Hukuman Kecil

1030 Words
Mata Gracia memanas. Sebenarnya, apa yang diinginkan oleh lelaki ini? Tadi dia berkata kalau tidak akan menyentuhnya. Tapi sekarang, Edward bahkan ingin melesatkan indra perasanya untuk mencicipi permen. Tidakkah dia sedikit plin-plan? Sementara itu, Edward mulai mendekat. Pantang baginya untuk menarik kembali apa yang telah dia ucapkan. Harga diri adalah taruhan. Gracia menggeleng-gelengkan kepala. Tepat ketika bibir Edward akan menyentuhnya, dia menoleh ke samping. Namun karena tidak berhati-hati, bibir Gracia malah mendarat di leher Edward. Sontak, lelaki itu terlonjak. Kecupan tak sengaja dari Gracia membuatnya seperti tersengat aliran listrik. Dengan segera, Edward mengempaskan Gracia ke tembok. "Auw," rintihnya. Edward masih ada di hadapan Gracia dengan napas memburu. Dadanya naik turun, seirama dengan detak jantung yang tidak beraturan sama sekali. "Beraninya kau!" amuk Edward. Gracia begidik ketakutan. Sampai-sampai, dia menelan permennya tanpa sadar. Seumur hidup, tidak pernah sekali pun terbesit di benaknya untuk mendaratkan bibir di leher seorang lelaki. "Maafkan saya, Tuan. Saya tidak sengaja," ucap Gracia. Edward sangat marah. Lelaki itu bangkit dengan tangan yang menuding pada Gracia. "Aku pasti akan membalasmu!" ancamnya. Maid Kastil Arshington itu pun berjengit dengan mata tertutup. Air matanya sudah terkuras habis. Setelah ini, Gracia mungkin tidak bisa mengeluarkan air mata saat menangis. "Kenapa semuanya jadi begini?" tanyanya sendu sambil bangkit. Gracia mengusap baju yang basah. Tidak terlalu parah, tapi dia jadi kehabisan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan. Edward sungguh pandai membuatnya kerja lembur. Saat itu pula, terdengar suara lembut memanggilnya. Gracia menoleh, mendapati Pangeran Keith yang berdiri di ujung lorong. "Ada apa, Tuan?" tanya Gracia sembari mendekat dengan senyum yang merekah sempurna. Keith turut menghampiri. Perasaannya tidak enak ketika tadi melihat Edward uring-uringan ketika keluar dari lorong. Firasat seolah mengatakan bahwa dia baru saja memarahi Gracia. Ternyata benar, gadis ini ada di lorong. "Apa yang Edward lakukan padamu?" tanya Keith berbasa-basi. Senyum Gracia surut seketika. Dia otomatis menggenggam ujung gaun. Membiarkan Pangeran Keith menyapu pandang untuk menyimpulkan apa yang telah terjadi padanya. "Bajumu," ucap lelaki itu. Tangan kirinya terulur, menyentuh rok Gracia yang basah. Lalu netra Keith terpaku pada sebuah ember yang isinya tumpah kemana-mana. "Lagi?" tanyanya sambil mengusap muka. Keith tidak habis pikir. Mengapa Edward senang sekali membuat Gracia basah? Kemarin pagi karena teh, sekarang air pel. Begitu pun dengan Lacey. Perempuan itu mengguyurkan air sumur yang dingin pada Gracia. Bahkan hingga calon adik iparnya ini menggigil kedinginan. "Ganti bajumu, Gra. Biar aku panggilkan maid lain," bujuk Keith. Gadis itu menolak, "Saya tidak ingin merepotkan orang lain, Tuan." "Gra," panggilnya lembut. Pandangan Keith mengarah lurus pada Gracia yang tepat berada di hadapannya. Gadis itu sempat kehilangan orientasi selama beberapa saat, hingga akhirnya memilih untuk menyetujui permintaan Keith. "Bagus," balasnya sambil mengacak-acak rambut Gracia. Gracia tersenyum senang. Perlakuan Keith sangat hangat. Jauh berbeda dengan apa yang selalu ditunjukkan oleh Edward. Pemarah dan tidak berperasaan. *** Malam ini, Gracia tidak bisa tidur. Masih terbayang olehnya pertemuan dengan Edward. Lelaki itu berada di belakangnya sambil berbisik, "Kau tidak hapal dengan suara calon suamimu sendiri?" Dari ucapan itu, Gracia bisa menyimpulkan. Pernikahan akan tetap digelar dengan dirinya yang akan menjadi istri kedua Edward. Ada pun istri pertama dan yang dicintai adalah Lacey. Valid no debat, kecot, atau apalah itu. Dia akan menjadi istri yang tidak diinginkan oleh Edward. "Sebatas formalitas, ya?" gumamnya galau sembari membenamkan wajah di tembok pembatas. Gracia tidak keberatan untuk menjadi istri di atas kertas. Tapi setidaknya, wajah suaminya jangan yang tampan. Bagaimana kalau dia malah jadi oleng? "Eh, bentar. Barusan aku ngapain? Puji dia tampan? Aih, masih mending Pangeran Keith, ya. Pangeran Edward galaknya enggak ketulungan," ocehnya sendiri di sela bisikan angin malam. Menghembuskan napas kesal. Kemudian tangannya merapikan tatanan rambut yang seenaknya dikacaukan oleh angin malam. "Mending kamu tidur, Gra. Daripada mikirin lelaki enggak jelas itu," saran Gracia, untuk dirinya sendiri. Pelayan Kastil Arshington tersebut berbalik dengan semangat 45. Namun saat itu pula, langkahnya terhenti. Sebab mata Gracia menemukan sosok menyeramkan yang berdiri, bersandar di dinding dekat pintu kamarnya. Bertanya pelan, "Siapa yang kau sebut dengan lelaki tidak jelas, Gra?" Gracia diam membeku. Keringat dingin mulai membasahi wajah piasnya. Ada pun jantungnya mulai berdetak tidak karuan. "Em, anu ... itu, tadi pagi ada orang enggak jelas yang ... yang lewat di deket Gracia," jawabnya takut-takut. Dalam hati, gadis itu berharap Edward tidak mendengar omelannya dari awal hingga akhir. Bisa gawat kalau nanti terciduk menjelek-jelekkan Edward. Kepala bisa langsung tergantung di alun-alun. Putra ketiga Ratu Lusiana mendekat. Jantung Gracia serasa mau copot dari tempatnya. Tangannya mulai menggenggam ujung gaun seragam. Sebaris doa telah Gracia rapalkan di dalam hati. Berharap agar Pangeran Edward tidak menghukumnya lagi. Dia tidak tahu lagi bagaimana caranya harus meminta tolong pada orang lain. Di sini terlalu sepi. Tangan dingin itu terasa sangat nyata di pipi Gracia. Gadis berambut pendek sontak memejamkan mata. Tak berani menatap pada sosok Edward yang sudah siap menerkam hidup-hidup. "Berani bohong, hm?" Pertanyaan itu sukses membuat tengkuk Gracia meremang. Pangeran Edward menangkap gelagat itu. Dia langsung mengubah usapan lembutnya menjadi sebuah tamparan. Plak! Gracia terhuyung ke samping. Namun tidak sampai jatuh karena sebelah tangan Pangeran Edward mencegah. Akan tetapi, hal itu malah membuat mata Edward melotot. Sebab aset Gracia tidak sengaja menempel di lengan. Terasa sangat empuk. "Jangan menggodaku, Gra! Aku kemari untuk menghukum dirimu, bukan untuk memanjakan pelayan rendahan sepertimu," bisik Edward di telinga calon istrinya. Gracia begidik ketakutan. Jadi, Edward masih mengingat perihal hukuman yang dia bicarakan tadi pagi? "Sudah salah, kau malah menggoda pria lain. Lalu mengatai calon suamimu sebagai lelaki tidak jelas. Tamparan itu belum cukup untuk menebus kesalahanmu." Gadis di hadapannya langsung bertanya, "Pria lain? Siapa, Tuan?" "Kau tidak ingat, hm?" Edward bertanya sembari mengangkat dagu Gracia. Pandangan mereka kembali beradu. Membuat Gracia semakin gugup dan salah tingkah. Karena ternyata, pesona Edward semakin bertambah di dalam balutan selimut malam. "Kau menggoda kakakku," bisik Edward kemudian. Otak Gracia hanya bisa memikirkan satu nama. Keith! Ya, pasti dia yang Edward maksud. "Maaf, Tuan. Saya tidak menggoda Pangeran Keith," ujarnya jujur. Edward menyeringai. "Benarkah? Atau aku salah lihat? Keith membuat rambutmu berantakan. Seperti ini." Lelaki itu mengacak-acak rambut Gracia dengan kencang. Pelayan itu jadi pusing dan memohon untuk dilepaskan. Edward baru berhenti setelah dia puas. Ditatapnya Gracia yang hampir kehabisan napas. Gadisnya itu terlihat semakin menarik. "Apa Anda cemburu?" tanya Gracia dengan napas tersengal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD