Bagian 9 . Selesai menurut Nata tidak Untuk Rangki.

2100 Words
“Gadisku , kau sengaja mengodaku sampai aku harus menjemput mu kesini “ , gumam Rangki pelahan sambil menunduk dan membelai rambut Nata. Diam-diam ikut masuk kedalam selimut Nata, memeluknya, mendekati lehernya, mengendus panjang disana. “wangi ini yang aku rindukan seharian” bisik Rangki . Mencium kembali, hingga Nata risih dan mulai mengeliat, merasakan adatubuh di belakangnya, dengan kaget bangkit dan menendang dengan kuat. Rangki tidak terdorong, hanya tersenyum lebar. “sini tidur saja ini aku” ucap Rangki polos seperti tanpa dosa”. Hening, nata terpaku mematung, tidak bersuara, tidak juga mengatakan tidak, tidak juga iya, sepertinya otaknya sedang loading, mengumpulkan roh. Detik berikutnya gerakanya cepat lalu menyambar tas yang ada di nakas dan bergegas berlari keluar, namun sayang, gerakan cepatnya terbaca oleh Rangki, dan saat tanganya memengang kenop pintu secara persamaan Rangki berlari menenkanya disana. Nata berada dalam kungkungan Rangki. Lalu keduanya saling menatap. Nata menatap nya dengan penuh kebencian, lalu rangki menatapnya dengan penuh hawa nafsu, Rangki tidak marah, dia cukup sadar, tindakan Nata adalah hal wajar. Lalu “Rangki menunduk sambil berbisik, kamu lupa yang aku katakan pagi tadi? “Jangan membuat aku mengulanginya” Rangki menekankan disana. Tubuh Nata bergetar, semangat yang membara untuk kabur menghilang, sekarang terkulas lemah, panik. Dengan suara bergetar Nata berucap” bukan kah kamu bilang aku tidak boleh terluka? Ini aku hanya berlibur”. “Jangan menipuku, aku bukan bocah kemarin sore yang bisa kau goda. Seluruh tubuh Nata bergetar, mulai keluar keringat, lalu nafasnya mulai terasa sesak, serangan panik datang, lalu matanya mulai mengelap, dan detik berikutnya terkulai ke lantai, seketika Rangki memapahnya, dan menarik kepelukanya. “Syiitt, ada apa dengan gadis ini, sebentar-bentar pinsan, merepotkan sekali” Rangki bergumam sambil menggendongnya ke bed. Nata dibaringkan dengan hati-hati, sangat pelan seperti menjaga poslen biar tidak reta. Rangki, merogoh saku nya, mengambil Hp lalu menghubungi menejer hotel untuk membawa peralatan P3K. Selang beberapa menit pintu hotel sudah di ketuk, lalu tanpa aba-aba perinta masuk segera pengurus hotel beserta menejer mebawa kotak P3k. Salah satu petugas dengan cekatan membuka peralatan, terlihat seperti sudah terbiasa menangani kasus seperti ini, memberinya minyak angin, mengosok telapak kakinya. Dengan gerakan sederhana ini dapat membangunkan kesadaran Nata. Nata mulai membuka matanya lalu samar-samar memperhatikan orang-orang menatapnya. “Syukur kamu bagun, kalau tidak segera ku buang kelaut, biar dipeluk gurita” ucap Rangki dengan nada sindiran. “laut jauh dari sini, membutuhkan waktu lama membawaku kesana” jadi kamu saja yang keluar dari kamar ini aku tidak mengiginkan mu. Debat nata di sela-sela mengumpulkan kekuatan untuk mulai bangun duduk sambil bersender. Rangki menatap menejer hotel dengan sorotan matanya, dan manejer hotel langsung tau tujuanya, ingin mereka keluar, dengan segera menejer hotel berpamitan dan keluar tak lupa menutup pintu kembali. Begitu menejer hotel dan rekanya keluar, Rangki langsung bereaksi. “kamu lupa Permata Nata” mungkin harus kutunjukan sesuatu biar kamu sangat paham dan menurut. Rangki melupakan kalau Nata baru terbangun dari kematian. Lalu menunjukan salah satu rekaman yang berisi keluarga Nata mendapatkan kunjungan Tamu, di vidioe itu terlihat normal namun Nata sangat kawatir, dia cukup tau itu hanya permulaan. Begitu Rangki mengetahui Nata kabur, langsung memerintahkan bawahanya untuk berkunjung ke rumah Nata. Lalu dia mengengam rekaman kunjungan itu. Lalu Rangki tersenyum bak malaikat, senyuman lembut, mendekati Nata lalu duduk disampingnya, menariknya dalam pelukan Rangki. “kamu jangan sakit ya” maka keluarga kamu akan selamat. “jangan pernah berpikir untuk kabur dari aku” bisik Rangki, lalu satu kecupan nakal mendarat di pipi Nata. Nata berbalik ingin memastikan “ Jika aku mati kamu masih berniat menyakiti mereka”? “tentu Sayang, aku tidak punya belas kasih pada mereka, yang aku mau hanya kamu” “Kamu boleh membenci aku itu cukup normal” tapi aku tidak pernah melepaskan mu. “siapa suruh mengoda ku” ucap rangki tersenyum genit lalu mengulum bibir Nata. “aku lelah sekali hari ini, ayu tidur,,, sambil mendorong tubuh Nata yang kaku dan ikut berbaring disamping Nata. Memeluknya posesif, Nata ikut memejamkan mata, tidak ingin membuat keributan, pasti ada cara lainya nanti pikirnya. ***** Pagi hari sayup, sayup kicauan burung terdengar jelas, udara pagi di pergunungan lebih sejuk dari perkotaan. Rangki masih dengan posisi memeluk Nata, saat nata terbangun, memindahkan tangan Rangki dengan pelan. Tidak ada tanda-tanda Rangki akan bangun. Nata dengan cepat melakukan aktifitas paginya, lalu berganti pakaian mengunakan pakaian olah raga, yang memang dibawa beberapa potong. Niatnya ingin berolah raga menikmati indahnya suasana pergunungan, lalu bergegas turun cepat, tidak membawa apapun kecuali beberapa lembar duit untuk sarapan pikirnya. Saat keluar dari lift, hatinya sangat senang, perasaan lega karena tidak satu ruangan dengan Rangki. Mengayunkan kakinya dengan cepat melewati Lobby dan resepsionis yang menyapanya dengan sopan, Nata hanya menganggu saja tidak tersenyum karena kesel membiarkan orang asing masuk kekamarnya, apapun alasan nya penginapan ini tidak benar, lalu melangkah keluar dengan cepat tanpa melihat kiri dan kanan. Langkah kakinya perlahan-lahan meningalkan penginapan, menyusuri perdesaan yang indah, menikmati suasana kebun the nan hijau, menyusuri langkah setapak, menyapa beberapa warga yang lewat dan yang sedang bekerja sepanjang perjalanannya. Nata berjalan santai, menikamati indahnya pemandangan barisan perbukitan dan sejuknya udara pagi, masih terasa embun pagi berjatuhan, ya memang pagi ini masih terlalu pagi untuk joging, matahari belum keluar dengan sempurna. Perjalanan panjang nya pun berlalu, tidak terasa sudah sekitar 2 jam menyusuri pergunungan, sampai lah Nata dihilir, lalu menemukan sungai kecil. Karena haus dan gerah mendekati sungai itu dan membasuh mukanya disana. Disna nata bertemu dengan beberapa pemuda, terlihat dengan pakaian mendaki mereka, Nata menyimpulkan mereka sedang turun gunung. Nata tidak menyapa, melakukan kegiatnya dengan cepat lalu bergegas meninggalkan sungai itu, dia tidak ingin terlibat. Saat Nata dengan diam meninggalkan tempat itu ada satu pemuda yang mengikutinya, lalu menyapanya dengan sopan. Tanpa basa basi mengajaknya berkenalan. “Aku Trio “ ucap lelaki berparas tampan didepanya. Nata Mengguk dan meberikan satu senyuman “ aku Nata” lalu berlalu, Saat hendak pergi lelaki itu menyodorkan kartu namanya, lalu Nata dipakasa untuk menggamnya. Saat gengaman tangan nya di gengam oleh Trio adegan itu terlihat jelas oleh Rangki. Membuat amarah Rangki. Merasa miliknya tidak bisa disentuh oleh orang lain, api cemburu membakar hatinya. Nata tidak menyadari sedari tadi perjalananya di ikuti oleh Rangki, dan Rangki juga tidak ingin menggu waktu Nata, hanya ingin memberinya ruang, namun tetap melakuakan pemantauan untuknya. Nata mengambil kartu nama itu dan melihat disana tertulis dr. Trio Tirta . SpOG, Nata cukup tau itu dr spesialis kandungan. Dengan kedipan mata Trio memiminta nata menyimpanya. Lalu dengan cepat meminta nomor HP Nata. Nata dengan santai meberitahu nomornya, 08… 78. Belum juga kalimatnya diselesaikan sudah ditarik lenganya dengan cepat oleh Rangki. “jangan memberi nomormu kesembarangan orang, ucap Rangki tegas sambil melirik dr. Trio. Lalau menarik Nata dengan cepat meninggalkan gerombolan pemuda pendaki itu. nata merasa tidak nyaman dan sedikit malu diperlakukan seperti ini, lalu dengan berat langkah mengikuti Rangki, raut wajahnya masih menatap dr. trio lalu memberi isyarat maaf . lalu dr. trio seperti tau isyarat wajahnya dengan cepat mengatakan tidak apa-apa sambil tersenyum dan mengangkat tangannya dan membuat kode tangan berbentuk phon ke telinga nya sambil berucap “call me “. Lalu Nata menghilang dari pandangan dr. Trio. Yang tidak disadari Rangki adalah Nata mengengam kartu nama dr.Trio . Rangki dengan emosi menyeret Nata dengan cepat, langkah kakinya cepat membuat Nata harus berlari menyeimbangi langakah kaki yang jenjang milik Rangki. Melewati perkebunan teh dan jalan setapak yang dilalui pagi tadi, mata hari mulai menyilaukan, menyinari mereka, Nata terlihat berkeringat bercucuran, selain karena aktifitas gerakan cepat seraya berlari juga karena panas matahari dan ketakutan nya pada Rangki. Tidak melawan, membiarkan dirinya diseret, lenganya di gengam sangat kuat, hingga sampai di tepian jalan beraspal, jalan yang dilewati hilir mudik kendaraan. Rangki terus membawanya ke penginapan tadi, perjalananan masih panjang, masih setengah perjalanan, karena Nata sudah merasa sangat lelah, lalu berhenti tidak ingin bergerak lagi, Rangki spontan melirik kebelakang, keorang yang diseretnya. “aku lelah” ucap Nata tegas. Rangki memperhatikan kondisi Nata yang dipenuhi keringat. Lalu perlahan-lahan melepaskan tangan nya. Nata merasa lega dan diam sesaat, sambil mengosok-gosokkan pergelangan nya yang tampak merah karena digengam Rangki dengan keras. Nata tidak protes, tidak banyak bicara. Dia tidak tau salahnya dimana kali ini, apakah berbicara sama orang aja tidak boleh? Hidup sesulit itu kah? Bertanya-tanya dalam pikiranya, tanganya masih mengosok pegelangan tanganya. Rangki melihat yang dilakukan Nata, pergelangan tangan Nata memerah. Namun dia tidak berniat meminta maaf, itu hukuman yang pantas karena berani memberi nomor nya untuk dihubungi lelaki lain. Detik berikutnya Rangki mengajak Nata dengan lembut ke salah satu warung yang ada. “kita sarapan yuk” ajak Rangki sambil merangkul pelan pinggang Nata. Nata yang sudah lapar dan haus sedari tadi, tidak membantah mengikuti saja. Disini hanya ada warung kecil ucap Rangki, ”kamu mau aku pesan apa? Meneruskan kalimatnya. “terserah, memang aku bisa memilih? Ucap Nata dengan nada tidak bersahabat. Anehnya Rangki tidak merasa risih dengan Nata. Asal Nata ada di depanya, apapun reaksinya dia tidak peduli. Lalu dengan cepat Rangki memesan dua mangkok bubur ayam, yang dirasa sangat pas makan ini. Tidak lama kemudian makanan tersajikan, dua mangkuk bubur ayam dan 2 kelas the tawar. Rangki bukan tipe lelaki yang pemilih untuk makanan, dia bisa makan dari warung manapun, yang kemudian dengan citarasanya yang luarbiasa, dia bisa membuat menu-menu itu menjadi menu andalan direstoranya. Terkadang dia juga sering melakukan kunjungan ke bebrapa pelosok untuk menikmati rasa otentik dari makanan yang akan direncanakan dari sumber daerah itu sendiri. *** Nata mengambil mangkuk bubur Ayam, tidak mengaduknya, menambah kecap dan beberapa sambel, Nata menyukai makana pedas. Lalu makan sedikit demi sedikit, kemudian membuka suara, aku tidak berniat kamur lagi dari mu, jadi kamu tidak perlu sampai mengikuti ku kemari. Ntah punya utang apa aku sehingga terlibat dengan kamu sampai ketitik ini. ucap nata ingin menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki hubungan apapun selain karyawan magang yang tidak sempat bekerja sehari pun. Nata masih meneruskan kalimatnya, “ saat ini aku sendiri bingung kenapa kamu mengejarku” harunya urusan kita selesai di pagi hari itu, aku tidak bisa mengikuti permainan mu, aku bukan lah siapa-siapa kamu. Ucap Nata panjang lebar. Nata tidak menyadari delam ucapanya terlihat seperti meminta status hubungan mereka. Rangki yang salah mempresepsi perkataan Nata tersenyum. “jangan kawatir, aku sudah meninmbang dan memikirkanya. Ucap Rangki. Ini memang tidak biasa untuk aku terikat dengan satu wanita, namun sulit untuk aku melepaskan mu, lalu kalimat berikutnya “Mari kita menikah besok saat kembali dari sini” ucap Rangki. Nata tersentak dan tersedak mendengar kata Menikah, uhk..uhk… “makanya pelan-pelan” tidak ada yang akan merebut makanan mu ucap Rangki. “tidak bukan itu maksudku” aku menegaskan, aku tidak ingin ada hubungan apapun dengan mu. Tegas Nata. Yang kamu lakukan padaku memang jahat, namu aku tidak mau berurusan dengan orang kaya, pasti banyak celah yang bisa menyelamatkanmu dari hukum, dengan kata lain aku menyerah dan membiarkan diriku menderita sendiri dan dirimu bebas tidak perlu bertangung jawab apapu untuk ku. Nata menyuarakan isi hatinya dengan bebas tanpa rasa takut Rangki terdiam sementara sedang mencerana kalimat panjang yang di lontarkan Nata. Tidak ingin terbawa suasana emosi yang mengebu-gebu dari dalam dirinya, Rangki menahan kesabaran setelah mengetahui ke inginan Nata. “ kamu tidak usah pikirkan apapun, biar aku saja” ucap Rangki. Nata dengan polosnya mengira itu adalah kalimat pembebasan untuknya. Lalu dia hanya mengguk dan berucap OK. Disisilain Rangki terlihat memainkan ponselnya acuh tak acuh, dan membiarkan Nata makan dengan santai. 30 menit berlalu, setelah sarapan Nata masih sempat meminta secangkir kopi lalu menghirupnya dengan santai, wajahnya damai, dia terlihat bahagia melepaskan seluruh beban. “jangan menyentuh keluargaku lagi” kita sudah selesai yang memang tidak ada hubungan yang kita mulai dan harunya tidak ada kata selesai, namun aku ingin menyudahi dan memperjelas semuanya. Ucap nata di selah-selah menik mati secangkir kopinya. Lalu bangkit tidak menghiraukan Rangki yang duduk diam menatap nya sedari tadi, seakan-akan tidak punya beban dan hubungan rumit ini selesai. Nata datang ke pemilik Warung dan mebayar semua tagihanya, Nata sangat perhitungan tidak membayar punya Rangki, baginya Rangki orang asing tidak harus membayar satu senpun. “aku duluan ya, aku sudah bayar bagian aku, aku selesaikan bagian kamu” ucap Nata lalu melangkah keluar dari warung itu. Rangki tersenyum getir. Membiarkan Nata berjalan mendahuluinya. Lalu terlihat Rangki menelpon seseorang, “persiapkan semua yang aku minta” akan kedatangan tamu ucapnya, lalu mengakhiri telpon itu. Rangki tidak menanyakan harga langsung memberi dua lembar uang merah, dan itu cukup banyak ucap pemilik warung. Ambil saja kembalian, sausana hatiku lagi baik ucap Rangki seraya dtersenyum dan melangkah keluar. Rangki sudah menyusun rencana, tidak ingin rencana gagal dia membiarkan Nata berbuat sesuka hatinya untuk sesaat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD