Perawan

1696 Words
"Pak Arga marah-marah." Suara Pak Ali terdengar tegang dari seberang telepon. "Dia ingin Mas segera membereskan skandal ini secepat mungkin. Kalau tidak, beliau bilang—" "Sudah." Rakael memotong perkataan Pak Ali dengan nada dingin. "Saya akan urus semuanya." Ia berdiri di dekat jendela kamar hotel sambil menatap pemandangan kota dari balik kaca. "Kamu kerjakan tugasmu saja, Pak Ali." "Tapi, Mas—" Klik. Rakael langsung mematikan telepon. Rahangnya mengeras. "Pria tua itu selalu saja mengancamku." Tangannya meremas ponsel dengan kesal. "Sedikit-sedikit mengancam karierku." Rakael menghela napas panjang lalu memasukkan ponselnya ke saku. Sementara itu, Alisha masih berdiri tidak jauh darinya. Ia mendengar percakapan Rakael meskipun tidak sepenuhnya memahami masalah yang sedang dihadapi pria tersebut. Namun pikirannya justru dipenuhi masalahnya sendiri. "Duh, gawat." Alisha menggigit bibirnya. "Kalau dia tidak mau menolongku, aku bisa selamanya menjadi pelacur." Matanya mulai berkaca-kaca. "Aku tidak mau." Ia mengepalkan tangan. "Aku mau pulang." Ada sesuatu yang jauh lebih penting yang harus ia lakukan. "Aku harus mencari tahu siapa pembunuh Mama dan Papa tiga bulan lalu." Alisha menunduk. "Kematian mereka tidak mungkin kecelakaan biasa." Selama tiga bulan terakhir, pertanyaan itu terus menghantui pikirannya. Siapa yang membunuh kedua orang tuanya? Mengapa mereka harus mati? Dan mengapa semua bukti seolah sengaja dihilangkan? Alisha mengusap air matanya. "Aku harus menemukan jawabannya." Rakael yang sejak tadi diam tiba-tiba menoleh kepadanya. "Saya akan menikahi kamu." Alisha mendongak. "Apa?" Rakael memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Tapi dengan syarat." Alisha langsung mendekat. "Syarat apa?" Rakael menatapnya serius. "Syaratnya, kamu harus menurut apa kata-kata saya." Alisha mengernyit. "Menurut?" "Iya." Rakael melanjutkan dengan nada tegas. "Jangan membuat skandal yang bisa menghancurkan karier saya." Alisha terdiam beberapa detik. Kemudian ia mengangguk. "Tentu saja." Ia menatap Rakael penasaran. "Memangnya Anda bekerja apa?" Rakael mengangkat alis. "Kamu benar-benar tidak tahu?" Alisha menggeleng. "Tidak." "Saya anggota DPR Kota Nusa Indah." Alisha membelalakkan matanya. "Astaga..." Rakael tampak heran melihat reaksinya. "Masa kamu tidak tahu?" Alisha menggeleng lagi. Dalam hati, pikirannya langsung bergerak cepat. "Astaga, kenapa aku tidak tahu?" Ia menatap Rakael dari atas sampai bawah. "Padahal ayahku seorang hakim dan ibuku finance." Alisha mulai melihat celah harapan. "Kalau dia anggota dewan, dia mungkin bisa membantuku." Tatapannya berubah penuh harapan. "Dia bisa membantuku mengungkap siapa dalang pembunuhan Papa dan Mama." Sementara itu, Rakael justru memandangi Alisha dengan tatapan heran. "Baru kali ini ada perempuan yang tidak tahu kalau saya anggota dewan." Ia menghela napas pelan. "Dia bahkan mau menikah hanya karena ingin keluar dari tempat ini." Rakael terdiam sesaat. "Aneh." Entah kenapa, sejak tadi jantungnya terasa berdebar setiap kali melihat ekspresi Alisha. "Kenapa jantungku bergetar?" Rakael segera mengalihkan pandangan. "Jangan." Ia menggeleng kecil. "Jangan sampai aku terpesona." Wajahnya kembali dingin. "Semua wanita sama saja." Rakael kemudian menatap Alisha. "Jangan bengong." Alisha tersentak. "Eh?" Rakael tersenyum penuh percaya diri. "Saya memang ganteng." Alisha memutar bola matanya. "Harusnya kamu bersyukur bisa memberikan keperawananmu kepada seorang Rakael." Alisha langsung menatapnya tidak percaya. "Kepedean banget sih, Pak." Rakael mengangkat alis. "Apa?" "Tidak beruntung, Pak." Alisha menghela napas. "Saya justru rugi." Rakael terdiam. Alisha menunduk. "Karena itu satu-satunya yang saya punya." Suaranya melemah. "Setelah semuanya hilang..." Rakael langsung memperhatikannya. "Semuanya?" Alisha tersadar bahwa ia hampir mengatakan terlalu banyak. "Maksudnya?" Alisha buru-buru menggeleng. "Bukan apa-apa." Ia kemudian melihat pakaiannya yang sudah tidak layak dikenakan keluar. "Tolong belikan saya pakaian." Rakael mengikuti arah pandangannya. "Tidak mungkin saya keluar menggunakan pakaian sobek itu." Alisha kemudian mengingat barang-barangnya. "Dan tolong ambilkan barang saya yang disita mereka." Rakael mengangguk kecil. Ia mengambil ponselnya. "Halo, Pak Ali." "Iya, Mas?" "Tolong kirimkan pakaian wanita ke kamar saya." "Baik, Mas." Rakael melirik Alisha. "Dan ambil barang-barang gadis bernama..." Ia berhenti sejenak. Alisha menjawab pelan. "Aisha Kalila Permatasari." Rakael mengulang nama tersebut. "Aisha Kalila Permatasari." "Iya, Mas." "Kirimkan semuanya ke kamar suite." "Baik." Telepon berakhir. Alisha menghela nafas lega. "Terima kasih, Pak." Rakael hanya mengangguk. "Jangan berterima kasih saya tidak menolongmu kita hanya simbiosis mutualisme" Tidak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu kamar. Tok… Tok… Rakael membuka pintu. Seorang staf menyerahkan beberapa pakaian dan barang milik Alisha. "Pesanan Anda, Pak." "Taruh di sana." Setelah staf pergi, Alisha segera mengambil pakaian tersebut. "Saya mandi dulu." Rakael mengangguk. "Silakan." Beberapa waktu kemudian, Alisha keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah berganti. Ia merapikan rambutnya sambil memastikan barang-barangnya telah lengkap. Setelah itu, ia menghampiri Rakael. "Pak..." "Apa?" Alisha tampak ragu. "Anda yakin saya boleh keluar?" Rakael menatapnya. "Iya." Alisha menggenggam tasnya erat-erat. "Saya takut nanti mereka menarik saya lagi seperti semalam." Wajahnya menunjukkan ketakutan. Rakael langsung menjawab tegas. "Sudah." Ia mengambil jasnya. "Saya yang urus." Alisha menatapnya beberapa detik. "Benar?" "Benar." Rakael membuka pintu kamar. "Ayo." Alisha mengikutinya. Mereka kemudian keluar dari kamar hotel bersama-sama. Begitu berada di lorong, Alisha berjalan di samping Rakael sambil sesekali melirik pria tersebut. Dalam hati, ia mulai menyusun rencananya. "Aku baru tahu seorang anggota dewan yang digaji rakyat malah menggunakan waktunya untuk foya-foya di tempat seperti ini." Alisha menghela napas. "Pokoknya aku harus bisa membuat dia membantuku." Tangannya menggenggam tas semakin erat. "Aku harus mencari tahu siapa dalang sebenarnya di balik kematian Mama dan Papa." Alisha melirik Rakael lagi. "Dan kalau dia memang punya pengaruh sebagai anggota dewan..." Tatapannya menjadi lebih yakin. "Mungkin dia adalah satu-satunya jalan yang bisa membawaku menemukan kebenaran.” Pintu lift perlahan terbuka. Ting. Rakael melangkah keluar terlebih dahulu, sementara Alisha mengikutinya dari belakang. Tangannya masih berada dalam genggaman Rakael. Mereka baru beberapa langkah menuju lobby ketika tiba-tiba terdengar suara keras dari arah meja resepsionis. "Itu dia!" Alisha langsung menoleh. Seorang pria bertubuh perut buncit berdiri di samping manajer hotel. Kepalanya masih diperban dan wajahnya tampak penuh kemarahan. "Itu wanita kurang ajar yang menghantam saya menggunakan vas bunga!" Manajer hotel terlihat gugup. "Pak, tenang dulu." "Bagaimana saya bisa tenang?!" Pria itu menunjuk Alisha. "Dia yang menyerang saya!" Alisha seketika pucat. Tubuhnya refleks mundur. "Itu dia..." Rakael menoleh. "Ada apa?" Alisha langsung bersembunyi di belakang tubuh Rakael. "Pak..." Suaranya bergetar. "Tolong saya." Rakael menatapnya. "Apa yang terjadi?" "Itu pria yang mau meniduri saya semalam." Alisha menggenggam bagian belakang jas Rakael erat-erat. "Dia juga yang mencekoki saya alkohol." Matanya berkaca-kaca. "Tolong saya, Pak. Saya takut." Rakael langsung menatap pria tersebut dengan tatapan dingin. Pria buncit itu masih menunjuk Alisha. "Pak Rakael, jangan lindungi dia!" Manajer hotel ikut maju. "Kami akan membawa gadis nakal itu ke kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya." Alisha semakin ketakutan. "Jangan..." Rakael berdiri tepat di depan Alisha. "Jangan ganggu wanita saya." Manajer hotel terdiam. "Pak Rakael..." Rakael menatap mereka tajam. "Dia calon istri saya." Alisha membeku. "Wanita saya?" Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat. "Calon istri?" Ia menatap punggung Rakael. "Kenapa rasanya tiba-tiba jantungku berdetak kencang?" Alisha menelan ludah. "Padahal Keanu, crush-ku, saja tidak pernah membuat aku salting seperti ini." Sementara itu, manajer hotel terlihat serba salah. "Calon istri Bapak?" Rakael mengangguk. "Iya." Pria buncit itu masih tidak terima. "Tapi kami tidak tahu soal itu, Pak." Rakael menatapnya dingin. "Sekarang kalian sudah tahu." Manajer hotel langsung menunduk. "Calon istri Bapak..." Ia menarik napas. "Maaf, saya tidak mengetahui sebelumnya." Rakael melangkah mendekat. "Dan berani kalian menyentuh dia..." Tatapannya berubah semakin tajam. "Kalian harus berhadapan dengan saya." Pria buncit itu langsung terdiam. Rakael kemudian menoleh kepada Alisha. "Ayo, sayang." Ia mengulurkan tangannya. Alisha sempat terdiam. "Sayang?" Rakael memberi tatapan memperingatkan. Alisha akhirnya menggenggam tangannya. "Iya, Pak." Mereka berjalan meninggalkan lobby. Rakael tidak melepaskan tangan Alisha sampai keduanya tiba di depan mobil Alphard. Seorang sopir segera membukakan pintu. "Silakan, Pak." Rakael masuk terlebih dahulu. Alisha menyusul. Begitu pintu mobil tertutup dan suasana menjadi lebih tenang, Alisha langsung menarik tangannya. "Pak, lepas." Rakael menoleh. "Kenapa?" "Sudah sampai dalam mobil." Alisha melihat sekeliling. "Sudah tidak ada yang melihat." Rakael justru tersenyum tipis. "Pokoknya nanti kamu harus memanggil saya baby, sayang, atau apa pun." Alisha mengernyit. "Mas saja, ya." Rakael menatapnya datar. "Terserah." Ia menyandarkan tubuh ke kursi. "Yang penting dengan pernikahan ini, nama baik saya harus bersih dari skandal wanita gila itu." Alisha mengerutkan kening. "Jadi ini semua demi karier Mas?" "Memangnya kamu pikir untuk apa?" Alisha terdiam. Ia kemudian mengambil ponselnya dan mulai mencari sesuatu. Beberapa detik kemudian, matanya membesar. "Jadi..." Ia menunjukkan layar ponselnya. "Mas ini maksudnya Rakael, pacarnya Virly?" Rakael melirik layar tersebut. "Model internasional itu?" "Iya." Alisha menatapnya tak percaya. "Virly yang sering muncul di televisi dan majalah?" Rakael menghela napas. "Kamu sudah tahu, kan?" Alisha mengangguk perlahan. "Berarti benar." Rakael kembali menatap ke depan. "Jadi lakukan peranmu." Alisha memasukkan ponselnya kembali ke tas. "Baik." Mobil terus melaju meninggalkan hotel. Sepanjang perjalanan, Alisha lebih banyak diam. Namun pikirannya semakin sibuk. "Kalau dia benar-benar anggota DPR dan punya hubungan dengan banyak orang penting..." Alisha menatap Rakael dari samping. "Mungkin dia memang bisa membantuku." Tatapannya berubah serius. "Aku harus mencari tahu siapa yang membunuh Mama dan Papa." Beberapa waktu kemudian, mobil akhirnya memasuki halaman rumah mewah milik Rakael. Gerbang besar terbuka. Mobil Alphard berhenti di depan bangunan megah tersebut. Rakael turun lebih dulu. Alisha menyusul. Rakael kembali menggenggam tangannya. "Jangan lupa." "Apa?" "Kita pasangan harus mesra." Alisha mendengus kecil. "Iya, Mas." Mereka berjalan bergandengan tangan menuju pintu utama. Begitu masuk ke dalam rumah, Alisha tiba-tiba menghentikan langkahnya. Matanya terpaku pada seseorang yang berdiri tidak jauh dari ruang keluarga. Wajah itu… Alisha membeku. "Keanu?" Jantungnya langsung berdegup kencang. "Kenapa dia ada di sini?" Pria yang selama empat tahun terakhir diam-diam ia cintai berdiri di rumah Rakael. Keanu. Pria yang pernah menjadi crush-nya ketika kuliah. Pria yang bahkan pernah ia cintai begitu dalam. Alisha menatapnya tanpa berkedip. "Jangan-jangan..." Ia melihat Rakael di sampingnya, kemudian kembali menatap Keanu. "Keanu saudara Rakael?" Dadanya terasa sesak oleh berbagai macam perasaan. Selama empat tahun, nama Keanu selalu tersimpan dalam hatinya. Bahkan pernah ada suatu hari ketika Alisha mengumpulkan keberanian untuk menyatakan perasaannya. Namun… Ada sesuatu yang terjadi setelah itu. Sesuatu yang membuat hubungan mereka tidak pernah berjalan seperti yang ia harapkan. Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, mereka kembali dipertemukan. Dan ironisnya, Alisha datang ke rumah itu sebagai calon istri Rakael. Keanu perlahan menoleh ke arah mereka. Pandangan mata mereka bertemu. Alisha langsung terdiam. Keanu juga terlihat terkejut. Suasana rumah mendadak terasa sangat sunyi. Rakael menyadari perubahan ekspresi Alisha. "Kamu kenapa?" Alisha tidak langsung menjawab. Matanya masih tertuju pada Keanu. Dalam hati, hanya satu pertanyaan yang berputar-putar. "Kenapa dari sekian banyak tempat di dunia, aku harus bertemu Keanu justru di rumah calon suamiku?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD