“Aku tunggu sepulang kerja.”
Glek!
Yasmin mendadak mematung saat suara bariton tiba-tiba terdengar lembut di telinga kirinya. Terlalu fokus berkutat di layar komputer, membuat gadis itu tidak sadar akan kehadiran Dameer yang menghampirinya.
Sejurus kemudian lelaki tampan itu berlalu meninggalkannya, tanpa tahu telah membuat jantung Yasmin berdetak sangat kencang.
‘Ya Tuhan. Laki-laki itu, buatku jantungan aja.’
Yasmin tidak paham apa maksud Dameer mengucapkan kata itu. Karena seingatnya, mereka tidak sedang berencana pergi hari ini.
“Ciee ... yang diam-diam udah jadian,” celetuk Cici yang mendekati mejanya sambil menyerahkan berkas berwarna biru.
Yasmin menoleh sambil mengerutkan dahi. “Jadian? Tahu dari siapa?”
Cici terkekeh. “Ada deh, hal-hal kayak gitu, apa sih yang aku gak tahu.”
Cici memutar tubuhnya mengelilingi meja, diiringi tatapan Yasmin dengan rasa penasaran.
“Hebat kamu Yas, bisa meluluhkan hati Pak CEO. Jangan-jangan, selama ini kamu gak kunjung nikah karena nungguin Pak Dameer ya?”
Ucapan Cici membuat mata Yasmin membulat lalu menggelengkan kepala. Dia tak habis pikir, kenapa perempuan berjilbab lebar itu bisa menuduh dia seenaknya.
“Astagfirullah. Ci, kamu su’uzon deh. Gak mungkin aku kayak gitu, aku cukup sadar diri kok. Lagian mana tahu bakalan ditaksir Pak Dameer,” ucap Yasmin dengan nada kesal.
Lagi-lagi Cici terkekeh.
“Bercanda sayang. Aku percaya kok sama kamu.”
Yasmin menanggapinya dengan mencebik karena masih kesal.
“Menurutmu dia serius?” Cici kembali bertanya.
“Ya iyalah, kalau nggak, gak mungkin aku nerima dia.”
Yasmin bangkit sambil mengambil beberapa berkas.
“Aku ke ruangannya dulu ya. Banyak berkas yang mesti dia tanda tangani,” cetus Yasmin. Dia mencoba menghindar dari Cici, dan segera beranjak dari tempat duduknya.
“Oke, Beib.”
****
Lelaki tegap itu memutar tubuhnya diiringi senyum manis, saat Yasmin sudah berada di ruangannya.
“Duduklah, sayang.”
Mereka duduk berhadapan.
“Eh, ssst ... kita belum nikah Dam. Kok, udah manggil sayang sih!” ujar Yasmin dengan pipi bersemu.
Dameer hanya terkekeh melihat raut wajah Yasmin yang langsung berubah.
“Itukan panggilan sayang, masa gak boleh. Kan manggilnya bukan di depan karyawan.”
“Tapi aku malu.”
“Menurutku gak terbiasa. Sekarang mesti dibiasakan ya, karena aku bakalan sering manggil kamu dengan sebutan itu, oke sayang?”
Entah kapan, Dameer mengeratkan genggaman tangannya pada jemari Yasmin.
Yasmin tersenyum lebar. “Ada-ada aja kamu.”
Tiba-tiba, dia teringat sesuatu. “Oh, ya Dam. Tadi kamu bilang akan menungguku sepulang kerja. Ada apa?”
“Oh, itu. Seperti yang pernah kubilang, aku akan mengenalkanmu pada kedua orang tuaku, siap?”
Yasmin terbalalak. “Sore ini?”
“Iya, kenapa?”
“Ta-tapi ... aku belum siap, harus mandi dan memakai gaun terbaik.”
Dameer tergelak.
“Gak usah sayang. Kamu pakai baju ini aja.”
Dameer menunjuk blazer warna abu-abu yang tengah dipakai Yasmin, dengan paduan celana pensil yang senada.
“Aduh. Masa pakai baju kerja sih, Dam.”
“Nggak apa-apa. Perkenalannya kan gak formal, santai kok.”
Yasmin menghela napas panjang. Dia sedikit pasrah, dan mengikuti apa yang dikatakan Dameer.
****
Sore menjelang.
Sesuai janji, mereka pun pergi menuju kediaman Dameer, untuk mengenalkan Yasmin pada kedua orang tuanya.
Senyuman pun terus terkembang di bibir mungil Yasmin sepanjang jalan. Bayangan pernikahan dengan gaun impiannya, menari-nari di pelupuk mata.
“Yas, kita sudah sampai,” ucap Dameer membuyarkan lamunannya.
“Oh-eh. Sudah ya!” Yasmin bergegas melepaskan safety belt. Mereka pun turun dari mobil.
Netra hazel Yasmin membulat, saat menatap rumah megah tiga tingkat yang ada di hadapannya. Nuansa putih dan keemasan mendominasi bangunan klasik moderen itu, ditambah halaman yang luasnya bisa menampung lebih dari sepuluh mobil.
