TIDAK SEINDAH BAYANGAN

1056 Words
Hanya enam bulan saja, pernikahan yang dijalani Yasmin berjalan lancar. Ya, tak seindah bayangannya, karena matahari yang seharusnya membawa kehangatan ternyata membawa perih. Hari demi hari Dameer menunjukkan tabiat aslinya. Bahkan sebulan terakhir, Dameer selalu bersikap kasar atau dingin, ditambah kerap pulang larut malam dengan alasan - pekerjaan kantor menumpuk. “Dam, hari ini aku mau belanja bulanan. Kamu mau aku belikan sesuatu?” tanya Yasmin saat mereka duduk bersama di meja makan. Yasmin sudah membuat omelet kesukaannya, tapi Dameer hanya meminum segelas kopi. “Gak usah, kamu tau aku jarang ngemil. Mampir ke apotek aja, belikan obat tidur yang biasa kuminum.” Yasmin mendengkus pelan. Akhir-akhir ini, Dameer kerap meminum obat tidur atau obat penenang. Entah sudah berapa kali diingatkan, tapi lelaki itu tak menggubrisnya. “Dam, coba sehari aja kamu nggak minum obat itu. Aku yakin kamu pasti bisa.” “Sudahlah, jangan banyak bicara. Lakukan aja.” Sambil beranjak dari tempat duduknya, lelaki itu menghabiskan sisa kopi dan menggamit tasnya. “Aku berangkat,” ucapnya. “Oh, iya. Hati-hati di jalan,” ucap Yasmin menatap punggung Dameer dengan mata meredup. Tadinya Yasmin pikir, kalau Dameer akan mengecup keningnya sebelum berangkat ke kantor. Sama seperti saat mereka baru menikah, rupanya tidak. **** Beranjak siang. Yasmin mematut di cermin. Hanya polesan make up sederhana yang dia pakai, ditambah balutan tunik warna ungu bergaris serta celana pensil warna putih. Tak lupa, rambut panjangnya dia ikat rapi. Catatan belanja bulanan sudah dia masukkan ke kantongnya, dan bersiap berangkat. Namun terdengar bel apartemen berbunyi. Matanya membulat, tubuhnya mendadak kaku. “Mama? Papa?” Rupanya orang tua Dameer yang datang. Laili tersenyum sinis. “Kenapa? Kaget ya kami datang. Serapat-rapatnya menyimpan rahasia, bakalan terbongkar juga.” “Oh, nggak Ma. Saya senang Mama dan Papa datang, mari masuk.” “Jangan panggil kami dengan sebutan mama dan papa. Gak cocok untukmu,” desis Laili. Yasmin hanya menunduk tanpa berani menatap keduanya. Kemudian, mereka masuk. Mata mereka menyapu ke setiap ruangan apartemen. “Wow, enak banget kamu sekarang ya. Santai di rumah tinggal menikmati semua fasilitas mewah ini,” tukas Laili. Padahal, Yasmin tak bisa santai seperti orang kaya pada umumnya, karena janji Dameer bakal menyediakan asisten rumah tangga tak kunjung dilakukan. Sehingga, gadis itu melakukan pekerjaan rumah sendirian. “Sejak Dameer kenal kamu. Dia jadi anak yang pembangkang, kamu membuat kami sangat kecewa dan muak!” ujar Rudy. “Iya. Sampai berani kawin lari, ide gila ini pasti dari kamu!” timpal Laili. “Maaf, Bu, Pak. Saya telah salah, tapi Dameer lah yang mengajakku menikah diam-diam, lagi pula pernikahan kami sah, kok,” ucap Yasmin. Laili mendecih. “Mau sah atau tidak, kami tak sudi punya menantu miskin dan gak tau sopan santun. Berani-beraninya tanpa izin kami, kamu menikah dengan Dameer.” “Sekali lagi, saya minta maaf.” Yasmin menunduk. “Gampang banget bilang begitu. Ingat ya, jangan pernah berharap gadis cupu sepertimu jadi ratu, itu mustahil,” ucap Laili tersenyum sinis. Yasmin hanya terdiam menahan tangis. Keduanya lantas duduk di sofa ruang tamu. “Bilang pada Dameer kami datang ke sini. Dan suruh ke rumah secepatnya, karena ada hal penting yang harus saya katakan,” ucap Rudy dingin, tak sedetik pun ia menatap Yasmin. “iya, Pak,” jawab Yasmin gugup. “Well. Kami belum sempat makan siang. Tolong bikinin kami makanan yang enak, buat dirimu berguna.” “Baik. Ibu dan Bapak, sukanya makan apa?” tanya Yasmin hati-hati. “Dua carbonara, salad buah sama es jeruk.” “Iya Bu.” Yasmin mendekati mini bar diiringi tatapan tidak suka dari Laili. **** Jam dua siang, makanan telah tertata di meja makan. Cukup rumit, karena Laili ingin masakannya sempurna seperti keinginannya. Laili dan Rudy duduk berhadapan, sementara Yasmin tetap berdiri. “Minggu depan saya ulang tahun, kalau kamu mau datang boleh. Tapi jangan bikin kami malu, dan jangan sampai para tamu tau, kalau kamu istrinya Dameer. Jadi nanti kalian pura-pura gak kenal aja, ngerti?” ucap Laili. “Mengerti Bu. Kalau begitu, saya ke kamar dulu mau menyetrika kemeja Dameer.” Yasmin berlalu memasuki kamar. Menumpahkan rasa sedih atas perlakuan mertuanya. **** Seperti malam-malam sebelumnya, Dameer kembali pulang larut. Dia melonggarkan dasi sambil merebahkan punggung di sofa kamar. Yasmin bergegas menyuguhkan minuman hangat, gadis itu tidak pernah tidur sebelum suaminya pulang, kecuali jika benar-benar sudah lelah. “Dam, tadi orang tuamu datang. Apa kamu yang memberitahu alamat kita?” tanya Yasmin. “Kalau iya kenapa?” “Oh, nggak apa-apa. Cuma kaget aja, karena kamu pernah bilang gak akan kasih tau alamat ini sebelum mereka merestui kita.” Dameer mengangkat sebelah sudut bibirnya. “Jangan terlalu berharap. Kemungkinannya sangat kecil mereka bisa merestui. Jadi, ya sudahlah lebih baik aku kasih tau mereka aja. Ditutupi terus pun, aku yang merasa beban, karena hampir tiap hari papa datang ke kantorku menanyakan hal ini.” Mata Yasmin meredup. “Kamu gak pernah cerita. Apa itu yang membuatmu sering pulang malam. Sampai kerap susah tidur dan harus minum obat tidur?” Dameer langsung berdiri. “Bukan urusanmu! Siapin aja air hangat, aku mau mandi dan istirahat.” Yasmin mengangguk dengan perasaan tak menentu. **** Saat Dameer tengah mandi, Yasmin bermaksud merapikan tas kerja miliknya. Banyak kertas tak dipakai yang Yasmin buang. ‘Berantakan sekali, dasar cowok,’ batin yasmin sambil tersenyum. Netranya tertuju pada benda kecil seperti foto cetak yang terselip di saku bagian dalam. Matanya menyipit sambil menarik benda itu perlahan, namun dengan sigap Dameer mengambilnya membuat Yasmin cukup terkejut. “Hei, kamu mau ngapain?” tanya Dameer melotot. “Aku lagi beresin tas kamu, berantakan tadi.” “Jangan berani-beraninya nyentuh isi tasku!” Yasmin bangkit dari tempat duduknya menatap penuh heran. “Lho, kok reaksi kamu berlebihan gini? Aku cuma mau ngecek barangkali ada kertas sampah. Bukannya biasanya aku yang rapihin ya?” selidik Yasmin. “Pokoknya, mulai detik ini kamu gak usah buka-buka tasku.” “Boleh aja. Asalkan kasih tau aku, apa alasannya?” Tanpa diduga Dameer mendaratkan tamparan ke pipinya, hingga nyaris terjatuh. Sementara lelaki itu menatap wajah Yasmin dengan nyalang. “Itu akibatnya kalau membantah ucapanku! Sudah kubilang jangan, gak usah tanya kenapa!” ujar Dameer, lalu dia keluar kamar sambil membanting pintu. Yasmin mengusap pipinya yang terasa panas, diiringi air mata yang keluar dari netranya. ‘Ada apa denganmu? Dan benda apa itu sampe kamu semarah ini?’ batin Yasmin bertanya-tanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD