Bab 1 (Malam Itu Dia Menikahiku Untuk Menghinaku)
Aku ingat betul gaun pengantin putih itu. Indah. Mahal. Tapi terasa seperti kain kafan di tubuhku.
Di depan altar, ratusan pasang mata menatapku. Bukan dengan kagum. Tapi dengan kasihan, jijik, dan... tawa.
Arka Dewangga, pria yang 5 menit lalu mengucap ijab kabul, sekarang berdiri. Membelakangiku. Lalu bicara ke mikrofon.
"Acara sandiwara hari ini selesai."
Satu kalimat. Dunia hancur.
Dia berbalik. Senyumnya adalah pisau paling tajam yang pernah kutatap. "Kamu pikir aku benar-benar mau menikah dengan wanita dari keluarga bangkrut sepertimu, Naya?"
Tawaku pecah. Bukan karena lucu. Karena gila. "Jadi... pernikahan ini?"
"Kontrak," katanya santai, melonggarkan dasi kupu-kupunya. "Kontrak untuk menghancurkan ayahmu. Dan kamu adalah bonus yang menyedihkan."
Tiga tahun kemudian.
Hotel bintang lima. Aku di sana bukan sebagai tamu. Aku di sana sebagai Naya Maharani yang baru. Yang tidak lagi cengeng.
Pintu suite presiden terbuka. Dia di sana. Arka Dewangga. CEO iblis yang membuatku jadi bahan tertawaan se-Indonesia. Masih sama. Tampan, kejam, dan memuakkan.
"Kamu," desisnya. Terkejut. Dia tidak menyangka.
Aku melangkah masuk. Sepatu hak tinggi 12 cm menghantam marmer. Suara yang dulu dia benci. Suara kepercayaan diri. "Kaget?"
Dia menyeringai. Masih meremehkan. "Naya. Masih hidup rupanya. Kukira sudah mati kelaparan setelah ayahmu bunuh diri karena utang."
Sakit. Tapi aku tidak lagi gemetar. "Aku ke sini bukan untuk reuni, Arka." Aku melempar map ke dadanya. "Aku ke sini untuk menagih."
Dia buka map itu. Kontrak. Kontrak pernikahan. "10 Miliar," kataku. "Bayar. Atau aku akan membuat seluruh Indonesia tahu bahwa CEO agung Arka Dewangga adalah penipu ulung yang menikah untuk balas dendam."
Dia tertawa. Tawa yang dulu membuatku takut. Sekarang? Hanya membuatnya terlihat seperti badut.
"Kamu pikir kamu bisa mengancamku?" Dia meremas map itu. Mendekat. Aroma parfum mahalnya menusuk hidungku. "Kamu lupa siapa aku?"
Aku tidak mundur. Malah menatap matanya. Mata yang dulu kupuja. Sekarang mata yang ingin kubutakan. "Tidak. Aku ingat sekali. Kamu adalah pria yang meninggalkanku di altar. Pria yang membuatku jadi janda tanpa pernah disentuh."
Jeda. Udara di ruangan itu menipis.
Lalu dia melakukan sesuatu yang tidak kuduga. Dia menarikku. Kasar. Punggungku menghantam dinding dingin.
"Kalau begitu," bisiknya, napasnya panas di leherku. "Biarkan aku menyelesaikan apa yang belum selesai 3 tahun lalu."
Jantungku berdegup. Bukan karena cinta. Karena marah. Karena dendam.
Aku harusnya mendorongnya. Harusnya menamparnya.
Tapi aku malah mencengkeram kerah jasnya. Membalas tatapannya. "Silakan," tantangku. "Sentuh aku. Dan aku bersumpah, detik itu juga, aku akan menghancurkanmu."
Permainan baru saja dimulai.
Dan aku tahu, perang ini tidak akan mudah. Arka Dewangga bukan pria yang biasa kalah. Dia CEO yang bisa membeli seluruh Jakarta jika dia mau. Dia pria yang menghancurkanku tanpa berkedip 3 tahun lalu. Tapi dia lupa satu hal. Wanita yang sudah tidak punya apa-apa untuk hilang... adalah wanita paling berbahaya di dunia. Aku menatapnya lurus. Mataku tidak lagi berkaca-kaca. Yang ada hanya bara dendam yang siap membakar kerajaannya. "Sepuluh miliar?" Aku tersenyum miring. "Tawaranku naik. Dua puluh miliar. Atau kamu yang berlutut dan minta maaf di depan semua media yang dulu kamu undang untuk mempermalukanku." Bola matanya melebar. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Arka Dewangga kehilangan kata-kata. Dan aku menikmatinya. Setiap detiknya.