ANTARA BAHAGIA DAN SEDIH

1098 Words
Bagi Yasmin, andai Dameer bukan lelaki baik-baik, pasti saat mereka hanya berdua di villa itu, naluri lelakinya akan berbuat hal buruk padanya. Tapi, selama dua hari di villa, Dameer memperlakukan Yasmin dengan baik dan menghargainya sebagai perempuan. “Makasih, ya Dam. Kamu baik sama aku,” ucap Yasmin saat mereka sama-sama menikmati teh hangat di pagi hari. “Udah semestinya kan aku baik sama calon istri.” Mereka tersenyum dan saling melemparkan pandangan “Oh, iya hampir lupa ....” Dameer tiba-tiba teringat sesuatu. “Hm?” “Seharian kemarin, aku disibukkan sama persiapan pernikahan kita. Besok villa ini akan dihias sederhana aja, lusa kita lakukan ijab kabul. Maaf, cuma dihadiri beberapa saksi dari teman-temanku dan wali hakim aja, gak mewah. Gak apa-apa kan?” Yasmin tersenyum sambil menggeleng. “Kamu mikir apa sih! Tentu aja nggak. Nikah itu yang penting sah dan sama orang yang kucinta, itu lebih dari cukup. Lagi pula, aku gak suka kalau nikah mewah-mewah, terlalu jadi sorotan orang lain nanti.” Dameer kembali mengulum senyum. “Aku emang gak salah milih kamu, sayang.” Lelaki itu merapikan anak rambut Yasmin. **** Perias make up pengantin telah masuk ke kamar, dan mulai merias Yasmin. Balutan kebaya putih moderen, melekat di tubuh langsingnya. Butiran kristal swarovski serta manik mutiara menghiasi tiap detail kebaya itu. “Kalau dasarnya udah cantik, dipakein apa pun tetap cantik,” ujar perias yang hampir seusia ibunya. “Ah, Ibu bisa aja. Makasih banyak,” ucap Yasmin tersipu. “Udah selesai Mbak. Habis ini, duduk aja dulu nanti dipanggil pas mau akad.” “Iya, Bu.” Yadmin pun duduk di tepi ranjang dengan hati-hati. Sesekali, dia memainkan ponselnya dengan perasaan tak tenang. Satu sisi, Yasmin bahagia dengan pernikahan yang diidamkannya selama ini, tapi satu sisi lainnya merasa bersalah telah membohongi Lilis tentang kawin lari yang dia lakukan. Dameer masuk ke kamarnya. “Sayang, kamu siap? Penghulu udah datang.” “Oh, oke. Siap.” Detak jantung itu kian kencang. “Ayo.” Dameer mengulurkan tangannya, dan disambut lembut gadis itu. Ruang tamu dijadikan tempat berkumpul, di tengahnya ada meja duduk yang nanti akan dipakai untuk ijab qabul. Sejenak mata Yasmin beredar, menatap villa yang penuh dengan hiasan bunga mawar dan lampu gantung. Mereka duduk berdampingan, dan Dameer pun mulai mengucap ijab qabul dengan jelas tanpa pengulangan - dengan mas kawin berupa emas tiga puluh gram. Setelah ijab qabul, tampak Dameer asyik mengobrol dengan tiga sahabatnya. Yasmin memutuskan pergi ke kamar, karena tak banyak yang bisa dia lakukan karena tidak mengenal siapa pun selain Dameer. Yasmin memutuskan untuk menelepon Lilis, baginya ini sudah saatnya apa pun konsekwensinya. “Halo, assalamu’alaikum. Nak, kamu apa kabar?” “Baik, Ma. Mama gimana?” Yasmin balik bertanya. “Alhamdulillah baik juga. Kapan kamu pulang? Kok urusan kerjaan sampe berhari-hari, lama sekali.” Yasmin menggigit bibir bawahnya. Dia berusaha mengumpulkan keberanian untuk berbicara. “Ma. Yasmin mau mengatakan yang sejujurnya ....” lirih Yasmin, nyaris tak terdengar. “Yang sejujurnya? Ada apa?” Yasmin menghela napas berat dan terdengar di telinga Lilis, membuat wanita paruh baya itu meremat baju karena perasaannya mulai tak nyaman. “Yasmin ... udah nikah sama Dameer, hari ini.” “Mama gak salah denger kan, Yas? “Nggak, Ma. Maafin Yasmin. Kami saling mencintai, dan terpaksa menikah tanpa sepengetahuan orang tua.” “Astagfirullah. Kamu lupa, orang tuanya gek merestui kalian? Kamu juga lupa kalau mereka udah menghina dan merendahkan kita?” “Ingat kok, tapi Dameer berjanji akan membahagiakanku Ma. Percayalah, dia lelaki yang baik.” Lilis mendecih di seberang telepon. “Lelaki baik, gak mungkin bawa kabur perempuan yang bukan mahrom, bahkan dengan egois menikahinya tanpa seizin Mama. Gak beretika!” desis Lilis mencoba menahan emosi. “Saling cinta aja gak cukup. Kalian mikir gak, ke depannya gimana?” imbuhnya. “Jangan salahkan Dameer, Ma. Ini juga karena kesalahanku, tapi kami gak punya pilihan lain. Mama yang tenang ya, dia pasti bisa jadi iman yang baik buatku. Soal orang tuanya, Dameer berjanji akan mengurusnya,” terang Yasmin. “Kamu ini! Baru dibujuk gitu aja udah luluh dan percaya!” “Ma, please! Jangan marah, maafin Yasmin.” “Mama sangat kecewa sama kamu.” Yasmin menarik napas dengan berat, dia bingung harus berkata apa untuk meyakinkan Lilis. Hanya bulir air mata yang tiba-tiba keluar dari kedua netranya. “Maaf Ma, kami terpaksa. Tolong restui kami ....” “Kamu udah egois! Karena ambil keputusan sendiri tanpa izin dari Mama yang melahirkanmu. Masih berani minta restu?” cetus Lilis. Yasmin menelan saliva dengan kasar. Telepon diputus secara sepihak oleh Lilis. Seketika Yasmin meremat ponselnya dan menangis sesenggukkan. Dameer yang baru masuk ke kamar mendapati Yasmin tengah menangis. “Sayang, ada apa?” tanya Dameer khawatir, kemudian duduk di tepi ranjang. Sementara Yasmin menyandarkan kepala di bahu lebar milik Dameer, berharap hatinya lebih tenang. “Mama ... kecewa dengan keputusan kita menikah diam-diam, Dam,” ucap Yasmin. “Udah kuduga sih, tapi mau bagaimana lagi. Ini jalan satu-satunya. Tapi, kamu udah kasih pengertian kan?” Dameer kembali bertanya sambil mengusap rambut panjang Yasmin. Gadis itu mengangguk. “Tapi Mama tetap marah dan kecewa. Kayaknya, beliau gak merestui kita.” “Nggak apa-apa. Jangan mikirin itu, yakin aja pasti suatu saat hatinya luluh.” Yasmin kembali mengangguk lega. **** Kesedihan Yasmin tak kunjung reda. Dameer pun memutuskan untuk menghibur istrinya, dan melakukan sesuatu. “Ikut yuk!” ucap lelaki itu sambil memegang pergelangan tangannya. “Ke mana?” “Gak jauh kok. Di halaman depan villa.” Yasmin mengangguk lemah. Rasanya malas baginya melakukan aktivitas apa pun, pikirannya tengah kacau. Namun dia tak ingin membuat suaminya kecewa, terlebih ini adalah malam pertama bagi mereka. Sesampainya di taman depan. Tampak lampu kecil warna-warni berkelap kelip, sementara di dekatnya terdapat kemah kecil berwarna merah muda. “Apa ini?” tanya Yasmin terheran. “Kita akan bermalam di sini, ditemani bintang dan api unggun,” cetus Dameer. Ia lalu menyingkap lengan piyama-nya, dan mulai menyalakan api. Api mulai menyala, dan udara menjadi terasa hangat. “Sini, duduk di dekatku,” ucap Dameer. Yasmin duduk dan menatap suaminya yang telah memegang gitar yang entah di mana ia simpan. “Suaraku gak bagus, tapi aku coba nyanyi ya buat hibur kamu,” cetusnya tanpa menunggu jawaban dari Yasmin. Gadis itu hanya tersenyum. Gitar mulai dimainkan, dan langsung ke bagian reff. ‘Dari matamu-matamu Kumulai jatuh cinta Kumelihat-melihat Ada bayangnya Dari mata buatku jatuh Jatuh terus jatuh ke hati.’ Nyanyian itu terus mengalun memecah keheningan. Mata Yasmin kian berpendar, antara bahagia dan sedih menjadi satu. Setidaknya, Dameer mampu memberikan kenyamanan bagi Yasmin walau setitik.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD