"Ibu!!!! Ibu!!!!" Anisa menangis meraung meratapi jasad ibunya yang kini sudah tak bernyawa. Tubuhnya yang dingin dan kaku tengah berada di atas pembaringan. Beberapa pelayat yang merupakan tetangga ibu Anisa sedang membacakan Yasin. Tampak beberapa dari mereka menitihkan air mata saat melihat Anisa yang terus mengeluarkan tangisan pilunya. "Anisa, tabahlah menghadapi cobaan ini." Alex merangkul tubuh Anisa, mengusap punggungnya dengan pelan. "Jika saja aku tidak menanyakan perihal keberadaan ayah, pasti ibu tidak akan meninggal!!!" Anisa kembali berteriak. Merutuki dirinya sendiri yang merasa menjadi penyebab kematian sang ibu. Memang, pagi tadi, ia dan Alex datang ke rumah sang ibu karena Alex benar-benar tidak bisa menemukan petunjuk mengenai ayah Anisa yang seperti ditelan bumi itu.

