Sudah di pastikan oleh Adinda jika Yudha benar – benar tidak mengenalnya di sekolah. Tadi, saat waktu istirahat, Adinda menyerahkan kembali botol minum untuk Yudha dan tentu saja di tolak lagi. Yudha benar – benar membuatnya malu. Belum lagi Adinda pasti akan di incar lagi oleh orang yang mengaku ‘pacar’- nya Yudha.
Menyebalkan.
“Udahan deh, Ria.” Kata Adinda merengek kepada Ria setelah pelajaran akan di mulai di kelasnya namun belum ada guru yang masuk di kelasnya, “gue terima jadi babu lo aja deh.”
Ria yang mana adalah yang membuat Adinda secara tidak langsung mendapat masalah malah cengengesan, “belum tiga kali. Kalo udah tiga gue ubah deh peraturannya.” Ucap Ria kemudian mencubit tangan Adinda pelan setelah Adinda memukul lengan Ria cukup keras.
Adinda sendiri ingin menyelesaikan ini dengan cepat, namun saat Adinda berencana untuk memberikan botol minum yang di belinya tadi kepada Yudha, Adinda di cegat oleh kakak kelas yang waktu itu pernah melabraknya.
“Masih nekat aja ini cewek godain cowok orang.” Kata orang yang biasa banyak bicara.
Adinda tidak begitu mengenalnya, namun Ria pernah menceritakan beberapa hal tentang kelompok ini. Yang selalu berada di depan dan yang paling depan jika ada hal – hal seperti ini namanya Nuri. Dia yang selalu menjadi juru bicara orang yang biasanya paling terakhir muncul.
Yang terakhir muncul adalah ketua dari kelompok ini, namanya Isti. Tidak berda jauh dengan Nuri, Isti adalah orang yang tidak ada sopan santunnya. Nilainya nol. Akademik juga tidak terlalu bagus. Namun, berkat ibunya yang merupakan anggota dewan, dia bisa seenaknya di sekolah. Bisa naik kelas dengan mudah dan tentu saja keluar dari hukuman dengan suapan kepada kepala sekolah.
Ada satu lagi orang di kelompok itu. Namanya Nita. Dia orangnya jarang bicara namun biasanya jika sudah ada yang menyakiti Isti, dia yang bergerak. Entah, seperti bodyguardnya Isti.
Adinda menunduk, biasanya Adinda tidak ingin melibatkan dirinya kepada orang – orang yang seperti ini. Adinda tidak mau namnaya di tulis di kertas yang di dalamnya memanggil ibunya. Bisa – bisa Adinda kena amuk oleh ibunya jika memang begitu adanya.
“Gue udah peringatin waktu itu ke lo ya.” Ucap Isti maju menghadap ke hadapan Adinda dan Ria.
Adinda mendesah pelan begitu Isti memegang dagunya, memaksa Adinda untuk menatapnya, “kenapa lo ga nurutin apa yang gue suruh ?”
“Ma- maaf kak.” Kata Adinda pelan.
Ria juga tidak bisa berbuat apa – apa. Setelah ini, mungkin Ria benar – benar akan membatalkan taruhannya. Ria tidak enak untuk menyuruh Adinda terus menerus dan pada akhirnya seperti ini. Ria juga hanya bisa menatap Adinda yang di remehkan seperti itu.
“Gue udah muak ya sama maaf lo. Karena gue hanya ngasih lo kesempatan satu kali dan lo ga bisa menuhin gue ga bisa diem aja dong ?”
Adinda sudah mulai panik karena tidak tahu harus berbuat apa. Setelah dagunya di lepaskan oleh Isti, kini Nita menarik tangannya dan mengikuti kemana Isti pergi. Ria yang ingin mengikuti kemana Adinda di bawa oleh anak – anak bengal itu, ditahan oleh Nuri.
“Lo ga perlu ikut, gue sama isti juga Nita hanya berurusan sama temen lo.”
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Adinda di bully dengan verbal. Di kata – katain dan di desak untuk mengakui bahwa dirinya menyukai Yudha. Padahal Adinda tidak punya perasaaan apapun pada Yudha. Adinda hanya kagum terhadap apa yang Yudha katakan ketika kemarin bersamanya tentang masalah keluarga yang ditebak dengan benar oleh Yudha.
“Ngaku aja lo mau jadi pelakor kan ?”
Setelah kalimat itu, Adinda terdorong merapat ke tembok di belakangnya. Adinda menggeleng pelan.
“Ini murni tarohan, kak.” Jawab Adinda pelan.
Namun, jawaban itu bukan yang diharapkan Isti di depannya. Dia malah menampar Adinda sampai wajah Adinda menyamping.
“Ini modus lo doang.” Kata Isti kemudian mengarahkan wajah Adinda menghadapnya dengan cara memegang dagunya, “lo suka sama Yudha ?”
Adinda menggeleng, bibirnya tersobek dan mengeluarkan darah sedikit.
Adinda terguncang karena dorongan di pundaknya semakin kuat mendorongnya ke tembok yang ada di belakangnya.
Pintu gudang yang awalnya tertutup rapat kini terbuka lebar. Ada Ria di sana yang sudah menangis. “Adinda ga salah, gue yang salah.” Katanya kemudian di tahan oleh Nita.
Adinda tersenyum kecil ketika Ria berontak dan mendorong Nita sampai jatuh. Kemudian Ria melepaskan paksa tangan Isti yang ada di wajah Adinda. Lalu menghadang Isti dan menghalangi Adinda.
“Lo nangis, Ri?” tanya Adinda pelan di belakang tubuh Ria.
Ria mendengus, “diem deh.” Ucap Ria kemudian menarik cairan hidung yang masih keluar dari hidungnya.
Isti terkekeh, “lo sama aja kayak dia, modus sama cowok orang.” Kata Isti. Ria di dorong ke samping kemudian menampar Adinda lagi.
“Gue udah bilang, Adinda ga salah, kak.” Ria di tahan oleh Nita dan Nuri. “Kenapa lo ga tampar gue aja ?”
Istir tertawa, “dia yang coba – coba main sama cowok gue. Gue ga perduli lo yang nyuruh atau lo yang suka sama Yudha.” Kata Isti kemudian menatap Adinda, “cewek ini yang gue liat ngedeketin cowok gue.”
Adinda diam, dirinya sudah tidak tahu harus bagaimana lagi. Sekarang dirinya hanya bisa diam dan pasrah.
“Siapa cowok lo ?”
Tiba – tiba Isti yang mau menampar lagi Adinda mendadak membeku di tempat kemudian menatap orang yang tadi bertanya. Lalu Adinda juga menatap orang yang ada di depan pintu yang terbuka lebar.
“Yudha ?”
Adinda tidak percaya Yudha mau datang ke sini. Darimana juga dia tahu. Ria yang juga menatap Yudha kaget. Namun, detik berikutnya Adinda tahu darimana Yudha tahu lokasi ini melihat senyumamn kecil dari Ria.
“Ini ga kayak yang lo liat.” Ucap Isti sedikit terbata.
Yudha yang bersandar di kusen pintu kini tersenyum sinis menatap Isti lekat dan dalam. Selanjutnya dia berjalan masuk ke dalam ruangan. Lalu Isti mundur karena di tatap oleh Yudha. Ria juga sudah melepaskan diri dari Nita dan Nuri.
Hanya Adinda yang lututnya melemas sehingga dia terjongkok di tembok tadi. Adinda benar – benar belum pernah mengalami ini selama hidupnya. Baru kali ini dia mengalami hal ini. Tentu saja Adinda kaget dan shock.
Lalu saat Adinda menunduk di posisi jongkoknya, Yudha memegang kedua bahu milik Adinda yang sedikit bergetar kemudian mata mereka bertemu.
“Berdiri, Din.” Ucap Yudha pelan.
“Yud, dia suka sama lo.” Kata Isti yang melihat Yudha baik pada Adinda.
Yudha kini menatap Isti, “ga masalah buat gue.”
Selanjutnya Yudha menuntu Adinda keluar dari ruangan itu. Saat Adinda berhasil keluar di temani Yudha dan diikuti Ria, Adinda mendengar suara teriakan kekesalan Isti dari dalam ruangan.
“Kenapa dia boleh gue ga boleh, Yudha?!”