Bagian 10. Rangki bereaksi sesuai keinginanya.

1436 Words
Rangki berjalan mengikuti Nata dengan santai, memperhatikan Nata dari jauh, tepat seperti yang dilakukanya pagi tadi. Membiarkanya sendiri. Dengan bebas menyapa siapapun, tidak ada pertengkaran. Ini seperti kesunyian sebelum badai datang. Rangki cukup cerdas, tidak menginginkan adanya pertikaian, pertengkaran, apapun itu yang menguras emosi dan dapat dipertontonkan pada orang banya, tentu jika ini dilakukan akan mencoreng nama baik keluarganya, dan dia juga akan terkena sorotan media, semua hal dilakukan tanpak normal. Sesaat kemudian, tiba mereka di penginapan, lalu keduanya masuk kedalam penginapan, Rangki masih mengikutinya dari belkang. Sesampainya di lantai tiga tepat di depan kamar, Nata menyadari sesuatu, dia tidak membawa key card. “Mencari ini? ucap Rangki dengan santai sembari meberinya key card sambil tersenyum penuh kemenangan. Nata tidak menyadari perubahan senyuman Rangki lalu mengambil Key card dan membuka pintu kamar. Karena sangat lelah, langsung terkapar dan berbaring, “aku sangat lelah, kamu bisa cari kamar lain, ucap Nata santai, tidak ada ketakutan dalam kalimatnya. “istirahatlah” ucap Rangki menyadari Nata memang lelah. Aku mandi dulu, ucap Rangki, yag tampak normal. Nata tidak peduli lalu menutup matanya. Rangki menyelesaikan mandinya dengan cepat, taku Nata melarikan diri lagi. Nyatanya Nata benar-benar tertidur. Tak ingin menggangu Nata, Rangki dengan santai duduk didekat jendela seraya menikmati pemandangan. Rangki merasakan nikmatnya hidup dikasur ada wanita cantik, diluar pemandangan asri dan sejuk lalu tersenyum bak setan. Rangki lama menunggu Nata, dan memang tidak ingin membangunkanya, suasana di pergunungan memang enak dibawa tidur, apalagi sekarang masih jam 9 pagi. Rangki masih menunggu hingga waktu mulai siang hari. Rangki terus memperhatikan Nata, terlihat nata mengeliat, membalikkan badanya, kini Nata membalikan badanya kearah Rangki, dan Nata makin terlihat jelas oleh Rangki, “sangat cantik” ucap Rangki. Lalu detik berikutnya, Rangki melihat bagian bawah perutnya, terlihat mulai menegang. Ah syittt, kenapa ini mulai lagi. Tentu ini diluar kontrol nya. Rangki tidak ingin merusak suasana, lalu bergegas keluar kamar. *** Rangki diluar mengontrol semua ruang, termasuk restoran, pelayan penginapan itu mulai panik dengan sidak dadakan ini, nyatanya Rangki hanya ingin menghindar dari Nata. Setelah selesai dengan kunjungan nya. Hari sudah makin siang, sudah jam 2 siang, Rangki memesan beberapa menu untuk dibawakan ke kamar Nata. Lalu dia pun bergegas ke kamar. Ketika masuk melihat Nata sudah tidak ada, hatinya gelisah namun detik berikutnya Rangki menemukan Nata di kamar mandi sedang bernyanyi santai. Nata santai mandi karena mengiria sudah selesai drama hidup ini, yang terjadi dibiarkan saja toh dia tidak bisa kembali kemasa lalu untuk mengubah takdir nya. Mencoba iklas menerima hal buruk yang menimpanya beberapa hari ini. Tak lama kemudian terdengar suara bel,, Rangki langsung membuka pintu ternyata itu pesanan makanan nya. Rangki mempersilahkan pelayan hotel untuk menata makanan dimeja yang tersedia. Saat itu juga Nata menyadari ada yang menekan bel kamar, Nata mempercepat mandinya lalu memakai jubah mandi, dengan segera keluar dari kamar mandi lalu betapa kagetnya, yang didapati Rangki sedang duduk dimeja makan sambil tersenyum, senyumnya manis sekali,, namun yang dilihat nata senyum yang sangat menakutkan dan membuat nya merinding. “lekas berpakaian”,mata Rangki menatapnya dengan liar, “ lalu kita makan siang,” setelah makan kita kembali ke kota C. aku banyak urusan yang harus aku urus, ucap Rangki santai. Rangki sengaja meminta Nata memakai baju karena tidak ingin menidurinya disiang hari ini, tentu diluar kendalinya jika yang dibawah mulai mengeras. Nata seperti tau maksut dari tatapan mata Rangki dan tidak ingin berdebat dengan kondisi yang sedang memakai jubah mandi. Jadi dia menurut dan membawa sepasang baju lengkap dengan dalamanya kedalam kamar mandi. Sesaat kemudian dia keluar, menuju ke mejamakan, tanpa basa basi Nata mengambil makanan yang sudah disediakan. Mengingat kata yang dilontarkan Rangki kembali ke kota C, membuatnya merinding “tadi sudah aku katakan ingin tinggal disini” pikirnya. Masih dengan menyuapi makan, dia tidak menyadari orang di sebelahnya menatapnya dengan intens, makan dengan pelan tanpa menawarkan yang didepan. Sesaat kemudian Nata menyelesakian makanya, lalu baru sadar jika dia hanya makan sendiri. “kamu tidak makan? Tanyanya. “sudah kenyang” aku pingin yang lain ucap Rangki mengoda nata dengan tatapan penuh nafsu. “aku sudah selesai, kamu mau kemana tadi? Tidak rencana pergi? Tanya nata dengan gelagat lupa jika dia juga di ajak. “yuk, jika sudah selesai makan. Ucap Rangki dengan nada terdengar normal kali ini. namun yang terdengar di Nata cukup membuatnya merinding. “aku juga ikut” Nata mencoba mencari penjelasan. Karena menurutnya dia sudah sangat jelan memperjelas hubunganya kali ini. Jangan membuat aku terus mengulang ucapan ku Permata Nata, kemasi barang-barang mu dan ikut aku pulang ke kota C. “aku tidak bisa, aku dengan keputusan ku” ucap nata bersi keras. “kamu tertidur seharian, coba cek hp mu” Nata ter terburu-buru mencari HP nya lalu melihat beberapa pangilan telpon. IBU Dan ayah Tidak biasanya mereka menghubungiku terus menerus. Sesaat kemudian HP nya kembali berdering. Nata melihat nama yang menanggil bertulisakan IBU sayang. Nata gelisah, deringan pertama langsung mengangkatnya. Assalammualaikum ibu, ucap Nata pelan. Waalaikum salam terdengar suara di ujung sana. “kamu sehat nak? ….. “Alhamdulillah sehat bu” Nata berbohong karena tidak ingin dirinya menambah beban pikiran orang tuanya. “siang ini, datang orang melamar kamu nak” ucap ibunya. Hah…? Lamaran ? ucapan nya kaget lalu matanya tertuju pada Rangki, Nata sudah sangat tau siapa pelakunya, tanpa basa basi Nata langsung memutuskan. “jangan diterima Bu, aku tidak ingin menikah dengan siapapun” ucap Nata sambil melihat kearah Rangki, nada suara Nata sangat bersemangat. Kali ini tidak terlihat ketakutan lagi, Nata mulai tidak takut dengan ancaman-ancaman Rangki. Rangki tidak terkejut dia cukup tau itu pasti akan terjadi. “Nak”,,, suara ibu di ujung sana, kamu harus menerimanya ucap ibu, lalu ibu berucap lagi, “ ibu minta tolong untuk menerimanya” , kemarin adikmu kecelakaan sampai saat ini tidak sadar, lalu ada orang datang kerumah pagi tadi, bermaksut untuk menolong kita, namun memberi syarat jika ibu menyetujui pernikahan dengan nya maka semua biaya pengomatan adik mu akan ditanggung nya. “ibuk, ,, Ibu menjual ku ucap Nata keras. “jangan berbicara begitu nak, ,,, ibu tidak pernah membedakan mu dan adik mu, namun kamu tega melihatnya berbaring disana. Ibu sudah mengirim beberapa foto adik mu dan calon mu. Tolong pertimbangkan Nak, ucap Nata. “Ibu aku tidak mau dan tidak mau lihat” ucapnya tegas, matanya penuh amarah dan berapi-api menatap Rangki. “ibu sudah menerima sejumlah bantuanya nak, tolong bantu keluarga kita kali ini, mereka dari keluarga terpandang dan ibu yakin kamu juga akan bahagia. Ibu nata mencoba mendorong nata untuk setuju. “terserah ibu” lalu nata menutup telpon dan HPnya dilempar kelantai, Hp itu sudah terbelah menjadi dua. Permata Nata, kamu terlalu emosi, Hp itu tidak punya salah dengan mu, ucap Rangki sambil memungut pecahan HP tersebut. Emosi Nata memuncak, “ bunuh saja semua orang yang ingin kamu bunuh, jangan harap aku ingin menikah dengan mu b******k ucap Nata menghakimi Rangki. Kali ini nata sangat yakin Rangki lah pelaku kecelakaan adiknya, dia sangat frustasi dengan keadaan ini. Sungguh pernikahan yang di inpikan bukan begini, dan juga tentu dengan orang yang dicintainya. Rangki tersenyum tidak tersulut emosi apun yang di katakan Nata. “aku tidak melakukan apapun, ucap rangki” alam pun berpihak padaku, aku hanya ingin menolong adikmu, tentu tidak gratis saya. Benar kata Rangki, dia tidak melakukan apapun terkait kecelakaan adiknya, itu murni musibah dan tidak ada hubunganya dengan Rangki ataupun bawahanya. Pagi tadi dia mendapatkan laporan baahwa keluarga Nata sedang mengalami musibah, dengan ide cemerlang dia langsung mengutuskan beberapa orang untuk menawarkan bantuan sekalian lamaran. Beruntungnya ibu langsung menerima yang memang sedang kesulitan, mengingat anaknya yang sedang terbaring sehingga tanpa berpikirpanjang sudah menerima lamaran Rangki. Nata sangat kecewa karena tidak dirundingkan dengan nya, dia merasa dijual. Rangki bangkit, lalu membereskan barang-barang Nata. “kamu hanya membawa ini? tanya Rangki memastikan begitu mengetahui bawaan Nata tidak telihat seperti orang akan melarikan diri. “ternyata kamu benar-benar ingin berlibur sayang? Kenapa tidak memberitahu aku, tentu aku akan memilih tempat lebih menarik dari ini, ucap Rangki. Nata diam tidak menjawab Rangki mulai tidak sabaran lalu dengan segera menenteng tas Nata dan mengandeng Nata keluar kamar sambil berbisik “ ikut saja dengan ku, sudah tau kan akibatnya “. Rangki sengaja mengancamnya, agar Nata patuh. Tidak masalah baginya Nata mencurigainya atas kecelakaan itu. Baginya itu sama saja dia yang lakukan atau orang lain, sama-sama menolongnya untuk membuat Nata terus berada di sisinya. Pertemuan Nata dan Rangki memang secara tidak sengaja, namun Rangki terjerat pesona Nata. Jauh darinya membuatnya kawatir, mencemaskan Nata, penuh kecurigaan dan lebih parahnya tidak konsentrasi dalam bekerja, semua hal ini menggagu Rangki. Memilih mendekati Nata kembali, mencoba mengikatnya apapun harus bersama Nata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD