Malam makin larut. Rasa kantuk mulai menyerang, Yasmin hendak tidur di dalam kemah namun dia melihat sekeliling, mencari Dameer yang tak ada di sana.
Tadi, setelah menikmati kehangatan api unggun dan nyanyian. Dameer izin ke kamar mandi.
‘Apakah ke kamar mandi mesti selama ini?’ batin Yasmin.
Dia memutuskan untuk menyusul. Saat masuk ke villa, tampak Dameer tengah duduk di sofa membelakanginya.
Rupanya lelaki itu tengah mengobrol dengan seseorang lewat telepon.
“Iya. Seminggu lagi, aku ke Jakarta kok. Kamu baik-baik di sana ya,” ujar Dameer.
Yasmin menautkan kedua alisnya, hatinya bertanya-tanya siapa yang Dameer hubungi.
“Siapa, Dam?” tanya Yasmin.
Sontak Dameer menoleh karena terkejut. “Udah dulu ya, nanti disambung.”
Dameer menutup telepon dan memasukkan ponsel ke saku celananya. Dia membalikkan tubuh dan berusaha santai.
“Eh, Yasmin. Oh, biasa lah si Pram. Rese dia, isengin aku. Sengaja mau ganggu malam pertama kita,” ucapnya terkekeh. Pram adalah sahabatnya semenjak kuliah.
Yasmin sempat merasa aneh. Biasanya laki-laki jika mengobrol dengan teman dekat tidak sesopan itu, apalagi dengan nada rendah.
“Oh, gitu. Ya udah, ayo kita tidur,” ujar Yasmin kemudian. Dia berusaha percaya dan tidak ingin membahas terlalu jauh.
“Tidur?”
“Iya lah, apa lagi dong?” tanya Yasmin polos.
“Nggak itu dulu?”
“Apa?”
“Itu ....”
“Makan?”
“Bukan.”
“Nyanyi lagi?”
“Bukan ih!” ujar Dameer mulai kesal akan kepolosan Yasmin.
“Apaan dong, Dam.”
Seketika Dameer menggendong Yasmin ala bridal style.
“Eh, eh. Aku mau dibawa ke mana?” tanya Yasmin panik.
“Mengeksekusimu!” ujar Dameer tampak tidak sabar lagi.
“Haa??” Mata gadis itu membulat. Dameer hanya terkekeh.
Lelaki tegap itu, membawa istrinya keluar villa, dan mereka masuk ke kemah.
Api unggun mulai mengecil, membuat suhu udara kembali dingin.
“Aku butuh kehangatan. Mendekatlah ....” lirih Dameer.
Tanpa penolakan, Yasmin mendekat. Mereka berbaring berdempetan karena ruang kemah yang sempit.
Malam pertama pun mereka lalui dengan lautan cinta.
****
Hampir dua minggu mereka di Bandung, dan suatu pagi tampak Dameer tengah mengemas barang.
“Kita pulang sekarang ya Dam?” tanya Yasmin berbinar. Dia bahagia, karena bisa segera bertemu dengan ibunya.
“Nggak sayang. Aku aja yang pulang. Kamu di sini dulu ya,” cetus Dameer tanpa menatap ke arah Yasmin. Tangannya masih sibuk memasukkan baju ke koper.
“Di sini? Sendirian?”
“Aku gak lama kok. Cuma tiga hari, sambil cari apartemen yang cocok untuk kita tinggal di Jakarta nanti,” ucapnya masih membungkuk merapikan baju.
Yasmin menatap dalam-dalam, berharap Dameer lebih peka padanya. Sadar ditatap lama, Dameer mendongakkan kepala dan berdiri tegak tepat di hadapannya. Dia pun menangkup kedua pipi Yasmin dengan lembut.
“Sayang ... aku gak mungkin ninggalin kamu sendirian. Ada dua maid perempuan yang jagain kamu. Aku juga udah sewa security untuk menjaga villa ini, so jangan khawatir ya,” terang Dameer.
Yasmin pun pasrah. Dia mengangguk tanpa mengeluarkan suara.
“Oya, apa pun yang terjadi. Jangan pergi ke mana-mana apalagi jauh-jauh, tanpa seizinku. Kalau ada perlu minta bantuan maid aja, ya.”
Yasmin kembali mengangguk. Dameer pun pamit untuk pergi.
Kepergian Dameer menyisakan pertanyaan. Kenapa dia tidak dibiarkan ikut? Jika alasannya karena belum punya tempat tinggal, tapi Yasmin bisa sementara tinggal di kontrakan ibunya, Lilis.
Huft!
Pikirannya terus berkecamuk. Terlebih setelah menikah, Dameer kerap diam-diam menelepon seseorang. Jika ketahuan, dan ditanya pasti jawabannya telepon dari sahabatnya, Pram.
‘Apa aku terlalu cepat mengambil keputusan ya? sementara aku tak begitu mengenal jauh bagaimana sifat Dameer sebenarnya,’ batinnya.
Tak ingin larut dalam kegalauan. Dia memutuskan untuk pergi ke taman dekat villa ditemani salah seorang maid.
Yasmin menyusuri jalanan dengan pohon cemara yang menghiasi tepi jalan. Tempat itu tidak terlalu ramai penghuni. Jarak dari villa Dameer ke rumah warga lainnya, berjarak lima sampai sepuluh merer. Gadis itu pun baru tersadar, ada beberapa orang lalu lalang memakai sepeda dengan penampilan yang jarang dilihat langsung olehnya.
Beberapa lelaki memakai baju gamis kurta berwarna gelap dan polos, sementara para perempuan memakai pakaian gamis syar’i dengan jilbab yang panjang, salah satu dari mereka bahkan memakai cadar.
Kening Yasmin makin berkerut, samar terdengar suara yang tengah berdakwah.
“Ada apa Nona, kok langkah Anda tiba-tiba terhenti?” tanya maid bernama Mae.
“Mae, kamu denger suara gak?” Yasmin balik bertanya.
“Suara apa?”
“Kayak ada yang dakwah gitu.”
Mae terkekeh.
“Iya Non. Itu suara ustadz yang sedang dakwah.”
Yasmin mengernyitkan kening.
“Di tempat kayak gini? Bahkan aku sama sekali gak denger azan saking jauhnya jarak villa ke mesjid.”
Seingatnya, dia pernah melihat surau kecil yang berjarak cukup jauh dari villa, saat pertama kali Yasmin datang.
“Lihatlah ujung sana,” ucap Mae sambil menunjuk ke arah samping.
Yasmin menoleh ke arah perbukitan yang dikelilingi pohon-pohon tinggi, dan tampak sebuah bangunan besar bertingkat warna hijau.
“Bangunan apa itu?”
“Sebuah pesantren, namanya pesantren An Nuur,” ucap Mae.
“Hah? Pesantren?”
Mae mengangguk.
“Setauku itu pesantren umum. Semua orang boleh mondok dan cari ilmu, cewek cowok dipisah asramanya.”
Netra hazel Yasmin terus menatap bangunan itu, perasaannya terasa beda entah kenapa.