Lusiana berteriak, "Cukup! Keith, jangan perlakukan perempuan seperti barang yang bisa kau ambil dan buang seenaknya."
"Maaf, Bunda Ratu. Saya tidak bermaksud demikian. Hanya ingin menghindarkan Gracia dari calon suami yang tidak becus," ungkap Keith, tak lupa untuk menyindir adiknya.
Edward balas mengejek, "Tidak becus? Aku lebih baik darimu! Bisa menjaga perempuan yang aku cintai selama dua tahun terakhir. Sedangkan kau? Satu saja tidak punya!"
"Hentikan! Atau aku akan memanggil Hraleil untuk menghukum kalian berdua!" lerai Frederick.
Keith dan Edward serempak menghatur sembah, "Ampuni kami, Ayahanda, Ibunda."
Sementara itu, William merasa kasihan pada Gracia yang terjebak dalam konflik internal kerajaan. Gadis cantik itu tidak seharusnya terlibat. Terlebih tadi pagi, dia membuat Edward naik darah.
Bahkan sekarang, Gracia terlihat lebih takut dari sebelumnya. William tahu benar kalau pelayan itu ingin menangis seperti tadi pagi. Namun berusaha dia tahan karena ada Ratu dan Raja di hadapannya.
Sebagai pangeran tertua, William angkat bicara, "Mohon maaf Ayahanda, Ibunda. Ananda ingin menyela."
"Apa yang ingin kau sampaikan?" sambut Frederick dengan sisa-sisa kemarahannya.
William tidak menyia-nyiakan kesempatan bagus ini. Lelaki itu langsung berkata, "Ananda ingin memberi saran. Lebih baik, perbicangan ini kita teruskan nanti petang. Gracia butuh mengganti pakaian supaya tidak masuk angin. Edward juga sebaiknya meminta pendapat dari Lacey."
Lusiana mengangguk setuju. Dia lantas menoleh pada Frederick. Meminta suaminya untuk mengizinkan Gracia pergi dari ruangan. Kasihan, gadis itu basah kuyup.
"Baik. Temui kami nanti petang di sayap kiri. Jangan lupakan Linden dan Corinne. Mereka berhak tahu tentang semua ini," ujar Frederick, memberi keputusan.
Keith langsung menyahut, "Baik, Ayahanda. Saya mohon izin untuk undur diri."
"Silakan," balas Frederick.
Pangeran itu pun menarik tangan Gracia. Memberinya perintah untuk segera mengikuti. Gracia mengikut saja. Tidak berani untuk menolak. Baginya, menentang perintah adalah sebuah hal yang tidak patut dilakukan oleh pelayan rendahan sepertinya.
Edward memandang kepergian mereka dengan tatapan sinis. Baginya, Gracia tak lebih dari wanita yang mau berkencan dengan lelaki mana pun.
Pada saat yang sama, William berkata, "Terima kasih Ayahanda, Ibunda."
***
Sepanjang perjalanan, Gracia menunduk malu. Sebab, beberapa pelayan lain memperhatikan dirinya. Memandang dengan tatapan tidak suka. Keith yang menyadari semua itu akhirnya berhenti melangkah.
Gracia tidak siap. Akibatnya, dia terantuk punggung Keith. Rasanya lumayan sakit, terutama di bagian hidung. Seperti mau patah.
"Maaf," ujarnya tulus.
Gadis cantik itu terperangah. Bukan karena permintaan maaf Keith. Akan tetapi, karena pangeran itu melepaskan jas. Lalu, dikenakan padanya. Sekadar menutupi pakaian yang basah kuyup.
Gracia hanya dapat mendongak tanpa melakukan apa pun. Otaknya masih mencerna semua ini.
Keith jadi gemas. Tangan hangatnya pun terulur. Mengurai rambut Gracia yang berada di belakang kepala. Mengembalikan kesadaran gadis itu.
Gracia merasakan kalau jantungnya berdegup dengan kencang. Dia pun melangkah mundur demi menghindari gosip berlebihan. Namun karena tidak berhati-hati, Gracia malah terpeleset. Nyaris terjengkang ke belakang.
Beruntung, putra pertama Frederick dengan Mary itu menangkap Gracia tepat waktu. Bahkan sekarang, posisi mereka cukup membuat orang salah paham. Di mana Keith melingkarkan kedua tangan pada Gracia. Satu di pinggang, sisanya pada punggung.
Embusan napas keduanya beradu. Bersamaan dengan manik yang saling bertemu. Menyimpan sejuta rasa yang terpendam di dalam d**a.
Takut bertindak terlalu jauh karena melihat wajah imut Gracia, Pangeran Keith bertanya, "Kau tidak apa-apa?"
"I-iya, Tuan. Maafkan kecerobohan saya. Terima kasih atas kebaikan Anda karena telah menolong saya sebanyak dua kali," balas Gracia gugup.
Gadis itu baru sadar kalau Keith memiliki wajah yang sangat tampan. Terlebih saat dilihat dari dekat, rahang tegasnya begitu mempesona. Tidak kalah dengan tiga pangeran utama Islovaxia.
Keith menyunggingkan seulas senyum. Ketampanannya itu langsung membius Gracia. Membuat pelayan kesayangan Lusiana lupa caranya bernapas dalam beberapa detik ke depan.
Perlahan, pangeran tersebut menegakkan tubuh Gracia. Tidak lupa untuk menjauhkan diri. Ingin memberi kesempatan bagi Gracia untuk mengambil napas. Sebab wajahnya terlihat kekurangan oksigen.
"Apa kau lupa caranya bernapas?" goda Keith sembari menoel hidung Gracia.
Pelayan cantik itu refleks memegangi hidung. Terlihat sangat terkejut ketika Pangeran Keith menyentuhnya sembarangan dengan sangat santai. Seolah tidak memiliki beban sedikit pun jua.
"Ma-maaf, Tuan," sesal Gracia.
Keith kembali melemparkan senyum. Membalas santai, "Tidak apa-apa. Sekarang, berjalanlah di sampingku. Aku tidak mau kau sampai tertinggal."
"Eh?" responnya terkejut.
Gracia merasa aneh. Mengapa dirinya harus berjalan di samping Pangeran Keith? Bukankah itu tidak sopan? Pelayan seharusnya berada di belakang. Mengekor bagaikan anak ayam yang mengikuti induknya.
Seolah mengerti keheranan Gracia, Keith kembali berkata, "Sekarang, kau pilih salah satu. Ingin berjalan di sampingku, atau kugandeng lagi seperti tadi?"
Pelayan cantik itu pun kalah telak. Dengan terpaksa, dia menundukkan kepala. Mengembuskan napas kuat-kuat sebelum akhirnya berkata, "Baik, Tuan. Izinkan saya untuk berjalan di samping Anda."
Keith merasa senang. Tangannya pun terulur. Menarik Gracia ke dalam rengkuhannya lagi. Seperti tadi ketika berada di ruang singgasana.
Pipi gadis itu memerah seketika. Seumur hidup, baru kali ini dia diperlakukan dengan hangat oleh seorang laki-laki. Pangeran, pula. Rasanya seperti terbang ke awan yang berada di langit sana.
"Ayo jalan, nanti keburu dingin," ujar Pangeran Keith, membuyarkan khayalan Gracia.
Dengan kikuk, Gracia menjawab, "Maaf, Tuan. Bisa lepaskan tangan Anda? Saya takut kalau tidak dapat berjalan dengan baik."
Pangeran Keith tertawa kecil. Lelaki itu menertawakan kecerobohannya sendiri. Astaga, baru kali ini dia ditegur oleh seorang pelayan.
Melepaskan rengkuhan, lantas mulai berjalan. Gracia pun mengikuti. Gadis itu melangkah di samping Keith, sesuai dengan apa yang sudah dia janjikan.
***
Pada saat bersamaan, Lacey terlihat sangat marah. Gadis keturunan bangsawan itu mengamuk.
"Aku nggak mau membagi kamu dengan perempuan lain, Honey! Apalagi, pelayan rendahan macam dia," ujarnya bersungut-sungut.
Edward mencoba memberikan pemahaman. Lelaki itu menaruh kedua tangan di atas bahu kekasihnya. Netranya mengunci pandangan Lacey agar terfokus padanya seorang.
"Dengarkan, Honey. Aku juga nggak suka sama dia. Tapi Bunda bilang, itu sudah aturan turun temurun. Tidak bisa diganggu gugat," terangnya dengan mata teduh.
Lacey mulai luluh. Tangan gadis itu lantas menarik pakaian yang dikenakan oleh calon suaminya. Membuat Edward menaikkan sebelah alis. Menanyakan apa yang ada di dalam kepala Lacey.
Bertanya ragu, "Kamu nggak akan nyentuh dia, 'kan?"
Edward menggeleng dengan tegas. "Aku cuma mau sama kamu. Malas pegang-pegang perempuan lain."
Seulas senyum terbit di bibir Lacey. Perempuan itu merasa sudah menang sebelum bertempur.
Perlahan, tangannya naik dengan jari kelingking yang berdiri. Tidak tergenggam layaknya keempat jemari lain.
"Janji?" tanya gadis itu penuh harap.
Edward membalas senyuman Lacey. Dia turut menaikkan tangan, lantas mengaitkan kelingkingnya dengan milik Lacey.
"Janji."