Sedangkan seseorang yang masih bergantungan di atas gandola di salah satu pencakar langit di ibukota bersama seorang partner yang ia syukuri tidak banyak bicara itu sekarang melirik ke arah arlojinya.
“Aku rasa Dane akan memanggil kita naik sebentar lagi.” Si pria dengan lesung pipi yang sangat dalam itu menoleh ke Andaru sambil menurunkan tongkat pembersih jendela dari depan wajahnya. “Sebaiknya kau matikan rokok itu sekarang.”
Dan benar saja. Suara walkie-talkie tekan diikuti suara Dane yang datar. “Aku akan mengangkat kalian, Bapak-bapak. Waktunya istirahat makan siang.”
Andaru berdecak. Cepat-cepat ia mematikan rokoknya dengan menginjaknya di lantai gandola. Memungutnya sebelum suara derik gandola ditarik naik dan membuatnya nyaris terjatuh ke depan. Dengan cepat partner-nya menangkap lengannya. Andaru mengucapkan berterimakasih dan sekarang berpegangan di pagar pembatas gandola.
Andaru berdiri tepat ketika ia kembali melewati lantai kesukaannya. Namun ia tidak menemukan siapa sebenarnya ingin ia lihat di sana, membuatnya sedikit kecewa. Tidak berapa lama kemudian ia sampai di puncak gedung. Dane menunggu mereka sampai dengan kedua tangan terlipat di d**a tentu saja sambil memandangi Andaru dengan sangat tajam. Begitu Andaru turun dari gandola. Dane dengan cepat berdiri di hadapannya, saling pandang. Andaru berdiri tegak sambil melepas harness di tubuhnya. Pria itu sekarang tengah mengendus sekeliling wajahnya hingga Andaru bisa merasakan napas pria itu berhembus di wajahnya.
“Kau benar-benar suka cari masalah, ya?” Dane setelah mundur selangkah darinya dengan mata menyipit.
Andaru mengedikkan bahu. Ia lalu melemparkan harness ke atas tas kerja Dane diikuti suara gemercing. “Ayo, aku lapar.”
Andaru tahu Dane menggumamkan sesuatu setelahnya. Namun angin cukup kencang di atas sini sehingga ia merasa tidak perlu mendengar apapun yang dikatakan Dane tadi. Sebelum memasuki lift. Mereka semua membuka menarik resleting wearpack setengah dan mengikat bagian lengannya di pinggang. Dane juga melakukan hal yang sama. Lima pria berbau keringat dan matahari sekarang berimpitan di dalam lift untuk turun ke ground floor. Bahkan parfum lift tersebut tidak bisa menutupi aroma tubuh mereka berlima.
Dan para pria itu sudah terbiasa untuk semua itu. Dan hal yang paling lucu sekarang adalah bagaimana mereka tidak saling pandang secara tidak sengaja dari refleksi wajah mereka di dinding lift. Tapi ketika lift tiba-tiba berhenti di lantai favorit Andaru. Seorang wanita berdiri memunggungi pintu lift. Tampak rapi dengan sanggul dan seragam yang dibalut jaket. Sekarang tengah melambai ke arah yang mereka tidak bisa lihat dari dalam lift. Sang partner yang tadi satu gandola dengan Andaru dengan sengaja meliriknya sambil mengulum senyum. Dane yang berdiri di tengah keduanya sekarang memandang keduanya dengan dahi mengerut.
Wanita jelas tidak tampak seperti karyawan gedung apartemen ini.
“Jadi kau bisa tahu nomor lantai dari dalam gedung?” tanya sang partner dengan suara yang sangat pelan, membuat Andaru langsung melotot ke arahnya.
“Aku bisa berhitung, kau tahu.” Desisnya dari balik gigi sambil dengan sengaja melihat melewati Dane yang sekarang dahinya benar-benar mengerut.
Sang wanita akhirnya berbalik badan dan ia langsung menghentikan langkah. “Maaf, karena lift umum tidak kunjung naik...”
“Tidak masalah,” sang partner-lah yang lebih dulu bersuara. Merentangkan tangannya. Membuat ruang di tengah-tengah lift agar si wanita bisa masuk di antara para pria bau matahari dan keringat itu.
Tentu saja sekali lagi wanita itu mengedarkan pandangan ke arah para pria itu. Sebelum akhirnya masuk dan berdiri di tengah-tengah mereka dengan memeluk tas tangannya dengan erat. Sikap tubuhnya cukup tegang membuat semua pria itu saling pandang.
Ketika akhirnya pintu lift membuka di ground floor, sang wanita langusng melijit pergi dengan nyaris berlari. Sang partner langsung tertawa terbahak dengan punggung membungkuk. Sedangkan Dane menatap Andaru penuh tuntutan. Membuat Andaru mengalihkan pandangan.
Mereka tentu saja mencari makan siang dijajaran penjual emperan yang ada di belakang gedung apartemen mewah itu. Lengkap dengan hawa panas jalan raya, bau asap knalpot, dan suara kendaraan yang berlalu-lalang. Ketika keempat pria melingkarinya dan menadahkan tangan kepada Dane untuk uang makan siang mereka. Setelah semuanya mendapatkan bagiannya. Andaru berharap ia berjalan ke arah yang tidak diikuti oleh siapapun. Namun ternyata sang partner dan Dane mengikutinya rapat di belakang.
“Oh, aku tahu sekarang kenapa kau tidak pernah menolak setiap kali aku panggil untuk membersihkan gedung ini.” Dane setelah duduk di hadapan Andaru di meja kedai mie ayam yang pengap.
“Sudah berapa lama?” Sang partner juga menimpali. “Eh, Bang Andaru bukannya karyawan tetap Bang Dane?” Sang partner tampak terkejut dengan itu.
Andaru memilih untuk tidak menjawab. Ia malah memanggil asisten tukang mie ayam- sorang ibu untuk membuatnya es teh manis.
“Tidak. Ia punya pekerjaan lain yang memberinya penghasilan lebih banyak. “ Dane setelah mengambil duduk di dekat sang partner. “Ayolah, Andaru. Jangan pelit begitu. Kita, kan jarang bertemu.” Dane kemudian menoleh ke arang sang asisten dan menyebutkan pesanannya, begitu juga dengan sang partner.
Andaru kemudian memelototi Dane. Membuat Dane langsung mengangkat kedua tangan ke depan tubuh, tanda menyerah.
“Kalau memang Bang Andaru tidak mau memberitahu. Aku saja.” Sang partner menatap Dane sekarang. “Wanita itu tinggal dengan seorang yang tampak seperti ayahnya.”
“Apa?”
Andaru memelototi pria itu.
“Yep. Dan mereka terlihat sangat romantis.” Sang partner mengedikkan bahu. “No judging.”
“Tapi itu sudah termasuk judging, kau b******k!” Andaru tanpa sadar mengeraskan suaranya. Sampai-sampai Dane harus meletakkan telunjuk di bibirnya yang mengatup rapat. Pipinya menegang, jelas pria itu tengah menahan tawa.
“Tapi bisa saja pria itu adalah ayahnya.” Dane setelah berdeham-deham.
“Ayahnya? Sungguh? Pria itu terlalu tampan dan terlalu “bule” untuk jadi ayahnya.”
Andaru sekarang menatap tajam sang partner. Pria itu jelas mengawasi si wanita cukup lama untuk tahu apa pria yang memeluknya tadi telah berumur yang bersamanya itu apa tidak.
“Wow, jangan menatapku seperti itu, Bang. Aku benar-benar sudah menikah.” Sang partner tampak tersinggung karena Andaru masih tidak mempercayainya. “Apa aku harus mengeluarkan kartu pengenalku?”
Dane sekarang terbahak-bahak. Tepat ketika sang asisten penjual mie ayam datang dengan pesanan mereka dengan raut bingung.
Sedangkan Andaru sendiri menggaruk-garuk belakang kepalanya sambil menunduk menatap botol kecap. Ia jelas membuka kartu yang seharusnya tidak akan pernah ia buka...