Perempuan muda itu berlari kecil, masuk ke pagar kontrakannya menerobos hujan yang semakin deras. Sesampainya di depan pintu, dia kembali menyeka air mata sambil menarik napas panjang-mencoba menata detak jantung, agar ibunya tak curiga dia tengah bersedih.
Pintu terbuka setelah dia ketuk beberapa kali.
“Yasmin? Kenapa biarin badanmu kehujanan gini?” tanya Lilis sambil merangkul pinggang anaknya, menggiringnya ke sofa ruang tamu, sambil mendorong kursi roda dengan tangan kanan.
“Lupa bawa payung, Ma. Kalau berteduh dulu, takutnya makin malam, kan gak tau kapan hujan reda.”
Lilis menyodorkan handuk padanya, lalu mengunci kursi rodanya tepat di samping Yasmin.
“Iya, ada baiknya kamu memutuskan cepat pulang. Perempuan gak baik masih di luar malam-malam begini. Apa tadi, kerja lembur?”
Yasmin menelan saliva dengan kasar. Dia mengira, perkenalannya dengan orang tua Dameer bisa memberikan kabar bahagia untuk Lilis. Tapi, semua di luar dugaannya. Keinginannya untuk segera menikah, harus dia kubur lagi dalam-dalam.
‘Ya Allah, apa yang harus kukatakan pada mama?’
“Yas. Kok malah melamun?” tanya Lilis.
“Oh, ng-nggak lembur Ma. Tapi ....”
“Ya?” Lilis sangat penasaran apa yang akan Yasmin ucapkan, terlebih wajah anaknya itu langsung terlihat pucat.
“Sepulang kerja, Yasmin diajak Dameer ke rumah orang tuanya. Rumahnya, sangat megah,” tutur Yasmin dengan suara bergetar.
“Maaf Ma. Sepertinya, anakmu ini belum bisa bahagiain Mama.” Yasmin mulai terisak. Dia paham, betapa ibunya sangat menginginkannya segera menikah, memiliki suami dan memberikan cucu.
“Apa yang terjadi di rumah Dameer?” tanya Lilis penasaran.
Yasmin kembali menarik napas panjang dan menatap mata teduh ibu paruh baya itu.
“Kita gak sepadan sama Dameer dan keluarganya, Ma. Jujur, ucapan ibunya membuatku sadar siapa diri ini.”
“Mamanya bilang apa? Apa dia menghinamu?”
Yasmin menggeleng kuat.
“Nggak. Tapi beliau bicara realistis, aku bagai pungguk rindukan bulan. Dari sisi mana pun kami gak pantas!”
“Astagfirullahal’azim. Sejak kapan derajat manusia dinilai dari harta? Bukankah di hadapan Allah yang penting keimanan dan ketaqwaan? Keluarga Dameer benar-benar telah menghina kita!” ujar Lilis dengan suara bergetar menahan emosi, matanya mulai berkaca-kaca. Ia pun memegang kedua tangan anaknya.
“Nak. Benar ucapan ibunya Dameer, kalian gak pantas. Karena kamu lebih layak menikah dengan lelaki yang soleh dan dari keluarga yang beragama. Mulai detik ini, jauhi laki-laki itu. Mama yakin, kamu kelak akan memiliki suami yang baik, soleh, cinta sama kamu dan menerimamu apa adanya,” imbuh Lilis.
“Aamiin. Sekali lagi maafin Yasmin ya Ma. Lagi-lagi bikin Mama kecewa.”
“Nggak, Nak. Justru Mama bersyukur kamu belum melangkah jauh sama orang kaya sombong itu. Tenanglah, buah kesabaran itu rasanya manis.”
Yasmin mengangguk. Mereka berdua terisak dan saling merangkul satu sama lain.
Malam makin larut, ditemani suara hujan yang masih turun membasahi bumi.
****
__ “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya.” (Q.S. Albaqarah :86) __
Kerlingan manja embun pagi, membiaskan rona bahagia. Tak sebahagia Yasmin, namun gadis itu berupaya untuk tetap bersikap wajar. Mencoba melupakan kejadian semalam yang menyesakkan d**a.
“Nak, jika bisa carilah pekerjaan lain. Biar gak sering ketemu atasanmu itu,” cetus Lilis.
Yasmin menyesap kopinya yang tinggal setengah. Gadis itu bukan pecinta kopi, tapi entah kenapa pagi itu dia ingin mencoba menikmati minuman pekat itu. Pikirannya teringat filosofi kopi, bahwa yang hitam tak selalu kotor, dan yang pahit tak selalu menyedihkan. Baginya, kekecewaan yang kemarin pasti terselip hikmah.
