Bab 2: Perceraian

940 Words
Victoria Whitemore duduk di tepi ranjang, tangannya meremas ujung selimut. Wajahnya terlihat lelah dan penuh kesedihan. Dia menunggu Dominic pulang, merasa cemas tentang percakapan yang harus dia lakukan malam ini. Suasana di rumah terasa semakin tegang, seperti udara yang semakin menyesakkan. Ketika Dominic akhirnya memasuki kamar, dia tampak lelah dan tak sabar. Victoria bisa melihat kemarahan dan kelelahan di wajahnya. "Kita perlu bicara," ucap Victoria dengan suara lembut, meskipun hatinya bergetar. Dominic melemparkan jasnya sembarangan ke kursi dan duduk di ujung ranjang, menatap Victoria dengan tajam. "Ada apa lagi, Victoria? Aku sudah lelah dengan semua ini." Victoria menarik napas dalam-dalam. "Aku tidak bisa terus hidup seperti ini. Aku tahu bahwa kita sudah lama mengalami masalah, tetapi aku mulai meragukan segalanya." Dominic menatap Victoria dengan tatapan penuh keputusasaan. "Kau terus-menerus membuat masalah. Aku sudah mencoba untuk memahami apa yang kau inginkan, tetapi sepertinya tidak ada yang pernah cukup baik untukmu." "Apa kau benar-benar tidak mengerti apa yang aku rasakan?" tanya Victoria, suara tenggelam dalam kepedihan. "Kita sudah lama tidak berbicara dengan baik, dan semua ini terasa semakin buruk setiap hari." Dominic menghela napas dengan frustrasi. "Kita sudah berbicara, Victoria. Aku bekerja keras untuk kita, dan aku merasa seperti semua yang aku lakukan tidak pernah cukup. Aku lelah dengan tuntutan dan pertengkaran ini." Victoria merasa hatinya semakin hancur. "Aku tidak meminta banyak. Aku hanya ingin perasaan dihargai dan dicintai. Tapi aku merasa semakin terasing dan terabaikan." Dominic berdiri dan berjalan menuju jendela. "Apa yang kau inginkan dariku, Victoria? Aku sudah berusaha sebaik mungkin untuk mendukungmu. Mungkin kita harus berhenti berdebat dan mencari solusi." Victoria merasa putus asa. "Aku sudah mencoba untuk bertahan, tetapi aku tidak bisa terus hidup dalam suasana seperti ini. Aku mendengar kabar tentang kau berselingkuh." Dominic membalikkan badan dengan kaget. "Apa? Kau memfitnahku?" Victoria merasakan kemarahan dan kesedihan yang campur aduk. "Aku melihat pesan-pesan di ponselmu dan menemukan informasi yang mencurigakan. Kau tidak bisa terus menyembunyikan kenyataan." Dominic menatap Victoria dengan kemarahan. "Kau benar-benar percaya bahwa aku akan berselingkuh darimu? Ini hanya permainan pikiranmu. Aku bekerja setiap hari, dan ini balasan yang aku dapatkan?" "Aku merasa seperti semua yang aku lakukan sia-sia," jawab Victoria, air matanya mulai menetes. "Kau tahu bahwa aku merasa kesepian dan tertekan. Aku butuh kepastian." Dominic tidak menjawab, hanya berdiri dengan marah. Victoria merasakan tekanan yang semakin berat. "Kita harus memikirkan langkah selanjutnya. Aku tidak bisa terus hidup seperti ini." Keesokan harinya, Victoria menghadapi kenyataan yang sangat mengecewakan. Dia menemukan bukti nyata bahwa Dominic telah berselingkuh. Malam sebelumnya, dia memutuskan untuk memeriksa ponsel Dominic lebih dalam dan menemukan pesan-pesan mesra antara Dominic dan seorang wanita bernama Sandra, yang tampaknya dikenal di bar tempat Dominic sering pergi. Dengan hati yang hancur, Victoria memutuskan untuk bertemu Dominic untuk terakhir kalinya sebelum memutuskan langkah selanjutnya. Mereka duduk di meja makan, dan Victoria mengeluarkan berkas-berkas bukti perselingkuhan dari dalam tasnya. "Dominic, aku tidak bisa lagi bertahan," ucap Victoria dengan suara penuh emosi. "Aku telah menemukan bukti perselingkuhanmu. Aku tidak bisa terus hidup dalam kebohongan ini." Dominic menatap Victoria dengan wajah terkejut dan marah. "Ini tidak seperti yang kau pikirkan, Victoria. Kau hanya mengada-ada. Sandra hanyalah teman biasa." Victoria merasa hatinya semakin hancur. "Aku tidak bisa mempercayai kata-katamu lagi. Ini adalah titik akhir bagi kita. Aku sudah tidak bisa bertahan lagi." Dominic menghela napas panjang. "Kalau begitu, jika itu yang kau inginkan, kita akan bercerai. Tapi ingat, ini bukan hanya kesalahanku. Kamu juga berperan dalam masalah kita." Perceraian menjadi keputusan yang menyakitkan bagi Victoria. Dia merasakan kepedihan yang mendalam saat dia mengisi formulir perceraian dan menyiapkan dokumen-dokumen yang diperlukan. Hari sidang perceraian akhirnya tiba, dan Victoria merasa cemas saat dia memasuki ruang sidang. Setiap langkah terasa berat, dan hatinya terasa seperti sedang dihancurkan. Di ruang sidang, Victoria melihat Dominic duduk di sisi pengacaranya, dan di sampingnya, duduk seorang wanita yang sangat mencolok perhatian. Sandra, wanita yang Victoria ketahui sebagai selingkuhan Dominic, tampak seperti p*****r murahan dengan pakaian yang terlalu terbuka. Melihat Sandra di sana membuat hati Victoria hancur lebih dalam lagi. "Kenapa dia ada di sini?" tanya Victoria dengan nada terkejut saat pengacara perceraian mendekatinya. Pengacara menjelaskan dengan nada tenang, "Sepertinya Dominic ingin menunjukkan bahwa dia tidak sendirian dalam hal ini. Ini adalah bentuk ketidakpedulian dari Dominic terhadap perasaanmu." Victoria merasa air matanya hampir menetes lagi. Dia merasa dipermalukan dan dihina oleh Dominic dan Sandra. Selama persidangan, Dominic dan pengacaranya mengajukan argumen yang merendahkan Victoria, dan Sandra tampak bangga berdiri di samping Dominic. "Victoria, kau harus memahami bahwa ini bukan hanya masalah kita," Dominic berkata dengan nada dingin saat persidangan berlangsung. "Kau mungkin merasa tersakiti, tetapi aku juga memiliki hak untuk melanjutkan hidupku." Victoria merasa hatinya semakin hancur. "Kamu tidak peduli dengan perasaanku sama sekali. Kau membawa wanita yang kau selingkuhi ke sini dan mempermalukan aku di depan umum." Dominic hanya mengangkat bahu dengan acuh tak acuh. "Kita semua harus menghadapi kenyataan. Jika kamu ingin bercerai, kita akan bercerai. Tetapi aku tidak akan terjebak dalam rasa bersalah atau penyesalan." Victoria merasa air mata yang menetes tak tertahan lagi. Dia merasakan rasa sakit yang mendalam saat sidang berakhir, dan perceraian akhirnya diputuskan. Victoria merasa seperti hidupnya runtuh, dan dia harus menghadapi kenyataan bahwa Dominic, orang yang pernah dicintainya dengan sepenuh hati, kini menjadi sumber penderitaan dan kehancuran bagi hidupnya. Setelah persidangan, Victoria kembali ke rumah dengan perasaan yang kosong dan hancur. Dia duduk di tempat tidur, menangis dalam kesendirian, merasa terpuruk dalam ketidakpastian dan rasa sakit. Hatinya merasa hancur, dan dia tidak tahu bagaimana harus melanjutkan hidupnya setelah semua yang terjadi. Perceraian dengan Dominic memicu rasa sakit mendalam dan kebingungan yang membuatnya semakin hancur. Victoria merasa terasing dan dikhianati, dan dia harus berjuang untuk menemukan kembali kekuatan dan kebahagiaan dalam hidupnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD