Adinda mendesah pasrah ketika ibunya menyuruh dirinya untuk datang ke tempat dimana dirinya belajar. Tidak salah dan tidak bukan, ibunya pasti akan membangga – banggakan dirinya yang sebenarnya terpaksa dengan kehidupan dirinya yang sekarang.
Jiika harus jujur dan sudah di katakana sebelumnya jika dirinya benar – benar tidak menyukai hidupnya. Rasanya tidak ada sedikit kelonggaran untuk kehidupan di masa – masa remajanya. Adinda tentu saja memerlukan bermain dan juga beberapa hal menyenangkan untuk masa remajanya. Namun, kenyataan yang di alami Adinda adalah kekangan yang luar biasa.
Tidak ada acara bermain, ekskul dan juga tidak ada social media walaupun tekadang Adinda memainkannya secara sembunyi – sembunyi. Adinda merasa hidupnya ini di rancang untuk menyesuaikan keadaan dengan ibunya. Padahal, jika dengan kasar bisa di jelaskan, ini adalah hidupnya bukan kehidupan ibunya.
Terkadang, jika sedang ada di mobil bersama ibunya Adinda merasa dirinya sedang berada di ruangan pengap dan masih harus di paksa untuk memutar otak dengan membaca buku yang dimana buku itu adalah buku pelajaran. Dengan ketebalan mencapai 500 halaman.
“Kamu sudah siap ?”
Adinda terperanjat begitu ibunya masuk dengan mendadak selagi dia membuka social medianya yang sedang menampilkan beberapa temannya yang berlibur di akhir pekan seperti ini bersama teman – teman maupun keluarganya.
“Kenapa masih pakai baju kaos sama celana jeans sih ?”
Adinda mengerutkan dahinya tidak paham dengan omongan ibunya barusan. Pasalnya, Adinda memang seperti ini jika keluar. Tidak ada baju formal lain. Adinda sendiri hanya punya beberapa dress untuk acara formal seperti pernikahan atau tunangan dari anak kenalan ibunya. Adinda jarang memakai itu.
“Ini pakai ini.”
Adinda benar – benar seperti boneka untuk ibunya ini. Adinda benar – benar tidak bisa menjadi dirinya sendiri ketika bersama ibunya. Semuanya harus menurut ibunya. Jika menurut ibunya hal ini jelek, itu adalah jelek. Jika menurut ibunya ini bagus, itu adalah bagus. Adinda sendiri tidak menyukainya. Namun, jika menolak kemungkinan masalahnya akan besar lagi.
“Lima menit.” Kata ibunya.
Adinda menarik nafasnya kemudian mengangguk, “iya, Ma.”
Beberapa menit selanjutnya, Adinda bersama ibunya itu sudah berada di jalan. Memakai mobil dan membawa buku tidak lupa. Adinda sendiri berpakaian sangat formal siang itu. Memakai dress di bawah lutut sedikit berwarna maroon dan juga rambut cukup panjangnya itu di gerai begitu saja.
Saat Adinda dan ibunya mampir di pom bensin untuk mengisi bahan bakar mobil ibunya itu, Adinda melihat mobil di sebelahnya. Sama – sama sedang mengisi bahan bakar. Matanya menangkap orang – orang yang tidak sadar sedang diperhatikan oleh Adinda. Ada orang – orang seumuran dengan Adinda bersenang – senang di mobil itu. Tertawa bersama teman – temannya. Bercanda dan tentu saja sepertinya membicarakan bahasan yang menyenangkan.
Adinda tersenyum miris. Kapan Adinda bisa seperti itu ?
Menjadi dirinya sendiri dan bergaul dengan siapapun yang Adinda inginkan. Bermain kemanapun bersama teman – temannya. Berbicara dengan ciri khasnya Adinda. Lagi, senyumnya miris. Tidak akan terjadi mungkin, menurut Adinda.
Perjalanan kembali di lanjutkan saat ibunya menjalankan mobilnya. Meninggalkan mobil tadi yang berada di samping Adinda. Tentu saja hatinya merasa sakit. Lagi – lagi Adinda ini merasa berbeda dengan orang lain. Adinda merasa jika hanya dirinya yang hanya punya satu teman. Itu juga hanya sebatas teman sebangku. Jikalau ada tugas kelompok, ibu Adinda tidak pernah memperbolehkan Adinda mengerjakannya di luar.
“Hari ini akan ada client baru. Jaga sikapmu, Ameera.”
Adinda yang tadi membaca bukunya itu mengangguk pelan tanpa memperhatikan kemana dirinya di bawa. Adinda merasa jika nanti Adinda diperbolehkan membawa mobil, walaupun entah kapan dan tidak mungkin diijinkan, Adinda tidak akan bisa menghafal jalan. Dirinya selalu menunduk. Membaca buku atau menuliskan rumus – rumus kimia dan fisika atau matematika ketika di dalam mobil.
Atau jika nanti Adinda di bawa main bersama tema – temannya, Adinda akan bertanya – tanya kemana dirinya akan di bawa atau jalan mana yang akan di tempuh. Adinda sendiri tidak tahu ini jalan apa itu jalan kemana. Yang Adinda tahu selama ini adalah dirinya pergi dari rumah, di setiri ibunya dan sampai di sekolah.
Adinda tidak pernah memperhatikan jalan yang di tempuh. Seperti sekarang.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Adinda ada di ruangan ibunya ketika ada tamu yang ditunggu ibunya itu datang. Dengan enggan, Adinda berdiri bersama ibunya untuk menyambut siapa yang datang. Kemudian mencoba tersenyum dengan semanis mungkin walau terkesan di paksakan. Adinda sangat tahu bahwa itu tidaklah sopan. Namun, Adinda merasa jika ini akan menjadi kontes membangga – banggakan sesama anak.
Ketika Adinda menatap siapa yang datang, Adinda memberikan kesan yang dingin walaupun manis di depan. Lalu matanya membulat ketika melihat siapa yang terakhir kali masuk ke ruangan ibunya itu.
“Selama datang, Ny. Jedian.” Ucap ibunya Adinda.
Seketika lututnya lemas dan senyumannya luntur begitu melihat senyuman sinis dari orang yang juga menatap Adinda saat itu.
“Panggil saya Anne saja, Ny. Bianca.” Ucap orang yang Adinda taksir hampir seumuran dengan ibunya itu.
Keduanya kemudian bersalaman dan saling mempersilahkan duduk. Orang yang di tatap Adinda juga duduk di samping tamu ibunya itu. Lalu dress Adinda di tarik pelan oleh ibunya untuk menyuruhnya duduk. Karena sedari tadi, Adinda hanya berdiri dan matanya tidak lepas dari orang yang sekarang duduk di depannya.
“Jadi, ini anak saya. Yang mau saya titipkan padamu, Ny. Bianca.”
Ibunya Adinda tersenyum seraya mengangguk pelan lalu menatap anaknya Ny. Anne. “Panggil saya Bianca saja, Anne. Kamu ini seperti pada siapa saja.”
Adinda sudah kaget dengan kalimat yang dikatakan Ny Anne itu ditambah kaget lagi ketika ibunya berbicara seolah mereka berdua sudah dekat satu sama lain.
“Namamu siapa ? Anne, anakmu ganteng sekali.”
Tamu ibunya itu tersenyum, “bisa saja. Namanya Ayudha Baskara.”
Adinda melihat orang di depannya tersenyum seraya menjabat tangan ibunya Adinda yang sudah menjulur untuk berkenalan dari tadi.
“Ini anakmu ?” Ucap ibu Anne lalu menjulurkan tangannya di depan Adinda, “cantik sama kayak ibunya.”
Adinda tersenyum kemudian membalas uluran tangan dari tamu ibunya itu. Jadi kenyataannya sekarang, Ayudha ini mau les di tempat ibunya dan kenapa juga Adinda harus ada di sini. Biasanya, ibunya sendiri yang menerima orang – orang yang akan mendaftar di tempat lesnya. Kenapa juga hari ini Adinda harus ikut ?
“Iya, ini anakku. Dia sedang ada di kelas dua sekolah menengah atas Garuda.”
Ibunya Ayudha seakan terkejut dengan kenyataan itu, “sama kayak anakku dong.” Ucapnya.
Ibunya Adinda kini menatap Adinda, mengusap lengan Adinda lembut, “iya, saya kan liat profile yang kamu kirim ke saya.” Kata ibunya, “karena itu aku bawa anakku, siapa tau kan kenal.”
“Yud, kamu kenal sama Adinda ?” tanya ibunya Ayudha.
Adinda sudah mengkode untuk berpura – pura saja tidak mengenalnya pada Ayudha dengan menggeleng – gelengkan kepalanya pelan sambil menatap Ayudha.
Ayudha kemudian menatap Adinda sebentar dan mengangguk, “kenallah, dia temen Yudha di sekolah.”
Seakan dunia tidak mendukungnya. Rasanya dunianya akan runtuh saat itu juga. Adinda ingin pergi dari sana ketika ibunya mengatakan hal yang tidak ingin Adinda dengar.
“Wah, itu akan lebih memudahkan buat nak Yudha belajar.” Kata ibunya, “kamu bisa tanya – tanya sama Dinda kalau ada pelajaran yang sulit.”
Ibunya Ayudha mengerutkan keningnya, “bukannya Adinda ini kelas dua ?”
Anggukan dari ibunya Adinda membuat ibunya Ayudha makin tidak mengerti, “Adinda sudah bisa mempelajari pelajaran tingkat akhir di sekolah menengah atas.” Katanya kemudian menatap Adinda yang ingin keluar dari sana, “begitu ‘kan, Din ?”
Dengan terpaksa lagi, Adinda mengangguk pelan.
“Wah hebat. Kenapa ga lompat kelas saja ?”
Adinda tersenyum, “engga tante, aku mau nikmatin dulu masa – masa sekolah menengah atas.”
Ibunya Ayudha mengangguk pelan, “tapi kalo bisa mending lompat kelas aja. Biar lulusnya bareng sama Yudha.
Senyuman dari Adinda sangat canggung membuat ibunya Adinda yang menanggapi, “aku juga berencana begitu, tapi anaknya emang pengen lulus sekolah SMA tiga tahun aja.” Katanya, “Din, ajakin Yudha keliling tempat bimble deh. Mama ngurusin dulu kontraknya.”
Adinda benar – benar malas. Adinda emang ingin keluar. Namun, bukan bersama Yudha juga.