek ponsel. Dia bahkan mengabaikan Gio yang merengek ingin digendong. Aku menghela napas dalam dan panjang, rasanya keputusanku untuk berpisah semakin mantap, lelaki itu lebih peduli dengan ponsel dibandingkan d4rah dagingnya. Aku mengalah dengan menggendong Gio lalu menyuapinya sarapan. Celoteh Gio cukup sebagai pengobat laraku, aku dan putraku harus bahagia tanpa dikelilingi manusia-manusia munafik. "Imah, aku mau ngomong penting sama kamu." Mas Dayat menghampiri meja makan setelah selesai dengan ponselnya. "Ngomong apa?" Aku menjawab acuh tak acuh sambil menyuapi Gio. Dari sudut mata aku bisa melihat Mas Dayat terlihat ragu, aku yakin pasti ujung-ujungnya duit. "Eem, aku mau nyewa toko baru, menurut kamu gimana?" Aku menatap Mas Dayat sekilas. "Nyewa toko? U@ang dari mana? Bukankah kamu bilang toko sepi?" "Iya, karena itu aku mau nyewa yang baru, siapa tahu ramai." "Kalau kamu punya u@ng silakan aja." "Aku gak punya, maksudku pakai tabunganmu dulu." Aku mendengkus keras, Mas Dayat mulai lancang merecoki tabunganku. "Aku gak punya. Kamu gak lupa, kan, akhir-akhir ini ngasih uang seadanya? Kamu pikir dari mana aku dapat u@ng untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga? Ya, dari tabunganku. Lama-lama kalau diambil terus bisa habis!" Aku menjawab dengan nada ketus. Dasar laki-laki mokond*, aku yakin menyewa toko hanya alasan saja. "Kalau gitu pinjam sama Mas Faris, aku yakin dia punya." Ingin rasanya kutimpvk mulut Mas Dayat yang sedang tersenyum, kalau ada maunya lidah lelaki itu lebih lunak dari gigi. Andai saja aku tidak tahu pengkhianatannya mungkin aku akan luluh. "Aku gak mau minta ke Mas Faris, udah cukup dia bantu aku selama ini. Gak usah aneh-aneh pakai nyewa toko baru segala, kalau kamu gak sanggup biar toko aku ambil alih. Kamu cari kerjaan yang lain." Aku bangkit sambil menggendong Gio. Bukan apa-apa, aku telanjur jijik berdekatan dengan Mas Dayat. Sikap baik dan manisnya selama ini hanya sandiwara saja membuat lima tahun pernikahan kami sia-sia. "Eh, aku sanggup. Aku hanya mau toko kita maju, itu saja." Mas Dayat menyusulku ke kamar. Aku berbalik dengan cepat, andai lelaki itu tidak menghentikan langkahnya mungkin dia sudah menubrukku dan Gio. "Ya, udah, gak usah nyewa toko. Aku ingat satu tahun ini gak nerima laporan keuangan dari kamu. Nanti tolong kamu bawa, aku mau periksa di mana salahnya. Kamu bilang toko sepi, tapi barang-barang di toko selalu baru. Gak masuk akal, kan?" Wajah Mas Dayat memucat mendengar permintaanku. Mungkin dia mengira aku meminta pembukuan toko. Sebelumnya aku percaya saja, tapi sekarang aku harus lebih teliti. Jangan sampai warisan Ayah hancur di tangan lelaki itu. "Kok diam, Mas? Kalau kamu gak mau ngasih berarti ada apa-apanya?" Aku tak mengalihkan pandangan dari Mas Dayat membuat lelaki itu semakin gugup. "Kenapa kamu selalu curiga, Dek. Nanti sore aku kasih laporannya. Aku pergi dulu." Aku tidak menjawab dan membiarkan Mas Dayat berjalan menjauh menuju pintu keluar. Aku berani bertarvh laporan yang diberikannya nanti sudah dimanipulasi. Beruntung Eko bergerak cepat mengiyakan permintaanku kemarin. Aku mau lihat sebanyak apa Mas Dayat mengkorvpsi pendapatan toko.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD