BAB 6 : JAKET YUDHA

1238 Words
Adinda tidak banyak bicara ketika mengatar Yudha berjalan – jalan di sekitar tempat lesnya. Hanya menunjuk beberapa tempat dan menjelaskannya denagan singkat. Seperti sekarang, Adinda berjalan di depan Yudha menuju kantin di tempat les itu kemudian berbalik ke arah Yudha yang masih mengikutinya. Adinda berjalan mundur dan mengatakan, “ini kantin.” Ucapnya tanpa berbalik. Yudha segera menarik Adinda begitu Adinda akan menabrak orang yang sedang memegang makanan di tangannya. Waktu berjalan dengan cepat saat Adinda di tarik mendekati Yudha. Tubuh Yudha lebih tepatnya. Kemudian, Adinda mengerjap dan mengumamkan kata terima kasih walaupun tidak jelas di telinga Yudha. Dia lantas tersenyum sambil menatap Adinda yang masih canggung akan dirinya dengan keadaan tadi. Adinda benar – benar malu. Kenapa juga harus ada orang yang lewat saat Adinda berjalan mundur untuk menunjukkan tempat ini kepada Yudha. Lagi, kenapa juga Yudha membantunya. Padahal, biarkan saja Adinda menabrak orang itu dengan begitu Adinda bisa pulang dengan alasan pakaiannya kotor. “Sudah, cuman segitu.” Kata Adinda Ameera. Yudha mengangguk kemudian mengajak Adinda masuk ke dalam kantin. “Gue laper, temenin dulu gue makan.” Sebenarnya, Adinda juga belum sarapan. Namun, Adinda tidak terlalu lapar. Lagi pula, Adinda tidak pernah makan di sini, jadi Adinda tidak tahu makanan mana yang enak dan makanan mana yang kurang enak untuk lidah dan perutnya. “Rekomendasi lo untuk makan siang gue sekarang.” Ucap Yudha membuat Adinda benar – benar bingung harus merekomendasikan apa sedangkan dirinya tidak pernah makan di sini. Yudha mendengus ketika Adinda diam saja, “lo mau makan ?” Adinda menatap Yudha. Adinda mendadak bingung. Ini beneran Yudha yang menjadi ‘prince’ di sekolahnya itu? Yang di omongkan oleh orang – orang di sekolah bahwa orangnya tidak pernah ramah walaupun pada teman sekelasnya? Ayolah, Adinda pasti sedang halu. “Ditanya diem aja.” Kata Yudha membuyarkan lamunan Adinda. Ternyata bukan dinda yang halu, melainkan yang dihadapannya memang benar. Yudha yang menolaknya karena minuman dengan taruhan itu. “Gue ga pernah makan di sini.” Kata Adinda pelan, “lo pesen aja yang lo mau.” Lanjut Adinda kemudian duduk di bangku kosong dan memainkan ponselnya. Selanjutnya, Adinda merasa ada orang di depannya yang memperhatikan Adinda. Lalu Adinda dengan sengaja menatapnya. Ada laki – laki yang menatapnya intens dan membuat Adinda tidak nyaman. Apalagi, di tambah dengan pakaian lengan pendek bahkan hampir tidak berlengan itu membuat Adinda tidak nyaman di tatap oleh orang di depannya. Lantas, Adinda yang tadinya akan berdiri kini ditahan oleh Yudha. Dia membuka jaketnya kemudian menggantungkannya pada bahu Adinda dan duduk di depan Adinda. Menutupi pemandangan yang membuat Adinda kurang nyaman. Sekali lagi, Adinda berucap terima kasih dengan pelan. “Kenapa juga pake baju terbuka kayak gitu.” Sebenarnya, Adinda menyadari jika kalimat itu ditunjukkan untuk Adinda. Namun, Adinda berusaha untuk cuek karena Yudha tidak membuat kalimat itu ditunjukkan kepada Adinda karena tatapan Yudha focus kepada ponselnya. Makanan datang. Ada mie ayam dua porsi di mejanya. Sepertinya, Yudha sedang lapar sehingga memesan dua porsi seperti ini. “Suka mie ayam ga ?” tanya Yudha. Adinda menaikkan arah pandangannya yang sedari tadi kepada ponselnya menjadi ke arah Yudha yang ada di depannya. “Lo nanya sama gue ?” Yudha berdecak, “ada orang lain selain lo yang gue kenal ?” Adinda celingak – celinguk mencari seseorang yang mungkin Yudha kenal. Namun nihil, di belakang Adinda tidak ada siapa – siapa. Meja dan kursinya kosong. Lalu, kanan dan kiri mereka berdua juga kosong. Ada orang, namun jaraknya cukup jauh dari tempat duduk mereka. “Udah deh, cepet makan. Udah dingin nanti ga enak.” * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Jadi, jadwalnya di mulai awal bulan depan nak Yudha.” Kata ibunya Adinda. Setelah selesai makan tadi, ibunya Yudha, Ny. Anne itu menelepon Yudha untuk kembali ke tempat tadi. Kantor ibunya Adinda lebih tepatnya. Yudha dan Adinda sudah menyelesaikan makan siangnya dan tentu saja berjalan bersamaan ke kantor milik ibunya Adinda. “Baik tante.” Kata Yudha. Anne, ibunya Yudha memukul pelan lengan Yudha, “nanti, yang kamu panggil tante adalah guru kamu loh, Yud.” Yudha tersenyum kecil, “iya, baik Bu.” Adinda yang melihat Yudha bersikap manis dihadapan ibunya Adinda dan ibunya sendiri membuat mual. Coba saja jika ibunya dan ibu Adinda tahu bagaimana kelakuan Yudha di sekolah. Mungkin ibunya Adinda tidak akan sebaik ini pada Yudha. Dan setelah berbasa – basi lebih lama, ibunya Adinda kemudian tersenyum kecil. “Mama mendapat klient itu sulit, Din.” Katanya tanpa ditanya kenapa, “dia seorang dokter psikologi, anaknya cukup sulit untuk belajar. Entah kenapa dia mau belajar di sini.” Adinda sendiri tidak tahu kenapa Yudha mau belajar di sini. Padahal, di sekolah saja Adinda sering sekali mendengar jika Yudha dan kawan – kawannya keluar dari kelas dan bolos di mata pelajaran lain. Kesambet apaan ? Kata Adinda dalam hati. Ibunya ini jika bisa di bilang sangat menginginkan kehormatan dan tentu saja orang – orang seperti dokter, pengacara dan lain – lain. Agar jangkauan untuk mempromosikan tempat belajar ini lebih tinggi. Untuk itu, ibunya membawa Adinda jika bertemu dengan orang – orang penting. Jarang memang, namun jika ada, semuanya harus sempurna dan berhasil. Oleh karena itu, Adinda di bawa untuk percontohan bahwa ibunya itu sudah berhasil menjaga nama baik tempat belajar ini melalui anaknya. Anaknya berprestasi karena ibunya berhasil dalam mengajar. Itu yang ibunya inginkan. Padahal, kenyataanya adalah Adinda sangat terpaksa dengan hal – hal ini. Adinda tidak ingin melakukan ini. Namun harus. Jika tidak, Adinda mungkin di siksa. Secara mental. Bukan fisik. “Kalau begitu selamat.” Kata Adinda yang sama sekali tidak tertarik dengan obrolannya bersama ibunya ini. Dia lebih tertarik pada buku kimia yang sedang di bacanya. Sedang mempelajari bagaimana sistem molekuler, apa molekuler ada di kehidupan nyata ? Tentu saja seorang Adinda harus mengetahuinya. Oleh karena itu, Adinda membaca lebih banyak dari pada orang lain. Adinda diharuskan menghafal rumus, singkatan dan juga beberapa bentuk molekul. Adinda terpaksa. Bukan maunya seperti itu. Akan ada olimpiade dan Adinda di paksa untuk ikut. Untuk memenangkannya tentu saja. Ibunya tidak akan menerima kekalahan walau 0.1 point. “Kamu bisa pulang duluan ? Mama masih ada janji.” Adinda mendengus, sialnya, Adinda tidak nyaman dengan angkutan umum jika memakai pakaian seperti ini. Dasar ibu yang kurang bertanggung jawab. Menyuruh anaknya menggunakan taksi dengan pakaian seperti ini. Tunggu sebentar. Adinda merasa berat di pundaknya. Oh sialan. Jaket Yudha masih bertengger di bahunya. Apa ibunya kurang perhatian sampai jaket ini tidak di pertanyakan ? Padahal ini dari tadi di sini. Atau ibunya sudah tahu ini milik Yudha ? Entah, namun seharusnya ibunya yang perfectionist ini harus tahu apa yang Adinda pakai dan Adinda lupakan. Bukankah begitu konsep perfectionist ? “Oke, aku pulang duluan.” Kata Adinda. Sebenarnya, tidak nyaman juga memakai jaket milik orang lain. Namun, Adinda lebih tidak nyaman dengan tatapan orang – orang seperti tadi di kantin. Melecehkannya. Adinda sampai di lobby ketika lift yang ditumpanginya berhenti. Tadinya, Adinda mau memesan taxi online. Namun handphonenya seketika melayang ke atasnya, di ambil oleh seseorang yang lebih tinggi darinya. Lalu, orang itu tersenyum dan mengatakan hal yang membuat Adinda malu setengah mati. “Nyaman pake jaket gue ? Sampai – sampai di pake sampe sekarang.”    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD