"JIHANN!!!"
Teriakan dari belakang punggung Jihan dan Ares, membuat mereka berdua langsung membalikkan badan dan mendapati seorang cowok yang sedang berjalan ke arahnya, dengan kedua mata yang memancarkan kilatan kemarahan.
"Ronald?" gumam Jihan, saat melihat kekasihnya yang tengah menatapnya dengan sangat marah.
Ronald Argantara, cowok yang berstatus sebagai kekasihnya Jihan. Mereka berdua sudah menjalin hubungan sejak kelas sepuluh.
Ronald dan Ares adalah musuh bebuyutan sejak kelas sepuluh. Bahkan mereka berdua kerap kali masuk ruang BK, karena berkelahi. Entah karena masalah kekuasaan, atau pun masalah sepuluh pun pasti akan diperbesarkan, hingga membuat guru BK pun ikut turun tangan.
"Ngapain lo sama Ares?!" tanya Ronald pada Jihan, lalu menatap Ares dengan tajam.
"Gue cuma main, kenapa emangnya?" sahut Jihan menjawab yang sejujurnya.
"Sejak kapan, lo berteman sama si b******k ini?!" Ronald menunjuk Ares dengan kedua mata yang memelotot.
Ares yang disebut seperti itu pun langsung mengepalkan kedua tangannya. Rahangnya mengeras, napasnya memburu dan emosinya siap meledak. Dengan sekuat tenaga, ia menahannya.
Ares tidak mau terpancing oleh Ronald. Ia sudah janji pada ibunya, tidak akan membuat masalah lagi di sekolah.
"Lo apaan sih, Ronald?!" ujar Jihan merasa tidak suka atas perkataan Ronald yang semena-mena.
"Lo nolak, pas gue ajak ke kantin. Terus sekarang, lo berduaan sama Ares di sini! Lo mau selingkuh dari gue, Han?!"
Johan menatap Ronald tak percaya. Bisa-bisanya cowok itu memfitnahnya seperti ini. "Gue gak selingkuh Nald! Lo bisa gak sih, gak usah nuduh-nuduh gue?!" ujar Jihan merasa kesal atas sikap Ronald yang seperti ini.
Ronald semakin emosi, karena Jihan yang terus melawan ucapannya. Ia kemudian mencekal tangan Jihan dan menariknya untuk pergi dari sana.
"AKH, LEPAS!! LEPASIN GUE RONALD!!" teriak Jihan kesakitan, karena Ronald menarik tangannya dengan sangat kasar, tanpa belas kasihan sedikit pun.
Ares yang dari tadi hanya diam pun langsung ikut campur. Ia tidak suka jika ada cowok yang memperlakukan cewek dengan kasar seperti itu.
Ares melepaskan tangan Ronald yang mencekal tangan Jihan, lalu menarik tubuh Jihan ke belakang tubuhnya.
"LO GAK USAH, IKUT CAMPUR b*****t!!" tegas Ronald mendorong tubuh Ares dengan kasar, membuat tubuh cowok itu sedikit terhuyung ke belakang.
"Gue bakal ikut campur, kalo lo berani kasar sama Jihan!" ucap Ares dengan tegas. Matanya menatap Ronald tak kalah tajam.
"s****n!!" Ronald langsung mengepalkan tangannya, lalu meninju wajah Ares dengan sangat keras, membuat wajah cowok itu menoleh ke samping dengan darah yang mengalir dari sudut bibirnya.
Ares yang belum siap dengan serangan Ronald pun, langsung memegangi wajahnya yang ditinju oleh Ronald.
Ares menyeka darahnya dan mengecapnya. Ia menatap Ronald dengan menyeringai tajam.
Bugh!
Ares langsung balik meninju wajah Ronald dengan bringas, hingga tubuh cowok itu tersungkur ke tanah.
Ronald bangkit berdiri, ia langsung menarik kerah baju Ares dan memberikan bogeman di wajah cowok itu. Ares pun terus menghajarnya kembali.
Mereka berdua saling baku hantam, hingga menciptakan luka di wajahnya masing-masing.
Jihan yang melihat itu semua pun langsung gemetaran sendiri. Kenapa mereka berdua jadi baku hantam sih?! Jihan mengedarkan pandangannya, mencari seseorang agar bisa melerai mereka berdua. Namun tidak ada siapa-siapa di sana. Ya Tuhan, bagaimana ia bisa melerainya?!
"ARES!! RONALD!! UDAH!!!" teriak Jihan namun, mereka berdua tidak mempedulikannya, dan terus saling baku hantam.
Napas Ares semakin memburu, dia terus menghajar Ronald dengan bringas. Seolah, seluruh rasa emosi dan kesal sudah menguasai tubuhnya.
Ares mengunci pergerakan Ronald, hingga membuat cowok itu tak mampu melawan dan membuatnya sangat puas untuk menghajarnya.
Jihan semakin gelagapan, karena melihat mereka berdua yang tidak mau berhenti. Dengan langkah terpaksa, Jihan langsung berlari dari sana.
Jihan berlari menuju ruang BK, untuk mengadukan mereka berdua. Lebih baik, ia memberitahunya daripada mereka terus berkelahi.
••••π••••
"Saya yakin Bu, anak saya tidak bersalah," ucap lelaki paruh baya yang tak lain adalah ayah dari Ronald, sekaligus guru sejarah di sekolah ini atau SMA Lentera.
Ares melirik ke arah ayah Ronald, yang diketahui bernama Barka. Ia menatap Barka dengan tajam. "Jangan mentang-mentang Anda adalah guru di sini, jadi seenaknya menyalahkan saya."
"Tuh kan, Bu. Lihat aja, sama guru sendiri pun gak ada sopan-sopannya," ucap Barka, semakin menyudutkan Ares.
Ares berdecih. "Saya bersikap sopan, kepada orang yang sopan juga."
"Cukup Ares!" lerai Bu Rita, guru BK yang kini berhadapan dengan Ares.
Ronald tersenyum puas, melihat dirinya yang tidak pernah disalahkan. Setiap berbuat kerusuhan, maka ia akan limpahkan semuanya pada Ares.
Ares kemudian menunduk. Kedua tangannya sudah mengepal dengan rahang yang mengeras.
"Siap-siap lo bakal dikeluarin," bisik Ronald yang duduk di samping Ares.
Ares melirik Ronald, ia menatapnya dengan tajam seperti iblis. Ares semakin kuat mengepalkan tangannya. Berkali-kali ia menghela napas, agar bisa menahan emosinya.
Ronald tertawa pelan, ia sangat puas melihat Ares seperti ini. Ronald akan lakukan segala cara, agar Ares di keluarkan dari sekolah ini. Ia paling tidak suka, saat ada seseorang yang berani menyaingi dirinya.
"Ronald, kamu bisa kembali ke kelas," ucap Bu Rita membuat wajah Ares langsung menatapnya, dengan kedua matanya yang memelotot.
Ronald tersenyum tipis. "Baik Bu," ucapnya sambil bangkit berdiri.
Baru saja, Ronald ingin melangkah pergi dari sana, namun tangan Ares dengan cepat menarik tangan cowok itu.
"Saya gak terima Bu. Kenapa Ronald di lepaskan begitu saja? Bagaimana dengan saya? Apa ini, yang dinamakan keadilan?" ujar Ares melirik Bu Rita dengan tangan yang masih mencengkram pergelangan tangan Ronald.
"Anak saya tidak bersalah, jadi tidak pantas untuk dihukum!" ujar Barka dengan tegas. Ia kemudian melepaskan tangan Ares yang mencekal tangan anaknya.
"Dari mana Anda tau, jika anak anda tidak bersalah? Sedangkan, anda tidak melihat sendiri apa yang sudah terjadi?" tanya Ares sangat lancang dan tidak pernah takut.
Barka menjadi terdiam dengan ucapan Ares. Cowok itu memang sangat pintar berbicara, hingga membuat siapapun lawannya akan mati kutu.
"Sudah Pak, Bapak bawa saja Ronald keluar. Biar saya yang akan mengurus Ares," ucap Bu Rita, membuat Ares menatapnya tak percaya.
"Baik Bu, terima kasih." Barka kemudian menarik tangan anaknya dan pergi dari sana.
Ares bangkit berdiri sambil menggebrak meja di hadapannya dengan sangat keras. "Saya gak terima Bu!!"
"Kamu berani melawan saya, Ares?!" tanya Bu Rita dengan kedua matanya yang sangat tajam. Wajahnya sudah terlihat sangat murka.
Ares meneguk ludahnya kasar. Ia menghembuskan napas berat, lalu kembali duduk di tempatnya. Ares harus mengontrol dirinya, ia tidak mau di keluarkan dari sekolah, cuma karena Ronald!
"Saya benar-benar sudah capek dengan sikap kamu, Ares. Saya masih baik dan memberi kamu kesempatan sekali lagi. Jika kamu, masih kayak gini, jangan salahkan saya, jika saya mengeluarkan kamu dari sekolah."
"Saya minta maaf, Bu. Saya janji tidak akan buat onar lagi."
"Baiklah, saya akan pegang janji kamu," ucap Bu Rita. Ia kemudian meraih telepon sekolah dan ingin memberitahu pada ayahnya Ares.
Kedua mata Ares langsung terbuka sempurna, saat melihat Bu Rita yang akan menelpon ayahnya. Bisa habis jika ayahnya tau!
"Bu saya mohon jangan telepon ayah saya," cegah Ares.
Bu Rita yang akan menekan tombol nomor pun langsung menghentikannya. Ia menolehkan wajahnya ke arah Ares. "Kenapa Ares? Ini sudah menjadi peraturan sekolah."
"Bu saya mohon, jangan kasih tau ayah saya. Saya akan melakukan semua hukuman yang Ibu berikan, asalkan ayah saya jangan sampai tau," ucap Ares dengan menyatukan kedua telapak tangannya. Tatapannya terlihat sangat memohon.
Bu Rita menatap Ares. Ia bisa melihat cowok itu, yang sepertinya sangat takut jika ayahnya mengetahui hak ini. Merasa tak tega, Bu Rita pun tak jadi menelpon ayahnya Ares.
Bu Rita menghela napas berat dan menghembuskannya. Ia kembali menaruh teleponnya. "Baiklah, sebagai gantinya, pulang sekolah, kamu harus membersihkan kolam serta menyapu rerumputan kering yang berada di sekitarnya."
Ares tersenyum senang, karena akhirnya Bu Rita mengerti. Ia pun mengangguk cepat. "Baik Bu, terima kasih." Ares pun langsung bangkit berdiri, dan bergegas pergi dari sana.
Lebih baik ia membersihkan satu sekolah daripada harus mendapatkan pukulan dari Iqbal. Rasanya mungkin tidak sebegitu sakit, namun ia lebih sakit jika melihat ibunya menangis.
Ares membuka pintu ruang BK, ia terdiam sejenak karena melihat Jihan yang sedang berdiri di hadapannya.
Ares menatap Jihan dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia langsung melengos, meninggalkan Jihan begitu saja.
Jihan kemudian berlari dan mensejajarkan langkahnya dengan Ares. "Res..."
"Lo mendingan pergi, Han. Jangan pernah deketin gue lagi," ucap Ares tanpa melirik Jihan. Kakinya terus melangkah dengan cepat meninggalkan Jihan.
"Gue minta maaf, Res. Gara-gara gue, lo jadi kena sanksi lagi," ucap Jihan merasa bersalah.
Ares menghentikan langkahnya. Ia menatap Jihan dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku. "Lo sadar kan, kalo semua ini gara-gara lo?"
"Iya. Ini semua emang gara-gara gue! Tapi, gue minta maaf Res!" ujar Jihan mengakui kesalahannya. "Gue tadi gak tau harus apa! Gak mungkin gue cuma diem aja!" lanjutnya.
"Gak usah gangguin gue, dan gak usah deketin gue lagi!" tegas Ares. Ia maju selangkah lebih dekat dengan Jihan. "Gue gak mau jadi temen lo lagi, Han!" Ares menabrak bahu Jihan dengan sangat kasar, lalu pergi meninggalkan gadis itu begitu saja.
Ares sangat capek, terus berbuat rusuh di sekolah. Gara-gara Jihan, ia hampir dikeluarkan dari sekolah. Dan jika tadi guru BK akan melaporkan pada ayahnya, sudah tamat riwayatnya!
Jihan mematung dan membeku di tempat. Ia menatap kepergian Ares dengan rasa bersalah yang semakin menggerogotinya. Jihan [aku bermaksud untuk membuat Ares masuk ruang BK. Ia cuma ingin menyelamatkan cowok itu!
••••π••••
"Gue bantu," ucap Jihan yang baru saja datang dan langsung memegang gagang pel yang tengah Ares genggam.
Ares mendongak, menatap Jihan. "Lo mau apalagi si, Han? Gue gak mau di tuduh macem-macem sama pacar lo!" ujar Ares, karena Jihan yang masih terus mendekatinya. Ia cuma tak mau, berurusan lagi dengan Ronald.
"Gue cuma mau bantu lo, Res. Gue tau, gue salah, tapi sebagai menebus kesalahan gue. Gue bakal bantuin lo." Jihan kemudian menarik gagang pel-nya dari tangan Ares.
"Lepas Jihan!!" Ares tetap mengeratkan pegangannya.
"Enggak Ares, gue mau bantuin lo." Jihan terus menariknya.
"Lepas!!" Ares semakin kuat menarik gagang pel-nya. Ia menatap Jihan sangat murka, karena gadis itu yang terus menarik gagang pel-nya, hingga tanpa sadar, mendorong tubuh Jihan semakin dekat ke pinggir kolam renang.
Mereka berdua terus tarik-menarik hingga akhirnya kaki Jihan terpeleset lantai kolam renang yang licin dan tubuhnya terperosok masuk ke dalam kolam.
Byur!!
Ares membelalakan kedua matanya, saat melihat tubuh Jihan yang sudah masuk ke dalam kolam.
"ARES TOLONGIN GUEE!!" teriak Jihan dengan menimbulkan kepalanya yang hampir mau tenggelam. Kedua tangannya terus berusaha menggapai air, agar ia tidak tenggelam.
Ares meneguk ludahnya susah payah, dan malah diam saja di tempat. Ia yakin, jika gadis itu sedang bercanda. Ares kemudian mengalihkan wajahnya dari Jihan, dan kembali fokus mengepel.
"ARES!!"
"ARES GUE GAK BISA RENANG!!"
"ARES TOLONGIN GUE!!"
Jihan terus berteriak meminta tolong pada Ares. Hingga beberapa saat kemudian suara Jihan tidak terdengar lagi.
Ares langsung menghentikan aktivitasnya, saat Jihan tak lagi berteriak. Ia kemudian, menolehkan wajahnya ke arah kolam renang. Kedua matanya langsung memelotot, saat Jihan sudah tak ada lagi di sana. Dengan cepat, Ares langsung melepaskan jaketnya dan melemparkannya ke sembarang arah.
"JIHANNN!!!" teriak Ares dan langsung menyebur ke dalam kolam untuk menyelamatkan Jihan.