bc

Terjerat Cinta Sang Mafia

book_age18+
1.0K
FOLLOW
3.5K
READ
tragedy
twisted
mystery
like
intro-logo
Blurb

Anisa disiksa ibunya sejak kecil karena terlahir sebagai perempuan yang mengakibatkan sang ibu diceraikan dan ditelantarkan oleh suaminya.

Hingga suatu hari, ia diselamatkan oleh seorang bos mafia yang menginginkan dirinya sebagai balas budi. Namun, karena tak ingin terjerat dosa, Anisa meminta dijadikan istri.

Bagaimana kehidupan rumah tangga mereka setelah menikah?

Dan apa yang terjadi saat satu persatu kebenaran terungkap tentang siapa Alex dan Anisa sebenarnya?

chap-preview
Free preview
Penyiksaan
Anisa adalah seorang gadis berusia 21 tahun yang hidup dalam penderitaan. Dia disiksa oleh ibu kandungnya sendiri sejak kecil karena terlahir sebagai anak perempuan. Ayahnya menceraikan dan menelantarkan ibunya karena ibunya tidak bisa melahirkan anak laki-laki. Sejak saat itu, Anisa menjadi pelampiasan kebencian ibunya hingga suatu hari saat ibunya hendak membunuhnya, seorang bos mafia menyelamatkannya. Bos mafia meminta tubuh Anisa sebagai balas budi, namun karena Anisa tidak ingin terjerat dalam dosa zina, dia meminta dijadikan istri. Alex Julian adalah nama bos mafia tersebut. Umurnya 25 tahun dan sudah berkecimpung di dunia hitam sejak umur 20 tahun. Tanpa orang tua, tanpa kasih sayang, dia tumbuh menjadi orang yang kini sangat ditakuti banyak orang. Karena kekejaman dan kejeniusannya dalam menjatuhkan lawan, dia semakin berkuasa. Bagaimana kah kisah mereka? Yuk kita simak bersama. ***** Di sebuah rumah kecil dipinggir kota. "Aaaaaaa, ampun Bu, sakiiiit!" pekik seorang gadis muda yang tengah menerima cambukan dari ibunya. "Rasakan ini. Ini adalah hukuman untukmu karena kau tidak mengamen hari ini!!" teriak seorang wanita paruh baya yang terlihat sangat bringas. Sorot matanya menunjukkan dendam yang membara. "Bu, Anisa sedang sakit. Anisa akan mengamen lagi besok Bu, Anisa janji!" "Tidak ada malas-malasan. Apa kau tau, penyebab dari semua penderitaan ku adalah kau. Karena kau lahir sebagai anak perempuan, aku diceraikan suamiku tanpa sepeser uang. Aku sudah membesarkan dan memberi makan dirimu, sudah saatnya kau membalas budi dasar anak pembawa sial!!" Anisa terdiam. Setiap hari, hanya kalimat terkutuk itu yang dikatakan ibunya. Pembawa sial, anak sialan, semua sampah serapah yang selama ini diterima Anisa. Namun, Anisa yang sudah menerima perlakuan sejak masih kecil, hanya bisa diam dan menahan semua kesedihannya. "Sekarang pergi mengamen atau aku tidak akan memberi mu makan!!" Sania yang merupakan ibu Anisa pun pergi ke kamarnya. Anisa mengambil kecrek dari tutup botol yang biasa dia gunakan untuk mengamen. Dia berjalan tertatih karena kakinya memar habis terkena cambukan dari ibunya. Tubuhnya juga lemas karena dia sedang sakit demam karena habis kehujanan kemarin sepulang mengamen. Anisa sudah sampai di sebuah lampu lalu lintas. Saat lampu sedang merah, Anisa mulai mendatangi mobil-mobil dan mulai menyanyi. Pakaiannya lusuh, bahkan ada yang bekas tambalan, celananya juga ditambal dan pinggang nya diikat dengan plastik karena kancingnya sudah lepas, dia memakai topi lusuh dan wajahnya sangat kusam. Itu karena sejak kecil dia tidak pernah memakai bedak atau make up. Jika dilihat, gadis berumur 21 tahun ini mempunyai bentuk tubuh yang bagus bak gitar spanyol, namun karena penampilan nya, tidak ada yang memperhatikan kesempurnaan dari diri Anisa. Anisa kembali ke trotoar karena lampu sudah kembali hijau. Dia melihat uangnya hanya dapat sepuluh ribu rupiah. Anisa menjadi khawatir, kemarin saja saat dia membawa pulang hanya tiga puluh ribu, ibunya marah besar dan hanya memberinya nasi tanpa lauk. Anisa juga di tampar dan dijambak berkali-kali. Tubuh Anisa semakin lemah, rasanya dia tidak kuat lagi jika harus mengamen ke jalanan. Dia putuskan untuk beristirahat dibawah pepohonan. Dia melihat beberapa orang lalu lalang. Ada yang bersama pacar, suami, anak, teman. Semua raut wajah mereka tampak bahagia. Anisa mendambakan suasana seperti itu. Dimana dia bisa mempunyai teman atau ibu yang menyayanginya. Tak berapa lama lewat lah sekelompok anak SMA. Anisa menyeka air mata yang tiba-tiba membasahai pipinya. Memang ibunya menyekolahkannya, namun hanya sampai SD saja agar Anisa bisa menghitung dan membaca. Setelah itu, dia dipaksa memulung, mengemis, dan mengamen. Sesak terasa di dalam dadanya. Mengingat semu penderitaan yang selama ini dia alami. Jangankan mendapat kasih sayang dari ibunya, dipanggil dengan nama saja tidak pernah. Ibunya selalu memanggilnya anak sialan. Sakit, tentu itu menyakitkan. Tapi Anisa sudah terbiasa mendengarnya. Menerima perlakuan buruk ibunya dan menjadi orang yang sangat dibenci ibunya. *** Sore pun tiba, terlihat uang yang ada didalam kantong kresek Anisa hanya ada dua puluh lima ribu. Anisa menghela nafas berat, dia tau bahwa hari ini dia akan menerima pukulan dari ibunya lagi. Anisa meraba punggung dan merasakan guratan bekas cambukan dari ibunya yang sudah sembuh. Semua tubuhnya memang sudah dipenuhi luka bekas cambukan. Hanya wajahnya saja yang masih tersisa dari luka. Langkah Anisa semakin berat menuju jalan ke rumahnya. Dirasakannya suhu tubuhnya yang masih panas. Kakinya yang masih memar bekas cambukan pagi tadi. Perutnya juga sangat lapar karena dia hanya makan pagi saja itupun dengan nasi dan garam saja. Sesampainya di rumah, Anisa mendapati ibunya sedang tertidur. Ia mendekati ibunya lalu membelai rambut sang ibu. "Bu, aku menyayangimu. Aku tidak pernah marah atau dendam setiap kali ibu menyiksaku. Lakukan lah jika itu membuat ibu merasa senang. Aku ini memang pembawa sial, jika aku tidak lahir ke dunia ini pasti ibu tidak akan mengalami ini semua." Anisa menyeka air matanya. Ia pergi ke kamar mandi lalu membersihkan diri. Ia pergi ke dapur dan melihat apa yang ada di bawah tudung saji. Hanya sepiring nasi dan sebotol kecap asin. Ia pun menggoreng nasi tersebut untuk disajikan kepada ibunya. Tepat setelah ia selesai memasak, ibunya bangun. "Apa yang kau lakukan?" "Aku baru saja menggoreng sisa nasi ini untuk ibu." Anisa menyodorkan sepiring nasi goreng kepada ibunya. "Jangan kau pikir dengan memasakkan aku makanan ini, maka aku akan senang. Berapa uang yang kau hasilkan hari ini?" Sania menadahkan tangan ke hadapan Anisa. Anisa mengambil kantong kresek tempat ia menaruh uang. "Ini, Bu. Maaf hari ini tidak dapat banyak." Terus tertunduk dengan tubuh bergetar. "Apa? Hanya segini?" teriak Sania. "Ampun, Bu. Aku sedang sakit. Besok aku janji akan membawa uang yang banyak untuk ibu." Anisa berlutut di kaki ibunya. "Dasar anak pembawa sial! Tidak tau malu! Makan itu, aku tidak berselera makan setelah melihatmu! Aku akan beli saja! Jangan harap aku akan memberimu." Sania merampas uang yang masih dipegang Anisa pergi meninggalkan Anisa yang masih berlutut di lantai. Ia berdiri dan mengambil sepiring nasi itu. Ia pun dengan lahap memakan nasi goreng alakadarnya itu. Rasa lapar membuatnya menghabiskan makanan itu dalam hitungan menit. "Alhamdulillah, aku bisa makan sore ini." Anisa tersenyum sambil menyeka air matanya. Selesai makan, Anisa pergi ke kamar. Ia mengambil obat penurun panas dan mengobati luka memar akibat cambukan ibunya pagi tadi. Sambil meringis, ia terus mengobati luka yang dirasa sangat pedih itu.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.6K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.3K
bc

Pulau Bertatahkan Hasrat

read
640.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.2K
bc

TERNODA

read
199.3K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
14.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.2K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook