Pada keesokan harinya, Anisa sedang didandani di kamarnya. Ia tampak cantik dengan setelan kebaya pernikahan yang sangat indah. Namun, pelayan yang mendandaninya merasa kesulitan menutupi sembab di mata Anisa. Sepertinya, malam tadi Anisa terus menangis semalaman memikirkan ibunya yang kini hanya tinggal sebatang kara tanpa uang sepeserpun.
"Bagaimana, apakah sudah siap?" tanya Duke yang baru saja masuk ke dalam kamar tersebut.
"Sudah, Tuan." Wenda menyahut.
"Bawa dia ke lantai bawah." Duke pun keluar setelah mengatakan hal itu.
Wenda dan pelayan lain segera membawa Anisa ke lantai bawah. Tempat Alex dan penghulu serta saksi yang sudah dibayar untuk tutup mulut mengenai masalah ini.
Sesampainya di lantai bawah, Anisa didudukkan di samping Alex.
Akad nikah pun segera dimulai. Dan setelah mengucapkan Ijab Qobul. Kini Anisa dan Alex sudah menikah secara agama saja.
Setelah penghulu diantar pulang dengan secara rahasia dan tersembunyi, Alex pun membawa Anisa ke dalam kamarnya yang sudah dihias sedemikian rupa.
Setelah memasuki kamar, Anisa terlihat sangat gugup dan ketakutan. Bukan hanya karena akan disentuh oleh Alex, juga karena takut ia akan bernasib sama seperti ibunya. Dicampakkan setelah tidak berguna lagi.
Alex menyentuh dagu Anisa dan mendekatkan wajahnya. Anisa yang mengira Alex akan menciumnya, malah memejamkan matanya.
"Apa kau habis menangis malam tadi?"
"Sa,,,saya,,,,"
"Aku sudah mengirimkan banyak uang pada ibumu, jangan pikirkan itu lagi. Sekarang kau harus menuruti setiap perintahku." Alex mendekati Anisa lalu memegang kedua bahunya.
Anisa semakin gugup dengan apa yang dilakukan Alex. Ia kembali menutup matanya.
"Bagaimana dengan luka di tubuhmu?"
"Sebagian belum kering, Tuan."
"Berbalik dan buka bajumu, aku ingin melihatnya."
Anisa merasa Rabu melakukan perintah Alex. Cukup lama ia diam di tempatnya tanpa berbalik seperti yang diperintahkan Alex.
"Aku tidak suka mengulang kata-kataku!"
Mendengar ucapan Alex, Anisa langsung berbalik. Dengan perlahan ia membuka kancing baju kebayanya dan menurunkkanya hingga ke batas pinggang.
Alex melihat begitu banyak bekas luka cambukan di punggung dan beberapa luka di bagian leher yang belum mengering.
'Ibumu tidak berhati, bagaimana kau bisa memikirkannya? Bahkan hewan pun tidak akan menyiksa anaknya seperti ini' Batin Alex.
Selain itu, ia juga melihat keindahan bentuk tubuh Anisa yang memang benar seperti dugaannya. Sangat bagus dan menggoda. Menjadi model pun Anisa pasti pantas.
Baru saja Alex ingin melangkah mendekati Anisa yang masih membelakanginya, ya pun mengurungkan niatnya mengingat luka Anisa yang masih belum mengering.
"Cih, menjijikkan! Berobatlah secara teratur dengan Dokter Tracy dan minumlah obat yang dia berikan! Sebelum semua lukamu sembuh, aku tidak akan menyentuhmu. Tetapi jika kau sengaja membuat lukamu lama sembuh, maka kau akan tahu sendiri akibatnya! Pergi ke kamarmu!" Alex mendorong Anisa menuju pintu.
"Ingat, rawat tubuh dan kulit mu dengan benar. Aku ingin malam yang sempurna. Lakukan perawatan sesering mungkin jika lukamu sudah sembuh."
Setelah mengatakan hal itu, Alex pun menutup pintu kamarnya.
Anisa berjalan masuk ke kamarnya. Hatinya merasa lega karena malam ini ia tak perlu melayani Alex yang menjadi suaminya.
Setelah memasuki kamar, Anisa merebahkan dirinya di atas ranjang. Ia merasa lega juga karena hidup ibunya sudah terjamin. Namun, ada satu hal yang masih membuat Anisa penasaran. Yaitu, siapa sebenarnya Alex.
?????
Keesokan paginya, Alex baru bangun dari tidurnya. Ia langsung membersihkan tubuhnya, mengganti pakaian dengan setelan yang rapi bak seorang direktur. Namun, inilah penampilannya jika ia akan mendatangi targetnya. Mencari titik kelemahan targetnya lalu memerasnya dengan jumlah uang yang tidak sedikit. Selain itu, ia juga merupakan seorang mafia dalam perburuan hewan langka dan dilindungi. Bisnisnya ini ia lakukan sejak usia dua puluh tahun. Dengan kecerdasan otaknya di atas rata-rata, ia berhasil mempelajari banyak ilmu dalam waktu singkat.
Alex turun ke lantai bawah untuk sarapan. Namun, saat baru sampai anak tangga terakhir, ia terkejut melihat Anisa sedang menyajikan makanan di atas meja makan.
Alex buru-buru turun dan menghampirinya.
"Apa kau sudah gila?" Alex menarik Anisa agar menjauh dari meja makan.
"Maaf, Tuan. Saya hanya,,,,,"
"Hei, gadis bodoh, dengar ya. Aku menjadikan dirimu istri bukan untuk memasak dan membuat tubuhmu bau dapur! Apa kau kira aku akan tertarik padamu jika tubuhmu sangat bau?" Alex memelototi Anisa.
"Maaf, Tuan. Saya kira saya boleh,,,,,"
"Boleh apa? Bertindak sesuka hati di rumah ini? Kau kira karena aku menginginkan tubuhmu, aku jatuh cinta padamu? Yang benar saja, aku tidak akan pernah jatuh cinta padamu. Jangan bermimpi terlalu tinggi!"
"Ma,,,,maafkan saya, Tuan. Saya tidak akan mengulanginya lagi" Anisa menundukkan wajahnya. Sungguh pagi ini ia tidak ingin mendengar amarah dari Alex.
"Duke!" Alex memanggil asisten pribadinya tersebut.
"Ya, Tuan." Duke datang dan menunduk memberi hormat.
"Beri pelajaran pada Wenda gara dia tidak sembarangan melakukan hal seperti ini lagi!"
Duke membungkuk lalu mendatangi Wenda yang sedang berdiri dengan wajah pucat.
'Apa yang akan dia lakukan?' Batin Anisa dengan perasaan was was.
"Kau seharusnya tidak melakukan ini. Sayang sekali, pagi ini kau akan menerima cambukan sebanyak lima puluh kali." Duke menghampiri Wenda yang masih berdiri kaku.
Mendengar kata cambukan, Anisa langsung teringat akan apa yang ia alami selama ini. Dicambuk itu rasanya sangat sakit dan perih. Bahkan sakitnya akan terasa sampai berhari-hari.
Anisa berlutut di hadapan Alex dan memohon dengan mengatupkan kedua tangannya.
"Tuan, saya mohon, jangan lakukan itu. Saya yang salah. Wenda sudah melarang saya namun saya tetap bersikeras memasak sarapan untuk Tuan."
"Hukum dia seratus cambukan!" Alex kembali memberi titah kepada Wenda.
"Tidak, saya mohon, Tuan. Jangan hukum dia!" Anisa memegangi kedua kaki Alex dan mendekapnya dengan erat.
"Tambah menjadi seratus lima puluh cambukan!" Alex kembali memberi titah.
"Tidak, jangan! Hukum saya saja. Saya sudah sering menerima cambukan. Saya mohon, Tuan." Anisa semakin terlihat bingung. Seratus lima puluh cambukan? Itu akan membuat Wenda meregang nyawa. Anisa tidak akan sanggup membayangkannya.
Dengan modal nekat, Anisa berlari mengejar Duke lalu menarik tangan Wenda.
"Tuan Duke, saya mohon lepaskan dia. Gantikan posisinya dengan saya saja."
"Tambah menjadi dua ratus cambukan!" Terdengar suara Alex yang semakin mendekat.
"Tidak, jangan. Dia bisa mati."
"Kau akan sering melihat orang mati di sini. Karena itu kau harus terbiasa." Alex tersenyum puas melihat Anisa yang terlihat pucat.
"Kau iblis! Kau bukan manusia! Kau jahat!" Anisa berteriak sambil menangis.
Alex menyuruh Duke berhenti ketika ia akan melayangkan cambukan pertama ke tubuh Wenda dengan isyarat tangan.
"Apa katamu? Iblis? Itu kata-kata yang selalu aku dengar,,,,dari orang yang akan mendekati ajalnya." Alex tersenyum menyeringai.
"Tidak, saya mohon. Jangan,,,,,," Anisa berhenti saat ia baru mengingat sesuatu.
Ia menatap Alex dengan serius lalu berkata, "Tuan, saya tidak akan menyentuh dapur lagi. Saya akan meminum obat saya, melakukan perawatan, dan menyenangkan Tuan setelahnya."
"Lepaskan, Duke!"
Duke melepaskan Wenda.
"Duke, berikan dia daftar peraturan yang harus dipatuhi dan yang tidak boleh dilanggar." Alex meninggalkan mereka dan pergi ke meja makan. Tampak senyum puas menghiasi wajahnya. Ia sangat menyukai pertunjukan yang baru saja ia lihat. Biasanya para kekasihnya akan semakin menikmati jika ada pelayan atau pengawal ceroboh yang diberi hukuman. Namun Anisa berbeda, ia malah ingin mengorbankan dirinya untuk orang yang baru satu hari ia kenal. Sangat menarik.