“I-ini ... rumahmu?” tanya Yasmin.
“Iya. Tepatnya rumah kedua orang tuaku.”
Yasmin menelan saliva dengan kasar, tiba-tiba dia semakin insecure dan berkali-kali merapikan blazernya. Dameer menggenggam erat jemarinya yang mulai dingin karena gugup.
“Santai aja sayang. Papa mamaku gak gigit, kok,” seloroh Dameer.
Kalimat itu cukup membuat Yasmin lebih rileks. Gadis itu pun mengangguk dan mereka mulai masuk ke rumah itu.
“Duduklah. Aku akan meminta maid untuk membuatkan minum untukmu.”
Yasmin mengangguk.
Menit berlalu. Terasa lama bagi Yasmin menunggu Dameer menemuinya kembali, bahkan teh yang tadinya panas mulai dingin.
Gadis itu mulai bangkit, dan sedikit mengintip ruang tengah yang terhalang sekat tembok.
Dari situ, Yasmin bisa melihat Dameer dan seorang wanita paruh baya tengah mengobrol serius, entah apa yang sedang dibicarakan. Namun, hati Yasmin merasa tidak nyaman, dan memutuskan untuk kembali duduk di ruang tamu.
Kemudian, terdengar langkah kaki keduanya mendekat ke arah Yasmin. Gadis itu bangkit sambil tersenyum ramah.
“Yas. Kenalkan, ini mamaku. Laili namanya,” ucap Dameer.
Yasmin mengangguk sambil mengulurkan tangannya.
“Jadi, kamu yang namanya Yasmin?” tanya ibu paruh baya itu, dengan tidak menyambut uluran tangan Yasmin - membuat gadis itu menarik kembali tangannya.
“I-iya Bu.”
“Katanya kamu kerja di kantor Dameer. Jabatanmu apa?”
“Karyawan staf, Bu.”
Laili mengangkat sebelah ujung bibirnya sambil menyilangkan kedua tangan di dadanya, membuat nyali Yasmin tiba-tiba menciut.
“Jabatanmu hanya berada di grade tiga. Gajinya pun tak seberapa, tapi berani mendekati anakku, Dameer?!” ujar Laili dengan suara sopran yang tegas.
“Barusan, Dameer pun cerita. Kalau rumahmu saja masih mengontrak, ditambah kamu punya ibu yang sakit dan gak bisa jalan. Ck ... ck ... ck, apa itu gak akan merepotkan Dameer nanti?”
Yasmin seketika menatap Dameer. Namun, lelaki itu hanya menunduk dalam-dalam.
“Dameer! Kamu ganteng dan kaya, kok bisa sih nyari calon yang derajatnya sangat jauh dari kita?” Suara Laili meninggi.
Yasmin cukup terkejut dengan respon tak terduga dari Laili. Dia bertanya dalam hatinya, apakah Dameer tidak membicarakan kedekatan mereka selama ini sebelumnya? Gadis itu mengira, orang tua Dameer sudah mengetahui hubungan mereka, sehingga yang dibicarakan selanjutnya hanya soal rencana lamaran dan pernikahan.
“Kami ... saling mencintai, Ma,” ucap Dameer nyaris tak terdengar.
Laili tertawa hambar. “Omong kosong! Tanpa uang, kalian gak akan selamanya saling cinta. Cinta itu ada diiringi materi yang melimpah. Kamu menikahi gadis ini, gak ada untung apa-apa! Yang ada dia akan memanfaatkan hartamu saja, Dameer! Berpikir cerdaslah!” cecar Laili.
Yasmin menggeleng kuat. “Nggak begitu, Bu. Saya ....”
“Cukup! Saya tegaskan. Sebagai orang tua Dameer, saya tidak merestui hubungan kalian. Sebaiknya akhiri saja, karena Dameer akan menikahi gadis yang sepadan dengannya,” jelas Laili.
Bulir air mata mulai keluar tanpa permisi di kedua iris mata Yasmin. Dia pun mengangguk paham, dan mencoba tegar menerima keputusan.
“Tunggu apa lagi. Pulanglah!” ujar Laili.
Yasmin bangkit dengan tubuh gemetar, dan menatap sekilas wajah Dameer.
“Baik. Terima kasih sambutannya, mohon maaf jika telah mengganggu. Saya permisi,” ucap Yasmin lemah.
“Aku antar kamu pulang,” ujar Dameer mencoba mendekat.
Yasmin tersenyum getir. “Gak usah. Aku bisa pulang sendiri.”
Yasmin berlalu meninggalkan mereka sambil menyeka air matanya. Seketika hujan turun dengan deras, Yasmin merapatkan blazernya dan mencegat taksi.
Di dalam mobil, Yasmin tak habis pikir. Kenapa dia tidak memikirkan soal ini sebelumnya, bahwa orang sekaya Dameer tak mungkin jadi miliknya, bahwa kedua orang tua lelaki itu tidak mungkin dengan mudah menerima kekurangannya.
“Bodoh! Bodoh!” gumamnya sambil mengetuk-ngetuk keningnya beberapa kali, sambil terus mengeluarkan air mata yang tak tertahan.