KAWIN LARI

1056 Words
Kawin lari? Memikirkannya saja tak pernah, apa lagi melakukan. Yasmin tidak yakin, apakah keputusannya benar atau tidak. Belum lagi soal Lilis yang belum tentu merestui mereka, setelah penghinaan dari orang tua Dameer padanya. Gadis itu menggeleng dan mencoba memantapkan hati, dia tak mau terlalu banyak berpikir. Pagi buta, saat Lilis masih berada di kamar, Yasmin perlahan keluar dari rumahnya membawa koper kecil berisi baju dan beberapa barang-barangnya. Bagi Yasmin, belum saatnya Lilis tahu soal rencananya. Dia baru akan mengatakannya, setelah pernikahannya dengan Dameer terlaksana. ‘Maaf Ma. Tapi Yasmin gak punya pilihan lain,’ batinnya. Sesuai perintah Dameer. Yasmin harus menunggu di halte dekat rumahnya. Dia duduk di kursi besi, berusaha tenang walau hatinya berdetak tak menentu. Bukk!! “Aww!!” Yasmin memegang lengan atasnya sambil meringis. Seseorang baru saja menyenggolnya. “Maaf, Nona. Saya kehilangan keseimbangan, jadi hampir jatuh tadi,” ucap lelaki bersuara bariton sedikit husky. Sepertinya pemuda itu kehilangan keseimbangan, sehingga nyaris terjatuh. “Oh, iya gak apa-apa,” cetus Yasmin sambil memiringkan kepala, mencoba menatap wajahnya. Nihil. Wajah itu tidak terlihat karena selain hari masih gelap, juga kepala lelaki tegap itu tertunduk dan tertutupi hodie hitam yang dipakainya. Sesaat, Yasmin merasa kenal dengan hodie itu, tapi kemudian dia mengangkat bahu dan kembali menatap jalan raya yang belum terlalu ramai. “Mbak lagi nunggu taksi?” tanya pemuda itu memecah keheningan. Dia duduk di samping Yasmin dengan jarak yang tidak terlalu dekat. “Nggak. Lagi nunggu seseorang, dia janji akan datang menjemput,” jawab Yasmin. “Oh, baiklah. Hati-hati ya Mbak, semoga Allah selalu melindungimu.” Deg! Seketika Yasmin kembali menoleh. Dia heran, kenapa orang asing itu tiba-tiba mengucapkan do’a untuknya, padahal tidak saling mengenal. Lalu, lelaki itu beranjak dari tempat duduknya, dan berlalu meninggalkan Yasmin sambil memasukkan kedua tangan pada saku hodie-nya. Tidak lama berselang. Sebuah mobil sport range rover warna putih, dengan halus mendekat dan berhenti tepat di hadapannya. Lalu, seseorang berkaca mata hitam keluar dari mobil itu. “Hai, sayang. Maaf lama menunggu.” Yasmin tersenyum lega, akhirnya Dameer datang. Dia pun berdiri sambil menenteng tas kecil. “It’s oke.” “Jalan sekarang?” “Ayo.” Dameer membukakan pintu untuk Yasmin, lalu memasukkan koper ke bagasi. ***** Matahari pagi mulai mengintip, saat mereka masih dalam perjalanan. “Look this!” ujar Dameer menyodorkan sebuah map berwarna biru, lalu kembali fokus menyetir. “Apa ini?” “Buka aja.” Yasmin membukanya. Rupanya sebuah berkas kelengkapan untuk pernikahannya. Mata dengan bulu lentik itu membulat. “Kamu, siapin ini semua?” tanya Yasmin tak percaya. “Iya, dong. Ini bukti keseriusanku. Kamu bawa KTP dan kekurangan lainnya kan?” “Bawa.” “Sip.” Dameer menarik napas lega, lalu memutar lagu Jason Mraz berjudul I’m Yours. Sesekali dia meniru nyanyian itu dengan santai. Diam-diam, Yasmin menatap lelaki yang dicintainya itu lekat-lekat. “Makasih ya Dam.” “Untuk?” “Kamu mau melakukan ini semua untukku.” Dameer meremat jemari gadis itu. “Bukan untukmu, tapi untuk kita.” Senyum keduanya terkembang. “Hm, by the way. Kita akan ke mana?” tanya Yasmin. Gadis itu mulai menengok jalan raya, dan rupanya telah masuk tol. “Ke Bandung.” “Bandung?” Mata itu kembali membulat. “Yup! Aku punya villa pribadi, yang gak seorang pun tau itu milikku, sekali pun papa dan mama.” Yasmin tertegun. Dia tak menyangka akan dibawa Dameer sejauh ini. Seketika dia teringat Lilis, ibunya. Gadis itu merogoh ponsel di tasnya. Dameer menoleh. “Mau apa?” “Aku harus mengabari mama, kalau aku ke Bandung.” “Jangan sekarang. Nanti aja pas udah sampai, oke?” Walau ragu, Yasmin pun mengangguk dan kembali memasukkan ponselnya. **** Setelah perjalanan yang lumayan jauh, mereka pun sampai di sebuah villa mewah - yang di sekelilingnya berpagar tinggi. Yasmin merapatkan jaketnya. Suhu Bandung cukup rendah, membuatnya cukup kedinginan. “Masuklah!” ujar Dameer. Yasmin terdiam sejenak, tatapannya lurus ke depan - ke sebuah ruang tamu yang terdapat sofa biru yang mewah. Tak terpikir sedikit pun olehnya, kalau dia dan Dameer hanya berdua di villa itu, sementara mereka belum menikah. “Ada apa?” tanya Dameer. “Kita ... cuma berdua?” Dameer terkekeh. “Bakalan ada maid sebentar lagi. Dia yang menjaga villa ini serta membersihkannya. Tenang aja.” Yasmin merasa lega dan mulai masuk ke villa itu. “Kamarmu di sebelah sana. Sudah ada tv, kamar mandi, dan kulkas mini yang sudah terisi beberapa makanan. Biar kamu gak bolak-balik keluar kamar.” “Makasih banyak ya, Dam.” Dameer mengangguk. Keduanya masuk ke kamar masing-masing. Sikap baik Dameer, membuat Yasmin merasa tak perlu banyak berpikir hal-hal yang berat. Dia mempercayakan segala sesuatunya pada lelaki itu. Yasmin kembali merogoh ponsel. Sambil merebahkan tubuhnya di ranjang, dia menelepon Lilis. “Assalamu’akaikum, Yasmin. Kamu di mana? Pas Mama mau bangunin salat subuh, udah gak ada,” suara di seberang telepon. “Wa’alaikumsalam. Iya, Ma. Maafin Yasmin. Mendadak, ada keperluan penting ini.” “Keperluan penting? Di mana, kok sampai siang begini belum pulang?” tanya Lilis bernada khawatir. Jeda. Yasmin cukup bingung apa yang mesti dia katakan. “Yasmin ... ada urusan kerjaan Ma, di luar kota. Maaf baru ngasih tau, soalnya takut gak diizinin.” “Emang luar kotanya di mana?” “Di Bandung.” “Hah, Bandung?” Yasmin menelan saliva dengan kasar. “I-iya, Ma.” “Kok, bisa sejauh itu Nak?” “Iya, Ma. Mau gimana lagi, tuntutan kerjaan.” Terdengar suara helaan napas berat dari seberang. Tampaknya, Lilis agak keberatan. “Sama siapa?” tanya Lilis kemudian. “Sama staf yang lain kok, Ma.” Lagi-lagi, Yasmin berbohong. Dia merasa tidak punya pilihan lain. “Baiklah, kamu jaga diri di sana ya.” “Makasih ya Ma. Nanti Mbak Laras akan nginep selama aku di Bandung, kok. Biar Mama ada temennya, gak kesepian,” cetus Yasmin kemudian. “Tapi kira-kira berapa lama?” “Belum tau pasti. Nanti Yasmin kabari ya.” “Baiklah, Nak. Kamu hati-hati di sana.” “Iya. Mama juga. Kalau ada apa-apa, telepon Yasmin ya. Oya, sekarang mau mandi dulu nih, nanti kutelepon lagi. Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumsalam.” Bip! Huft! Yasmin merebahkan punggung ke bahu ranjang. Rasa bersalah menyelimutinya, karena akhir-akhir ini dia kerap berbohong pada Lilis. ‘Maafin aku, Ma.’  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD