Mengenal Duniamu

2238 Words
Sore menjelang gelap menyapa, Rilly dengan susah payah membuka matanya yang sembab akibat menangis berjam-jam dari pagi sampai siang. Hatinya mencelos mengingat kejadian tadi pagi. Bagaimana Abangnya sendiri membuat drama seolah Rilly ini tak apa-apa dengan semua skenario yang Abangnya buat. Jahat! Rilly memegang kepalanya yang migrain, bangkit dari tidurnya hendak ke dapur mengambil obat migrain yang ada dalam kotak P3K. Ceklek! Baru saja pintu terbuka, sebuah pelukan ia rasakan. Rupanya Fahri sedari tadi menunggu Rilly di depan pintu kamar gadis itu. Pelukan yang Fahri berikan menyulut tangis Rilly lagi. Dengan erat ia peluk Adik tersayangnya ini, tak peduli pada Rilly yang berontak minta dilepaskan. "Lepasin gue!" geram Rilly. "Maafin Abang, Dek. Abang bukannya mau mainin Adek sama seperti yang Adek bilang tadi sebelum masuk kamar, Abang lakuin ini buat kebaikan kalian. Kalian harus kelar. Kelar sekelar-kelarnya. Benteng kalian tuh terlalu tinggi, susah dapet restu. Lagipula sekarang Choki udah punya Istri. Gue terpaksa ngelakuin hal tadi biar dia bisa menerima dan mundur setelah gue gertak. Gue juga terpaksa ngelakuin hal tadi supaya dia nggak ganggu Adek lagi yang berusaha nata hati sekarang. Kalau lo nggak sampai hati ngusir secara gamblang Choki dari hidup lo, gue sebagai Abang yang baik mau nggak mau ikut andil buat hentiin hubungan kalian yang ujungnya pasti ada di titik bertemu, bukan bersatu." "Euuumm!" Rilly mengepalkan tangannya dan memukul punggung Abangnya berkali-kali. "Hey hey dengerin Abang!" Fahri memberi jarak agar bisa menatap wajah Rilly yang basah tanpa melepaskan kekangan tangannya di pinggang Adiknya, sesekali ia mengusap mata Rilly yang basah, menghalau air mata yang akan keluar lagi melalu sudut matanya. "Sayang, Abang sayang samu kamu. Abang nggak mau kamu pura-pura bahagia lagi. Kamu bisa aja pura-pura bahagia di depan teman-teman kamu sambil teriak pake toa gue udah move on gue udah move on, tapi jangan harap kamu bisa begoin Abang juga. Abang tahu saat kamu nangis sendiri di kamar, Abang juga tahu saat kamu ngelamun sendiri sehabis stalker instagramnya. Cari cinta yang lain ya! Kamu itu cantik. Adik Abang yang paaaaaaling cantik seantero alam semesta beserta isinya. Banyak yang mau sama kamu." "Hiks." Rilly kembali menenggelamkan wajahnya pada d**a Fahri yang hangat. "Rilly sayang Abang." "Abang lebih sayang kamu. Sekarang maafin Abang ya?" "Smartphone keluaran terbaru, baru dimaafin." Fahri tersentak namun sedetik kemudian tawa kecil terdengar. Ia tahu, Rilly hanya bercanda. "Pengin Martabak buat buka, Bang!" "Boleh. Abang beliin ya. Sekarang kamu tunggu di sini, Abang bawain obat ya bentar lagi kan buka puasa, pasti migrain kamu kambuh lagi abis nangis lama." Fahri menuntun Rilly menuju Sofa Bed yang tak jauh letaknya, membantu Adiknya itu untuk duduk dalam posisi setengah berbaring. "Eh mau buka aja nggak? Masih kuat nggak?" "Kuat lah. Tinggal 30 menitan lagi kan? Tapi kan Rilly nangis terus, Bang." "Nggak papa kalau kuat lanjutin aja. Masalah nangis, kalau kamu yakinnya puasa kamu nggak sah karena nangis, ya kamu qadain aja." Rilly mengangguk patuh. "Mau yang topping__." "Coklat, kacang, keju, dan pisang! Udah hafal. Tunggu di sini ya." Fahri meninggalkan Rilly sendiri setelah sebelumnya gadis itu mengecup pipinya pelan. Rilly tak pernah kekurangan kasih sayang dari Abangnya. Sedari kecil Abangnya ini selalu memperlakukannya layaknya ratu. Dia selalu mengalah asal Rilly bahagia. Tentunya kebahagiaan Rilly dan Mamanya adalah prioritas dalam hidup Fahri. Sepeninggalan Fahri, Rilly kembali terdiam. Kembali mengingat apa yang Abangnya ucapkan pada Choki tadi. Kalimat yang terkesan biasa saja tapi berhasil menohok hati sampai perih rasanya. "Assalamu'alaikum." "Wa'alaikum salam. Lho? 'A Ali? Kok masih di sini?" sergah Rilly bernadakan keheranan. "Nggak tenang lihat kamu nangis. Karena bagaimanapun aku terlibat masalah tadi. Maaf ya, kalau aku lancang." "Ah nggak kok, 'A. Justru Rilly mau bilang makasih sama Aa, sekalian minta maaf karena udah libatin Aa dalam kisah hidup Rilly." "No prob." "Ihh malu, jadi ketahuan kan manjanya aku sama Bang Fahri," ujar Rilly seraya menutup wajahnya dengan bantal sofa. Melihat hal itu Ali menggeleng-gelengkan kepalanya menahan gemas. "Nggak papa. Manjanya kamu lucu. Bikin gemes." "Ihh Rilly juga gemes sama Aa. Suka pengin cubit pipinya, tapi bukan muhrim." Tawa kecil Ali meluncur ke permukaan karena Rilly mengucapkan kalimatnya barusan dengan nada sindiran. "Mantan kamu yang tadi?" Rilly mengangguk lemas. "Kenapa bisa putus?" "Kita beda keyakinan, 'A." "Jujur, aku dukung kalau hubungan kalian berakhir. Karena dalam hukum Sara' Islam nggak ada istilah pacaran. Yang ada hanya ta'aruf. Itupun dibatasi pertemuannya, nggak boleh terlalu sering dan nggak boleh berduaan." Penjelasan Ali membuat Prilly mengerucutkan mulutnya. "Yah, nggak bisa pacarin Aa dong?" kata Rilly dengan nada kecewanya. Ali terkekeh pelan dan berkata, "Boleh. Tapi harus mau diajakin nikah dulu. Pacaran setelah menikah lebih nikmat." "Ihhh apa sih Aa nih. Nikah mulu bahasannya." "Lah kenapa?" "Jangan bercanda masalah pernikahan, 'A. Aku orangnya baperan. Lihat kucing hamil aja aku nangis, hiks." Ali tergelak ulah ucapan Rilly yang menurutnya lucu. "Siapa yang bercanda. Kalau aku ajakin beneran, kamu emang mau?" Rilly menegakkan tubuhnya karena kaget. Tatapan mereka bertemu tanpa ada yang mau mengalihkan. "Ekhem! Jangan berdua-duaan. Ntar yang ketiganya setan!" Rilly dan Ali menoleh ke ujung tangga sana. Di sana ada ketiga sahabat Rilly datang berbondong-bondong dengan gaya slengean dan serampangannya. Ada Alwanis atau anak-anak memanggilnya Sumo ntah karena apa? Padahal badannya tak gendut sama sekali, ada Moura Nur Andini --sepupu sekaligus sobat Rilly yang kadang begonya kebangetan kalau sudah kambuh, dan juga Tania Putri yang kerap dipanggil Tatan, karena menurut Rilly dan Alwa wajah Tania ini mirip dengan p****t si bayi Tatan yang punya pipi bulat itu lho, pemilik jargo ayaflu itu lho. Ucapan dari salah satu sahabat Rilly barusan menyadarkan Ali akan sikapnya yang salah. Dia berbicara seolah-olah menjadi orang yang paling suci pada Rilly tentang bahas hukumnya berduaan. Namun dirinya malah mempraktikan hal yang berkebalikan, bahkan tanpa membatasi aksi bertatapan. Memalukan bukan? Mendakwahi orang, namun diri sendiri masih belum bisa mencontohinya. Sebetulnya bagi Ali, dia tak sesuci yang kita lihat, tak sealim yang kita kenal. Namun baginya apa yang salah jika mencoba memperbaiki diri agar lebik baik lagi? Ali ini pria yang dulu berlaku sewajarnya, menyeimbangkan antara urusan akhirat dan urusan dunianya. Termasuk masalah cinta dan wanita. Tidak munafik, dulu, sewaktu kuliah di UIN dia dekat dengan seorang wanita. Wanita itu adalah cinta pertama Ali, satu-satunya wanita yang Ali ajak berkomitmen. Wajahnya yang cantik dan juga otaknya yang amat cerdas membuat Ali terkagum. Sangat disayangkan hubungan mereka harus selesai karena wanita itu menerima beasiswa kuliah di Yaman. Mereka tak punya jalan lain selain mengakhiri komitmen yang berjalan, karena keduanya tak mau berhubungan jarak jauh yang bahkan belum tahu mau dibawa ke mana ujungnya. Awal yang baik seharusnya diakhir dengan baik pula. Jika kebanyakan pasangan setelah berakhir menjadi musuh, lain lagi dengan Ali dan wanitanya dulu. Di hari mereka mengakhiri komitmen saja mereka saling mendoakan untuk kesuksesan di masa depan satu sama lain. Takjub bukan dengan pasangan ini? Sayang sekali semua sudah berbeda. Sama dengan Rilly, Alipun ditinggal nikah. Wanita yang satu-satunya membuat Ali merasakan jatuh cinta itu memutuskan untuk mengabdikan diri sebagai Istri pada Suaminya yang berprofesi sebagai seorang Tabib (Dokter) di Yaman sana. Tak ada sedikitpun rasa iri atau dendam dan sebangsanya-- menyergap hati Ali, yang ada hanya panjatan doa baik untuk bahtera rumah tangga wanita itu. Mudah sekali untuk Ali move on, kunci utamanya adalah ... IKHLAS. "Hallo, Aa ganteng," sapa Alwanis yang mempunyai nama pendek Alwa. Jika ingin lebih akrab, panggilah dia Sumo seperti yang sahabat-sahabatnya lakukan. "Salam b**o!" rutuk Rilly mengingatkan. "Ehiya lupa. Assalamu'alaikum, 'A Ali, putranya Ustadz Subhan yang kata Rilly bibirnya cipok-able dan ternyata emang bener," kata Alwa gamblang. Moura, Tania, dan Rilly menepuk kening mereka bersamaan. Ckckck, Alwanis dan kefrontalan mulutnya. Ali awalnya terkesiap namun tawanya tak bisa disembunyikan setelah itu. Dia menatap Rilly yang kini menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Malu-maluin anjir punya teman!" "b**o, Rill. Teman macam gini harusnya diasingkan dari dunia ini." "A en je a ye, sakit hati barbie," ucap Alwa menanggapi guyonan mereka. "Kenalan dulu dong, 'A Ali. Gue Tania, panggil aja Tatan kalau kata anak-anak," ujar Tania mengawali untuk memperkenalkan diri. Ali menatap uluran tangan Tania dan memohon maaf melalui tatapannya, dilanjutkan dengan mengacungkan kedua tangannya yang tertangkup. "Iya, Tania. Aku Ali." "Potek hati Bepe ditolak salaman sama Aa ganteng. Yassalam, gini amat nasib gue!" pekik Tania tak terima. "Behahaha! Emangnya enak hahaha!" Rilly tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi Tania yang kentara patah hatinya. "Anjir anjir ngakak gue, Sist! 'A Ali ogah salaman sama situ. Tangan lo terlalu nista buat doi, Tan!" kata Alwa tanpa tedeng aling-aling. Tania mengusap dadanya yang selalu diledek rata, saking ratanya sahabat-sahabatnya sampai hati mengejeknya mengenai issu dia yang masih memakai miniset di umurnya yang sudah menginjak 22 tahun. Tania jelas tak terima! Untuk ukuran d**a segini ya pas lah. Bohong masalah miniset! Dia bahkan sudah memakai bra ukuran 32B. Dasar emang anak-anak yang lain saja yang dadanya kegedean. Ali lagi-lagi tertawa melihat tingkah empat wanita di depannya. Ajaib, unik, lucu, dan asyik. Ali bersyukur bisa mengenal mereka. "Udah ah udah. Sekarang giliran gue. Assalamu'alaikum, Aa Ali. Nama gue Moura. Mau panggil Moura boleh, mau panggil Sayang juga Dedek ikhlas. Inget dong sama gue? Yang waktu itu__." "Yang waktu itu ngajakin aku nikah hahaha." Ali mengakhiri kalimatnya dengan tawa keras. Jelas membuat ke empat wanita di depannya ini merasa takjub dengan pesona tawa Ali yang aduhai, membuat s**********n kedat-kedut kalau kata Rilly. "Lah? Rill, dia masih inget. Woy! Karung mana karung? Gue malu!" "Bwahaha b**o sih lo, Mou!" Rilly ikut tertawa bersama Ali yang juga belum menghentikan gelakannya. Sedangkan Tania dan Alwa merasa heran. "Tunggu-tunggu ... Ini bahas yang si Moura teriakin tubuh 'A Ali dan tetekbengeknya-- serba-able kan?" tanya Alwa meyakinkan. "Iya banget!" "Behahahahaha anjir maluu, Mou! Doi inget!" "Udah ah jangan bahas ginian. Gue suka pengin mati aja kalau gini caranya." "Atu lagi atu lagi. Halooo Aa Ali yang gantengnya aduhai buat hati gue cenat-cenut. Kenalin yang paling cantik ini, gue Alwanis sih namanya. Tapi nggak tahu kenapa mereka panggilnya Sumo. Jadi ikutan panggil Sumo aja biar akrabnya sama kayak mereka. Eh tapi mau panggil Darling juga nggak papa." Ali terkekeh lagi dan lagi dia hanya mengacungkan tangannya tanda memberikan salam jarak jauh. "Kamu nggak akan ngenalin diri gitu?" tanya Ali pada Rilly yang masih terdiam. "Ciye ah kiw! Si Aa bisa genit juga." "OMG, Rill. Senyumnya bikin ovum gue siap dibuahi," ceplos Alwa. "Meleleh hati dedek, Bang!" Tania melanjutkan. "Suka pengin nyeret ke Kantor Urusan Agama jadinya." Alwa kembali menyela, "Aa Ali mau nggak sama gue? Nikah yuk!" "Nakal kamu, Yang!" Suara tegas dari belakang menginterupsi obrolan mereka. Alwanis a.k.a Sumo tergugup dan menepuk bibirnya sekali seraya menghampiri Fahri yang menunjukkan wajah masam padanya. "Aduh Fahrinya aku marah. Bercanda tadi ih. Aku kan cintanya sama kamu doang." "Iya becanda kok. Kok ke sini?" ujar Fahri sembari meraih kepala Alwa dan mengecup pucuk kepalanya sayang. "Emang nggak boleh? Lagian kamu, katanya ngajak main, tapi tiba-tiba ngebatalin secara sepihak gara-gara kutil satu itu doang." Alwa melirik Rilly dan mendelik kesal. "Ya maaf, yang penting kan sekarang ketemu." Fahri mengecup dahi Alwa dalam dan merangkulnya sambil berjalan ke arah sofa. "Krik krik krik. Dunia bukan milik lo berdua aja woy! Hargai kaum kami yang zombelo. Mengertilah keadaan hati kami yang cenat-cenut sakit kayak ditusuk-tusuk jarum cekit-cekit ... Di sini kaum sudah terlalu lama sendiri semua! Jaga sikap kalian ya!" tegur Rilly kesal. "Li. Adek gue ngode tuh!" "ABANG! APAAN SIH! BIKIN p****t GUE BLUSHING AJA!" Tawa orang-orang di sini memenuhi ruangan setelah Rilly mengucapkan kalimat unfaedah itu. "Rame ya mereka, Ri?" Ali berbasa-basi pada Fahri. "Ini sebenarnya kurang satu. Harusnya ada si Melati. Kemana tuh anak?" "Dia mau nguras dompet si Farel dulu, Bang. Malam minggu kan jadwal apel dia sama si pujaan hati," jawab Moura membantu menjawab. "Mana Martabak pesanan gue?" "Pasti yang ada pisangnya deh. Gue yakin!" kata Tania menebak. "Yoi! Gue yakin banget tuh. Heran gue sama si Rilly. Hewan favorit, burung. Buah favorit, pisang. Penuh dengan keambiguan," ujar Alwa menyahuti Tania. "Kita-kita wajar suka burung doang, nggak borongan kayak si Rilly yang juga suka Burung ditambah pisang lagi. Kayak yang nggak tahu si Rilly aja! Otaknya ngeres mulu penuh debu." Moura menimpali. "Wenak aja lo betiga! Emang dasar elo elo dan elonya aja yang m***m! Favorit gue amang Burung dan Pisang." Rilly dalam hati terkikik geli. Dia sendiri merinding menyebut dua makhluk biotik tersebut. Memang penuh keambiguan. Anjriiiiiit ... otak gue! Kalau gini caranya, gue suka pengin minta cepat dihalalin Aa Ali, biar ovum gue bisa dibuahi doi. Aish! Kidding, Sist! "Udah ah, bacot! Siniin Bang Martabak guenya!" ucap Rilly meminta. "Kalem cuy! Belum adzan!" "Bentar lagi juga adzan. Abang, siniin! Ntar dicolong si Sumo lagi." "Kurang ajar ya punya adek ipar. Suka pengin bunuh pake picau telus gelindingin dili lo ke julang!" Alwa mendengus kesal dan menjitak kepala Rilly pelan. "Wets! Jangan jitak-jitak Adek aku." Fahri membawa Rilly dalam pelukannya. Sedangkan Alwa, mendadak merasakan sesak di hatinya karena untuk ke sekian kalinya ia merasa tersisihkan. "WAH INI DIA KISAH DILEMA DARI SEORANG FAHRI SAAT DIHADAPKAN DENGAN PILIHAN MEMBELA ADIK SENDIRI ATAU PACAR! Yihiii...." Alwanis mengambil clutch-nya hendak pergi namun Fahri menahan tangannya dengan lembut. "Jangan pengambekan gitu ah. Ini aku beli banyak kok. Kita bukber semuanya oke? Mama di bawah masak banyak lho, Mama juga kangen kamu katanya." Alwa yang memang paling sering mengalah daripada Fahri, menghela napasnya sejenak dan tersenyum lembut pada kekasihnya sekaligus kakak dari sahabatnya itu. "WOY! PASANGAN UNFAEDAH! DILARANG KERAS BERMESRAAN DI DEPAN PARA ZOMBELO, KARENA AKAN MENYEBABKAN KANKER DAN KEGUGURAN PADA JANIN. UNTUK KAUM ZOMBELO, HARAP TENANG! INI UJIAAAAAN!" "Rilly!!! Berisiiiiik!" Wadow! Kanjeng ratu rumah nyamber aja kayak petir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD