Hal yang paling Jeffrey tidak suka di tiga puluh tiga tahun hidupnya, adalah orang-orang yang tidak bisa menghargai orang lain. Misalnya, ketika sekarang ini, di mana lampu lalu lintas baru berubah hijau, tetapi mobil di belakangnya sudah mengklason belasan kali. "Astaga, ini kenapa pada nggak sabaran, sih?" gurutunya kesal. "Biasa, Pak Jeff, orang-orang suka tidak sabaran." Ramli, sopir pribadinya menyahut dari depan. Pria yang tiga tahun lebih muda, tetapi terlihat lebih tua darinya itu menatapnya dari cermin kecil di tengah mobil. Terdengar embusan napas keluar dari rongga mulut Jeffrey, seiring mobil Audi hitamnya yang mulai melaju perlahan. Hari ini dia agak kesiangan, Lea sedang demam dan gadis kecilnya itu agak rewel pagi ini. Putrinya meminta agar dirinya tinggal. Namun, hal tersebut tidak bisa Jeffrey lakukan. Dia ada syuting untuk talk show di salah satu stasiun televisi. Kalau saja acara itu tidak disiarkan langsung, Jeffrey bisa meminta penundaan, agar dia bisa menemani putrinya lebih lama di rumah, sayangnya acara tersebut disiarkan secara langsung dan celakanya acara itu dimulai 30 menit lagi. Jeffrey melihat ke depan, mobil di depannya berhenti. Pria itu menghela napas, padahal baru saja mobilnya berjalan. "Kali ini apalagi?" Jeffrey yang biasanya tenang terlihat begitu gelisah. "Kurang tahu, Pak, saya lihat-lihat juga masih jauh lampu lalu lintasnya." Ramli menyahut. AC di mobil itu sudah dia atur sedemikian dingin, tetapi nyatanya tidak cukup kuat untuk menghalau hawa panas yang disebabkan emosinya. "Ramli, klaksonin coba. Saya buru-buru, takut telat, nanti bakal kena denda." Pria itu menyuruh dengan nada yang terdengar jauh berbeda dari biasanya, ada kemarahan yang terselip di sana. Ramli segera membunyikan klakson sebanyak lima kali. Namun, mobil mereka sama sekali tidak bisa bergerak barang satu senti saja. Jeffrey kembali meminta Ramli membunyikan klakson. Pada akhirnya, pria itu melakukan hal sama seperti orang-orang yang baru dia umpati, seperti orang-orang di belakang mobilnya yang membunyikan klakson dengan brutal, begitu nyaring seolah kesabaran yang dimiliki tidak bersisa, lenyap begitu saja. Ya, sifat alami manusia yang tidak pernah suka disalahkan. Jeffrey memutuskan melongokkan kepala keluar, mencari tahu apa yang membuat kemacetan dari penumpang angkot yang kendaraannya bersebelahan dengannya. "Pak, ini kok tiba-tiba macet, ya?" tanya pria itu dengan nada ramah pada pria paruh baya dengan tangan yang mengapit batang rokok yang belum disulut api. Walau agak emosi, Jeffrey berusaha mempertahankan keramahannya, biar bagaimanapun dia public figure yang harus menjaga sikap di tempat umum. Mengingat apa yang dia lakukan menjadi sorotan. Bukan masalah tentangnya, tetapi apa yang dia lakukan bisa saja berdampak pada putrinya. Jadi, sebisa mungkin dia berhati-hati dalam melakukan sesuatu. Entah di mana pun itu. "Kurang tahu, Mas, tapi di depan ada rame-rame. Kayaknya ada kecelakaan," jawab pria paruh baya itu sebelum akhirnya memasukkan ujung rokok ke mulut dan menyulut ujung depannya dengan korek. Pria paruh baya itu mulai menyesap rokoknya dan mengembuskan kepulan asap putih keabu-abuan itu di dalam ruang angkot. Jeffrey mengernyit, agak tidak menyukai sikap si bapak yang merokok seenak jidatnya tanpa memedulikan orang di sekitarnya. Dia menyempatkan diri melihat ke ruang bagian penumpang, di mana beberapa penumpangnya terlihat terbatuk. Tadinya, Jeffrey bermaksud menegur, tetapi dia keduluan oleh suara gadis yang berada di kursi belakang. "Pak, kalau mau ngerokok lihat-lihat tempat, dong! Lihat nih, pada batuk-batuk. Ada nenek-nenek, ada bayi juga, loh. Kalau bayi sama neneknya sampai kenapa-kenapa, Bapak mau tanggung jawab?" Suara perempuan itu terdengar galak. Jeffrey mencari sumber suara, tetapi yang dia lihat hanya kepala gadis dengan rambut yang dicepol asal. Dari samping dia bisa melihat hidung si gadis yang tampak mancung. Jeffrey membuat kedua sudut bibirnya tertarik ke atas, merasa ucapannya sudah terwakilkan. "Ya ampun, Neng, ginian doang, ngerokok juga nggak nyampe sepuluh menit, nggak bakal buat kenapa-kenapa, kali," kata si bapak dengan nada sewot. Pria itu tampak menolehkan kepalanya ke belakang, menghadap ke sumber suara. Mendadak, Jeffrey diserang rasa penasaran. Dia penasaran dengan wajah si gadis pemberani itu. "Ya itu mah menurut Bapak, tapi nih ya Pak, pernah ada kasus kematian bayi gara-gara asap rokok, ceritanya pas lagi akikahan gitu. Nah, hampir sama kayak Bapak! Bapak nih, nggak mau tanggung jawab dibilangin ngeyel," balas si gadis dengan berani. "Halah, itu mah berita aja, bisa dilebih-lebihin, palingan nggak sampe meninggal." Bapak itu masih tidak terima ditegur. "Ngentengin banget sih, Pak? Bapak punya HP, kan? Coba deh, browsing pengaruh buruk rokok terhadap perokok pasif. Dampaknya lebih buruk dibanding ke Bapak yang perokok aktif. Jangan egois, dong!" Nada suaranya terdengar meninggi. Jeffrey bisa merasakan ketegangan di antara dua orang itu. "Mbak, mending Mbak keluar aja deh, dari angkot saya, kalau mau buat keributan." Sopir angkot yang sedari tadi diam menyela, bukannya membela hak penumpang malah membela pria yang duduk di sebelahnya itu. "Teman saya juga udah biasa ngerokok di sini, nggak ada yang pernah protes." Sopir itu menambahkan. Si gadis terdengar berdecak. Jeffrey ikut gereget, ini yang benar kenapa malah disalahkan, sementara yang salah malah dibela? Lagi pula, kenapa penumpangnya malah diam? Harusnya ikut bersuara. "Pak, kok malah dibela yang salah?" "Mbak, mending keluar aja, pengar kuping saya dengan protesan Mbak, nggak usah bayar deh, asal keluar aja." Si sopir kembali bersuara. "Gimana, sih?!" Dengan bersungut-sungut gadis itu mengangkat badannya dan keluar dari angkot. Kini, Jeffrey bisa melihat dengan jelas wajah si gadis, yang ternyata tampak masih begitu muda. Dia menebak, gadis itu berusia di awal duapuluhan. Penampilannya begitu sederhana, dilihat sekilas, Jeffrey bisa menyusun kata-kata untuk mendeskripsikan gadis ini. Kulitnya putih, tetapi tampak kusam. Wajahnya tanpa riasan, membuat Jeffrey bisa melihat beberapa bekas jerawat yang menghuni pipi gadis itu, kantong matanya agak tebal, dan terlihat sedikit cekung. Kalau kulit wajahnya agak cerah dikit dan bibirnya nggak pucat, bakal cantik banget. Tiba-tiba isi kepala pria itu membayangkan bagaimana penampilan si gadis apabila berdandan. Menyadari pikirannya yang semakin nyeleneh, Jeffrey menggeleng-gelengkan kepalanya. Tanpa sadar Jeffrey kembali memperhatikan gadis itu, kali ini si gadis tampak memukul badan angkot, ekspresinya terlihat begitu kesal. Wajahnya tirus banget, tulang pipinya aja bisa aku lihat. Ralat, dia terlalu kerempeng buat ukuran tingginya. Isi kepala Jeffrey kembali menilai. Lagi-lagi pria itu merutuk. "Apa lihat-lihat? Mau nyalahin saya juga?" Gadis itu tiba-tiba bersuara dengan mata yang menyorotnya tajam. Terlihat awas. Jeffrey menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri, merasa ucapan itu memang ditujukan padanya. "Bicara sama saya, Dek?" tanya Jeffrey dengan bodohnya. "Siapa lagi? Yang lihat saya dengan tatapan mencurigakan cuma Anda. Gini-gini kalau Anda macam-macam sama saya, Saya bisa loh matahin tulang rusuk Anda!" ketus gadis itu dengan nada emosinya. Terlihat masih kesal dengan kejadian di angkot. "Ehm, sorry?" Ragu-ragu kata itu terlontar dari mulut Jeffrey. "Duh, udah siang ternyata." Gadis itu terdengar bermonolog, mengabaikan Jeffrey yang tampak seperti orang bodoh, dengan matanya menyorot pada benda hitam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. "Harus cepet-cepet, nih, kalo telat berabe, mana masih jauh lagi ke Depok." Gadis itu mendumel dengan kaki yang melangkah cepat ke tepian, mengabaikan permintamaafan Jeffrey. Mata Jeffrey mengikuti langkah si gadis yang tampak menyelinap di antara dua orang yang berdiri di sana, hingga tubuh kurus itu tak lagi terlihat oleh matanya karena terhalangi sesosok pria tambun. Tiba-tiba tubuh Jefrrey terdorong ke belakang, ternyata keempat roda mobilnya sudah mulai menyusuri aspal jalan. "Ramli, kalau mau mengegas itu ya bilang-bilang, saya jadi kedorong, nih." Ramli yang mendengar dumelan bosnya melempar senyum cengengesan disertai permintamaafan. "Maaf, Pak, soalnya ini macetnya udah reda." Jeffrey hanya mengembuskan napas dan meminta Ramli untuk fokus ke jalanan.