Seolah ada yang bergelantung di mata, Rilly tak dapat membukanya secara benar. Dengan mata sipit dia merengek menjawab seruan Mamanya yang menyuruhnya bangun untuk melakukan Sahur. Dasar memang Rilly yang tergila-gila dengan novel, dia baru mulai tidur sekitar jam satu malam setelah menangis sesenggukan terbawa perasaan oleh novel yang dibacanya, jam tiga sudah dibangunkan lagi. Jelas mengantuk lah.
Untungnya, kuliah masih libur. Rilly akan memanfaatkan hari liburnya dengan tidur, tidur dan tidur. Nafsunya berkata demikian.
"Woy, Dek! Elah nih gadis unfaedah banget tidur nggak pake baju woy! Mama! Si Rilly tidur pake k****t sama kutang doang!" Fahri berteriak sesantai mungkin, seolah benda yang barusan dia sebutkan itu bukanlah benda rahasia.
"Ihhh Abang! Ngapain di sini?! Rilly nggak pake baju! Keluaaaaaaar!" jerit Rilly membuat Fahri mengalah. Rilly kembali menjatuhkan tubuhnya untuk terlelap lagi.
"Rillyyyy!!! Bangun woy! Mana mau si Ali sama lo, kalau kelakuan lo kayak gini. Hoy! Bangun, sahur!" Fahri sibuk menggedor-gedor pintu kamar Rilly dengan semangatnya. Mengganggu adiknya adalah hal yang menyenangkan bagi seorang kakak.
"Rilly, ada 'A Ali nih di bawah!"
Mata Rilly sontak terbuka ketika Mamanya berseru demikian.
.
.
.
Mulut Rilly masih mengerucut tanda cemberut perihal kebohongan Mamanya yang berkata jika Ali datang tadi pagi. Dia kesal ternyata dia hanya dikadali saja. Tak ada Ali sama sekali, bahkan sehelai bulu matanya pun tak ia temukan.
Rilly mendengus mengingatnya.Apalagi aksinya meng-skak-matt Mamanya malah berbalik bagai bumerang.
"Ma... Kenapa Mama bohong sama Rilly?! Bohong itu kan dosa. Ugh!"
"Bohong buat kebaikan biar kamu bangun dan sahur itu nggak jadi masalah. Wleee..."
M E N Y E B A L K A N ! ! !
"Masih manyun aja nih mulut," ujar Fahri baru saja mendudukan dirinya di samping Rilly yang sedang menonton kartun bocah kembar asal Malaysia. Rilly memberengut ketika Abangnya meraup bibirnya dengan gemas.
"Diem deh lo! Bete gue!"
"Uuuuu Adek ciapa cih ini.... Lutunyaaaa....," bujuk Fahri sambil menguyel-uyel pipi gembil Rilly yang menggemaskan. "Udah dong ngambeknya, Adekku sayang. Makanya, kalau dibangunin itu jangan susah. Kalau udah bangun, terusin bangun, jangan tidur lagi. Dikerjain kan jadinya? Dan satu lagi, kalau tidur pake baju. Jangan daleman doang."
"Semalem gerah, Bang," sahut Rilly.
"Abis baca novel bok*p ya?" Rilly terkesiap, matanya melotot total. "Apa? Mau ngeles?" lanjut Fahri dengan wajah menantangnya.
"Kok Abang tahu?"
DUAR!
"Ajaib anjir punya Adek macam gini. Di mana-mana kalau ketahuan itu nggak ngaku, ini malah ngaku. Jangan baca novel adult terus, Dek. Mending novelnya pinjemin sama gue."
"b**o! Sama aja lo, Bang! Berisik ah, makin bete gue," kata Rilly masih dengan aksi cemberutnya.
"Udah dong jangan cemberut gitu, Sayang. Pokoknya ini peringatan terakhir dari Abang buat Adek. Jangan tidur tanpa baju. Setidaknya pake tank top dan legging lah. Masih syukur Abang yang liat, nah kalau Papa? Emang nggak malu?"
Sama lo aja gue malu, Bang.
Rilly menunduk dalam sampai terasa dagunya telah menyentuh d**a. Gelenyar panas menyergapi wajahnya, dia yakin wajahnya sudah memerah sekarang. Bahkan sampai telinga. Bagaimanapun dia dan Fahri ini adalah orang dewasa walaupun Adek Kakak. Rilly merasa malu saja kepergok tak memakai baju oleh Abangnya yang umurnya lebih tiga tahun di atasnya.
"Abang nggak ke mana-mana nih weekend gini? Kalau mau main Rilly ikut ya, Bang. Please..."
"Enak aja! Gue mau jalan lah sama cewek gue. Lo makanya cari pacar sono, Dek. Tapi jangan yang macem si Choki. Beda agama gitu berabe urusannya."
Anying! Secara nggak langsung nih orang ngeledekin gue jomblo. Wah hati seorang jomblo macem gue yang lagi sensitif macem test pack merasa tersentil nih. Untung Abang gue, kalau bukan udah gue lelepin ke kolam piranha.
Rilly bangkit dari duduknya mengundang tanya dari mulut Fahri.
"Mau kemana lo, Dek?"
"MAU MANDI TERUS CARI PACAR BARU DI PASAR BARU. KALI AJA ADA OBRALAN!"
Tawa Fahripun tak dapan ia tahan lagi. Dia tertawa terpingkal-pingkal sembari memegangi perutnya yang sedikit lagi mungkin akan kram.
.
.
.
.
Kungkuruyuk Lovers (5)
Rillyaaa : Guys, eteb nih. Main kuy.
SumoooAlwns : Gue masih tidur, gue masih tidur!!!
MelatiSemuanyaIndah : Anjir b**o ya kamoooh @SumoooAlwns suka pengin umpanin ke Om Om yang lagi nahan birahi.
SumoooAlwns : Jahad yach kamooh! Bukan temen akoooh!?
Rillyaaa : Woy! Gue nanya ini!
MelatiSemuanyaIndah : Bukannya kembaran Meghan Trainor ini nolak ajakan lo ya, Rill. Masalahnya gue --Gigi Hadid-- mau jalan sama Farel. Jalan sama Farel lebih nguntungin daripada jalan sama elo, Rill. Masalahnya Melati yang cantiknya melebihi mimiperi ini lebih rela kehilangan temen dibanding puing-puing pulus.
Rillyaaa : Anying! Awas ya Mel! Aing bilangin Farel kemaren lo godain Mas-mas Indomaret!
MelatiSemuanyaIndah : Wah anying! Lo aduan sangat, Rill!!!
Rillyaaa : Tatan?
Taniaptr : Orang cantik merasa terpanggeeeel! Gue lagi boker nih, Rill. Susah. Bantuin ngeden dong!
Rillyaaa : Lo mau mati duluan baru gue bantuin! b**o semua ah punya temen!
MouraNA : OTW Rill!
Rillyaaa : ELO LAGI ELO LAGI!
MouraNA : Potek hati Aing, Rill. Harusnya situ bersyukur punya sobat plus sepupu yang clalu ada untuk kamoooh!
"Rilly, ada temennya nih di bawah," seru Mamanya dari lantai dasar. Lah? Siapa? Hanya Moura yang bilang akan ke rumah, tapi masa secepat itu. Lagian kalau Moura, biasanya main nyelonong tanpa basa-basi ketuk pintu. Bacod kan kalau ketuk pintu dulu? Kayak yang punya adab aja tuh anak!
"Iya, Ma!" Rilly membuka handuk yang menggelung rambutnya yang basah. Mengeringkannya sebentar dan menyisirnya rapi. Dia kini memakai jeans panjang dan blouse warna maroon.
Sroot!!! Srooot!!! Rilly memakai parfumnya dengan semangat. Baginya parfum adalah segalanya. Dia memyemprotkan parfumnya ke bagian tubuh yang harus selalu wangi. Dan menurut Rilly seluruh tubuhnya harus terus wangi. Maka tak ayal, dalam waktu tiga minggu botol parfumnya sudah kosong lagi.
Dengan langkah santai, Rilly berjalan menyusuri per anak tangga. Sampai pada anak tangga yang ke-sekian, Rilly terhenti. Menatap lekat pria yang duduk tepat di hadapan Mamanya.
"Tuh Rillynya. Rill, Ini teman kamu katanya mau tanya tentang tugas kampus." Mata mereka kini bertemu. Hantaman rindu memenuhi d**a. Rilly menggelengkan kepalanya mengusir segala hal yang mengganggu pikirannya. "Kalau gitu Mama ke luar ya, udah di tunggu Papa di luar. Jaga rumah ya, Dek!" Mama dan Papanya memang tak tahu menahu perihal hubungannya bersama Choki. Yang tahu hanyalah Fahri seorang.
Fokus, Rill ... Fokus!
"Hei," sapa Pria itu memecahkan keheningan.
"Choki?" Yap! Pria itu Choki. Si masalalu yang membuatnya merasakan nyaman dan jatuh cinta untuk pertama kalinya. Walaupun dari SMP mantannya sudah berserakan di mana-mana, tapi itu semata-mata jadi mainan tersendiri untuk Rilly. Sampai pada saat tahun pertama kuliah dia bertemu Choki, baru ia bisa serius menjalin hubungan lebih dari sebulan. Lebih tepatnya dua tahun lamanya.
Usaha melupakan Choki yang ia bangga-banggakan berhasil pada Melati ternyata itu cuma di mulut saja. Nyatanya, rasa lupa itu sirna dalam sekejap hanya dengan melihat mata cokelat madu itu lagi.
Rilly rasanya ingin berteriak untuk berhenti mengkomandoi hatinya bergetar kala Choki bersamanya. Ia kira ia benar-benar sudah total move on, ternyata zonk! Ia kira selama sebulan ini dia bahkan tak pernah lagi mengingat Choki, perasaan ini akan hilang dengan sendirinya. Semua usahanya rusak hanya dengan tatapan mata. Ke mana Rilly yang kemarin berteriak pada Melati bahwa dia sudah move on pada cowok badboy dan playboy itu? Ya! Perihal badboy, Choki memang begitu. Namun playboy, itu hanya akal-akalan Rilly saja untuk menutupi kemunafikannya. Justru kesetian Chokilah yang membuatnya sayang.
Namun apa daya sekarang? Rilly sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mencoba melupakan Choki sekuat tenaga. Bagaimapun caranya. Semenjak sebulan yang lalu, tepat saat mendatangi acara pernikahan Choki dan Laras, Istrinya, yang sekeyakinan dengannya. Acara sakral bernamakan pernikahan yang berujung dengan ucapan Puji Tuhan. Beda dengannya, yang nanti akan berujung dengan ucapan alhamdulillah.
"Sini dong!" Rilly melangkah pelan, menduduki sofa di seberang Choki. Mata mereka masih bersirobok dalam satu titik, sekali bertemu, maka susah untuk dialihkan.
"Apakabar?"
"Alhamdulillah baik. Lo sendiri?" Rilly mencoba bersikap biasa saja.
Lo harus bisa, Rill. Stop! Kondisikan perasaan lo! Teruskan usaha move on lo yang kemarin. Jangan sampai rusak setelah susah-susah menata hati.
"Puji tuhan, aku juga baik."
See... Gue sama dia berbeda keyakinan. Gue dan dia nggak ditakdirkan. Benteng di antara kita terlalu tinggi untuk dipanjat bersama. Sadar, Rill. Udah cukup sampai sini. Nggak perlu lagi mengharapkan hubungan yang elo tahu ujungnya bakalan kayak apa.
"Rill, jujur, apa sih yang kamu lakuin selama dua tahun belakangan ini sama aku, sampai-sampai aku susah lupa sama kamu? Apa sih yang udah bikin bayangan kamu selalu hantuin aku di sela-sela pejaman mata saat tidur? Lupain kamu berat banget. Aku harus gimana?" Blurb dari Choki cukup membuat Rilly paham kemana pembahasan ini mengarah. Tentunya ujung-ujungnya akan pada titik akhir.
"A__."
"Gue mohon ini yang terakhir kali lo temuin Adek gue!" Keduanya terperangah mendengar seruan Fahri yang ntah dari kapan sudah berdiri tak jauh dari jangkauan mereka tanpa mereka sadari.
Fahri mendekat dan duduk di sebelah Rilly yang menggigit bibirnya gugup. Sedangkan Choki sendiri menunduk menerima tatapan intimidasi yang Fahri berikan.
"Begini, Choki. Gue ngerti banget gimana susahnya move on dari orang yang jadi prioritas kita bertahun-tahun lamanya. Gue ngalamin, Chok. Bahkan gue lebih lama daripada hubungan kalian bedua. Lima tahun cuy! Sampai sekarang gue juga nggak bisa lupa sepenuhnya, padahal udah terhitung satu tahun nggak ketemu. Gue ngerti, gue ngerti banget. Tapi balik lagi sama keadaan lo sekarang. Sekarang ada hati yang mesti lo jaga. Ada wanita yang mesti lo prioritaskan karena janji lo dengan Tuhan. Dan wanita itu bukan Rilly. Ayolah, Bro!
"Gimana perasaan Istri lo ketika suaminya bahkan masih tenggelam dalam bayang-bayang mantan? Sakit pasti. Bukan sakit lagi, tapi dia merasa hina. Dia bakalan merasa nggak layak dicintai, gue tahu lo nggak sejahat itu. Gue cukup kenal lo, Chok. Dua tahun lo jadi pacar Rilly itu artinya lo juga gue anggap adik ipar gue selama itu. Gue nyuruh lo jauhin Rilly bukan semata-mata kita putus tali silaturahmi. Lo boleh dateng lagi kalau lo udah-- minimalnya 99.9% lupa akan semua tentang Rilly, tentang perasaan lo sama Adek gue, dan sampai lo bisa yakin kalau cinta lo yang sebenarnya itu ada di Istri lo.
"Percaya sama gue, Bro! Lo cinta sama Istri lo. Cuma butuh waktu biar lo sadar aja kalau perasaan itu udah datang. Sadar! Ini udah sebulan semenjak lo nikah. Lo nggak boleh egois terus ada dalam satu titik, sedangkan Istri lo memohon dan menunggu lo buat melangkah ke arahnya. Buka hati lo! Obat masalalu yang sulit untuk diperjuangkan adalah mencoba mencari cinta yang baru. Hidup terus maju. Ibarat lo gagal SBMPTN, lo pasti langsung ikut test mandiri buat bisa masuk ke ptn yang lo mau. Begitupun hidup.
"Jalan lo sama Rilly udah lain. Lo punya jalan sendiri bersama Istri lo, dan Rillypun sudah punya jalannya." Mata Rilly membulat bagai bakso ikan mendengar perkataan Fahri. Apa-apaan Abangnya ini?
"Bang__."
"Gue nggak nyuruh lo ngomong, Dek. Gue nggak izinin lo ngomong barang sekatapun!"
"Praktiknya susah, Bang."
"Lo pasti bisa, Choki. Jalan satu-satunya ya lo ikhlasin. Terima takdir yang Tuhan gariskan buat lo. Tuhan nggak akan semata-mata menakdirkan sesuatu kalau itu bukan yang terbaik."
"Oke kalau begitu. Doain gue semoga gue bisa. Makasih, Bang, udah ingetin. Satu yang gue mau, kasih tahu yang mana cowok itu?" Rilly menoleh cepat ke arah Choki. Ada sirat luka yang ia dapatkan di sana.
"Assalamu'alaikum."
"Itu dia cowoknya Rilly dateng."
"Hah?" Rilly bingung sendiri jadinya. Sebenarnya ada apa ini? Matanya semakin melotot kala dia tahu yang dimaksud Abangnya ini adalah ... Ali?
"Wets, Broh! Ada apa nih nyuruh ke sini?" Ali sendiri sebenarnya tak tahu tujuan Fahri apa mengundangnya ke rumah sekarang juga. Sebagai teman masa kecil yang baik, Ali mau saja menerima ajakan Fahri itu.
Choki tersenyum miris dan bangkit dari duduknya. Diikuti oleh Rilly yang masih tak mengerti dengan semuanya.
"Kenalin, Chok. Dia Ali, calon suaminya Rilly." Jelas perkataan Fahri membuat Ali terperangah. Namun melihat kedipan tegas Fahri dia paham betul apa yang harus ia lakukan.
"Ali, calon suami Rilly."
"Gue Choki. Gue harap lo bisa jaga dia baik-baik ya. Jangan sakitin dia, buat dia bahagia terus."
"O pasti ya, Li?" Lagi-lagi Fahri yang menyahut.
"I i iya ... In Sya Allah, tanpa lo suruhpun gue akan bahagiain Rilly. Pantang buat gue bikin dia nangis, kecuali tangisan kebahagiaan. Pegang kata-kata gue!"
Tanpa mereka sadari, tubuh mungil Rilly perlahan mundur dengan air mata yang tak bisa ia tahan-tahan lagi. Dadanya sesak. Ia merasa dimainkan. Ia merasa dijadikan boneka percobaan untuk keasyikan drama mereka.