Duke menuliskan beberapa poin di sebuah kertas. Setelah selesai, Duke menyerahkannya kepada Anisa agar ia membaca dan melakukan sesuai yang ditulis di kertas itu.
Anisa mulai membaca satu persatu poin yang ditulis Duke.
Peraturan yang harus dipatuhi :
*Jangan menyentuh dapur atau tempat yang kotor.
*Selalu terlihat bersih, rapi dan wangi.
*Selalu tersenyum dan menurut (Tuan Alex membenci air mata dan permohonan)
*Tidak membuat Tuan Alex bertanya atau berujar dua kali
*Belajar untuk merayu atau berkata manis
*Jangan berbicara dengan pria lain selain Duke
*Jangan bertanya perihal urusan pribadi Tuan Alex
*Jangan berteriak di depan Tuan Alex
*Jangan menyisakan makanan
*Pakai pakaian yang disukai tuan Alex (tersedia di lemari khusus di dalam ruangan di sebelah kamar Tuan Alex
"Jika melanggar, maka harus siap menerima sanksi yang diberikan.
Anisa menghembuskan nafas panjang setelah membaca isinya. Rasanya semua yang tertulis di atas kertas itu adalah hal yang berat untuk ia lakukan.
"Bagaimana, Nona? Apa anda sudah mengerti?" tanya Duke ingin memastikan.
"Aku mengerti," jawab Anisa.
Seorang pengawal datang menghampiri mereka. "Nona, apakah hari ini jadwal Nona untuk berobat dengan Dokter Tracy?"
Anisa ingin menjawab, namun ia langsung teringat isi peraturan yang baru ia baca. Ia tidak jadi menjawab dan membiarkan Duke yang menjawab.
"Ada, pukul satu nanti. Pergilah." Duke menjawab.
"Kau sengaja ya menyuruhnya datang dan bertanya agar aku terjebak atau sekadar mengetesku?" Anisa memberanikan diri berkata kepada Duke. Jika dilihat, Duke bukanlah orang yang akan melukai atau memarahinya seperti Alex.
"Anda pintar sekali, Nona. Sekarang sebaiknya anda pergi ke ruang makan dan temani Tuan Alex makan," ujar Duke.
"Baik." Anisa pergi ke ruang makan. Menemui Alex yang sedang menyantap makanannya.
Ia duduk di samping Alex lalu mengambil nasi dan lauk pauk. Ia makan dengan lahap karena memang sejak datang kesini, ia disuguhi makanan yang tak pernah ia makan dan mungkin hanya bisa ia lihat dari gambar pamflet di depan restoran atau cafe.
"Apa begini caramu makan? Membuatku jadi tidak selera makan."
Ucapan Alex sontak membuat Anisa mengunyah dengan pelan dan hati-hati.
"Lihatlah porsi makananmu. Kau ini lapar atau rakus?"
"Maaf, Tuan. Saya tidak akan makan dengan porsi ini lagi. Saya hanya tidak pernah makan makanan seenak ini." Anisa menunduk sedih.
"Ingat ya, jangan sampai berat badanmu naik. Jika sampai berat badanmu naik meskipun hanya satu ons, kau akan tahu akibatnya." Alex menatap tajam ke arah Anisa.
"Baik, Tuan." Anisa mengangguk.
"Habiskan itu. Aku tidak suka dengan orang yang menyisakan makanan meski hanya sebutir nasi." Alex kembali mengingatkan.
Ia pun pergi setelah menghabiskan makanannya. Meninggalkan Anisa yang masih makan dengan pelan. Namun setelah Alex pergi, ia kembali makan dengan lahap.
Alex duduk di sebuah sofa sambil membaca koran.
Seorang pengusaha kaya terbebas dari jeratan hukum karena tidak terbukti melakukan tindak korupsi.
"Duke, sepertinya kita punya mangsa baru. Aku akan mengungkap tindak korupsinya lalu memerasnya sampai kering." Alex mengembangkan senyuman liciknya.
"Saya yakin anda akan dengan cepat mengungkapnya."
"Kalau begitu kita akan selidiki kasusnya setelah menyelesaikan misi hari ini. Aku akan meretas sistem keamanan di perusahaannya dan mencari letak kesalahannya."
"Baik, Tuan."
"Ayo kita pergi. Derry akan sangat senang melihat kedatangan kita."
"Biak, Tuan."
Mereka pun pergi dengan mobil mewah milik Alex. Memang biasanya, ia akan datang ke perusahaan dengan setelan seperti seorang bos besar. Tentu dengan wajah tampan dan penampilan rapinya, orang tidak akan menduga bahwa ia adalah seorang bos mafia yang kejam.
****
Alex dan Duke berjalan dengan tenang diantara belasan pasang mata yang memperhatikan mereka. Ada yang berbisik karena kagum, menerka-nerka bahwa itu klien dari luar negeri, bahkan ada yang beranggapan mereka adalah direktur baru di perusahaan tersebut. Alex dan Duke berjalan menuju sebuah ruangan yang merupakan ruangan petinggi perusahaan tersebut. Melewati tempat sekretaris yang bahkan tak berani menghadang mereka.
Saat sudah berada di depan ruangan yang mereka tuju, dua orang penjaga ruangan itu sempat menyetop mereka dan melempar beberapa pertanyaan.
"Maaf, Tuan. Apakah anda sudah membuat janji dengan Tuan Derry?"
"Katakan padanya. Alex Julian ingin bertemu," sahut Duke.
"Maaf, Tuan. Saya akan beri tahu Tuan Derry terlebih dahulu." Salah seorang penjaga masuk ke dalam ruangan tersebut.
Tak berselang lama, ia keluar dan mempersilakan Alex dan Duke masuk. Wajahnya tampak sangat keheranan melihat ekspresi yang diberikan bosnya saat ia mengatakan bahwa Alex Julian ingin bertemu.
Alex dan Duke telah memasuki ruangan tersebut. Tampak seorang pengusaha muda yang masih terlihat gagah tengah tertunduk dengan tangan gemetaran.
Alex langsung mendudukkan dirinya di depan meja kerja Derry. Ia tersenyum melihat ekspresi Derry yang sering sekali ia lihat saat sedang menjalankan pekerjaan sampingan seperti ini.
Alex berdiri lalu berjalan menghampiri Derry yang masih tertunduk gemetar di kursi kebesarannya. Alex memijat bahu Derry yang semakin terlihat gemetaran.
"Santailah, Tuan Derry. Aku kesini bukan untuk mencabut nyawamu. Kenapa harus takut?"
"Tuan, Alex. Apa yang bisa saya lakukan untuk Tuan." Derry akhirnya membuka suara.
"Hahaha, ternyata kau sudah tahu perihal kesalahanmu, ya. Atau kau sudah hafal dari para rekan bisnismu tentang apa yang terjadi jika aku datang? Pintar sekali." Alex menepuk punggung Derry yang membuat jantungnya hampir copot.
"Saya tahu pasti anda sudah mengetahui sesuatu tentang saya."
"Duke." Alex memberi isyarat pada Duke.
Duke memberikan dua buah amplop berwarna cokelat. Yang satu menggembung, dan yang satunya sangat tipis.
"Pilih diantara dua amplop itu. Amplop yang menggembung berisi pistol dan racun. Dan amplop yang kedua berisi laporan semua tindak suapmu dan penggelapan dana di perusahaan ini serta jumlah nominal yang harus kau bayar. Belilah salah satu amplop tersebut. Yang berisi pistol dan racun kau beli dengan nyawanya, dan yang satunya kau bayar dengan jumlah uang yang tertera di dalamnya. Buatlah pilihan yang tepat. Jika aku jadi kau, aku akan memilih pistol dan racun saja." Alex berbicara setengah berbisik di kalimat terakhirnya.
Dengan tangan gemetar, Derry membuka sebuah amplop yang tipis. Ia membaca semua laporan tentang tindak kecurangannya selama ini. Ia juga terkejut saat melihat sebuah foto berisi dirinya bersama selingkuhannya yang ia ingat itu beberapa tahun yang lalu. Ternyata orang dihadapannya ini sangat jeli dan hati-hati. Bahkan tidak ada satu kecurangan pun yang tidak ditunjukkan oleh Alex.
Derry lanjut membuka kertas berisi nominal yang diminta Alex. Seketika matanya membeliak saat melihat nominal yang diminta Alex. Nominal itu sama dengan jumlah uang yang selama ini hasilkan dari tindak kecurangannya. Derry benar-benar tidak menyangka bahwa Alex pun tahu berapa jumlah uang yang selama ini ia makan.
"Kau hanya punya waktu sepuluh derik."
Duke mulai menghitung. "Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delap,,,,,, "
"Saya akan membayarnya, Tuan." Derry menjawabnya dengan lantang.
"Hahaha, jawaban yang selalu aku dengar. Siapkan uangnya sekarang!" Alex menggebrak meja dan menatap Derry dengan tajam. Di tangannya, sudah ada secarik kertas bertuliskan nomor rekeningnya.
Derry langsung terkesiap dan mengambil ponselnya. Mengetikkan jumlah uang di ponselnya lalu mentransfer nya segera.
Alex membuka ponselnya saat merasakan getaran singkat. Ia tersenyum puas saat melihat pesan yang berisi transferan uang dari Derry.
"Bagus. Kau sangat pintar." Alex menepuk punggung Derry.
Duke mengambil kembali amplop yang berisi pistol dan racun.
Dengan langkah yang begitu tenang dan santai, Alex dan Duke pun kembali melewati belasan pasang mata tadi. Mereka menuju keluar perusahaan itu dengan perasaan senang, habis mendapat uang dengan jumlah yang fantastis. Dan malam ini, mereka akan melakukan misi selanjutnya. Menyelidiki target berikutnya dan menguras habis isi rekeningnya.