"Mbak, aku udah dapat pembukuan toko."
Aku tersenyum membaca pesan w******p dari Eko. "Bagus, kamu kerja hari ini?"
"Nggak Mbak. Kebetulan hari ini aku libur."
"Oke, kamu tunggu aku di warung Mbok Darmi. Sebentar lagi aku ke sana."
"Siap, Mbak."
Aku menyimpan ponsel ke dalam saku celana kulot lalu menoleh ke arah Gio yang sedang melahap sarapannya.
"Anak Bunda pinter. Nanti di sekolah belajar yang rajin, ya."
Gio tersenyum lebar ketika kepalanya kuusap dengan lembut. "Iya, Ibun. Hali ini kata Buk Gulu mau belajal tentang hewan yang bisa telbang."
"Gio tahu apa saja hewan yang bisa terbang?" Aku melap sisa makanan di mulut Gio lalu menyodorkan segelas s**u ke tangannya.
"Tahu dong, Ibun. Ada kupu-kupu, bulung, naga juga."
Aku tertawa mendengar jawaban Gio. "Naga cuma mitos, sayang. Tidak ada hewan seperti itu." Aku lega melihat Gio menegak habis susunya.
"Tapi Gio lihat di tivi Naga bisa tebang Ibun. Wush, wush, gitu!"
Tawaku kembali lepas melihat tingkah Gio memperagakan burung yang sedang mengepakkan sayapnya. Anak selucu ini sama sekali tidak bisa menyentuh hati Mas Dayat. Alih-alih menghabiskan waktu dengan putranya, lelaki itu lebih sedang bercengkrama dengan selingkuhannya di ponsel. Keputusanku untuk mendepak Mas Dayat dari hidupku semakin bulat. Toh, ada dia percuma saja. Aku merasa janda walau punya suami. Lebih baik menjanda saja bukan?
"Ya udah, kita berangkat sekolah. Biar anak Bunda yang ganteng ini semakin pintar." Aku mencivm pipi Gio bertubi-tubi sehingga dia terkekeh-kekeh. Tuhan, jangan biarkan tawa ini hilang dari putraku. Apa pun akan kulakukan demi masa depan Gio.
*
"Mbak!"
Aku menoleh dan melihat Eko melambaikan tangan ke arahku. Setelah mengantar Gio ke sekolah aku bergegas menuju warung makan tempat janji bertemu dengan Eko.
"Gimana, Ko?" tanyaku tanpa basa-basi.
Eko menyerahkan dua tumpukan kertas yang sudah dijilid kepadaku. "Ini, Mbak lihat sendiri."
Aku memperhatikan tumpukan kertas yang pertama. Dahiku berkerut karena tidak menemukan kejanggalan apa pun. Semua pemasukan dan pengeluaran dicatat dengan baik dan terperinci.
"Gimana Mbak?" Sepertinya Eko tahu yang kupikirkan. "Sekarang Mbak liat yang ini."
Aku membuka tumpukan kertas kedua. Wajahku memerah menahan kesal melihat catatan keuangan yang tidak seimbang. Bahkan, banyak pengeluaran atas nama pribadi.
"Kenapa pembukuannya ada dua?" Dahiku berkerut ketika membandingkan kedua pembukuan yang diserahkan Eko.
"Iya, Mbak. Pembukuannya ada dua. Aku memfotokopi keduanya saat Mas Dayat dan Fina keluar agar mereka gak curiga. Yang Mbak lihat pertama pembukuan yang sudah dimanipulasi, yang kedua pembukuan yang sebenarnya."
Aku geram mendengar penjelasan Eko. Mas Dayat benar-benar terniat sekali ingin menipuku. Pantas tadi dia menyanggupi permintaanku memberi catatan keuangan toko, rupanya pembukuan yang sudah dimanipulasi yang akan diberikan padaku.
"Kerja bagus. Setelah ini Mas Dayat gak bisa lagi menipuku. Benar-benar tidak tahu diri. Sudah diberi kepercayaan malah diselewengkan. "
Amarahku semakin memuncak ketika melihat catatan pengeluaran yang tidak masuk akal untuk Fina. Rupanya Mas Dayat memanjakan gvndiknya itu menggunakan hasil pendapatan tokoku.
"Gimana dengan video dan foto yang aku minta?"
"Aku udah ambil foto mereka diam-diam Mbak. Semua ada di sini." Eko memberikan amplop putih. Aku tersenyum getir melihat pose Mas Dayat dan Fina yang tidak pantas. Yang membuatku semakin meradang keduanya berbuat tak senonoh di toko, ditempat yang seharusnya bersih dari perbuatan zin4. Aku tidak akan membiarkan keduanya berbuat semena-mena di toko peninggalan Ayah. Secepatnya mereka akan kutend4ng dari sana.
"Makasih, Ko. Bukti ini cukup untuk mendepak keduanya dari toko." Aku memasukkan semua bukti tadi ke dalam tas. Semarah apa pun aku harus bisa berpikir jernih agar menyusun rencana selanjutnya.
"Apa tindakan Mbak selanjutnya?"
"Tentu saja membersihkan s4mpah. Aku gak mau tokoku bau bangkai."
"Aku suka kalau Mbak Halimah tegas seperti ini. Aku sudah lama kesal Mbak, tapi gak bisa apa-apa. Mau lapor takut dikira fitnah."
Aku tersenyum, lalu mengetik nominal di M-bangkingku. "Aku udah kirim uang ke rekeningmu. Gunakan sebaik mungkin untuk biaya kuliah Adikmu."
Wajah Eko terlihat cerah, matanya berembun. "Makasih banyak Mbak. Semoga setelah ini Mbak menyelesaikan masalah dengan baik."
Aku mengangguk sambil melirik jam di pergelangan tangan. "Aku ada keperluan lain. Jangan lupa tetap awasi Mas Dayat dan Fina. Laporkan padaku kalau ada berita baru."
Melihat Eko mengangguk aku bangkit, sudah waktunya menjemput Gio. Aku tak ingin dia terlalu lama menunggu di sekolah. Baru saja menstarter sepeda motor ponselku berdering. Nama Mas Dayat tampak sebagai pemanggil. Aku menghela napas dalam sebelum menjawab panggilan teleponnya.
"Halo ...."
"Halimah, kenapa kamu cvri u-angku?!"
Suara Mas Dayat melengking hingga aku harus menjauhkan ponsel dari daun telinga. Sepertinya dia sudah sadar aku mengambil uangnya semalam. Bagus, kalau begitu tak perlu berlama-lama. Aku selesaikan hari ini juga.
"U-angmu? Maksudnya hasil dari tokoku?" Aku berdecih hanya mendengar suara napas Mas Dayat saja. "Bukannya toko sepi? Trus kamu punya u-ang dari mana?"
"Halimah ...."
Aku tertawa dalam hati. Aku bisa membayangkan betapa marahnya Mas d
Dayat, mungkin sekarang dia kelabakan tak bisa membayar u-ang muka rumah yang diminta Fina. Rasakan, Mas. Ini baru pemanasan, bersiaplah menghadapi kejutan selanjutnya.