Di sebuah rumah megah di komplek sepi.
Seorang pria tengah duduk di kursi dengan seorang pria separuh baya yang sedang berlutut di hadapannya.
Diketahui pria yang duduk itu bernama Alex Julian, sang bos mafia terkejam dan terpintar. Ia baru berumur dua puluh lima tahun. Sedangkan pria yang sedang berlutut bernama Arman yang berumur empat puluh tahun.
"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bermaksud mengkhianati Tuan. Saya,,,,,saya disuruh memata-matai Tuan." Arman bergetar ketakutan saat mengatakan hal itu.
"Tidak bermaksud tetapi kau sudah membocorkan informasi tentangku pada Marcel. Kau ini munafik sekali ya." Alex menyeringai. Sungguh, seringainya sangat menakutkan bagi siapapun yang melihatnya.
"Ampun, Tuan." Arman kini bersujud meminta diampuni oleh Alex.
"Duke!" Alex memanggil asisten kepercayaannya.
Pria berbadan kekar itu mendatangi Alex dan memberi hormat. "Iya, Tuan."
"Bereskan dia!" perintah Alex.
"Baik, Tuan." Duke mendatangi Arman yang semakin ketakutan lalu menyuntikkannya sesuatu hingga dalam hitungan detik, Arman pun tak sadarkan diri. Anak buah Alex langsung membawanya dari hadapan Alex atas perintah Duke.
"Tuan, bagaimana ini? Tuan Marcel sudah mengetahui pertahanan rumah ini. Apa kita harus merubahnya lagi?" tanya Duke.
"Lucu sekali. Kau bawahanku tetapi kau bertanya padaku." Alex mengambil sebatang rokok lalu menghisapnya setelah sebelumnya menyulut api dari korek api yang dinyalakan pengawal yang berdiri di sampingnya.
"Saya hanya tidak ingin berpendapat sebelum Tuan meminta."
"Kalau begitu aku perintahkan kau memikirkan cara agar Marcel tidak bisa menerobos pertahanan rumah ini." Alex menghisap lalu menghembuskan asap rokok dari mulutnya.
Alex mengisyaratkan tangannya agar semua yang ada di ruangan itu pergi kecuali Duke.
"Saya rasa ide Tuan jauh lebih brilian dari ide saya. Tuan memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Bahkan tuan sendiri yang menciptakan pertahanan rumah ini."
"Hahaha, apa kau memujiku untuk menghindari amukanku?" Alex tersenyum menyeringai.
"Tidak, Tuan. Ini fakta. Jika Tuan lemah, maka saya akan katakan bahwa Tuan lemah. Itu prinsip saya. Melihat dengan mata dan berbicara dengan mulut, bukan dengan rasa takut atau menjadi seorang penjilat." Duke menjelaskan.
"Apa katamu? Apa kau tidak ingat jika dulu aku tidak menolong mu, pasti kau sudah mati kelaparan!" Alex menarik kerah baju Duke.
"Karena itu saya tidak ingin menjadi penjilat apalagi pengkhianat, Tuan." Duke berbicara dengan datar tanpa ada rasa takut sama sekali.
"Hah!! Andai aku tidak membutuhkanmu, pasti aku sudah membunuhmu!" Alex melepaskan kerah baju Duke dengan kasar.
"Jika membunuh saya dapat memuaskan hati Tuan, maka bunuhlah saya."
"Apa kau sedang menantangku!"
"Tuan, sekarang kita pikirkan saja bagaimana menjaga rumah ini agar tidak diterobos Marcel."
"Aku akan menciptakan pertahanan dengan merubah sistemnya menjadi lebih rumit lagi. Aku akan mengupgrade jebakan menjadi lebih berbahaya. Ikut aku ke atas."
Alex dan Duke berjalan ke atas menuju sebuah ruangan yang merupakan ruangan rahasia mereka. Ruangan yang menjadi tempat mereka menyusun rencana ataupun ide untuk melindungi markas mereka yang merupakan satu-satunya bangunan berpenghuni yang dikelilingi banyak rumah tanpa penghuni yang sebenarnya adalah rumah yang telah ia beli untuk menghindari orang-orang.
Sesampainya di atas, mereka langsung memulai pekerjaan hari itu.
Di sisi lain,,,
"Dasar tidak berguna!" Marcel yang merupakan musuh besar Alex menggebrak meja kaca sampai hancur.
"Bisa-bisanya dia ketahuan! Orang macam apa yang begitu bodoh mengakui semua perbuatannya! Dan,,,,,bagaimana Alex tahu bahwa Arman adalah mata mataku!" Marcel menatap tajam ke sembarang arah.
"Lihat saja kau Alex. Aku akan menuntut balas atas apa yang kau lakukan padaku dimasa lalu. Nyawa harus dibayar nyawa! Kau akan mempertanggung jawabkan semuanya! Sampai kapanpun aku akan terus memburumu!" Marcel menatap keluar jendela. Melihat langit malam yang gelap nyaris tanpa bintang. Ia teringat akan masa lalunya yang pahit akibat ulah Alex. Dendam, menjadi alasan utama kenapa dia terus memburu Alex.
