2. Kiss Jihan

1856 Words
Ares tengah duduk di bangku taman belakang sekolah, menikmati sepoi-sepoi angin yang menerpa kulit wajahnya. Sesekali cowok itu meneguk minuman kaleng yang tadi ia beli di kantin. Sendiri dan kesepian, seperti itulah hidupnya. Tidak ada teman. Tidak ada tempat curhat. Semua siswa di kelasnya, sangat takut pada dirinya, makanya mereka tidak berani mengajaknya untuk berteman. Ares menghela napas panjang dan menghembuskannya pelan. Hari ini, ia tidak akan buat onar. Ares tidak mau membuat ayahnya murka. Apalagi ia sudah berjanji dengan Zara, maka ia harus tepati. Ares tidak mau membuat ibunya sedih. Wanita yang sangat Ares sayangi. Satu-satunya orang, yang membuat hidupnya sedikit lebih berarti. "Sendirian aja lo?" Ares terkejut bukan main, saat seorang gadis tiba-tiba duduk di sampingnya. Ares menoleh, menatap gadis di sebelahnya. Ia melihatnya dengan jengah. "Bisa pergi gak lo? Jangan ganggu gue." "Terserah gue dong, ini kan tempat umum. Jadi siapapun bisa ke sini," ucap Jihan. Ares menatap Jihan sambil memutar bola matanya malas. Ia kemudian meneguk kembali minumannya, tanpa mempedulikan kehadiran Jihan di sampingnya. "Kesambet apaan lo? Tumben, dari pagi gak buat rusuh? Udah tobat?" tanya Jihan menaikkan kedua alisnya. "Bukan urusan, lo." Ares tidak melirik Jihan. Pandangannya hanya terfokus ke depan. "Gini kek dari dulu, jadi gak buat gue repot," ucap Jihan, seraya menikmati cemilan ringan yang ia bawa. "Udah jadi tugas lo kan, sebagai ketua kelas?" Jihan manggut-manggut. "Iya gue tau, tapi gue capek harus urusin lo yang selalu ribut di kelas." Jihan menatap wajah Ares lekat-lekat. "Duit lo sebanyak apa sih? Sekalian aja lo beli sekolah ini!" lanjutnya menatap Ares sangat kesal. Ares hanya diam saja. Ia menatap Jihan dengan tatapannya yang sulit diartikan. "Kalo capek, tinggal mundur aja, apa susahnya?" "Kalo ada yang mau gantin gue, gue udah mundur dari lama kali!" balas Jihan dengan sorot matanya yang sangat tajam. Jihan beranjak dari duduknya dan ingin bergegas pergi dari sana. Namun, tangan Ares dengan cepat, langsung menahan tangan gadis itu. "Duduk. Temenin gue di sini," ucap Ares seraya melirik tempat di sebelahnya. "Bukannya tadi, lo ngusir gue?" Ares tak menjawabnya. Ia menarik kasar tangan Jihan, lalu mendudukkan kembali gadis itu di bangkunya. Jihan meringis sakit, akibat bokongnya yang terlalu keras menyentuh bangku. "Sakit b**o!" kesal Jihan seraya mengelus pantatnya yang terasa ngilu. Ares hanya diam saja dengan wajahnya yang tanpa merasa bersalah sedikit pun. Ia kemudian meraih snack yang tengah Jihan pegang dan memakannya tanpa dosa. Jihan memelotot pada Ares. Bisa-bisanya cowok itu mengambilnya tanpa izin. "Balikin punya gue!!" Jihan ingin mengambil kembali snack-nya, namun Ares terus menjauhkannya. "IH ARES, BALIKIN PUNYA GUE!!" teriak Jihan dan terus berusaha merebut snack-nya dari tangan Ares. Ares memasukkan semua potato chips milik Jihan ke dalam mulutnya. Ia kemudian memberikan bungkusnya yang sudah kosong pada Jihan. Jihan menatap sendu cemilannya yang sudah habis. Padahal, ia baru memakannya sedikit. "Balasan buat lo, karena udah aduin gue ke ruang BK," ucap Ares menatap Jihan dengan seringai tajam di bibirnya. Jihan meremas bungkusnya dengan sangat kesal. Wajahnya sudah merah padam, napasnya memburu, dan sorot matanya yang terlihat tajam. Jihan mengangkat kepalanya, menatap Ares. "Ngeselin banget sih lo jadi cowok! Lo gak tau apa, kalo itu harganya lumayan mahal! Gue kemarin gak jalan, cuma buat beli cemilan itu!" "Lo pikir, gue peduli?" tanya Ares, semakin membuat Jihan tersulut emosi. Kedua tangan Jihan sudah terkepal semakin kuat. Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya. Sabar Jihan, sabar, ucapnya seraya mengelus d**a. "Ngapain lo ngelus d**a kayak gitu?" "Ngadepin setan kayak lo, emang butuh kesabaran!" sarkas Jihan, membuat Ares langsung menatapnya dengan tajam. "Bilang apa lo tadi?!" ujar Ares, menyuruh Jihan untuk mengulangi ucapannya. "Kalo lo gak b***k, gue yakin lo denger," ucap Jihan dengan senyuman lebar di bibirnya. Ia kemudian menormalkan emosinya, lalu berkata, "Btw, kemaren bokap lo ke sekolah, pasti di panggil sama BK, iya kan?" tanya Jihan, membuat ekspresi wajah Ares langsung berubah seketika. "Itu semua, gara-gara lo," ucap Ares mengalihkan wajahnya dari Jihan. Ia sangat malas, karena Jihan yang terus mengadu dan melaporkannya ke guru konseling. "Lo salah, jadi lo pantas buat di hukum." Ares hanya diam saja, tak mempedulikan ucapan Jihan. "Bokap lo ganteng banget, kok lo jelek sih?" ledek Jihan, berhasil membuat wajah Ares menoleh dengan kedua matanya yang terlihat memanas. "Lo aja yang buta. Cuma lo, cewek pertama yang bilang gue jelek," sahut Ares. Mengingat, jika pada saat kelas sepuluh, Ares sudah menolak puluhan gadis yang menyukainya. Sehingga sekarang, tidak ada yang berani menyukainya. "Mata gue masih normal dan gak minus sama sekali! Gue ngomong sesuai realita!" Jihan menunjukkan kedua matanya pada Ares. Ia kemudian memundurkan sedikit tubuhnya, saat Ares menatapnya dengan tajam. Sumpah! Cowok itu terlihat seperti Tiger! "Gue kemarin sempat liat lo sama bokap lo. Dan gue liat-liat, kayaknya lo sama bokap lo gak akrab ya?" tanya Jihan tiba-tiba. Seketika wajah Ares berubah saat Jihan bertanya tentang ayahnya. Ekspresinya sulit dibaca. Ia menatap Jihan dengan tatapan yang sulit diartikan. Ares menghembuskan napas berat. Ia mengalihkan wajahnya dari Jihan, lalu menjawab. "Kalo iya, kenapa? Bukan urusan lo, kan?" Jihan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Ya...iya sih, bukan urusan gue. Tapi gue heran aja, masa lo sama bokap sendiri gak akrab?" "Karena gue bukan anak kesayangannya," jawab Ares, berhasil membuat Jihan terbungkam saat itu juga. "Bokap gue lebih sayang sama adik gue," lanjutnya. Seketika Jihan langsung terdiam dan membisu. Ia sangat merasa bersalah pada Ares. Tak seharusnya ia ikut campur dalam kehidupan cowok itu. Ia bisa melihat wajah Ares yang seperti menyimpan luka yang teramat membekas di hatinya. Jihan meneguk ludahnya susah payah. Ia tak menyangka, jika kehidupan Ares begitu pahit. Mungkin, ini adalah salah satu alasan cowok itu selalu nakal. Jihan meraih tangan Ares dan menggenggamnya. "Maaf, gu--gue nggak ber--bermasud---" Ares melepaskan tangan Jihan. "Gak papa, lo gak usah minta maaf." Jihan tersenyum kikuk. Ia kemudian merogoh saku rok abunya, mengambil sesuatu dari dalam sana. "Buat lo, sebagai tanda permintaan maaf gue, karena udah nanya macam-macam sama lo," ucap Jihan seraya menyodorkan permen s**u pada Ares. Ares menatap permen s**u yang Jihan sodorkan. Ia kemudian, mengangkat kepalanya, menatap Jihan. "Lo udah gak waras?" tanyanya dengan satu alisnya yang terangkat. "Gue waras kok! Kenapa emangnya? Gue kan cuma mau nebus kesalahan gue." Ares berdecih, lalu berkata, "Gue gak mau. Gue udah maafin lo, dan lo gak usah kasih permen itu buat gue. Gue bukan bocah ingusan, ngerti?!" Jihan menatap Ares dengan jengah. "Lo pikir, cuma bocah ingusan doang, yang boleh makan permen ini?" "Mau gak?" tanya Jihan lagi, namun Ares tetap diam, tak menyahut. "Ya udah, kalo lo gak mau!" Jihan merengut sebal. Ia kemudian membuka permen s**u itu dan menjilatnya dengan nikmat, tanpa mempedulikan Ares. Ares merasa risih, mendengar suara mulut Jihan. Ia kemudian menolehkan kepalanya, menatap Jihan. "Bisa gak sih, lo makannya gak usah suara?!" Jihan yang tengah menjilati permen, langsung menghentikannya. "Gak bisa!" jawabnya dengan tajam. Ia kembali menikmati permennya. Ares menghembuskan napas berat. Ia kemudian melirik Jihan, melihat gadis itu, yang sangat nikmat memakan permen, membuat ia jadi sedikit penasaran dengan rasanya. Ares meneguk ludahnya susah payah. "Enak banget gitu?" tanya Ares dan Jihan hanya mengangguk tanpa ragu. Ares terus menatap Jihan yang tengah memakan permen. Ia semakin penasaran, karena Jihan yang terlihat sangat nikmat, memakan permen itu. Tanpa diduga, Ares langsung meraih permen s**u itu dari tangan Jihan dan memasukkan semua permennya ke dalam mulut. Jihan terkejut bukan main, saat Ares merebut permen dari tangannya. Ia langsung menoleh pada cowok itu. Kedua matanya memelotot, melihat permen itu yang berada di dalam mulut Ares. Itu berarti Ares sudah...... Ah s****n! "Ares itu, punya gue!!" Jihan ingin mengambil permennya lagi, namun Ares langsung bangkit berdiri dan menjauhkan permennya dari Jihan. Ares mengeluarkan permen dari mulutnya. "Tadi lo ngasih buat gue kan? Ini beneran enak loh permennya," ucap Ares kembali menikmati permen susunya. "Ih tapi kan, itu bekas gue! Kalo lo mau, gue bisa kasih yang baru!" "Lebih enak yang ini," ucap Ares, membuat pipi Jihan jadi memerah, karena malu. Sumpah! Rasanya ia ingin bogem wajah Ares sekarang juga!! Tanpa di sadari, sedari tadi ada sepasang mata yang mengintai mereka. Tatapannya sangat tajam, dan penuh dengan rasa marah. Kedua tangannya mengepal, hingga urat-urat lengannya menonjol dengan jelas. "s**t!" umpatnya. ••••π•••• Zara membuka pintu rumahnya dan mendapati suaminya yang baru saja pulang kerja. Keningnya mengerut, menatap Iqbal dengan bingung. Sekarang masih jam satu siang, namun kenapa Iqbal sudah pulang? Zara meraih tangan Iqbal dan menyaliminya. Iqbal pun mengecup keningnya dan mengelus rambut Zara dengan lembut. "Kok udah pulang, Bal?" tanya Zara seraya meraih tas dari tangan Iqbal. "Aku sedikit gak enak badan, Ra. Lagian gak ada pasien di rumah sakit," ucap Iqbal seraya berjalan meninggalkan Zara. Zara hanya menganggukkan kepalanya. Ia kemudian berjalan dan menyeimbangi langkah dengan Iqbal. "Bal," panggil Zara dengan nada suaranya yang terdengar sedikit serius. Iqbal menghentikan langkahnya. Ia menatap istrinya. "Apa, Ra?" "Hmm..... Kamu bisa gak sih, perlakukan Ares dengan adil?" pinta Zara. Iqbal terdiam beberapa detik. Raut wajahnya langsung berubah, saat sudah mendengar nama Ares. "Aku kurang adil apa, Ra? Semuanya aku samain. Dari uang saku, aku kasih Ares dan Anta sama. Terus, apalagi yang membuat aku kurang adil?" "Kasih sayang kamu, Bal. Ares butuh kasih sayang kamu," ucap Zara dengan tatapan sendu. Mengingat sikap Iqbal yang tak pernah ramah pada Ares. Iqbal mengusap wajahnya gusar. Ia berdecak kesal, lalu kemudian kakinya melangkah meninggalkan Zara yang masih berdiri di sana. Zara dengan cepat, langsung menarik tangan Iqbal, membuat langkah lelaki itu langsung terhenti. "Aku belum selesai bicara, Iqbal!" "Aku capek, Ra. Mau istirahat," ucap Iqbal. Ia sangat bosan jika sudah membahas Ares, ujung-ujungnya pasti bakal berantem. "Kenapa kamu sama Ares kayak gini, Bal? Apa karena aku kasih nama dia dengan nama Ares? Kenapa kamu benci sama Ares? Dia gak salah Bal. Ares anak kita! Ka---" "CUKUP!!" bentak Iqbal, berhasil membuat Zara menghentikan ucapannya. Zara menelan ludahnya susah payah. Ia tersentak kaget, saat Iqbal membentaknya. Zara sedikit takut, melihat wajah Iqbal yang sangat menyeramkan seperti itu. "Aku capek, Ra! Bisa gak sih, gak usah bahas ini sekarang?!" bentak Iqbal menunjuk wajah Zara dengan tatapan tajamnya. "Aku cuma mau kamu adil, Bal! Kamu gak boleh memperlakukan Anta sama Ares berbeda! Mereka itu, anak kamu! Kenapa kamu kaya gini?!" ujar Zara dengan air mata yang perlahan mengalir, membasahi pipinya. Zara menangis terisak. Ia menatap Iqbal dengan sangat kecewa. "Kenapa kamu berubah, Bal? Kenapa kamu kayak gini? Kamu bukan Iqbal yang aku kenal! Ke mana Iqbal yang dulu? Kenapa saat kamu udah punya anak, kamu jadi kayak gini sama aku?!" Iqbal mematung dan membeku di tempat. Ia merasa bersalah, karena membuat Zara sampai menangis seperti itu. Iqbal kemudian meraih tubuh Zara ke dalam dekapannya, memeluknya dengan sangat erat. "Maaf Ra, aku--" "Kamu jahat, Bal! Kamu udah berubah! Aku gak suka kamu yang sekarang!" Zara ingin melepaskan pelukannya, namun Iqbal terus memeluknya dengan sangat erat. "Maafin aku, Ra," ucap Iqbal terus mengeratkan pelukannya. "Lepas! Lepasin aku, Iqbal!!" Zara terus berontak dari pelukan Iqbal. "Enggak, Ra. Aku gak akan ngelepasin kamu. Aku minta maaf," ucap Iqbal. Ia terus menahan Zara yang berontak. Zara menangis di dekapan Iqbal. Ia menumpahkan semua air matanya di d**a bidang Iqbal. Kenapa Iqbal berubah? Apa seseorang jika sudah menikah, akan berubah seperti ini? Kenapa Iqbal jadi pemarah dan emosional?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD