Surya membelokkan mobilnya menuju rumah sakit, wajahnya cemas, tangannya dingin, pikirannya kalut. Beberapa menit kemudian ia sudah tiba, lalu dengan langkah tegap menuju ruang perawatan Mellisa.
Begitu pintu terbuka, Mellisa terkejut melihat kedatangan Surya.
“Mel, bagaimana? Sudah agak sehat?” tanya Surya pelan.
Mellisa tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk sambil merapikan rambut panjangnya. Lalu dengan suara gelisah ia berkata,
“Mas… gimana kalau kakakku tahu semua ini?”
Surya cepat menenangkan, “Tenang. Kakakmu takkan tahu. Yang penting sekarang kamu jaga kesehatan, juga bayi dalam kandunganmu.”
“Tenang? Mas, aku hamil! Aku butuh kepastian. Mas harus tanggung jawab!” suara Mellisa meninggi.
Surya menarik napas panjang, berusaha sabar. “Mel, kamu tidak bisa lagi tinggal bersama kakakmu. Aku akan sewa apartemen untukmu. Di sana kita lebih leluasa.”
Mellisa langsung menoleh tajam. “Maksudmu aku tinggal sendirian? Aku tidak mau, Mas!”
“Aku tidak meninggalkanmu. Aku akan temani, tapi tidak setiap saat. Yuni tetap butuh aku.” Surya mencoba menjelaskan.
Wajah Mellisa mengeras, matanya berkaca-kaca. “Aku tidak mau jadi istri kedua! Mas pilih aku atau kakakku?”
Surya terdiam lama. Ia tahu kata-kata itu berat. Akhirnya ia berkata lirih, “Mel… aku tidak bisa menceraikan Yuni. Tapi aku akan tanggung semua biaya hidupmu sampai anak ini lahir.”
Air muka Mellisa berubah pucat. Ia gemetar, lalu tiba-tiba meraih garpu bekas makanan dan mengarahkannya ke perutnya.
“Kalau begitu biar aku gugurkan saja bayi ini!” teriaknya histeris.
“Mel! Jangan gila!” Surya berteriak panik, segera merebut garpu dari tangannya.
Mellisa menangis keras, terisak tak henti. “Nikahi aku, Mas… aku malu! Apa kata orang, teman-temanku, semua orang… aku mengandung tanpa suami. Aku tak sanggup hidup begini!”
Surya terdiam, wajahnya tegang. Pandangannya terpaku pada Mellisa yang terus menangis, sementara dalam hatinya,
badai besar kian mengguncang.
Namun percakapan mereka mendadak terhenti ketika pintu kamar perawatan terbuka. Yuni masuk sambil membawa tas kecil berisi bekal makanan untuk Mellisa
Ia tertegun melihat Surya duduk di samping ranjang Mellisa. Alisnya mengernyit, jelas terheran-heran.
“Mas? Kenapa ada di sini? Kok nggak masuk kerja?” tanya Yuni dengan nada bingung.
Suasana kamar langsung berubah hening. Mellisa buru-buru mengusap air matanya, menyembunyikan wajahnya dengan selimut. Surya sendiri kaget, jantungnya berdetak cepat, lidahnya kelu untuk menjawab.
Yuni melangkah lebih dekat, menatap suaminya dengan tatapan penuh tanda tanya. Ia sama sekali tidak menyadari percakapan panas yang baru saja terjadi antara Surya dan Mellisa.
-Surya buru-buru berdiri dan berkata,
"Eh… i-iya, ini aku hanya mampir sebentar untuk melihat keadaan Mellisa. Sekarang aku mau berangkat kerja," dalihnya terbata-bata.
Ia menunduk, mencium dahi Yuni dengan lembut, lalu menoleh sekilas ke arah Mellisa sebelum melangkah keluar dari kamar.
Yuni tetap memandangi Surya berjalan pergi, hatinya tak bisa menahan rasa curiga. Ada sesuatu yang disembunyikan Surya, sesuatu yang besar, yang belum ia ketahui.
Sementara itu, Mellisa menoleh ke Yuni yang sedang membawa makanan untuk dirinya, ia sadar bahwa ia sudah mengkhianati kakaknya. Mellisa sebenarnya ingin mengungkapkan Rahasia ini namun ia tak tega.
Mellisa menunduk, menatap perutnya, bibirnya bergetar.
"Kak… aku hamil! Apa perlu aku gugurkan kandungan ini?" suaranya lirih, penuh putus asa.
Yuni terkejut, tapi segera menenangkan adiknya.
"Jangan, Mel… kalau kau tak mau, biar aku yang membesarkan anakmu itu! Lagi pula, aku dan Mas Surya belum memiliki anak. Jangan lakukan sesuatu yang gegabah."
Mellisa menunduk lebih dalam, kemudian menatap mata Yuni dengan ekspresi gelisah. Ia memberikan tanda namun Yuni tak paham maksudnya.
"Tapi… kalau yang menghamili aku orang yang terdekat… apakah kak tetap mau membesarkan anak ini?" ucapnya sambil mengelus perutnya. Terasa gerakan kecil di dalamnya, membuat hatinya campur aduk.
Yuni tak menjawab pertanyaan Mellisa, ia tidak mengerti maksud orang " terdekat". Namun Yuni merasakan ada sesuatu yang ingin disampaikan Mellisa tentang siapa yang menghamilinya.
Mereka kemudian saling bicara, saling berpelukan hangat, Mellisa dan Yuli merasakan kehangatan keluarga yang tak pernah tergantikan oleh apapun juga. Ketika mereka asyik berbicara.
Tiba-tiba seorang perempuan seumur dengan Mellisa memasuki kamar itu dengan langkah perlahan.
"Mel! Kamu kenapa? Aku cari-cari di kampus nggak ada, ternyata kamu ada di sini," kata Yuli, teman akrab Mellisa.
Yuli langsung memeluk Mellisa yang masih tampak lemas. Mereka sudah berteman sejak SMA, dan Yuli tahu segala sesuatu tentang Mellisa. Mellisa mengangguk ke arah Yuni.
"Kak Yuni, apa kabar?" sapa Yuli.
"Baik. Yuli, ngobrol saja yah, kakak pergi cari makan dulu," jawab Yuni, mencoba tidak mengganggu keakraban mereka.
Yuli menatap Mellisa dengan cemas.
"Sebenarnya kamu sakit apa sih, Mel? Kok kayak lemas gitu?"
Mellisa menunduk, memegang tangan Yuli, dan air mata menetes.
"A-aku hamil, Yul..." ucapnya terbata-bata.
"Hamil? Maksudmu setelah berhubungan dengan suami kakakmu itu, seperti yang kau ceritakan sebelumnya?" Yuli menatap dengan mata terbelalak.
Mellisa hanya mengangguk perlahan, tangan mereka saling menggenggam erat. Yuli hanya bisa menggeleng, tak percaya dengan semua itu.
"Mel! Kamu nekad! Kan tahu itu suami kakakmu, kenapa juga kamu mau berhubungan dengannya?"
Mellisa menunduk, suara pelan:
"Iya, Yul… aku salah… tapi aku juga mencintai Surya, suami kakakku."
"Cinta? Ini bukan cinta, Mel… ini nafsu!" jerit Yuli.
"Kalau sudah begini, bisa runyam urusannya. Apakah kakakmu tahu Surya yang menghamilimu?"
"Belum, Yul…" jawab Mellisa lirih.
Percakapan mereka makin intens, saling menguatkan, tapi tanpa disadari terdengar oleh Yuni yang baru saja masuk. Yuni bersembunyi di balik tirai pembatas ruang perawatan.
Yuni mendengar sedikit percakapan mereka tapi mereka menyebut Surya .Kenapa Surya disebut dalam percakapan mereka? Apakah Surya yang menghamili adikku? Kecurigaan Yuni semakin kuat. Jantungnya berdetak kencang, tubuhnya bergetar hebat. Pandangannya mulai berkunang, antara ingin masuk dan bertanya langsung atau menahan diri. Dugaan yang selama ini ia pendam kini perlahan menemukan jawabannya… tapi apakah ia sanggup menerima kenyataan itu?
Bersambung.....