*****
Anisa baru saja bangun dari tidurnya ketika guyuran air membanjiri tempat tidur yang beralas tikar itu.
"Bangun kau dasar pemalas!" Sania menarik rambut Anisa lalu mendorongnya ke lantai dengan kasar hingga membuat Anisa terbentur lantai.
"Maaf, Bu. Tubuh ku rasanya sangat menggigil." Anisa memegangi kepalanya yang terasa sakit akibat benturan tadi.
"Banyak alasan. Kenapa kau tidak mati saja ha!" Sania kembali menarik rambut Anisa lalu menampar pipinya.
"Ibu, maafkan aku. Aku akan bangun sekarang." Anisa mencoba bangkit sambil memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan keras dari ibunya.
"Dasar anak tidak berguna! Pergi sana cari uang!" Sania menendang kaki Anisa hingga ia hampir jatuh.
Anisa pergi ke kamar mandi dan mencuci muka. Tubuhnya yang masih terasa sangat menggigil membuatnya tidak berani mandi.
Setelah mengganti baju, Anisa pun pergi ke jalan raya yang banyak terdapat lampu merah untuk mengamen.
Tubuhnya masih menggigil sehingga ia jalan dengan tertatih-tatih untuk mencapai jalanan.
Di jalan raya, seperti biasa Anisa mengamen. Ia berjalan dari satu kendaraan ke kendaraan lain sambil bernyanyi. Ia semakin merasa pusing sehingga saat akan pergi ke trotoar, tubuhnya terhuyung dan ambruk di jalanan.
Orang-orang yang ada di sekitar tempat itu pun menolongnya. Mereka mengangkat tubuh Anisa ke sebuah bangku dibawah pohon dekat trotoar.
"Eh, ini kan Kak Anisa." Seorang anak laki-laki berumur sepuluh tahun berceletuk.
"Kau tahu dimana rumahnya, Nak?" tanya salah seorang warga.
"Tahu, Pak. Mari saya tunjukkan jalannya." Anak laki-laki itupun menjadi penunjuk jalan untuk para warga mengantar Anisa ke rumahnya dengan mobil pick up milik salah satu pengguna jalan baik hati.
Sesampainya di rumah Anisa, Sania berpura-pura terkejut melihat keadaan Anisa yang pingsan.
Setelah warga pamit, Sania menunggui Amisa sampai ia sadar. Namun, hingga malam tiba, Anisa tak sadar juga padahal ia sangat ingin menyiksa Anisa yang berani pingsan sebelum mendapatkan uang. Sania pun berinisiatif mengambil minyak gosok lalu mengoleskan ke hidung Anisa agar ia bangun.
Tak berselang lama, Anisa terbangun. Ia masih merasakan pusing di kepalanya. Namun seketika rasa pusing itu tak terasa lagi saat ia menyadari sedang ada dimana. Terlebih lagi, kini ibunya sedang menatap tajam ke arahnya.
"Maafkan aku, Bu." Anisa berlutut di kaki Sania.
Sania refleks menendang tubuh Anisa dengan kakinya hingga Anisa jatuh terpelanting ke belakang.
"Sudah aku bilang. Jika kau sudah tidak tahan, mati sajalah! Aku muak melihatmu menjadi beban hidupku!" Kali ini Sania tidak berteriak. Ia malah menangis tersedu.
"Wajahmu, wajahmu sangat mirip dengannya. Dan karena kau lahir sebagai perempuan, aku diusir dan diceraikan olehnya. Aku ditelantarkan dan harus membesarkan mu sendirian. Apa kau kira itu tidak menyakitkan?" Sania menepuk dadanya. Seakan rasa sesak membelenggu di dalam dadanya.
Anisa masih diam mendengarkan. Ia berpikir untuk membiarkan ibunya menumpahkan semua rasa sakitnya.
"Aku mengalami penderitaan yang begitu pahit karena kau. Kau ini adalah anak pembawa sial! Kenapa tidak mati saja!!" Sania kembali mengamuk dan memukul-memul tubuh Anisa secara membabi buta. Kayu menjadi senjatanya memukuli tubuh dan kepala Anisa.
Anisa hanya bisa berteriak menahan sakit menerima pukulan itu. Sebisa mungkin ia melindungi kepalanya agar tidak terluka parah.
"Jangan tutupi kepalamu! Biarkan aku membunuhmu!" Sania semakin kalap. Ia pun pergi ke dapur dan mengambil sebilah pisau.
Melihat situasi yang tidak memungkinkan untuk Anisa diam saja, maka ia pun berlari ke belakang rumahnya yang tak jauh dari hutan. Ia berlari dengan tubuh yang mulai melemah. Pelariannya pun sampai ke dalam hutan.
Ia bingung harus pergi kemana. Baru pertama kali ia memasuki hutan itu. Situasi begitu gelap, sepi dan mencekam membuat Anisa semakin ketakutan.