BAB 3 : NILAI SEMPURNA?

1003 Words
Pintu rumah itu terbuka setelah Adinda memasukkan kata sandi di depan pintu utama. Sudah di bilang bukan ? Rumah di sini adalah rumah elit dan pintu juga di pasangi smart lock door. Dan salah satu fitur untuk menggunakannya adalah dengan cara memasukkan pin di sana.  Adinda lebih senang menggunakan pin daripada sidik jari. Entah, namun rasanya beda saja jika memakai sidik jari untuk masuk ke rumahnya.  Kosong.  Dingin.   Tentram.  Satu hal yang tergambar jelas di rumah itu adalah kekosongan. Adinda dan ibunya tinggal berdua. Tidak ada yang menemani mereka. Ayahnya ? Entah, Adinda tidak pernah penasaran setelah ibunya mengatakan jika ayahnya pergi meninggalkan mereka berdua. Ibunya Adinda juga tidak pernah menyewa pembantu rumah tangga. Karena ibunya bisa membereskan semuanya. Tatanan rumah dan tentu saja kebersihan rumah sudah terjamin. Terkadang, jika ibunya terlalu lelah dan capek biasanya, ibu Adinda suka menyewa beberapa orang untuk membersihkan keseluruhan rumah. Dan tentu saja, dipantau langsung oleh sang ibu.  Sore itu, Adinda menghabiskan waktunya untuk tidur. Sebelum ibunya pulang, Adinda sudah bangun dan menyapa ibunya di ruang kerjanya. Tidak menyapa seperti sebagian orang. Adinda hanya mengangguk dan tersenyum kecil ketika berpapasan dengan ibunya yang menuju kamar lantai dua.  “Sudah makan ?”  Dan itu pertanyaan biasa dari ibunya kepada Adinda.  Adinda menggeleng, “mau masak mie instan.” Kata Adinda santai berjalan menuju dapur tidak melihat ibunya berhenti di tengah anak tangga menuju kamar atas.  “Ameera.”  Dan panggilan itu membuat Adinda berhenti di tengah – tengah perbatasan ubin menuju dapur. Di dalam hati, Adinda tau pasti ibunya itu akan memakinya lagi. “Jangan makan mie instan. Tunggu sebentar, mama masakin makanan sehat.” Setelah berbicara seperti itu, ibunya berjalan cepat menuju kamarnya. Berganti pakaian dan bersiap memasak untuk Adinda. Sebelum ibunya kembali, Adinda sempat berdecak. Dan untung saja, ibunya tidak mendengar. Jika mendengar itu, kemungkinan Adinda bakal di omeli lagi. Dan apa salahnya dengan mie instan ?  Mie instan itu. . .  Enak. Apalagi saat hujan. Di atasnya di simpan telur setengah mateng. Dan irisan cabe.  Di tambah lagi bawang goreng.  Itu adalah surga bagi sebagian orang. Salah satunya adalah untuk Adinda.  Adinda hanya bisa menunggu di depan televisi yang menyala namun Adinda tidak menontonnya. Adinda masih asik mengerjakan beberapa contoh soal matematika untuk dipelajari besok di sekolahnya.  “Makan.” Kata ibunya memanggil Adinda untuk menghentikan aktivitasnya terlebih dahulu. Adinda berjalan sambil masih tetap membawa buku dan pensilnya. Menyimpannya di atas meja dan mengisi beberapa soal dengan tangan kirinya dan makan dengan tangan kanannya. “Gimana ujiannya tadi ?”  Adinda menghentikan apa yang sedang ia tulis dan soal yang ia isi di buku yang tidak terlalu tebal itu. Tamara jadi benci ketika mendengar apa yang terjadi di ujiannya tadi. “Tidak terlalu sempurna .” Kata Adinda pelan. “Kamu di peringkat berapa ?” Ini yang Adinda takutkan jika ujiannya gagal. Adinda pasti di salahkan setelah menyebutkan nilai yang kurang sempurna itu. “Kedua.” Jawab Adinda pelan sambil memakan makanannya lagi. “Kok bisa ?” Kata ibunya bertanya. Namun dengan nada yang kurang baik di telinga Adinda. Adinda menggeleng lalu mengendikkan bahunya. “Kurang teliti aja.” Kata Adinda santai karena memang seperti itu kenyataannya. “Kok bisa ?” Tanya ibunya lagi. “Baca soal itu hati – hati. Jangan sampe salah abca atau salah angka.” Kata ibunya menambahkan. Adinda hanya mengangguk. “Kamu gak belajar ?” Adinda menarik nafasnya. “Kurang nol koma lima dari angka seratur, Ma.” Ucap Adinda. “Ya ga seratus kan ?” Ibunya kembali bertanya. Adinda rasa, dia sudah lelah dengan keadaan yang seperti ini. Adinda merasa dia sudah berusaha namun kesalahan kecil itu membuat Adinda diomeli. Mungkin sampai Adinda mendapat nilai sempurna. “Siapa yang ada di peringkat satu ?” Adinda berdeham kemudian meminum minuman air mineral yang sudah di tuangkan oleh ibunya tadi. “Humaria.” Ibunya berdecak, “dia aja bisa kenapa kamu engga ?” “Dia emang suka fisika, Ma.” “Kamu engga emangnya ?” Engga. Jawab Adinda dalam hati. Sebenarnya, Adinda tidak berani menjawab seperti itu. Akan jadi amukan yang sangat sengit jika Adinda menjawab dengan perkataan seperti itu. Adinda lebih suka Kimia atau Biologi daripada Fisika dan Matematika, jika Adinda boleh jujur. “Lumayan,” jawab Adinda pelan. Ibunya sekarang yang menarik nafasnya. “Tadi siang abis pulang sekolah ngapain ?” Apa yang sedang ibu ini cari tau dari Adinda sebenarnya ? “Tidur.” Ucap Adinda polos. Ibunya berdecak, “bukannya belajar.” Adinda terkadang ingin bertanya pada orang – orang di sana terutama orang tua. Anaknya sudah belajar di sekolah dari jam tujuh pagi sampai jam setengah empat dan masih di suruh belajar abis pulang sekolah ? Apa mereka tidak memikirkan kapan waktu istirahat anak mereka ? Apalagi, jika ibunya seperti ibunya Adinda. Yang masih menyuruhnya les setiap hari Sabtu yang seharusnya dijadikan hari bermalas – malasan setelah lima hari belajar. Adinda bisa jadi stress lama – lama. “Malam ada waktu, Ma.” Kata Adinda. “Begini juga aku belajar.” Ucap Adinda ketika memperlihatkan ditangan kirinya ada buku dan juga pensil. Adinda tidak berhenti belajar karena tuntutan dari ibunya. Adinda tidak pernah bermain ke luar rumah. Atau berkumpul dengan teman – temannya saat ada acara. Tidak pernah mengikuti organisasi sekolah, bahkan tidak pernah mengikuti extra kulikuler di sekolahnya. Pernah waktu itu, Adinda meminta persetujuan dari ibunya untuk belajar seni fotografi, namun ditolak begitu saja. Bahkan pernah ada guru yang mewajibkan untuk siswa kelas satu sekolah menengah atas untuk mengikuti satu extra kulikuler di sekolah, dan ibunya ke sekolah untuk protes. Isi protesnya adalah ibunya meminta pertimbangan untuk pengecualian Adinda tidak mengikuti kegiatan itu karena harus fokus untuk belajar. Dan tentu saja, dilihat dari nilai akademik, Adinda memang tidak memerlukan lagi extra kulikuler di sekolahnya. “Benar.” Kata ibunya. “Belajar yang giat. Jangan sampai kalah sama orang lain domg. Malu – maluin.” Ucap ibunya berkelanjutan. Iya. Malu – maluin. Humaria ga pernah les dan ibunya biasa aja. Masa kalah sama yang seperti itu. Dan itu sudah biasa masuk ke telinga Adinda jika membicarakan tentang Humaria. “Sori, Ma.” Kata Adinda pelan lalu membereskan bukunya dan menyelesaikan makanannya lebih cepat. Adinda ingin segera ke kamarnya dan duduk bersantai di depan komputer dan melihat – lihat bagaimana enaknya menjadi seorang fotografer. Berkeliling kota atau bahkan berkeliling dunia. “Pelan – pelan, Ameera.” Adinda membuang nafas jengah. Kemudian mengangguk. “Aku selesai. Aku masuk kamar dulu.” Ibunya mengangguk, “belajar yang giat dan dapetin nilai sempurna.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD