Calon Pembersih Kastil

1051 Words
Seperti yang telah dijadwalkan sebelumnya, seluruh keturunan keluarga Arshington berkumpul di sayap barat. Tepatnya, gazebo berwarna putih dengan hiasan tanaman merambat di atasnya. Terlihat Putri Corinne asyik mengerjakan sesuatu. Gadis itu memang mewarisi sifat ibunya. Mengerjakan sesuatu di waktu luang. Kebetulan, Raja belum memulai acara minum teh. Corinne mengambil kesempatan ini untuk menyelesaikan tugasnya. Tidak berapa lama, Edward sampai. Lelaki itu telah berganti pakaian. Kali ini, dia mengenakan outer berwarna biru akrilik. Terlihat mencolok jika dipadukan dengan kemeja krem. Melihat kedatangan kakaknya, Corinne mengentikan aktivitas. Bagaimana pun, dia masih menghormati Edward. Tak mau bertengkar dengan lelaki itu. "Linden, Corinne, apa kalian sudah tahu tujuan minum teh ini?" tanya Ratu Lusiana, membuka percakapan. Lelaki berbaju hijau menggelengkan kepala. Diikuti oleh Corinne. Sebab, tidak ada yang memberitahu. Bagaimana mereka bisa menebak dengan benar? Raja Frederick pun memberi kode lewat lirikan mata. Meminta Edward untuk mengemukakan keputusannya. Sebab, mereka semua sudah menanti jawaban. "Ayahanda, Ibunda. Izinkan Ananda menyampaikan. Ananda tidak akan menunda pernikahan dengan Lacey," ujarnya mantap. Ratu Lusiana langsung menginterogasi, "Lacey siap memiliki madu?" "Benar, Bunda. Ananda pun tidak keberatan, asalkan bisa bersatu dengan Lacey," balas Edward. Lelaki itu berpikir bahwa pernikahan itu hanya di atas kertas. Tidak sampai dituntut untuk memiliki keturunan. Edward mana mau melakukan itu dengan perempuan yang tidak dia cinta. Toh, Lacey juga sudah melarangnya. Ratu Lusiana terlihat gusar. Hal itu tercermin dari helaan napas yang terlihat berat. Kebiasaan Ratu Lusiana tersebut sudah dihapal oleh semua penerus kerajaan. "Siap untuk tidak membeda-bedakan mereka berdua, Putraku?" tanya Lusiana memastikan. Perempuan itu tidak mau kalau Edward hanya menikahi Gracia tanpa memiliki cinta untuknya. Dengan kata lain, Edward menjadikan Gracia sebagai batu loncatan untuk pernikahannya dengan Lacey. Hal itu tentu tidak pantas dilakukan oleh seorang pangeran. Terlebih, Edward lahir dari rahimnya sendiri. Atensi seluruh pangeran dan putri kini berpusat pada Edward. Lelaki itu tampak gugup mengungkapkan jawabannya. Terlihat tidak percaya diri. Keith memanas-manasi, "Jika kau mengurung Gracia dalam penjara tanpa cinta, aku akan mengambilnya darimu!" "Aku tidak begitu!" sentak Edward, angkat bicara. Sesaat kemudian, dia merutuki kecerobohan. Lelaki itu lupa kalau tidak sopan berteriak di hadapan Ratu dan Raja. Terlebih, mereka adalah kedua orang tuanya. Edward melanjutkan dengan nada yang lebih lembut, "Kalau boleh, Ananda meminta waktu untuk menerima Gracia. Bunda tahu sendiri kalau Ananda sulit membuka hati untuk perempuan." "Baik. Tapi kalau kau cuma main-main, Bunda akan menceraikan Lacey dan Gracia, sekaligus. Kau pun tidak boleh menikah lagi. Bagaimana?" tawar Ratu Lusiana. Bagaimana pun, dirinya adalah perempuan. Tidak tega kalau ada kaum hawa yang mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari suaminya. Oh, jangan sampai hal itu terjadi tanpa sepengetahuan dirinya. Edward mengangguk kepala tanda setuju dengan syarat yang diajukan Ratu Lusiana. Dia merasa lega karena bisa menikah dengan Lacey. Satu-satunya masalah tersisa ialah Gracia. Setelah ini, dia berniat menghampiri perempuan itu untuk mengatakan sesuatu. Raja Frederick turut senang dengan keputusan Edward. Lelaki nomor satu di Islovaxia itu pun mengangkat cangkir tehnya. Membuat istri dan putra-putrinya turut melakukan hal serupa. "Untuk merayakan rencana pernikahan Edward," ujar Frederick, meski merasa berat harus membiarkan Gracia jatuh dalam genggaman Edward. *** Gracia sedang mengepel lantai ketika Pangeran Edward menghampiri. Dalam beberapa menit ke depan, lelaki itu mengamati gerak-gerak calon istrinya. Dia memang cantik tanpa polesan make up. Namun mengingat kedudukan yang begitu rendah, Edward masih merasa kalau Gracia tidak pantas untuknya. Perlahan, lelaki bangsawan itu mendekat. Berbisik pelan di telinga Gracia, "Calon pembersih kastilku rajin sekali, ya?" Mendengar suara yang tidak asing baginya, Gracia pun mereguk saliva. Dia juga diam membeku di tempat. Takut untuk menoleh ke belakang. "Tu-tuan Edward?" tebak Gracia sekenanya. Mundur satu langkah sembari merotasikan bola mata ke atas. "Kau tidak hapal dengan suara calon suamimu sendiri?" Gracia memberanikan diri untuk berbalik badan. Menemukan Edward yang bersedekap. Mukanya terlihat tidak bersahabat. "Maaf, Tuan," ujar pelayan cantik tersebut tanpa berani berlama-lama memandang wajah tampan Edward. Pangeran marah. Tangannya terulur ke depan. Mengangkat dagu Gracia hingga manik mereka bertemu. Untuk pertama kali, Gracia tidak menghindar. Membiarkan Edward menyentuhnya sembarangan. Toh sebentar lagi, mereka menikah. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Mata Edward menatap dalam pada manik jingga milik calon istrinya. Di sana, dia bisa melihat sesuatu yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Seperti sebuah ketenangan. Merasa malu karena ditatap terus menerus selama dua menit, Gracia berinsiatif untuk bertanya, "Apa ada sesuatu di wajah saya, Tuan Edward?" Lelaki itu tersentak. Namun, berusaha untuk menyembunyikan keterkejutan. Dia berdalih, "Ya. Kau sangat cocok untuk mengepel kastil sepanjang hari." Gracia hanya bisa membulatkan bibir. Sejak awal, dia memang sudah menduga semua ini. Edward hanya butuh dirinya untuk menjadi istri di atas kertas. Bukan pendamping hidup yang sebenarnya. "Saya tentu akan melakukannya dengan senang hati jika Anda meminta. Namun jika Baginda Ratu mengetahui hal ini, bukankah Anda yang rugi, Tuan?" tanya Gracia dengan keberanian yang sedikit terkumpul. Memutar bola mata ke atas. "Pelayan rendahan sepertimu berani mengancamku?" "Jangan salah paham, Tuan. Saya hanya tidak ingin Anda terkena murka Ratu Lusiana," pungkas Gracia. Hubungan mereka saja sudah rumit. Kalau Edward salah paham lagi, mungkin hubungan keduanya sudah seperti benang kusut. Tidak ada bagus-bagusnya sama sekali. "Nggak usah sok baik, kamu!" semprot Edward sambil menarik kerah Gracia. Gadis itu bergetar ketakutan. Sebab, mata Edward terlihat menyeramkan. Dia belum pernah mendapatkan tatapan segarang ini. Edward melanjutkan, "Kalau kau diam-diam menyusun rencana untuk merebutku dari Lacey, aku pastikan kalau kepalamu tergantung di alun-alun!" "Anda pikir, saya sekonyol itu? Daripada harus menyerahkan kehormatan untuk Anda, saya lebih baik tidak tersentuh seumur hidup! Dengan begitu, saya bisa menyandang status sebagai janda kembang," balas Gracia sengit. Pelayan cantik itu mulai berani menjawab. Sebab, Edward ternyata mudah salah paham. Ribet urusannya kalau lelaki tersebut salah mengartikan ucapannya barusan. "Kau ... apa? Menyumpahiku untuk mati? Pelayan sialan!" umpat Edward. Gracia memekik kesakitan. Sebab sekarang, rambut pendeknya dijambak oleh Edward. Karena terlalu kencang, dia sampai merasakan kalau rambutnya nyaris lepas. "Sa-sakit, Tuan," rintih Gracia. Edward tidak bergeming. Lelaki itu malah menarik Gracia untuk mendekat. Akibatnya, tubuh mereka saling bersentuhan tanpa menyisakan jarak sedikit pun. Tanpa merasa bersalah, lelaki itu mengamati Gracia yang tengah kesakitan. Dia terlihat lebih menarik dari sebelumnya. Bahkan sekarang, Edward sampai membayangkan yang tidak-tidak tentang Gracia. Bagi Edward, hal itu cukup aneh. Sebab hingga saat ini, Lacey belum pernah berhasil membuat pikirannya berkelana ke mana-mana. Meraih lengan pangeran sambil berkata, "Tolong lepaskan saya, Tuan." "Kita lihat saja nanti. Kau akan bertekuk lutut padaku!" balas Edward sambil tersenyum bagaikan iblis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD