Baru hari ini. Baru kali ini. Adinda disetiri oleh orang di dalam mobil tanpa memegang bukunya. Tadi, Adinda sempat membuka buku yang di abwanya di dalam tas. Namun, buku itu direbut oleh Yudha dan melemparkannya ke belakang mobil. Saat Adinda mencoba membawa buku yang terlempar, Yudha mengatakan hal yang tidak biasa di dengarnya.
“Lo mau mati di jalan begini masih baca buku ?”
Adinda awalnya tidak mengerti, namun ketika Yudha melanjutkan perkataannya, Adinda mengerti walaupun sedikit.
“Banyak artikel yang bilang kalo baca buku dan pegang ponsel di dalam mobil bakal buat lo mati karena pusing ringan di kepala lo.”
Meskipun artikel itu kebanyakan adalah di tulis oleh anonym, banyak bukti yang Adinda percayai. Terkadang, Adinda juga merasa pusing ketika menaikkan pandangannya dari buku ke jalan selama perjalanan. Adinda merasakannya. Namun mengabaikannya karena menurut Adinda pada awalnya adalah itu sesuatu yang biasa. Jutru dengan kejadian itu, Adinda tidak bisa lepas dari buku selama perjalanan.
Namun kali ini, Adinda bisa melihat jalanan. Macet dan banyak orang yang ada di dalam mobil mengeluh karena itu. Salah satunya Yudha.
“Ada jalan pintas ke rumah lo ga ?” Tanyanya saat Adinda melihat orang – orang yang tertawa dengan teman – temannya.
Di pinggir jalan, berjalan dengan bebas tanpa macet seperti yang Adinda alami saat ini bersama Yudha yang terus menggerutu.
“Woi, gue tanya sama lo.” Kata Yudha membuat Adinda mengerjap.
Lagi – lagi, Adinda merasa iri kepada orang yang dengan bebasnya melakukan apa yang mereka mau tanpa mengkhawatirkan jika itu akan memperburuk keadaan di rumah atau bahkan memperburuk nilainya di sekolah.
Adinda menggeleng untuk menjawab pertanyaan awal dari Yudha. “Ga tau.” Katanya.
“Lo tinggal di Jakarta berapa lama sih ?”
Adinda menatap Yudha kesal. Apa urusannya dengan berapa lama Adinda tinggal di Jakarta dengan pengetahuan jalan pintas menuju rumahnya ?
“Apa ?” Tanya Yudha.
Adinda memutar bola matanya, “gue ga tau juga ini jalan kemana.”
Yudha menarik nafasnya, “lo ga tau jalan balik ke rumah lo ?”
Sama dengan Adinda, Yudha menggeleng.
“Lagian ngapain juga lo nganterin gue ?”
Yudha mendengus pelan, “ya udah turun sana.”
Adinda menatap Yudha kemudian menarik sabuk pengaman yang tadi dipakainya dan melepaskannya. Adinda benar – benar tidak tahu tadi Yudha membawanya kemana. Yang Adinda hanya tahu alamat rumahnya saja. Adinda tidak tahu pasti jalan mana yang harus di ambil dan jalan mana yang seharusnya tidak di ambil.
Setelah melepas sabuk pengamannya itu, Adinda turun dari mobil dengan membuka pintu secara sembarangan. Namun detik selanjutnya, Yudha menarik Adinda dan kembali menutup pintunya.
“Lo kalo mau keluar liat kanan kiri dulu.” Kata Yudha setelah menyelamatkan Adinda dari pengendara motor yang tadinya menyalip dari belakang mobil Yudha.
Adinda diam. Lantas menyilangkan tangannya di depan d**a. Kenapa juga Adinda tadi percaya saja jika Yudha akan mengantarnya pulang dengan selamat ? Harusnya, tadi Adinda naik taxi saja.
“Lo beneran ga tahu jalan ini ?”
Adinda menggeleng tanpa menatap Yudha.
“Kalo lo naik taksi, apa lo ga merhatiin jalan pas udah nyebutin alamat ?”
Lagi, Adinda menjawab dengan gelengan pertanyaan dari Yudha. Itu membuat Yudha mengusap pelan wajahnya.
“Din, lo bisa aja di jahatin sama supir taksi, lo tau itu ?”
Adinda menatap Yudha sekarang. Ini pertama kalinya Adinda mendengar Yudha menyebutkan nama panggilannya.
“Ya terus kenapa ?”
Kini Yudha menatap Adinda juga, “kenapa lo sampai sebodoh ini untuk urusan luar sekolah ?”
Yudha benar – benar tidak menyangka bahwa dirinya akan bertemu dengan Adinda yang sepolos ini. Padahal, yang ia tahu Adinda adalah orang dengan otak penuh sehingga dirinya bisa menjuarai beberapa olimpiade. Anak kesayangan para guru karena nilai akademisnya yang luar biasa.
Namun, Adinda sepolos dan sekosong ini ketika di luar sekolah. Yudha menemukan fakta baru. Jika orang yang penuh dengan rumus di kepalanya belum tentu penuh untuk urusan luar sekolah dan tidak melibatkan satu rumus saja.
Adinda terkekeh kecil, “emangnya lo tau kalo di sekolah gue ini pinter ?”
Yudha mengangguk tanpa perintah dan itu membuat Adinda yang menatap Yudha menjadi bingung.
“Siapa yang ga tau sama lo. Otak dari semua mata pelajaran di sekolah kecuali praktek olahraga.” Kata Yudha.
Adinda mengangguk, “apa hubungannya bodoh di luar sekolah ? Itu ga ngebantu gue buat-“
“Buat ngebuat sukses nyokap lo ?”
Adinda melemas. Tangannya yang tadi terlipat di depan d**a kini terlepas begitu saja. Adinda menempatkan tangannya di atas paha. Meremasnya pelan. Semua orang mungkin tahu juga jika Adinda adalah mascot dari sekolah dan tentu saja tempat les yang ibunya dirikan. Namun, tidak ada yang tahu jika Adinda bertahan seperti ini untuk membantu ibunya bertahan dan membuat ibunya sukses seperti sekarang.
“Lo –“
“Kenapa ? Lo kaget gue nebak hal itu ?”
Adinda mengangguk pelan, “kenapa lo nebak dengan tepat ?”
Yudha mengendikkan bahunya dan menjalankan mobilnya pelan karena jalanan sudah mulai merayap pelan. “Gue hanya liat keadaan lo yang ga baik – baik aja di samping nyokap lo. Lo keliatan ga nyaman.”
Rasanya, ada orang yang bisa Adinda percayai. Rasanya ada orang yang merasakan bagaimana perasaan Adinda sekarang. Ada orang yang memihaknya. Itu yang Adinda rasakan ketika mendengar jawaban dari Yudha.
“Alamat lo sekali lagi.”
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Adinda sudah sampai di kamarnya. Dia duduk setengah jam yang lalu di depan meja belajarnya. Menuliskan kumpulan rumus dan menyelesaikan beberapa persoalan yang ada di buku latihan. Sampul buku itu baru saja di buka. Adinda sendiri tidak bisa untuk tidak terus mengerjalannya. Satu ketika, pensil yang digunakannya patah. Adinda lalu berfikir jika Yudha bisa membuat warna baru di zonanya.
Namun, mungkin tidak akan smeudah itu. Secara di sekolah Adinda adalah orang yang tidak sepenuhnya bodoh tentang kehidupan di luar sekolah. Ada beberapa hal yang Adinda bisa lakukan. Dia bisa memilih baju yang baik dan bagus. Dia juga bisa memilih makanan apa yang enak walaupun Adinda belum mencoba semua yang ingin Adinda coba.
Ibunya melarang Adinda makan sembarangan dan tentu saja ibunya selalu membuat list apa yang boleh dimakan dan tidak boleh dimakan. Walaupun begitu, Adinda selalu saja ingin merasakan makanan yang di larang ibunya itu.
Seperti mie ayam tadi siang. Adinda merasakannya. Baru merasakan makanan mie ayam di kantin tempatnya les. Tempatnya untuk di sanjung – sanjung karena semua orang yang ada di sana bisa tahu jika Adinda adalah seorang anak dari Bianca pendiri tempat lest itu.
Sebenarnya, mie ayam adalah makanan favorite keduanya setelah mie instan dengan telur setengah matang dan irisan cabe rawit di atasnya. Adinda merasa jika mie ayam di kantin sekolahnya juga cukup enak. Hal itu yang membuat Adinda menyukainya.
Berbicara tentang kantin sekolahnya, Adinda benar – benar merasa malu jika mengingatnya. Di tolak oleh Yudha walaupun hanya memberikannya air mineral.
Yudha berbeda jauh dari yang waktu itu menolaknya saat di luar tadi. Yudha lebih banyak bicara dan lebih banyak bertindak. Lebih lembut juga daripada kesan dingin di sekolahnya. Padahal, di balik sikap dingin Yudha aksi – aksi nakal Yudha adalah yang paling mencolok.
Berfikir tentang Yudha, rasanya Adinda bisa menepati taruhannya dengan Ria nanti.
“Ameera.”
Adinda mendesah ketika nama panggilan itu terdengar di rumahnya. Ibunya pasti mengecheck apa yang sedang Adinda lakukan. Apa yang sedang Adinda kerjakan. Dan sampai mana Adinda belajar.
“Kamu sudah sampai mana belajar ?”
Adinda mendengus di dalam hati. Benar. Seperti biasa.
“Halaman sembilan belas buku baru.”
Ibunya mengangguk setelah mendengar jawaban Adinda dan menengoknya sebentar tadi. “Terusin sampai halamn tiga puluh dan makan malam.”
Adinda menarik nafas beratnya. Adinda benar – benar merasakan lagi perasaan ingin bebas tanpa kekangan seperti ini. Apa akan ada saatnya Adinda berontak dengan kelakuan ibunya ini ?