Senggolan maut di Koridor kampus
"Dilihat dari belakang saja sudah kelihatan aduhai kali bodinya, Lex. Ini pasti cewek kampus yang paling hits," bisik Chris, nyengir tengil saat melihat rambut hitam panjang terurai di depan mading.
Alex menepuk jidatnya. "Woi, Chris, jangan gila kau! Belum tentu itu—"
"Ah, diam kau. Biar kuberi paham cara abang Medan menaklukkan hati perempuan," potong Chris, pede tingkat dewa.
Dia langsung melangkah tegap, berdiri mepet di belakang orang itu, lalu berdehem dengan suara paling karismatis.
"Ehem! Permisi dulu, Dek. Cantik kali rambutmu, bagi abang pening kepalanya. Boleh abang minta nomor WA-mu biar malam nanti kita bisa..."
Orang itu perlahan membalikkan badannya. Rambut panjangnya tersibak, menampilkan wajah garang, rahang kotak, dan kumis tebal melintang di bawah hidungnya. Ternyata dia abang senior angkatan tua.
Senior itu melot, menatap Chris dengan pandangan membunuh. "Kau bilang apa tadi, Maba?! Mau minta nomor WA-ku?!"
Chris langsung melot, senyum tengilnya lenyap seketika. Jantungnya serasa mau copot ke usus.
"Ooo, mak... berkumis rupanya!" sahut Chris spontan dengan wajah pucat pasi.
"Apa kau bilang?!" bentak si senior sambil maju selangkah.
Sebelum bogem mentah melayang, Alex langsung berlari kencang dari belakang, menyergap kerah jaket Chris, lalu menyeretnya kabur sekuat tenaga ke arah koridor luar gedung kuliah.
"Makanya mata itu dipakai, Chris! Hampir mati kita digebuki senior berkumis tadi!" omel Alex sambil jalan terburu-buru.
"Ah, tenang kau, Lex. Namanya juga cobaan lelaki tampan," sahut Chris tetap pede sambil merapikan rambutnya yang berantakan setelah diseret.
"Chris, kamu harus tahu banyak tentang kampus ini. Di sini itu kita—"
BRAKK!
Benturan keras dari sudut buta menghantam bahu kanan Chris dengan telak.
Chris limbung setengah meter ke belakang. Tas ranselnya hampir merosot jatuh ke lantai koridor.
Belum sempat Chris menegakkan badan, sebuah suara melengking sudah menyemprot tepat di depan mukanya.
"Eh, lu kalau jalan pakai kaki dong, jangan pakai mata!" bentak orang berambut pendek itu dengan suara menggelegar.
Mata Chris langsung terbelalak lebar.
"Bah, kukira abang-abang berkumis tadi yang nabrak aku. Rupanya kau cowok juga? Tapi kok cantik kali mukamu, bak bidadari habis pangkas gitu," celetuk Chris santai tanpa dosa.
"Apaan kau? Kau yang nabrak kami, kenapa pula kau yang marah-marah?!" balas Chris tidak kalah lantang. Sifat tengilnya aslinya keluar tanpa rem.
Orang itu melotot semakin tajam.
"Gue yang nabrak? Lo buta ya?! Jelas-jelas lu yang jalannya makan jalan orang! Maba ya lu? Belum tahu aturan?!"
Chris melangkah maju satu belahan kaki. Ia melipat tangan sambil melempar tatapan mengejek paling menyebalkan.
"Bah! Aturan bagaimana pula? Kampus ini luasnya macam lapangan bola, kau pula yang hantam aku dari samping!" semprot Chris lagi.
Chris memajukan wajahnya sedikit. Hidung mereka hampir bersentuhan.
Lalu ia menambahi dengan nada menyindir yang luar biasa tengil,
"Woi, lae, kau laki-laki tapi kok cantik kali muka kau?!"
Mendengar celetukan maut Chris, mata Ayu langsung membelalak merah. Amarahnya melesat sampai ke ubun-ubun karena merasa dihina habis-habisan.
"Lu bilang apa tadi?! Laki-laki?! Kurang ajar banget nih maba! Nyari mati lu ya?!" bentak Ayu dengan suara bergetar menahan geram.
"Tuh mata dipakai buat lihat jalan, jangan lihat cicak berantem! Makanya jangan sok keras kau!" balas Chris semakin menjadi-jadi, siap pasang badan buat adu jotos antara laki-laki.
Puluhan mahasiswa di sekitar koridor langsung berhenti berjalan dan berbisik-bisik heboh. Mereka syok melihat ada maba yang seberani itu menyenggol singa kampus.
Alex yang berdiri di sebelah Chris sudah gemetaran parah dengan wajah pucat pasi. Tangannya mencengkeram kuat lengan jaket Chris, berusaha setengah mati menarik tubuh sahabatnya itu mundur.
"Chris, sudah, Chris! Ayo pergi, lo enggak tahu dia siapa! Bisa mati kita di sini!" bisik Alex panik, suaranya gemetar.
"Oi, Lex! Bagaimana kau ini? Kenapa buru-buru betul kau? Pengecut kali! Tunggu dulu, biar kuhadapi dulu laki-laki gemulai satu ini!" seru Chris kesal sambil menepis pelan tangan Alex.
Kedua tangan Ayu sudah dikepalkan sangat kuat di sisi tubuh hingga urat-urat di lengannya menonjol.
Tatapan matanya mengisyaratkan bahwa dia ingin sekali memukul hancur muka tengil Chris saat itu juga.
Tepat sebelum kepalan tangan kecil itu melesat maju ke arah wajah Chris.
"Ehh, kalian ini! Bubar, bubar!" seru Pak Bayu tegas, dosen killer yang kebetulan sedang lewat.
Kerumunan mahasiswa langsung bubar berhamburan.
Ayu terpaksa menarik kembali kepalan tangannya demi menjaga reputasi di depan dosen.
Namun sebelum membalikkan badan, dia menunjuk kedua matanya sendiri, lalu mengarahkannya langsung ke mata Chris dengan gerakan mengunci.
Isyarat kuat: 'Gue tandai muka lu, urusan kita belum selesai.'
Chris hanya membalas ancaman itu dengan senyuman tipis tanpa dosa yang paling jemawa.
"Cowok cantik" itu menghentakkan kaki lalu pergi menjauh dengan dongkol.
Di area kantin kampus yang agak sepi, Alex langsung ambruk di bangku panjang. Tubuhnya mandi keringat dingin dengan napas tersengal-sengal.
"Aduh, Chris! Kamu itu masih baru di sini, jangan sembarangan dong! Lihat situasinya lah, ces! Kamu dari dulu enggak berubah, tetap saja tengil!" omel Alex habis-habisan sambil mengusap keringat di dahinya dengan tisu.
Chris mendengus geli melihat ketakutan Alex yang berlebihan.
Bah! Pengecut kali pun si Alex ini, masa sama cowok dandan begitu saja takut, batin Chris meremehkan.
"Alamak, ngeri kali bahasamu itu, Lex! Eh, eh, kau dengar ini ya," sahut Chris sambil mencondongkan badan ke depan meja kantin.
"Tadi kita lagi jalan, terus dia yang nabrak kita, buumm! Terus aku salah apa? Harusnya kalau kita pikirkan secara logika, dia yang salah, titik!"
Alex menggeleng-gelengkan kepala dengan tatapan tidak percaya.
"Kamu belum tahu siapa dia, kan?" tanya Alex dengan suara berbisik yang sengaja dikecilkan.
Chris menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Hm, emang saya takut? Mau dia anak presiden kek, anak menteri kek, aku tidak takut! Untung tadi ada dosen, kalau tidak, sudah pasti kupukul dia tadi di koridor itu! Biar enggak songong kali gayanya!" jawab Chris pongah.
Alex menghela napas panjang, menatap Chris dengan pandangan kasihan yang sangat dalam.
"Tapi, Chris, dia itu cewek... nama panggilannya Ayu! Dan dia itu pemegang sabuk hitam karate! Ketua UKM Karate sini!" seru Alex dengan penekanan yang sangat jelas di setiap katanya.
Seketika, dunia Chris rasanya seperti berhenti berputar selama tiga detik penuh. Otaknya mendadak blank.
Mak jang! Jadi bidadari pemarah yang kupanggil 'lae' tadi itu perempuan tulen rupanya?!
pekik Chris terkejut di dalam hatinya.
Fokus otaknya mendadak buyar, bukan karena fakta sabuk hitam karatenya, melainkan karena penegasan bahwa sosok agresif yang menantangnya tadi ternyata adalah seorang perempuan asli.
"Ah, yang betul kau ini, Lex?! Pantas dia cantik kali kutengok, bak bidadari habis pangkas!"
Mata Chris mendadak berbinar-binar, melupakan fakta karate tadi.
"Tapi, Lex... sudah punya pacar si Ayu itu? Bah, kalau cewek asli, beda ceritanya ini. Enggak jadi kupukul lah, mending kujadikan pacar!"
Wajah Alex langsung berubah menjadi datar seketika. Harapannya melihat Chris bertobat hancur berantakan akibat otak gesrek sahabatnya ini.
"Ah, sudahlah, Chris! Capek gue ngomong sama lo! Otak lo isinya gesrek semua!" gerutu Alex kesal.
Alex langsung berdiri, menyampirkan tasnya ke bahu, lalu berjalan cepat menuju ruang kelas meninggalkan Chris sendirian.
Chris tertawa terbahak-bahak melihat punggung teman masa kecilnya yang merajuk. Ia balas berteriak menyusul langkah kaki Alex dari kejauhan.
"Ala, Lex... Lex! Penakut kali kau kutengok! Tengok saja nanti, bisanya kuembat si bidadari karate itu jadi pacarku!" teriak Chris santai, membuat beberapa mahasiswa di sekitar kantin langsung menoleh heran.