BABAK BARU

1091 Words
Yasmin dan Laras telah kembali ke kontrakan, sepulangnya mereka dari makam Lilis siang tadi. “Mbak. Saya pamit, ini kali terakhir saya kerja di sini.” Yasmin menggenggam erat jemari Laras. “Makasih ya, udah jagain mama selama ini. Mandiin, nyuapin, ngasih obat dengan sabar. Maafin aku dan mama juga, jika ada sikap atau ucapan yang salah.” “Sama-sama Mbak. Saya juga minta maaf, banyak salahnya.” “Iya. Moga kamu dapat pekerjaan yang lebih baik, selalu kabari aku ya. Jangan putus silaturahmi.” “Siap Mbak.” “Oya, tunggu sebentar.” Yasmin merogoh sesuatu dari tasnya, lalu menyerahkan amplop berwarna putih. “Ini, terimalah. Nggak banyak, tapi semoga manfaat.” “Makasih banyak Mbak. Jaazaakillahu khairan.” Yasmin mengangguk. “Oh, ya. Maaf kalau sok menggurui. Kalau Mbak mau berbakti pada orang tua yang udah meninggal, sering-seringlah berdo’a pada Allah. Karena do’a anak salih itu, membuat amalan-amalan orang tua terus mengalir walaupun sudah meninggal,” ucap Laras. Entah kenapa, ucapan Laras membuat dadanya terasa dingin. Seketika dia memeluk Laras erat-erat. “Makasih banyak ya. Doakan aku, agar bisa seperti itu.” Laras menepuk-nepuk halus punggungnya. “Pasti Mbak.” **** Laras telah pulang. Yasmin mematung, mengedarkan pandangan ke setiap sudut rumah. Suasana ruang tampak sepi, biasanya dia bisa melihat ibunya tengah duduk di kursi roda dengan alat rajut yang dipegangnya. “Lagi bikin apa Ma?” tanyanya suatu hari. “Baju sweater buat kamu. Kamu kan sering banget kehujanan, pake ini pasti hangat,” ucap Lilis kala itu. Dia tersenyum tanpa sadar, lalu bangkit meraih sweater rajutnya berwarna merah, yang tergantung di belakang pintu kamarnya. Terdengar suara ketukan pintu. Yasmin mendekat ke arah pintu dan membukanya. “Dameer? Masuklah,” ujar Yasmin datar sambil mengancingkan baju sweater-nya. Dameer sigap memegang pergelangan tangannya, menarik halus menghadapnya. “Kamu marah sayang?” tanya Dameer halus. “Menurutmu?” “Maaf. Udah salah, aku lagi mumet sama kerjaan, dua minggu gak masuk kantor banyak sekali masalah. Moga kamu ngertiin aku ya.” Yasmin tersenyum getir. “Aku ngerti kok. Makanya rela ditinggal sendiri di Bandung. Kamu yang gak ngerti, mamaku sakit malah larang pulang, bahkan saat beliau meninggal kamu masih mempersoalkan kenapa aku pulang.” Lelaki beralis tebal itu menghela napas panjang. “Iya aku salah. Tadinya khawatir kalau kamu sendirian ke sini, walau pun ditemani maid, tetap saja hatiku gak tenang.” Dameer memegang dagu lancip milik Yasmin. “Karena kamu begitu berharga sayang ....” Hati Yasmin melunak seketika. Terkadang, semudah itu suasana hati perempuan membaik. Hanya dengan maaf serta pujian. Terlebih, ia hanya tidak ingin memperkeruh keadaan. Entah sejak kapan mata keduanya terpejam. Kecupan hangat mendarat di kening Yasmin. “Mau kan maafin aku?” tanya Dameer. Gadis itu mengangguk sambil tersenyum simpul. “Makasih sayang. Aku janji, akan lebih pengertian. Maklum lah, kita baru menikah dan saling mengenal, jadi masih adaptasi.” “Oke. Aku mau beresin rumah ini, nyapu dan lain-lain.” “Kalau gitu, sekalian beresin baju kamu ya. Hari ini, kita tinggal di apartemen,” cetus Dameer. “Apartemen?” “Iya. Aku udah dapat tempat yang bagus dan strategis.”  **** Langit mengoles mega. Sore harinya, Yasmin telah selesai mengemasi barang-barangnya. Mulai hari itu, dia tak lagi tinggal di kontrakan. Kesedihannya sedikit terobati dengan kebahagiaan yang Dameer suguhkan padanya. Gadis itu menatap dengan takjub apartemen mewah yang akan mereka tempati. “Kamu suka?” Yasmin mengangguk-anggukkan kepala, matanya membulat takjub akan interior dan furnitur yang moderen. “Suka banget! Ini sangat bagus, pasti dekor dan semua isinya ini mahal-mahal,” cetus Yasmin polos. Dameer terkekeh dan merasa gemas dengan wajah cantik Yasmin. “Syukurlah kalau suka. Kamu kan pernah cerita soal hidupmu yang susah. Nah udah sewajarnya kini kamu bahagia sayang,” tukas Dameer sambil merangkul pinggang ramping istrinya, menggiringnya ke sofa ruang tamu. “Makasih banyak ya, sayang,” ucap Yasmin lalu mengecup pipi suaminya. “Sama-sama. Mulai hari ini, kamu gak usah kerja lagi di kantorku. Kebutuhanmu akan kucukupi, kalau mau apa-apa bilang aja ya.” “Yakin gak apa-apa, aku gak kerja?” tanya Yasmin. Dia hanya merasa tak enak, bersantai di rumah sementara Dameer capek kerja. “Ya nggak lah, aku kan wajib menafkahimu. Tapi jika kamu bosan di rumah, carilah kesibukan. Misal olah raga, atau menjalani hobi.” Yasmin mengangguk paham. “Mulai besok pagi. Akan ada maid yang membantu meringankan pekerjaan rumahmu,” imbuh Dameer kemudian. Babak baru kembali Yasmin jalani sebagai istri, tanpa kehadiran Lilis, di sampingnya. ‘Tanpamu, semua akan berbeda dan gak akan sama lagi, Ma ....’ **** “Yas, katanya mau jalan-jalan malam hari. Ayo pakai coat-mu,” ujar Dameer sambil mengelus pucuk kepala Yasmin. Gadis itu tengah termenung di balkon kamar mereka. Aroma segar khas mandi menguar. “Kamu udah mandi?” tanya Yasmin menatap lelakinya yang tengah menggasak rambut basahnya dengan handuk. “Hu’um. Lagi semangat ngajak kamu, tapi kamunya malah murung.” Yasmin tersenyum tipis dan melingkarkan tangannya ke lengan kekar sang suami. “Maaf. Kadang aku masih kepikiran mama.” “Makanya kita jalan-jalan, biar kamu gak sedih terus.” Yasmin menganggukkan kepala, lalu memakai coat berwarna cream. Sementara Dameer memakai kemeja kotak-kotak berwarna navy, ditambah jeans dengan warna senada. “Kita ke mana?” tanya Yasmin kemudian. “Aku ajak kamu resto langganan, di sana beefsteak-nya enak,” ucap Dameer kemudian. Mata Yasmin membulat. “Aduh, aku salah kostum dong. Bentar ya, aku pake gaun yang kemarin kamu beli,” ujarnya. Gadis itu berlari ke kamar diiringi tawa kecil Dameer yang merasa gemas dengan tingkah istrinya. **** Sesampainya di resto, tak disangka mereka bertemu dengan Gladys, teman kuliah Yasmin. Gadis itu tampak elegan dengan blazer warna merah muda dan rok selutut. “Gladys, kita ketemu lagi,” sapa Yasmin. Gadis berambut panjang bergelombang itu menoleh. “Eh, Yasmin, Dameer. Kalian ke sini?” Yasmin mengerutkan dahi. “Kalian saling kenal?” “Oh, Gladys temanku. Kami pernah bisnis bareng, dan dia manager sekaligus pemilik resto ini,” ucap Dameer santai. Gladys menganggukkan kepala sambil tersenyum. “Hebat banget kamu Dis,” tukas Yasmin. “Ah, biasa aja kok.” Seketika Yasmin merasa minder dengan kesuksesan serta fisik paripurna Gladys. Sekilas, Yasmin melihat Dameer dan Gladys saling beradu tatap walau beberapa detik. “Makasih ya, kalian udah dateng ke resto-ku. Duduklah, aku akan jamu dengan hidangan spesial di resto ini,” tukas Gladys kemudian. Mereka berdua mengangguk, dan Dameer memegang jemari Yasmin menuju meja berbentuk bundar di sudut. Malam ini, tak begitu ramai. Yasmin berharap bisa makan malam romantis bersama suaminya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD