bc

Ahh,Mantap Mas DPR !

book_age18+
13
FOLLOW
1K
READ
revenge
dark
forbidden
love-triangle
contract marriage
one-night stand
family
escape while being pregnant
love after marriage
age gap
fated
opposites attract
second chance
friends to lovers
pregnant
playboy
badboy
kickass heroine
mafia
single mother
heir/heiress
blue collar
drama
sweet
bxg
lighthearted
serious
bold
city
office/work place
disappearance
enimies to lovers
lies
secrets
friends with benefits
surrender
addiction
actor
like
intro-logo
Blurb

Warning Area 21++!! mengandung adegan dewasa dan kekerasan!!🔞🔥" Ahh... Yeah, so? It feels great, you f*****g b***h!"🔞 "Ahh, faster, Sir." 💦Aisha Kalila Permatasari, gadis cantik berusia 25 tahun, menjadi korban perdagangan manusia hingga terjebak dalam hubungan satu malam dengan Rakael Putra Dewandaru, seorang anggota DPR, pengusaha, mafia, sekaligus pewaris utama keluarga Dewandaru.

Demi menyelamatkan dirinya dan mengungkap misteri kematian kedua orang tuanya, Aisha terpaksa membuat kesepakatan pernikahan dengan Rakael. Namun, pernikahan yang awalnya hanya didasari sebuah kontrak perlahan berubah menjadi cinta yang tulus.

Di tengah kebahagiaan mereka, rahasia kelam keluarga Dewandaru mulai terungkap. Aisha menemukan fakta mengejutkan bahwa ayah Rakael ternyata merupakan dalang di balik kematian kedua orang tuanya.

Jika kebenaran itu benar-benar terbukti, akankah Aisha tetap bertahan di sisi Rakael, atau memilih meninggalkan pria yang telah membuatnya jatuh cinta?

chap-preview
Free preview
Malam Panas
Aisha Kalila Permatasari berlari menyusuri lorong hotel dengan langkah terburu-buru. Pengaruh alkohol membuat tubuhnya terasa panas dan pikirannya semakin sulit dikendalikan. Begitu sampai di depan sebuah kamar, pintunya ternyata terbuka. Aisha mendorongnya perlahan lalu masuk. "Ah... panas. Tolong saya, Pak..." Napas Aisha memburu. Pandangannya kemudian tertuju pada seorang pria tampan dengan tinggi sekitar 185 sentimeter yang baru saja keluar dari kamar mandi. Sebuah handuk terlilit di pinggangnya. Pria itu menatap Aisha dengan ekspresi seolah sudah lama menunggunya. Aisha berjalan mendekat tanpa banyak berpikir. Dalam keadaan terbawa pengaruh alkohol, ia spontan mencium bibir pria tersebut. Pria itu sempat terdiam sesaat sebelum akhirnya membalas ciumannya. "Akhirnya kamu datang juga," bisiknya. Aisha menarik napas berat. "Saya... panas." Pria itu tersenyum tipis. "Saya sudah menunggu." Tangannya menahan tubuh Aisha agar tidak kehilangan keseimbangan. "Servis kamu bagus sekali." Aisha menatapnya dengan mata yang mulai sayu. "Benarkah?" "Ya." Pria itu mendekat lagi. "Langsung membuat saya bergairah." Aisha kembali mengecup bibirnya. Jemarinya mencengkram bahu pria itu erat-erat. Pria tersebut kemudian mengangkat tubuh Aisha dan membawanya menuju tempat tidur. "Hei..." "Tenang." Ia merebahkan Aisha perlahan di atas ranjang. Tatapannya masih tertuju pada wanita itu. "Saya tidak akan berhenti jika sudah memulai." Aisha hanya menatapnya dengan napas yang tidak beraturan. "Jadi..." Pria itu mendekat dan berbisik. "Gunakan semua permainan dan servis terbaikmu, baby girl." Aisha menarik napas panjang. Malam semakin larut. Pintu kamar tetap tertutup rapat, sementara cahaya kamar perlahan diredupkan. Di balik pintu tersebut, keduanya larut dalam malam yang penuh gairah. Suara desahan dan lenguhan yang memburu terdengar memenuhi kamar hotel. Hingga akhirnya malam menelan seluruh kejadian itu dalam gelap. **** Pagi perlahan menyelinap melalui celah tirai kamar hotel. Alisha membuka matanya dengan kepala terasa berat. Tubuhnya masih lemas dan remuk redam akibat kejadian semalam. Ia baru menyadari bahwa dirinya berada dalam pelukan seorang pria. Alisha perlahan menoleh. Pria itu tertidur di sampingnya. Wajahnya tampan dengan rahang tegas dan tubuh yang terlihat gagah, seolah pahatan dewa Yunani. Mata Alisha membesar. "Apa yang sudah aku lakukan?" Ia buru-buru berusaha mengingat kejadian semalam. "Seharusnya semalam aku kabur ke rumah sakit, minta visum, lalu pergi ke kantor polisi." Alisha memejamkan mata sambil mengusap wajahnya. "Keluar dari kandang macan, masuk kandang singa ini mah." Air matanya kembali menggenang. "Astaga..." Tangannya gemetar ketika ia duduk di tepi ranjang. "Aku benar-benar kehilangan keperawanan yang selama ini aku jaga selama dua puluh lima tahun." Alisha menunduk. "Mama... Papa... maafkan aku." Tangis kecil lolos dari bibirnya. Ia kemudian mengintip ke arah selimut dengan wajah pucat. "Kenapa hidupku jadi begini?" Di sampingnya, Rakael yang sejak tadi masih memejamkan mata perlahan mengernyit. Suara tangisan Alisha membuatnya terbangun. Rakael membuka mata. Ia memandangi wanita yang duduk sambil menangis itu. "Kenapa p*****r ini menangis?" Rakael mengusap wajahnya. "Apa karena semalam mainku kasar banget jadi kesakitan?" Tatapannya berubah ketika melihat Alisha yang masih menangis. "Dia masih perawan?" Rakael terdiam sejenak. Kemudian ia bangkit dari tempat tidur dan mengambil beberapa lembar uang. "Ini." Alisha menoleh. Rakael menyerahkan uang tersebut kepadanya. "Uang tips untuk kamu karena servis kamu sangat memuaskan." Ia menatap Alisha datar. "Dan karena kamu masih virgin." Alisha langsung menggeleng. "Saya tidak butuh uang Anda." Rakael mengangkat alis. "Saya butuh bantuan Anda." "Bantuan?" "Ya." Alisha menatapnya penuh harap. "Tolong keluarkan saya dari sini." Rakael mengernyit heran. "Keluar?" Ia menunjuk sekeliling kamar. "Ini kan pekerjaan kamu?" Alisha menggeleng cepat. "Bukan!" Air matanya kembali jatuh. "Saya korban perdagangan manusia, Pak." Rakael terdiam. "Saya datang kesini karena niatnya mencari pekerjaan jadi sekretaris." Alisha menggenggam selimut erat-erat. "Tapi malah..." Suaranya bergetar. "Saya tidak pernah memilih berada di tempat seperti ini." Rakael masih memandanginya tanpa berkata-kata. Alisha kemudian mengumpulkan keberaniannya. "Saya akan melakukan apa saja." Rakael menyipitkan mata. "Melakukan apa saja?" Alisha mengangguk. "Melayani Bapak juga tidak apa-apa." Ia menarik napas dalam-dalam. "Asalkan dengan pernikahan." Rakael menatapnya tajam. "Dan saya bisa keluar dari sini." Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Rakael akhirnya tertawa sinis. "Jadi kamu ingin menjadi Nyonya Dewandaru?" Alisha menggeleng gugup. "Bukan begitu, Pak." Rakael bangkit dan mengambil kemejanya. "Cih." Ia memasukkan tangannya ke dalam lengan kemeja. "Cara yang sangat murah sekali." Alisha menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Pak..." Ia berusaha menjelaskan. "Saya masih perawan." Rakael berhenti sebentar. "Apa itu bukan bukti?" Alisha menelan ludah. "Saya tidak meminta harta Anda. Saya hanya ingin keluar dari tempat ini." Ia kembali memohon. "Saya akan melayani Anda kapan saja. Asalkan Anda menikahi saya." Rakael hanya mendengus. Kemudian ia mengambil rokok dan menyalakannya. Ia menghisapnya sebentar lalu menghembuskan asap ke muka Alisha membuat terbatuk-batuk. "Saya orang bebas." Rakael mengenakan pakaiannya dengan tenang. "Saya tidak terikat pernikahan." Ia menatap Alisha dingin. "Bagi saya, semua wanita sama saja." Alisha terdiam. "Jalang murahan." Kata-kata itu membuat wajah Alisha semakin pucat. Rakael kemudian mengambil jam tangannya. "Hanya karena kamu masih virgin, bukan berarti saya akan menikahi kamu." Ia menatap Alisha. "Jangan mimpi." Dalam hati Rakael sendiri, ada luka lama yang belum pernah sembuh. Ia pernah melihat ibunya berselingkuh di depan matanya, dan keluarganya hancur karena perceraian. Setelah itu, ayahnya menikah dengan wanita yang menjadi selingkuhannya. Pengalaman tersebut membuat Rakael kehilangan kepercayaan kepada perempuan. Bahkan kekasihnya sendiri pernah berselingkuh dengan beberapa pejabat hingga akhirnya hamil. Sejak saat itu, Rakael menganggap cinta hanyalah kebohongan. Namun ketika melihat Alisha menangis, hatinya sedikit terusik. Alisha berdiri dan mencoba mengikutinya. "Pak..." Rakael terus berjalan menuju pintu. "Pak, tolong saya." Alisha meraih tangannya. "Saya mohon." Rakael berhenti. Ia menoleh. Alisha menangis di hadapannya. "Jangan tinggalkan saya di sini." Rakael terdiam. Dalam hati, muncul rasa tidak tega. "Astaga..." "Kenapa aku tidak tega melihat dia menangis seperti ini?" Ia menatap wajah Alisha yang penuh ketakutan. "Tidak ada ruginya juga." Rakael menghela napas. "Dia masih perawan." Pikirannya mulai berkelana. "Dia bisa jadi simpananku di apartemen untuk memuaskan nafsu ku." Namun sebelum Rakael mengatakan apapun, ponselnya tiba-tiba berdering. Rakael mengambil ponselnya. "Halo." Suara seseorang terdengar dari seberang. "Selamat pagi, Mas Dewan." Rakael mengernyit. "Gawat." "Ada apa?" "Skandal kehamilan Virly naik lagi." Rakael langsung terdiam. "Virly?" "Iya, Mas." Suara di seberang terdengar panik. "Kalau masalah ini semakin besar, bisa gawat untuk karir Anda sebagai anggota DPR." Rakael mengepalkan rahangnya. "Apa?" Wajahnya berubah keras. "Kurang ajar." Alisha hanya berdiri diam sambil memperhatikan Rakael. Rakael berjalan menjauh beberapa langkah. "Sudah selingkuh dan hamil anak pria lain." Ia menatap kosong ke depan. Nada suaranya semakin penuh amarah. "Sekarang dia mau apa lagi?”

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
26.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
197.3K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
238.4K
bc

Kali kedua

read
223.5K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
24.4K
bc

MENCINTAIMU TANPA SENGAJA

read
1.3K
bc

Langit Tak Selalu Abu-Abu

read
125.7K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook