CURIGA

1134 Words
“Dam, emang gak apa-apa ya, kita dilayani langsung sama pemilik resto ini?” Dameer terkekeh. “Nggak lah. Dia humble kok orangnya.” Yasmin menatap lekat-lekat wajah suaminya. Dia penasaran, sedekat apa suaminya itu dengan Gladys, sehingga begitu santai saat dijamu oleh gadis itu, seolah terbiasa. Dia saja yang cukup akrab semasa kuliah dulu, merasa sungkan. “By the way, kamu udah lama ya kenal Gladys?” Yasmin memberanikan diri bertanya. “Em, ada lah sekitar setahunan. Belum lama.” “Tapi kalian udah kayak lama kenal,” selidiknya. “Oh, kamu kayak gak tau dia deh. Gladys kan supel, mudah bergaul. Apalagi saat kami punya bisnis berdua, dia ramah dan baik.” Yasmin hanya menganggukkan kepala. Dadanya cukup bergemuruh, saat Dameer terus memuji gadis itu. Meja mereka dihias sangat indah dengan tiga lilin di tengahnya. Yasmin tidak mau membuang waktu untuk momen indah ini. “Dam, makasih ya udah ajak aku ke sini. Ini sangat romantis,” ucapnya memasang senyum termanisnya. Dia berharap suaminya itu menggenggam jemarinya sama seperti saat mereka belum menikah. Namun Dameer hanya membalas dengan anggukkan sambil sibuk menggulirkan ponsel. Sangat berbeda saat tadi di apartemen, penuh pengertian dan hangat. “Tadaaa ... ini menu spesial resto kami. Ada bibimbap, beef steak black paper, kwetiau goreng, sisteak saus enoki, dan rollade. Minumannya es lemon dan jus stroberi, selamat menikmati,” ucap Gladys. “Makasih banyak ya,” ujar Dameer. “Makasih, Dys,” Yasmin menimpali. “Sama-sama. Aku tinggal dulu ya.” Gladys berlalu meninggalkan mereka. “Semua menu ini, kamu suka kan?” tanya Dameer. “Suka. Aku cuma alergi udang aja, tapi di sini menunya gak ada udang, Gladys sangat tau aku alergi makanan yang satu itu,” ucap Yasmin sambil merapikan duduknya. “Baguslah. Kalau gitu, ayo dimakan.” Yasmin mengangguk, dan mulai memotong rolade yang dia makan, satu hingga dua gigitan. “Hmm ... Enak, gak amis. Mama biasanya bikin dari ayam, karena kalau dari daging sapi agak mahal.” “Itu dari apa rolade nya?” tanya Dameer kemudian. “Dari ....” Yasmin bingung, kalau dari ayam jelas beda, dari daging sapi pun sepertinya tidak mungkin. “Kok gak dilanjutin?” “Aku gak tau ini dari bahan apa, Dam. Coba kamu rasa.” Yasmin menusuk rolade dengan garpu yang sudah dipotong dan menyuapinya ke mulut suaminya. “Ooh ... ini dari udang, Yas.” Hening! Sedetik mereka saling menatap. “Udang??” pekik Yasmin cukup terkejut. Untung saja, live music membuat suaranya tak terdengar oleh pengunjung lain. “Aaakkkh!!” Yasmin memegang tenggorokannya, dan minum air lemon hingga tandas. “Kamu gak apa-apa?” tanya Dameer khawatir. Tak lama setelah itu, Yasmin menggaruk-garuk tangannya yang mulai kemerahan. “Aduh, kok Gladys kasih kita menu udang. Padahal dia tau aku alergi!” ujar Yasmin cukup kecewa. “Lha, kok malah nyalahin dia. Udah bagus kita dijamu makanan langsung sama pemiliknya, kok malah protes.” “Trus gimana? Badanku mulai gatal-gatal nih!” Dameer menatap tangan dan wajah Yasmin yang mulai kemerahan, membuat selera makannya hilang. “Hadeuh! Kita pulang aja deh, aku mendadak kenyang.” Dameer memanggil waiters untuk membayar tagihan. Mereka pulang tanpa bicara apa-apa lagi, sementara Yasmin terus menggaruk badannya yang terasa gatal. Dari jauh, seseorang tersenyum sinis tanda kemenangan. ‘Rasain!’ **** Tanpa basa basi, Dameer lebih dulu keluar dari mobil saat mereka sampai di apartemen. Jalannya lebih cepat tanpa menghiraukan Yasmin yang masih berjalan di belakangnya. Sesampainya di apartemen mereka, Dameer menahan pintu dengan tangannya. “Stop! Jangan pegang apa pun. Langsung ke kamar mandi, nyalakan air panas, dan mandilah yang bersih. Malam ini, kamu tidur di kamar tamu aja, aku gak mau ketularan,” ujar Dameer ketus. Yasmin mengira, Dameer akan peduli padanya dan membelikan obat alergi, tapi dugaannya salah. Tidak mau ribut, gadis itu mengangguk dan masuk ke kamar mandi. Gatal terus menyerang, hingga wajah serta tubuhnya membengkak. Matanya menatap Dameer yang sudah terlelap tidur di ranjang king size. Tadinya dia ingin membangunkan suaminya itu untuk beli obat di apotek, tapi dia urungkan. Jam menunjukkan pukul sebelas malam, kantuk tak kunjung datang karena rasa gatal belum reda. Akhirnya, dia memberanikan diri membangunkan Dameer. Gadis itu mengguncang halus tubuh lelakinya. “Dam ... bangun.” “Dam ....” “Apa sih?” Dameer duduk sambil menggosok matanya yang ngantuk. Matanya menyipit dan .... “Aaaaaaaa!! Siapa kamu??” pekik Dameer menatap wajah bengkak Yasmin. Yasmin mencucu karena Dameer tak mengenalinya. “Ini aku, Yasmin.” “Ya ampun. Wajahmu kenapa?” “Aku masih alergi.” “Apa?? Hii ... jauh-jauh, sana!” Dameer mendorong Yasmin hingga nyaris terjatuh dari sisian ranjang. “Dam, penyakitku gak menular. Tenang aja.” “Ah, jangan sok tau! Ngapain bangunin aku?” “Tolong pergi ke apotek yang deket apartemen dong, beliin obat alergi. Aku gak bakalan bisa tidur kalau begini terus,” pinta Yamsin. Dameer menepuk dahinya. “Kamu merepotkanku aja, Yas! Ini udah malam.” “Maaf, tapi aku gak kuat, kulitku perih digaruk terus.” Lelaki itu menghela napas kasar, lalu menyingkap selimutnya dan menggamit jaket. “Makasih ya, Dam,” ucap Yasmin lega sambil tersenyum. Tak ada jawaban dari lelaki itu hingga berlalu keluar, tapi tak masalah bagi Yasmin, yang penting Dameer mau membelikannya obat. **** “Ck! Merepotkan aja. Tidur lagi enak dibangunin, udah gitu mesti beli obat larut malam begini. Sial!” umpat Dameer kesal. Dia berjalan dan membuka pintu kaca apotek. “Mbak, beli obat alergi udang,” ucap Dameer. “Untuk dewasa atau anak-anak?” tanya pelayan apotek. “Dewasa. Buat istri saya.” “Baik, sebentar.” Brukk!! “Woi! Jalan lihat-lihat dong!” ujar Dameer tambah kesal, seketika dia menoleh ke belakang. Seseorang yang berdiri di belakang, mungkin tak sengaja menabraknya - saat dia tengah berdiri di meja etalase. “Maaf Mas, gak sengaja,” ucap lelaki berhodie hitam dan memakai masker senada. “Mas beli apa?” tanya lelaki itu. “Apa urusan lo?” ujar Dameer masih kesal. “Nggak. Hanya sekedar mengobrol,” ucap lelaki itu sopan. “Aku gak punya waktu untuk bicara dengan orang asing!” ujar Dameer. Lelaki berhodie itu tersenyum, namun Dameer tak bisa melihatnya karena tertutup masker. “Semoga Anda hanya bersikap begini sama saya aja ya, sama istrinya jangan,” ucap lelaki itu kemudian. Dameer menoleh dan menatapnya tajam. Dia tak paham apa maksud ucapan lelaki itu. “Tapi, kudengar tadi obat itu untuk istrinya. Baguslah, berarti Anda cukup pengertian sama istrinya,” cetus pemuda itu. Dameer menghela napas kasar dan menyodorkan uang ke pelayan apotek. “Be-ri-sik!!” ujar Dameer pada lelaki itu. Saat Dameer keluar dari apotek, pemuda berhodie itu terkekeh. “Mas iseng juga ya,” ucap pelayan apotek. “Lumayan Mbak, hiburan. Kayaknya si Mas yang tadi lagi PMS, sensitif.” Pelayan itu tersenyum menahan tawa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD