Yuni bergegas membuka tirai batas ruang perawatan, ingin segera meminta penjelasan dari mereka berdua. Ia hendak melabrak adiknya, Mellisa.
"Mel!... Kenapa Mas Surya? Katakan cepat, ada apa?!" teriak Yuni, matanya terbelalak penuh amarah.
Mellisa dan Yuli pucat melihat kemarahan Yuni. Yuli mencoba tetap tenang, meski gemetaran, dan buru-buru berbohong, "Eh… itu kak Yuni, Mas Surya cuma mencari teman yang menghamili Mellisa."
Yuni menatap tajam ke arah Mellisa. "Benar? Apa yang dikatakan Yuli itu benar, Mel?"
"B-benar… kak," jawab Mellisa gugup.
Namun Yuni tak percaya begitu saja. Suaranya bergetar ketika berkata, "Baik… tapi bila kamu berbohong, aku takkan memaafkanmu, Mel. Dan Yuli, kuharap jangan ikut-ikutan membohongi kakak!" Yuni berbalik dan keluar dari kamar, hatinya masih kesal dan penasaran.
Mereka saling pandang, bingung apakah harus berterus terang atau tetap menyimpan rahasia ini.
Di luar kamar, perasaan Yuni masih campur aduk—kesal, jengkel, dan curiga. Dalam hati ia berkata, "Aku harus menyelidiki ini. Apakah Surya yang menghamili, atau temannya? Bagaimana kalau Mas Surya sendiri…?"
Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Kakinya mulai terasa lemah. Tanpa sadar, Yuni ambruk di ruang perawatan.
Beberapa orang yang melihatnya berteriak dan berlari menolong.
"Mbak… mbak, kenapa?" tanya ibu hamil melihat kondisi Yuni lemah. Tapi Yuni tak menjawab ia sudah tak sadarkan diri.
"Tolong… tolong, pak!" kata seorang ibu hamil panik dan memanggil seorang bapak yang sedang lewat sambil menunjuk ke arah Yuni yang tergeletak di lantai.
Lelaki itu berlari kearah dimana Yuni tergeletak..Ia membopong tubuh Yuni tanpa banyak bicara.
Sedangkan di dalam ruangan kamar perawatan Yuli dan Mellisa mendengar adanya keributan dari luar. Mereka bergegas keluar untuk melihat apa yang terjadi.
Mereka terkejut melihat kakak mereka, Yuni, pingsan di lantai. Segera mereka menghampirinya sambil berteriak panik,
"Kak! Kak, kenapa?! Pak, tolong kakak aku!" Yuli memeriksa denyut nadi Yuni yang lemah.
Beberapa orang langsung menolong, membawa Yuni ke dalam ruangan perawatan dan membaringkannya di tempat tidur. Sementara yang lain berlari memanggil perawat.
Tak lama kemudian, perawat dan dokter berdatangan memeriksa kondisi Yuni. Mellisa merasa cemas, hatinya berdebar takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Dengan cepat ia menelepon Surya di kantornya.
Surya yang tengah memeriksa laporan keuangan perusahaan terkejut mendengar telepon dari Mellisa.
"Ada apa lagi, Mel? Kan aku sudah bilang aku akan bertanggung jawab!"
"Mas… dengar dulu… kak Yuni pingsan di rumah sakit, kondisinya belum sadar. Aku takut, Mas!" suara Mellisa bergetar.
"Apa?! Yuni pingsan?! Ok, aku segera ke sana. Kamu jagain kakakmu," teriak Surya, nadanya tegang.
"Baik, Mas!" jawab Mellisa singkat.
Surya segera membereskan pekerjaannya, lalu izin pulang dari kantor dan bergegas menuju rumah sakit.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, hati Surya galau. Dalam batinnya ia terus bertanya, "Kenapa Yuni pingsan? Apa dia sudah tahu? Atau Mellisa yang membocorkannya?" Pikiran itu membuatnya makin kalut. Ia sadar kebohongan ini tidak bisa terus berlanjut. Surya mulai berpikir untuk berterus terang, walaupun itu berarti bisa menghancurkan rumah tangganya dengan Yuni.
Beberapa saat kemudian, Surya sampai di Rumah Sakit Harapan Kasih. Ia memarkir mobil, lalu melangkah cepat masuk ke lift menuju ruang perawatan tempat Yuni berbaring.
Saat pintu kamar terbuka, Surya melihat Mellisa dan Yuli sudah ada di dalam. Wajah Mellisa sembab, matanya bengkak. Surya langsung bertanya dengan nada khawatir,
"Mel? Gimana kakakmu? Sudah sadar?"
Mellisa terdiam, tidak mampu menjawab. Yuli, yang berdiri di samping ranjang, akhirnya angkat bicara memperkenalkan diri,
"Kak Surya… aku Yuli, temannya Mellisa. Kak Yuni belum sadar, tapi dokter bilang kondisinya tidak mengkhawatirkan."
Surya hanya mengangguk, lalu tersenyum tipis. Ia menoleh ke arah Yuni, mendekat, menggenggam tangannya, dan mengelus rambutnya dengan penuh sayang. Mellisa yang melihat itu hanya bisa diam. Ada rasa cemburu, tapi ia berusaha menahannya.
Tiba-tiba, Yuni bergerak. Kelopak matanya perlahan terbuka. Ia menatap sekeliling, lalu melihat Surya ada di sisinya.
"Mas Surya? … Mas?" suaranya lirih, kepala masih terasa berat.
Surya langsung mendekat, menggenggam tangannya lebih erat.
"Iya, Yun… aku di sini. Gimana sekarang? Sudah lebih baik?"
"Ya, Mas… sudah agak baikan dari sebelumnya" jawab Yuni lemah. Lalu ia menoleh, heran. "Kok Mas ada di sini? Siapa yang kasih tahu?"
Surya tersenyum menenangkan.
"Mellisa yang menelpon aku. Begitu dengar kabar, aku langsung ke sini."
Mendengar itu, Yuni menoleh ke arah Mellisa yang berdiri di samping ranjang. Dengan lemah ia mengangkat tangan, lalu menggenggam tangan adiknya.
"Mel… terima kasih ya. Kamu sudah bantu kakak panggil Mas Surya."
Mellisa membalas genggaman itu erat-erat, senyumnya tipis menutupi kegelisahan di hatinya.
"Iya, Kak Yuni… sama-sama. Kakak istirahat saja, jangan terlalu banyak pikiran. Biar soal kehamilan ini, Mellisa yang tanggung jawab."
Surya terdiam, menatap Mellisa dengan raut sulit dibaca, sementara Yuni memejamkan mata kembali, mencoba menenangkan hatinya.
Surya mendatangi Mellisa dan berbisik kepadanya.
“Mel… ikut aku keluar, aku ingin bicara dengan kamu. Aku tunggu di luar.”
Mendengar perkataan Surya, Mellisa mengangguk perlahan. Ia sempat menoleh pada Yuli dan berpesan agar menjaga kakaknya, lalu berjalan menyusul Surya.
Mereka menuju tempat agak sepi di pojok rumah sakit. Di taman kecil yang jarang orang lalu-lalang, hanya terdengar suara angin menyapu dedaunan dan sesekali langkah perawat yang terburu-buru. Surya duduk di bangku, Mellisa ikut duduk di sampingnya, suasana hening menekan hati mereka.
Surya menatap Mellisa dengan penuh selidik.
“Mel… apakah kakakmu tahu soal ini?”
Mellisa menunduk, tangannya gelisah memainkan ujung bajunya.
“Belum tahu, Mas… tapi kak Yuni sudah curiga.” Suaranya lirih.
Surya terdiam. Pandangannya kosong menembus jauh, seolah mencari jawaban yang tak kunjung datang. Beberapa detik kemudian ia menarik napas panjang lalu berkata dengan nada berat.
“Mel… kita tak bisa terus begini. Kita harus berterus terang kepada Yuni, walaupun ini berakibat buruk untuk semuanya.”
Mellisa terpaku. Kata-kata itu menghantam batinnya. Meski takut, ia tahu Surya benar.
“Aku juga sudah nggak bisa menahan kebohongan ini. Lambat laun kakakku pasti tahu akan semuanya ini.”
Mereka terdiam lagi, hanya tatapan penuh kegelisahan yang saling bertemu, seakan sama-sama tahu badai besar sedang menunggu di depan.
Mereka terdiam, hanya tatapan penuh kegelisahan yang saling bertemu. Suasana makin berat ketika tiba-tiba terdengar suara dari kejauhan.
“Mas Surya! … Surya!”
Suara itu terdengar jelas, membuat Surya sontak menoleh. Seorang perempuan melambaikan tangan ke arahnya sambil berjalan mendekat.
Surya terperanjat, jantungnya berdetak kencang. Kenapa dia ada di sini? Siapa yang memberi tahu kalau aku ada di rumah sakit ini?
Mellisa ikut menoleh, wajahnya pucat pasi.
Surya berdiri dari duduknya, langkahnya sempat goyah. Bayangan buruk langsung menyeruak dalam benaknya.