Beberapa hari telah berlalu. Seusai Makan, Alex pergi ke kamar Anisa untuk memberinya hukuman. Pintu terbuka, membuat Anisa merasa gugup sekaligus takut. Bagaimana tidak, sejak siang tadi ia menjalani perawatan di ruang spa pribadi di rumah Alex. Setelahnya ia dipakaikan gaun seksi dan didandani sangat cantik hingga membuat Alex langsung terpana saat melihatnya. "Apa kau sudah siap menerima hukuman dariku?" Alex menaikkan alisnya dan tersenyum menyeringai. "Hukuman atau kewajiban sebagai istri, Tuan?" Anisa masih menundukkan kepalanya. Sungguh, suara Alex selalu mampu menggetarkan seluruh tubuhnya. "Pertama kewajiban sebagai istri, dan yang kedua hukumanmu karena menyebutku penjahat rendahan." "Sa-saya akan menerimanya, Tuan." "Bagus, karena begitu aku mendapatkanmu, kau akan menjala

