Pertemuan

1308 Words
Anisa terus berlari hingga kakinya tersandung akar pohon yang tak terlihat dalam pekatnya malam. "Di sini kau rupanya!" Sania datang dengan sebilah pisau dan senter yang menjadi penerang jalannya. "Ampun, Bu. Jangan bunuh aku!" Anisa bergetar ketakutan. Ia tak mampu lagi berlari karena kakinya keseleo akibat tersandung akar pohon tadi. Apalagi sekarang keadaannya sudah terpojok. "Jika kau mati, maka aku akan sangat bahagia! Selama ini aku sudah bersabar. Tapi hari ini, kau kembali mengingatkanku padanya laki-laki biadab itu!!" Sania mendorong tubuh Anisa hingga Anisa terlentang. Ia menduduki perut Anisa lalu mengangkat pisau yang ada ditangannya bersiap untuk menghujam jantung Anisa dengan pisau itu. Anisa hanya bisa memejamkan matanya. Jika ini adalah hari terkahir ia melihat dunia, maka ia hanya bisa pasrah. Mungkin beginilah akhirnya, mati ditangan ibu sendiri. Namun tiba-tiba. Doooooorrr!! Terdengar suara tembakan yang mengarah ke mereka. Namun, tembakan itu tidak melukai Sania ataupun Anisa. Melainkan sebuah pohon tepat di samping mereka. Sania menoleh ke belakang. "Siapa itu!!!" teriaknya. Seorang pria bertubuh kekar dan berwajah sangar datang mendekat dengan penerangan senter yang berasal dari senter di kepalanya. "Siapa kau!!" Sania berdiri sambil mengacungkan pisau ke arah pria itu. Pria itu malah santai dan dengan cepat, pisau itu sudah berpindah ke tangannya. Sania yang merasa terpojok, akhirnya berlari keluar dari hutan itu. Meninggalkan Anisa yang kini masih duduk di atas tanah dengan tubuh yang bergetar ketakutan. Saat pria itu hendak melangkah mendekat, seseorang dari belakangnya memegang bahunya dan membuatnya berhenti. "Aku hanya menyuruhmu menembak, bukan mendekat."Pria itu berjalan mendekati Anisa yang tertunduk ketakutan. Ia berjongkok lalu memegang dagu Anisa dan mengangkat wajah Anisa agar ia dapat melihat wajah Anisa dengan jelas. "Hmmm, wajahmu kotor dan tubuhmu sangat bau! Menjijikkan!" Pria itu melepas dagu Anisa. Namun, ketika ia kembali berdiri, ia melihat bentuk tubuh Anisa yang sangat menggoda. Ia pun kembali berjongkok dan memegangi dagu Anisa. "Aku sudah menyelamatkanmu. Karena itu kau harus membalas budi!" Pria itu menatap Anisa dengan tajam. Membuat Anisa semakin bergetar ketakutan. "Sa,,,saya tidak punya apa-apa, Tuan." "Kau punya. Jantung, hati, limpa, dan organ dalam yang lain, itu sangat mahal." Pria itu melepaskan wajah Anisa lalu berdiri. "Ampun, Tuan. Jangan bunuh saya." Anisa berlutut di kaki pria itu memohon ampun untuk tidak dibunuh. "Hahaha, aku suka orang yang memohon. Jika kau tidak ingin aku bunuh, jawab dulu pertanyaan dariku." Anisa menunggu pertanyaan pria itu. "Apa kau masih suci?" tanyanya. "Ma,,,,masih, Tuan." "Hahaha, apa kau yakin?" "Sa,,,,,saya yakin, Tuan." Meskipun merasa aneh, Anisa tetap menjawab pertanyaan pria itu. "Kalau begitu, aku menginginkan kehangatan tubuhmu untuk menjadi pemuas hasratku setiap aku menginginkannya!" Anisa terkejut mendengar ucapan pria itu. Apa yang harus ia pilih, mati di sini atau menjadi wanita penghibur pria itu? "Waktu berpikirmu hanya sepuluh detik. Putuskan atau kau akan melihat pistol ini mengeluarkan peluru yang akan menembus kepalamu!" Pria itu mengarahkan pistol ke kepala Anisa. Anisa semakin bergetar ketakutan. "Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam, lima, empat, tiga,,,,,," "Saya mau, Tuan." Anisa pun terpaksa menjawab bahwa ia bersedia menjadi wanita penghibur pria itu. "Hahaha, kau sangat pintar memilih." "Tetapi saya ingin,,,,," "Aku tidak menerima kata 'tetapi'." Pria itu kembali menodongkan pistol ke kepala Anisa. Membuat gadis itu kembali bergetar ketakutan. "Sa,,,saya ingin dijadikan istri!!" Anisa berteriak sangking takutnya. Pria itu memberikan pistol ke pria di belakangnya. "Kau dengar, Duke! Gadis ini ingin menikah denganku, hahaha." "Saya rasa itu keputusan ya berani, Tuan." "Katakan, apa alasanmu meminta hal gila itu!" Pria yang ternyata Alex Julian berjongkok agar dapat berbicara lebih intim dengan Anisa. "Saya tidak mau terjerat dalam dosa zina, Tuan." "Kau sangat menarik. Bawa dia!" Alex memerintahkan para anak buahnya yang baru datang setelah menangkap hasil buruan untuk membawa Anisa. Anisa hanya pasrah akan dibawa kemana. Jika ia harus pulang, maka ia hanya mengantarkan nyawa saja pada ibunya yang meskipun saat ini masih ia khawatirkan. ***** Anisa sudah tiba di sebuah rumah besar milik Alex. Ia begitu kagum melihat kemewahan yang ada di dalam rumah megah tersebut. Barang-barang super mahal dan mewah, ia tidak mengerti apa sebenarnya pekerjaan Alex. Bahkan ia masih bingung kenapa Alex berada di hutan malam-malam bersama para anak buahnya. "Wenda!!" Alex memanggil kepala pelayannya yang bernama Wenda. Wenda datang dengan segera sebelum waktu sepuluh detik habis. "Iya, Tuan." Wenda membungkuk memberi hormat. "Bersihkan wanita ini dan pakaikan pakaian yang bagus." "Baik, Tuan. Nona, mari ikut saya." Wenda mempersilahkan Anisa untuk ikut dengannya. Namun, matanya melihat jelas luka di area leher dan tangan Anisa. Luka bekas pukulan benda keras. Alex dapat mengerti akan tatapan Wenda pada bagian tubuh Anisa yang memang baru ia sadari saat sudah dalam keadaan terang benderang. "Sebelum itu, suruh Dokter Tracy untuk mengobatinya." "Baik, Tuan." Wenda mengangguk lalu membimbing Anisa ke dalam sebuah ruang perawatan tempat para mantan pacar Alex biasa melakukan perawatan sebelum melayani Alex di atas ranjang. Kini sudah enam bulan sejak Alex putus dengan pacar terakhirnya dan tidak merasakan sentuhan wanita selama itu. Karena jujur saja, Alex adalah pemilih dalam soal wanita. Mantan pacarnya bahkan ada yang model hingga sesama anggota mafia. Sembari menunggu Anisa di bersihkan dan diobati, Alex duduk di sebuah ruangan bersama Duke yang berdiri di sampingnya. "Aku yakin kau ingin menanyakan kenapa aku memilihnya," ucap Alex tanpa menoleh. "Saya tidak berani menanyakan hal semacam itu, Tuan. Jika Tuan menginginkannya, maka dialah orang yang istimewa. Karena biasanya para wanita-wanita itu yang duluan mendekati Tuan. Dan baru pertama kali saya melihat Tuan yang menginginkannya duluan." "Aku menginginkannya karena aku menyukai bentuk tubuhnya yang sempurna. Mungkin jika dia,,,,,," Alex berhenti bicara saat seorang wanita yang sangat cantik turun dari tangga dengan gaun indah yang memang selalu disediakan Alex untuk wanita yang akan melayaninya. Namun kali ini gaunnya tertutup dan agak panjang. Duke yang melihat reaksi Alex hanya bisa berdehem dan membuat Alex tersadar dari lamunannya. 'Bagaimana bisa wanita yang bau, kotor, dan menjijikkan itu menjadi begitu cantik seperti bidadari?' Batin Alex. "Tuan, Maaf saya memberikan gaun yang tertutup karena banyak luka di tubuh Nona Anisa." Wenda menjelaskan. "Pergi!" Alex mengusir Wenda dengan jarinya. Setelah Wenda pergi, Alex mulai menatap Anisa dengan serius. "Jadi kau ingin aku nikahi?" tanya Alex. "Iya, Tuan." Anisa mengangguk. "Aku setuju, tetapi hanya menikah secara agama saja!" "Sa,,,saya tidak masalah, Tuan. Yang penting menikah secara sah." "Lalu, dimana ayahmu? Kau perlu wali nikah, bukan?" "Saya tidak tahu dimana Ayah saya, Tuan. Kami terpisah sejak saya masih bayi." "Apa Ibumu tahu dimana Ayahmu?" "Tidak, Tuan. Beliau juga tidak pernah mengatakan nama ayah saya. Beliau selalu histeris dan pingsan saat saya menanyakan nama ayah saya." Anisa kembali menunduk. Ia masih ingat saat ibunya mengatakan 'Sayang sekali aku tidak tahu keberadaan ayahmu. Jika aku bertemu dengan ayahmu, pasti aku akan membunuhnya'. Dan saat Anisa menanyakan siapa nama ayahnya, ibunya langsung histeris seperti orang gila lalu pingsan. Dan itu selalu terjadi setiap Anisa menanyakan nama ayahnya saat masih berusia belasan tahun. "Kalau begitu, kita menikah dengan wali hakim sebagai wali nikahmu. Besok pagi kita akan menikah. Dan jika kau berani mencoba untuk kabur, maka aku tidak akan segan-segan membunuhmu!" "Besok, Tuan?" Anisa terlihat terkejut mendengar ucapan Alex. "Apa kau keberatan?" Alex menatap tajam. Membuat Anisa semakin ketakutan. "Tidak, Tuan." Anisa langsung cepat menggeleng. "Bagus, karena kalau kau menolak, aku akan langsung menghancurkan kepalamu dengan pistolku." "Tidak, Tuan. Saya bersedia." "Pergi ke kamar. Wenda akan mengantarmu!" Mendengar hal itu, Wenda dengan cepat mengajak Anisa untuk pergi ke kamar barunya. Namun, sebelum Anisa pergi, ia kembali berbalik dan berkata, "Tuan, Ibu saya hidup sendirian. Selain saya, tidak ada yang akan memberinya uang untuk makan. Saya,,,,," "Aku bilang pergi ke kamarmu!" Alex membentak hingga Anisa kembali bergetar ketakutan. Setelah Anisa pergi, "Duke, berikan uang pada ibunya dengan mengatasnamakan pemberian dari orang lain. Berikan dengan jumlah yang banyak dan pastikan dia tidak bertemu dengan gadis itu lagi." "Baik, Tuan." Duke mengangguk dan pergi menuju rumah Sania. Ia menyuruh anak buahnya menyamar sebagai orang yang dermawan. Tentu saja Sania sangat senang. Anisa sudah pergi, dan ia dapat uang yang banyak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD