"Muka lo lucu, kalo lagi ketawa."
Ucapan Jihan yang tiba-tiba, sontak membuat Ares langsung terdiam di tempat. Perlahan senyuman di bibirnya hilang dan lenyap.
"Lo kalo ketawa lucu. Ini kali pertama gue liat lo ketawa, setelah tiga tahun kita satu kelas," ucap Jihan merasa terharu. Biasanya Ares tak pernah sampai tertawa lepas seperti ini. Entah kenapa, ia sedikit senang, mendengar tawa yang keluar dari mulut cowok itu.
Ares langsung merubah raut wajahnya, menjadi ketus. "Apaan sih lo!" Cowok itu, kemudian kembali melangkah menuju bangku besi dan kembali duduk di sana.
Jihan tertawa pelan, ia melangkah menghampiri Ares dan duduk di samping cowok itu. "Berarti, gue cewek pertama yang bisa buat lo ketawa. Iya kan?" ujarnya membanggakan diri.
"Kedua," jawab Ares seraya mengigit permennya dan langsung menelannya dengan sekejap.
Jihan terdiam beberapa detik, dengan keningnya yang mengerut. Selang beberapa detik kemudian, ia berkata, "Oh iya gue lupa, pasti pacar lo kan yang jadi cewek pertamanya?"
"Bukan."
"Lah terus?"
"Nyokap gue."
Jihan terdiam beberapa saat, dengan kedua matanya yang mengerjapkan secara bersamaan. Perlahan, kepalanya pun mengangguk paham.
"Ya udah, karena gue udah bisa bikin lo ketawa, mulai sekarang, lo bakal jadi temen gue," ujar Jihan, berhasil membuat kepala Ares langsung menoleh padanya.
Ares menatap Jihan tak percaya. "Lo Bercanda?"
"Ih, serius! Lo mau gak?" tanya Jihan dengan tatapannya yang sangat meyakinkan. Ia cuma ingin, mengajak Ares untuk lebih mengenal dunia luar. Supaya rasa sakit yang diderita cowok itu, sedikit membaik.
Ares tersenyum tipis. "Oke," jawabnya tanpa ragu. Baru kali ini ada yang berani mengajaknya untuk berteman. Bener-bener cewek beda!
"Oke, mulai sekarang Alvares Septian Amoura resmi menjadi teman Jihan Stefi Amara," ujar Jihan dengan mengangkat tangannya ke atas, layaknya seperti seorang sedang berpidato.
Ares yang melihat Jihan seperti itu pun, tertawa pelan. Baginya walaupun Jihan itu kadang mengesalkan, namun hatinya benar-benar baik.
••••π••••
Ares masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan yang berbeda dari biasanya. Dari yang biasanya dengan wajah murung, sekarang sedikit lebih ceria.
Zara yang melihatnya pun tersenyum senang. Baru kali ini Ares bisa tersenyum di dalam rumahnya. Biasanya, cowok itu selalu ketus dan murung.
"Assalamualaikum, Ma," ucap Ares menyalimi tangan Zara.
"Waalaikumsalam," jawab Zara mengusap kepala Ares. "Kayaknya lagi seneng anak Mama. Ada apa?" tanya Zara dengan senyuman jahilnya.
"Enggak, biasa aja." Ares menggaruk tengkuk lehernya.
Senyuman Ares perlahan memudar, saat melihat kehadiran ayahnya yang sudah pulang bertugas dari rumah sakit.
Iqbal berjalan menghampiri mereka berdua. "Buat rusuh apalagi kamu di sekolah?" tanya Iqbal melirik Ares dengan tatapan tajam.
"Iqbal!!" Zara memukul punggung Iqbal. Kenapa dia selalu berburuk sangka pada Ares?
Ares menatap wajah ayahnya, lalu mengulurkan tangan kanannya, dan ingin menyalimi ayahnya.
Namun, tangan Iqbal langsung terangkat dan terlipat di depan d**a, tanpa menyambut uluran tangan Ares. "Awas aja ya, sampe kamu ngerusakin fasilitas sekolah. Papa gak akan ganti rugi, biar kamu yang tanggung jawab sendiri!"
Setelah mengucapkan itu, Iqbal langsung melengos dari sana. Meninggalkan Zara dan Ares yang masih berdiri di sana.
Ares menatap tangannya yang masih terulur, ia tersenyum miris dan menghembuskan napas berat.
"Res, gak usah masukin hati ya, kata-kata Papa," ucap Zara mengelus punggung Ares.
Ares mengangguk pelan. Ia tersenyum menatap ibunya, menyembunyikan seribu luka yang bersarang di hatinya.
Ares kemudian pergi dari sana dan melangkah menuju kamarnya. Ia masuk ke dalam kamarnya dan langsung menjatuhkan tubuhnya yang sudah terasa lelah di atas kasur.
Ares menatap langit-langit kamarnya. Tatapannya terlihat begitu sendu, dengan senyuman kecil yang terbit di kedua sudut bibirnya. Ia cuma sedang membayangkan, bagaimana rasanya jika ia diberi kasih sayang, oleh ayahnya. Seperti ayahnya yang sangat sayang dengan Antariksa.
Perlahan setetes air mata mulai turun dari pelupuk matanya. Dengan cepat, Ares menghapusnya. "b**o malah nangis!"
Disaat Ares sedang terdiam, tiba-tiba saja ponselnya berdering, tanda ada pesan masuk.
Ares merogoh saku celananya, mengambil ponsel dan membukanya.
+6285897*****
Hai cowok m***m, save no gue ya!
Ares mengerutkan keningnya. Ia sedikit kesal karena nomor itu mengatakan dirinya 'Cowok m***m'
Anda
Siapa? Maaf gue gak kenal
+6285897*****
Ini gue Jihan! Jihan! Tadi gue kan minta nomor lo!
Anda
Oh
+6285897*****
Oh doang????
Anda
Terus?
+6285897*****
Yaudah, jangan lupa simpan no gue oke?
(Read)
Ares kemudian menaruh ponselnya di atas nakas. Ia meraih laptopnya yang sudah tidak menyala.
Ares membuka laptopnya, ia kembali mencoba menyalakannya namun hasilnya tetap nihil. Laptopnya mati dan tidak mau menyala.
"Mama boleh masuk gak?" ujar Zara seraya mengetuk pintu Ares yang tidak terkunci.
"Masuk aja, Ma," ucap Ares menyahuti, tanpa menoleh pada Zara. Tatapannya hanya fokus, pada laptopnya.
Zara melangkah menghampiri Ares dan duduk di sampingnya. "Masih rusak?"
Ares mengangguk, sambil terus mengutak-atik laptopnya.
"Nanti Mama beliin yang baru, ya?" ucap Zara berhasil membuat Ares langsung menghentikan aktivitasnya.
Ares mendongak, menatap Zara. "Serius Ma?" tanya Ares tak percaya dengan kedua matanya yang berbinar.
Zara tersenyum manis dan mengangguk mantap.
Ares langsung memeluk Zara dan mendekapnya dengan erat. "Makasih Ma."
"Sama-sama sayang, tapi kamu jangan bilang papa kamu ya, kalo Mama mau beliin laptop buat kamu?"
Ares langsung melepaskan pelukannya. Ia menatap ibunya, lalu mengangguk. "Oke Ma."
"Oh iya Ma, ada yang mau Ares tanyakan sama Mama," ucap Ares dengan wajahnya yang mulai serius.
"Apa sayang? Kamu mau nanya soal apa?" tanya Zara mengelus rambut Ares.
Ares menghela napas panjang dan menghembuskannya pelan. Ia kemudian berkata, "Apa ada temen Mama yang bernama Ares?"
Seketika Zara langsung memaku dan membeku di tempat. Raut wajahnya langsung berubah, saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan Ares. "Ke--kenapa kamu ngomong kayak gitu?"
"Ares cuma heran aja. Mungkin ada masa lalu di kehidupan Mama, yang membuat Papa jadi benci sama Ares?" tanya Ares. Ucapan ayahnya kemarin, benar-benar membuat ia tak bisa tidur tenang dan terus ter bayang-bayang akan ucapan itu.
"Aress...." Zara mengusap bahu Ares. Ia menghela napas, kemudian menggelengkan kepalanya. "Enggak ada sayang, jadi kamu gak usah mikirin ini ya?"
Ares menatap wajah ibunya lekat-lekat. "Beneran Ma? Mama gak bohong kan, sama Ares?"
Zara tersenyum kecil, dan mengangguk. "Mama gak bohong Ares. Ya udah, kalo gitu Mama mau keluar dulu ya?" pamit Zara, seraya bangkit berdiri, kemudian segera pergi dari sana, sebelum Ares semakin mendesaknya.
Zara tidak ingin Ares mengetahui yang sebenernya. Biarkan waktu yang akan membongkar semuanya.
•••••π•••••
Iqbal sedang bersantai di pinggir kolam renang dengan memasukkan kakinya ke dalam air. Ia mendongak menatap awan.
Ekspresi lelaki itu sulit di baca, entah apa yang sedang di pikirkannya. Iqbal terkejut bukan main saat seseorang memeluknya dari belakang.
"Papa," ucap Antariksa yang baru saja pulang sekolah dan langsung memeluk Iqbal.
"Apa Anta? Kamu ngagetin tau, hampir aja Papa mau masuk ke kolam," ucap Iqbal menatap Anta sedikit tajam.
Antariksa tertawa pelan. Ia kemudian mengambil duduk di samping ayahnya. "Hehe maaf. Anta gak sengaja Pa."
"Mau ngomong apa?" tanya Iqbal. Ia sudah tau jika wajah Antariksa seperti ini, pasti cowok itu ada maunya.
"Hmmmm, Anta boleh minta beliin mobil gak?" tanya Anta sembari menyatukan kedua tangannya di depan d**a.
Iqabal terkejut bukan main mendengarnya. Kedua matanya memelotot mendengar permintaan Antariksa. "Mobil?!"
"Iya Pa, please...." mohon Antariksa.
"Kamu kan kemarin baru aja Papa beliin motor, masa sekarang minta di beliin mobil?"
"Ya emangnya kenapa? Papa itu kan dokter, pasti banyak uangnya kan?!" Antariksa berujar dengan nada tinggi.
"Tapi, kamu jangan buang-buang uang hanya untuk kepentingan tidak penting, Anta," ucap Iqbal berusaha menjelaskan.
Antariksa bangkit berdiri. Ia menatap ayahnya sangat tajam. "Bilang aja Papa gak mau beliin, iya kan Pa?!"
Iqbal langsung beranjak berdiri dari duduknya. "Bukan gitu, Anta." Ia ingin memegang bahu Antariksa, namun cowok itu langsung menepis tangannya.
Antariksa langsung pergi dari sana, meninggalkan Iqbal yang terus berteriak memanggil namanya.
"ANTA PAPA BELUM SELESAI NGOMONG!!"
"ANTA!!!"
Antariksa tidak mempedulikan teriakan ayahnya. Cowok itu terus berjalan pergi dari sana.
Zara yang daritadi mendengar ucapannya pun langsung menghampiri Iqbal. "Kamu udah bener kok, Bal," ucap Zara seraya mengelus punggung Iqbal.
"Apa aku harus beliin Anta mobil?" tanya Iqbal pada Zara.
Zara menggelengkan kepalanya. "Jangan Iqbal, kamu jangan terlalu manjain Anta. Nanti, dia jadi gak bisa menghargai uang."
Iqbal menghembuskan napas berat. Ada benarnya juga omongan Zara. Antariksa selalu menghamburkan uang hanya untuk berfoya-foya.
•••••π••••
"Ampun Kak, aku mohon jangan siksa aku. Apa salah aku sama kalian, kenapa kalian selalu menyiksa aku?" lirih seorang gadis yang terus menangis di belakang sekolah.
Falen----Sang ratu bullying itu menghampiri gadis yang tengah disiksanya. "Karena lo, jelek!" Falen menoyor kepala gadis itu dengan kasar.
"HAHAHAHAHA." Kedua teman Falen pun tertawa puas.
Gadis yang menjadi korban bully itu pun hanya bisa menangis. Wajahnya sudah seperti badut, karena Falen yang sudah mendandaninya.
"Lo itu jelek! Culun! Dekil! Gak pantes sekolah di sini, ngerti?!" Falen mencengkram dagu gadis itu dengan sangat kuat.
Falen mengangkat tangannya dan ingin melayangkan sebuah tamparan di wajah gadis itu, namun dengan cepat tangan kekar langsung menahan pergerakannya.
Falen membalikkan badan, menatap siapa yang sudah menahan tangannya. Ia meneguk ludahnya susah payah, saat melihat orang itu. "A--Ares?"
"Berani lo sentuh dia, lo harus berhadapan sama gue!" ujar Ares dengan tatapan nyalang dan terlihat sangat menyeramkan.
Falen langsung melepaskan tangannya dari cekalan Ares. "Lo gak usah ikut campur!"
"Pergi! Sebelum lo semua, gue aduin!" Ares mengancamnya dengan nada seram.
Falen menatap Ares sangat kesal, karena cowok itu yang malah ikut campur dalam urusannya. Ia kemudian, menolehkan wajahnya pada Anggi, menatap gadis itu dengan wajah yang penuh dendam, seolah masalahnya belum selesai.
Kemudian, Falen beserta kedua temannya pun pergi dari sana. Mereka tak mau berurusan dengan Ares, jika tak ingin mendapatkan balasan yang menyakitkan dari cowok itu. Walau Ares pendiam, bukan berarti Ares tak ditakuti oleh satu sekolah.
Ares kemudian membantu gadis itu untuk berdiri.
"Ma--makasih ya, Kak," ucap gadis itu pada Ares. Tubuhnya terlihat begitu gemetar.
Ares hanya mengangguk. "Lain kali, kalo mereka nge-bully lo, lo lawan, jangan diem kayak orang bego."
"I--iya Kak," ucap gadis itu dengan gemetaran. "Ya udah, aku ke kelas dulu ya, Kak," pamitnya pada Ares dan Ares hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Gue salut sama, lo."
Ares langsung membalikkan badan, saat mendengar suara seseorang dari belakang punggungnya.
"Ternyata lo, baik juga ya?" Jihan menatap Ares sangat kagum. Ia tak percaya, cowok nakal itu bisa menolong kaum lemah seperti Anggi.
"Baru tau lo?" tanya Ares dengan satu alisnya yang terangkat. Cowok itu pun, kemudian melangkah meninggalkan Jihan yang masih berdiri di sana.
"Iya. Karena ini kali pertama lo berbuat baik di sekolah. Biasanya kan, lo biang rusuhnya?!" ujar Jihan sambil menyeimbangkan langkahnya dengan Ares.
"JIHANNN!!!"
Sontak Jihan dan Ares langsung membalikkan badan saat suara seseorang memanggil namanya. Nada suaranya begitu tinggi dan sangat menyeramkan.