“Cari pekerjaan lain gak gampang, Ma. Lagi pula, pekerjaanku yang cuma staf biasa, gajinya cukup lumayan dibanding perusahaan lain.”
“Kamu benar. Tapi, Mama cuma khawatir tentang perasaanmu, kejadian semalam ....”
Senyum tersungging di bibir mungil Yasmin.
“Tenang aja Ma. Aku bisa bersikap profesional kok, masalah yang kemarin anggap aja angin lalu. Ya udah, aku pergi dulu ya.” Yasmin menghabiskan sisa kopi dan mulai beranjak.
“Hati-hati, Nak.”
Yasmin mengangguk dan menguluk salam.
****
Tak seperti biasa. Pagi ini, dia berangkat lebih awal. Rasa kecewanya ingin dia tumpahkan ke pekerjaannya di kantor.
‘Aku harus menyibukkan diri,’ batinnya sambil menatap layar komputer.
Grep!
Deg!
Seseorang memegang pergelangan tangannya, membuat Yasmin terkejut.
“Ke ruanganku sekarang.”
Suara Dameer cukup tegas walau pelan. Gadis itu beringsut menyusulnya dari belakang, walau di kepalanya menimbulkan banyak tanya tentang sikap Dameer.
Lelaki tegap itu memutar badannya dan menghadap ke arah Yasmin. Kini, jarak mereka tak lebih dari dua puluh centi.
Jantung Yasmin kembali tak bisa kompromi. Walau agak kecewa, tetap saja dia tak bisa membohongi diri sendiri tentang perasaannya.
Dameer semakin mendekat ke arahnya, membuat gadis itu nyaris lupa bagaimana cara bernapas.
“Pak, i-ini ... terlalu dekat,” ucap Yasmin gugup, terlebih Dameer mengelus pipinya dengan jari telunjuk.
“Kamu sangat cantik ....” lirih Dameer. Sorot matanya yang biasa tajam berubah redup.
Wajahnya semakin didekatkan hingga kedua bibir itu nyaris bersentuhan, namun Yasmin dengan cepat mendorong halus d**a lelaki itu.
“Kita belum halal, Dam,” ucap Yasmin.
Dameer berdehem dan memperbaiki jasnya yang sudah rapi, mencoba bersikap biasa.
“Maaf, tadi reflek. Maaf juga soal yang kemarin. Aku nggak bersikap tegas membelamu di hadapan mama,” ucapnya kemudian.
“Nggak apa-apa kok. Aku juga gak mau bikin kamu melawan orang tua. Jadi, kita selesai sampai di sini?” tanya Yasmin. Entah kenapa, ia tidak ingin hubungan itu berakhir begitu saja.
Dameer menggeleng.
“Aku gak akan mengurungkan niatku untuk menikahimu.”
Alis Yasmin bertaut. “Maksudmu?”
Dameer menggenggam kedua jemari Yasmin dan didekatkan ke dadanya.
“Boleh saja kedua orang tuaku gak merestui kita. Tapi tekadku gak akan goyah. Kita akan kawin lari.”
Seketika mata hazel gadis itu membulat. “Apa? Kawin lari?” pekik Yasmin.
Dameer seketika menutup mulut Yasmin dengan jemarinya.
“Hei, ssstt! Jangan kencang-kencang. Nanti karyawanku bisa dengar.”
“Kamu lupa. Ruanganmu kan kedap udara!” cetus Yasmin.
Dameer menggaruk tengkuknya. “Iya juga ya. Kok, aku bisa lupa. Gimana, kamu mau kan?”
Yasmin berdecak. “Mustahil Dam. Itu konyol!”
“Ini jalan keluar terbaik satu-satunya. Kita kan saling cinta, aku akan menikahimu, menjagamu, menyayangimu. Gak perlu takut,” ucap Dameer mencoba meyakinkan.
Seolah ada kupu-kupu terbang di perutnya. Gadis itu begitu bahagia dan terbawa perasaan, seolah lupa rasa sakit bahkan nasehat ibunya. Dia sangat yakin kalau Dameer bersungguh-sungguh. Ah, cinta memang senaif itu.
“Tapi, bagaimana dengan orang tuamu? Bisa-bisa mereka malu memiliki menantu miskin sepertiku.”
“Mereka pasti akan sadar kebaikanmu, sayang. Lagi pula aku yakin, lama-lama mereka pasti akan merestui hubungan kita seiring berjalannya waktu. Sekarang, tugasmu hanya ikuti apa yang aku lakukan untuk kita, oke?”
Walau sempat ragu, Yasmin pun mengangguk tanda setuju.
“Baiklah.”
“Yes! Besok pagi-pagi sekali, bersiaplah. Dan pastikan tak ada yang tau kecuali kita berdua.”
Senyum keduanya merekah.