Mau Berbagi?

1020 Words
Tengkuk Gracia meremang mendengar ancaman Pangeran Edward. Apa maksud lelaki satu ini? Bertekuk lutut dalam urusan cinta atau hal lain? Jujur, pernyataan calon suaminya itu sangat ambigu. Ada banyak kemungkinan yang dapat disimpulkan dari sana. "Apa yang kau pikirkan? Dasar pelayan rendahan!" umpat Edward. Pandangan kosong milik Gracia nyaris membuatnya hilang kendali. Dengan cepat, dia mengempaskan gadis itu hingga terjatuh ke atas lantai yang untungnya sudah bersih. "Auw," rintihnya sambil meringis. Tangan Gracia memijat kepala yang sakit akibat dijambak oleh Edward. Tarikan lelaki itu tidak main-main. Seperti ingin memisahkan setiap pangkal rambut dari kulit kepalanya. Edward tersenyum mengejek. "Enak?" tanyanya kemudian. Gracia tidak berani menjawab. Melayani lelaki itu sama saja dengan menggali kuburan sendiri. Lebih baik, dia diam. Mungkin dengan begitu, Edward jadi kesal dan meninggalkan dirinya di sini. "Punya mulut, Gra?" Edward mulai kehilangan kesabaran atas tingkah Gracia. Perempuan satu ini sangat pandai membuatnya marah sejak pertemuan pertama yang dihiasi lumuran lumpur. Dahulu sekali, pangeran itu ingat kalau Gracia sedang sebal dan membuat bola-bola dari tanah berlumpur. Dilemparkan acak pada semak. Dan sialnya, Edward tengah berbaring. Menikmati udara segar setelah hujan. "Sial!" umpatnya kencang. Mendengar seruan itu, tengkuk Gracia meremang. Jantungnya berdegup tidak karuan. Namun dia sangat penasaran dan memutuskan untuk mendekat meski harus mengendap-endap. Menyibak semak yang rapat, lalu bertatapan tanpa jarak dengan Pangeran Edward. Matanya melotot, bagai burung hantu dalam keremangan malam. "Hantu!" teriaknya kencang. Saking kagetnya, Gracia sampai terjengkang ke belakang. Gaun seragamnya jadi basah karena jatuh di atas genangan air hujan. Edward refleks menutup kedua telinga. Dia lalu keluar dari balik semak. Menemukan Gracia yang berlinang air mata. "Sudah cengeng, tidak berguna pula!" umpat Edward. Tangis Gracia makin menjadi, namun lelaki itu tidak peduli. Dengan santainya, Edward menginjak kubangan air. Bahkan kakinya sengaja dihentakkan kuat-kuat. Pyuk! Air kotor itu makin membasahi gaun Gracia. Akan tetapi, Edward belum puas. Dia kemudian mengambil bola tanah yang belum sempat dilemparkan oleh Gracia. Tanpa menaruh belas kasih sedikit pun, Edward melayangkan bola-bola itu. Setiap bulatannya mengenai punggung Gracia. Menimbulkan rasa sakit yang tidak tertahankan. "Ibu," isak Gracia di sela tangisnya. Meskipun sakit, gadis itu tidak punya keberanian untuk melawan. Dia hanya bisa menangis. Duduk memeluk lutut. Membiarkan Edward menghukumnya sampai puas. Ketika tidak lagi merasakan ada bola yang terlempar, barulah Gracia berani bangkit. Namun dia malah semakin dekat dengan Edward. Gracia kembali mundur. Nyaris terperosok ke semak belukar. Beruntung Edward menolong. "Sekali lagi kau mencari masalah, aku akan menghukummu lebih dari ini!" ujar Edward, memperingatkan. Semenjak kejadian itu, Gracia menunduk ketakutan setiap kali bertemu dengan pangeran kedua Kerajaan Islovaxia. Makanya saat ini, Gracia tidak dapat berkata-kata setelah mendapat ancaman langsung dari Pangeran Edward. Lidahnya seolah berada dalam pengaruh obat bius. "Gra!" sentak Edward. Gadis di hadapannya berjengit, tapi tetap tidak mengucapkan sepatah kata pun. Edward jadi semakin kesal dan merangsek maju. Gracia beringsut mundur. Edward semakin tidak sabaran dan akhirnya bergerak cepat. Mendapatkan kerah kemeja Gracia. "Sekali lagi kamu nggak jawab, aku bakal potong pita suara kamu. Paham?!" ancamnya lagi. Gracia menangis. Hanya satu kata yang berhasil lolos dari bibir ranumnya, yaitu, "Maaf." "Aku nggak terima permintaan maaf dari kamu, Gra!" amuk Edward. Tangannya mengempaskan Gracia ke samping kiri. Gadis itu pun menabrak ember yang dia gunakan untuk menampung air sabun. Air kotor dari dalam ember itu pun tumpah ke mana-mana. Termasuk, gaun Gracia. Mengingatkan dirinya akan kenangan lama di tanah berlumpur setelah hujan deras. "Gra!" sentak Edward lagi. Karena tidak merasa melakukan kesalahan, Gracia mendongak. Pemandangan yang terlihat pun langsung membuatnya melongo di tempat. Wajah tampan Edward terkena percikan air pel. Memberikan beberapa noda kecil yang langsung diseka. "Kau serius membuatku marah, Gra?" Suara lelaki itu begitu menggelegar di lorong. Gracia langsung menggeleng-gelengkan kepala. Dia takut kalau keadaan akan bertambah buruk. "Maaf, Tuan. Saya, saya tidak sengaja. Jangan hukum saya," mohon Gracia dengan sangat. Kedua tangannya memegang kaki Edward. Seketika, tengkuk lelaki itu meremang. Merasakan getaran aneh yang menjalar ke seluruh tubuh. "Tidak ada maaf untukmu, Gra!" tegas Edward. Otot Gracia serasa menjadi jelly setelah mendengar ucapan calon suaminya. Dia tidak tahu harus melakukan apa lagi selain berdoa. Memohon pada Tuhan adalah satu-satunya jalan yang dapat dia tempuh. Sejurus kemudian, Edward menarik tangan gadis itu. Dengan terpaksa, Gracia bangkit. Berdiri di hadapan Edward dengan nyali sekecil biji wijen. "Lihat mataku, Gra!" Gracia tidak berani membantah. Dia pun meremas gaun yang basah, tak lupa untuk menarik napas panjang. Bersiap dengan apa yang akan dia alami setelah ini. Pandangan keduanya pun bertemu. Edward mengamati lamat-lamat. Tatapannya begitu tajam dan sedikit ... liar? "Buka mulutmu, Gra," perintah Edward. Pelan, tapi mematikan. Walaupun keraguan sempat menyelimuti hati, Gracia akhirnya setuju. Pelayan itu sedikit membuka mulut. Memperlihatkan deretan gigi yang setiap hari digosok menggunakan sikat gigi. Edward menyeringai. Gadis di hadapannya sangat patuh. Dia suka orang yang seperti ini, tidak kebanyakan tingkah. "Sekarang, tutup matamu," instruksinya lagi. Jantung Gracia nyaris melompat keluar dari tempatnya. Begitu juga dengan mata. Seakan ingin menggelinding di atas lantai. "Dia serius?" batin Gracia tak percaya. Edward memicingkan mata. Lalu mulai bergerak nakal. Dia mencondongkan tubuh ke depan. Tak ayal, Gracia mundur hingga punggungnya terantuk dinding. "Lakukan apa yang aku perintahkan tadi, Gra," ujarnya lembut. Tengkuk Gracia meremang. Refleks, gadis itu memejamkan mata dan melipat bibirnya rapat-rapat. Edward jadi kesal. "Buka mulutmu, Gra. Atau aku malah akan menghukummu lebih dari ini." Tidak ada respon. Pelayan itu masih saja melipat bibirnya rapat-rapat. Berencana untuk tidak mematuhi perintah Edward. Pangeran kedua jadi marah. Dia membukanya secara paksa meski mendapat perlawanan sengit dari Gracia. Setelah berhasil, Edward menahan dengan satu tangan. Yang satu meraih sesuatu di dalam saku. Lantas melemparkan ke mulut Gracia. Rasa pedas dan asam langsung menyerang. Gadis itu mencoba menggerakkan lidah untuk membuang permen. Namun Edward tidak mau sesi hukumannya berakhir dengan cepat. Tangan Edward menahan Gracia agar tidak memuntahkan permen. Gadis itu memukul-mukul bahu, tapi tidak dia hiraukan sama sekali. Edward malah asyik mengamati wajah cantik calon istrinya. "Enak, Gra?" tanyanya sambil mendekat. Edward mereguk saliva. Sementara mata Gracia semakin membulat ketika dirinya mengikis jarak. "Mau berbagi rasanya denganku?" bisik Edward nakal di telinga Gracia. *** Hai, selamat datang ke novel kedua Zora. Happy reading. Bisa follow ig @midnight.autumn48 untuk kepoin karya Zora lainnya. See you next chapter.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD