Bab 1: Keterpurukan
Victoria Whitemore memasuki rumah besar keluarga Harper dengan langkah berat, merasakan beban emosional yang menghimpit hatinya. Setiap sudut rumah tersebut tampak seperti mengingatkan pada kenangan-kenangan buruk yang kini menghantui hidupnya. Ruangan yang dulunya terasa hangat dan penuh cinta kini terasa dingin dan mengintimidasi. Tatapan tajam dari ibu mertuanya, Eleanor Harper, langsung menyambutnya ketika ia membuka pintu utama.
"Ah, Victoria, akhirnya kau datang juga," ucap Eleanor dengan nada sinis, menyambut Victoria tanpa rasa hormat. "Sungguh luar biasa melihatmu lagi—atau lebih tepatnya, melihat betapa kau gagal memenuhi harapan kami."
Victoria berusaha menahan air mata yang hampir menetes. Dia tahu, setiap kali dia memasuki rumah ini, dia akan menghadapi ejekan dan komentar pedas. "Selamat sore, Ibu Harper," ucap Victoria lembut, mencoba untuk tetap sopan meskipun hatinya terasa hancur.
Eleanor melambaikan tangan dengan acuh tak acuh. "Kami hampir lupa bahwa kau masih di sini. Mungkin kami harus mengingatkanmu lagi betapa pentingnya kehadiranmu di sini. Atau mungkin kau tidak cukup peduli untuk menghargainya?"
Victoria merasakan hatinya semakin tertekan. Adik-adik Dominic yang juga hadir di ruangan itu tampak tak kalah tajam dalam komentar mereka. Jacob, adik bungsu Dominic, dengan nada mengejek berkata, "Kita sepertinya harus mengatur jadwal untuk makan malam tanpa Victoria. Bukankah itu akan lebih nyaman tanpa harus menghadapi kenyataan pahit bahwa kita tidak akan pernah mendapatkan keponakan?"
Laura, adik perempuan Dominic yang selalu merasa lebih superior, menambahkan dengan nada penuh kebencian, "Dan jangan lupa, Victoria. Semua biaya ini akan kita tanggung karena kau tidak pernah menghasilkan apa-apa. Betapa menyedihkannya, ya?"
Victoria mencoba menahan rasa sakit di dalam hatinya. Setiap kata yang keluar dari mulut mereka terasa seperti tusukan yang mendalam. "Saya hanya berharap bisa mendapatkan dukungan dari kalian, bukan hinaan."
Dominic, yang baru tiba dari kantor, tampaknya tidak menyadari ketegangan yang terjadi di ruang makan. Dengan senyuman yang tampaknya terpaksa, ia menyapa keluarganya. "Apa yang terjadi? Kenapa suasananya begitu tegang?" tanyanya dengan nada datar, seolah tidak peduli dengan masalah yang ada.
Eleanor menjawab dengan sinis, "Oh, tidak ada apa-apa, Dominic. Kami hanya membahas ketidakmampuan istri tercinta kita untuk membuat keluarga ini berkembang."
Dominic menatap Victoria dengan dingin. "Aku baru saja tiba, dan aku sudah mendengar semuanya. Apa kau benar-benar ingin melanjutkan perdebatan ini?" tanyanya dengan nada penuh ketidaksabaran.
Victoria merasa hatinya semakin hancur. "Dominic, aku sudah berusaha sebaik mungkin untuk beradaptasi dengan keluargamu. Tetapi aku merasa terasing dan dihina setiap kali aku di sini. Bagaimana aku bisa merasa diterima jika aku terus-menerus diperlakukan seperti ini?"
Dominic tidak menjawab dan lebih memilih untuk kembali ke ponselnya. Victoria merasa terabaikan dan dikhianati. Pada malam itu, suasana semakin memburuk saat mereka berada di kamar tidur mereka.
"Dominic, aku sudah merasa cukup dengan semua ini," Victoria memulai dengan suara bergetar, menangis dalam diam. "Keluarga kamu terus-menerus menghinaku, dan aku tidak bisa terus hidup dalam suasana seperti ini. Aku mulai curiga bahwa ada yang tidak benar. Apakah kau berselingkuh dariku?"
Dominic menatap Victoria dengan kemarahan yang meledak. "Apa yang kau katakan? Kau benar-benar tidak percaya padaku?"
"Aku tidak tahu harus percaya apa lagi," balas Victoria, merasa hatinya terbakar oleh kemarahan dan kesedihan. "Aku menemukan pesan-pesan aneh di ponselmu dan melihatmu sering terlambat pulang. Apa kau pikir aku bodoh?"
Dominic menatap Victoria dengan mata penuh amarah. "Aku tidak pernah berselingkuh darimu. Semua ini hanya permainan pikiranmu. Aku bekerja keras setiap hari, dan inilah balasan yang aku dapatkan? Kamu meragukanku tanpa alasan!"
Victoria merasa tertekan dan sedih. "Aku hanya ingin kepastian, Dominic. Aku merasa seperti berada di tepi jurang, dan tidak ada dukungan yang bisa aku andalkan."
Dominic dengan nada kasar menjawab, "Aku tidak bisa selalu membela kamu di depan keluargaku. Mereka tidak akan pernah berubah, dan aku juga tidak bisa mengubah cara mereka berpikir. Tetapi jika kamu terus membuat masalah, aku mungkin harus mempertimbangkan masa depan kita."
Victoria merasa seperti dikhianati. "Kamu tidak bisa terus membiarkanku dihina tanpa melakukan apa-apa. Ini bukan hanya tentang aku, tetapi tentang bagaimana keluargamu memperlakukanku. Aku sudah mencoba untuk memenuhi semua harapan, tapi aku merasa semakin terasing."
Dominic meninggalkan kamar dengan kemarahan yang semakin membesar, meninggalkan Victoria merasa hancur dan terabaikan. Dia terbaring di tempat tidur dengan air mata yang mengalir, merasa kesepian dan putus asa. Dalam pikirannya, Victoria mengingat Dominic yang dulu—pria yang penuh kasih sayang dan perhatian, yang pernah membuatnya merasa dicintai dan dihargai.
Dominic yang dulu adalah seseorang yang mampu membuat Victoria merasa aman dan dicintai. Mereka pernah berbagi impian dan cinta yang mendalam. Victoria bahkan rela meninggalkan rumah dan keluarganya demi menikah dengan Dominic, percaya bahwa mereka akan menjalani hidup bahagia bersama. Dominic yang dulu adalah sosok yang hangat, penuh perhatian, dan selalu siap untuk melindungi Victoria. Namun, sekarang Dominic tampak telah berubah 180 derajat. Dia menjadi dingin, tidak peduli, dan jauh dari sosok yang dulu dicintai Victoria.
Victoria mengingat bagaimana Dominic dulu selalu menjadi sosok yang menenangkan. Mereka pernah berbagi momen-momen indah—dari pertemuan pertama mereka di kafe kecil yang nyaman, di mana Dominic dengan cerianya bercerita tentang masa depan mereka, hingga malam-malam penuh cinta dan kehangatan yang mereka habiskan bersama. Dominic yang dulu membuat Victoria merasa seperti dia adalah bagian penting dari hidupnya, membuat semua pengorbanan yang dilakukan terasa berharga. Namun, sekarang, semua kenangan indah itu terasa seperti mimpi buruk yang mengganggu.
Keesokan harinya, suasana di rumah keluarga Harper semakin tegang. Victoria merasa terasing di lingkungan yang penuh dengan ejekan dan penghinaan. Setiap kali dia mencoba berbicara, komentarnya selalu dibalas dengan cemoohan. "Kamu tahu, Victoria," kata Laura dengan nada mengejek, "mungkin jika kamu bekerja, kamu akan lebih bermanfaat daripada hanya duduk-duduk di rumah dan menjadi bahan lelucon."
Victoria merasa kesedihan dan kemarahan semakin membebani hatinya. Setiap hari terasa seperti perjuangan untuk bertahan, dan dia mulai meragukan keputusan yang telah diambilnya dalam hidup. Tanpa dukungan dari Dominic dan dengan keluarga suami yang terus-menerus menghina, Victoria merasa terpuruk dan hancur.
Suatu malam, saat Dominic pulang terlambat, suasana semakin memburuk. Victoria merasa seperti terkurung dalam hubungan yang penuh dengan rasa sakit dan penolakan. "Dominic," Victoria akhirnya memutuskan untuk berbicara, "kita harus membahas apa yang terjadi. Aku tidak bisa terus hidup dalam ketidakpastian ini."
Dominic menatap Victoria dengan mata yang menunjukkan ketidaksabaran. "Kita sudah membahas semuanya, Victoria. Aku tidak punya waktu untuk terus-menerus menghadapi tuduhan dan kesulitan ini."
Victoria merasakan hatinya terpecah. "Jika kita tidak bisa berbicara secara terbuka, aku tidak tahu bagaimana kita bisa terus bersama. Aku membutuhkan kejelasan dan dukungan darimu."
Dominic menghela napas panjang dan berdiri dari kursinya. "Aku lelah dengan semua ini, Victoria. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Mungkin kita harus mencari solusi untuk masalah ini."
Victoria merasa hancur dan terabaikan. Dia tahu bahwa hubungan mereka semakin memburuk dan bahwa dia tidak dapat bertahan dalam situasi ini lebih lama lagi. Tanpa dukungan dan empati dari Dominic, serta dengan keluarga suami yang terus-menerus menghina, Victoria merasa seperti dia terjebak dalam kegelapan tanpa ujung.
Malam itu, Victoria tidur dengan air mata yang membasahi bantalnya, merasa kesepian dan putus asa. Dia tahu bahwa dia harus membuat keputusan besar tentang masa depannya, tetapi saat ini, dia hanya bisa berharap untuk menemukan jalan keluar dari keterpurukan yang menghancurkan hatinya. Victoria merasa terasing dan dikhianati, terjebak dalam hubungan yang tidak lagi memberikan kebahagiaan dan cinta yang dulu ada.