Mertua vs menantu

1019 Words
Surya bimbang setelah mendengar perkataan ibunya yang menyuruhnya menikahi Mellisa. Walaupun sebenarnya ia tak menampik, di dalam hatinya muncul sedikit rasa kalau memang harus menikah dengan Mellisa. Namun, cintanya kepada Yuni terlalu dalam. Bagaimanapun juga, Yuni sudah setia menemaninya sejak dulu, saat ia tak punya apa-apa, sampai akhirnya mampu membeli rumah, mobil, dan meraih jabatan yang baik. Ia tak mau kehilangan Yuni, tapi ia juga tak bisa begitu saja membantah ibunya yang begitu ingin menimang cucu. Kata-kata ibunya terus terngiang di kepalanya: “Perempuan itu diciptakan untuk melahirkan, tapi kalau tidak bisa memberikan anak, tidak ada artinya.” Kalimat itu menusuk, kejam, tapi juga terasa benar baginya. Surya pun merenung, “Aku juga ingin punya anak… dari Yuni.” Segala cara sudah dilakukan—terapi, pengobatan, bahkan mencoba program bayi tabung yang sekali suntik menghabiskan jutaan rupiah. Semua itu gagal. Hingga akhirnya mereka pasrah, mungkin inilah jalan Tuhan, tidak diberi keturunan. Namun kini, Mellisa hamil… “Bagaimana kalau aku menikahinya? Bukankah ini kesempatan untuk punya keturunan…” pikirannya melayang jauh, menimbulkan kegelisahan yang makin menyesakkan. Malam semakin larut. Surya akhirnya terlelap dengan pikiran kacau. Sementara itu, di rumah sakit, Yuni masih terjaga, belum sadar bahwa rumah tangganya sebentar lagi akan diterpa badai besar. Ia mulai menguap, matanya berat, lalu tertidur di sisi ranjang Mellisa. Mellisa menoleh, menatap kakaknya yang tidur di sampingnya. Hatinya penuh sesal dan rasa bersalah, tapi ia tak tega membangunkan Yuni. Ia hanya bisa menahan air mata, berbisik lirih, “Maafkan aku, Kak…” Keesokan harinya pagi-pagi sekali Yuni terbangun. Saat itu menunjukkan pukul 4 pagi... Yuni bergegas mengambil mukenanya dan ia tak lupa sholat subuh, berdoa meminta agar diberikan kekuatan dari segala masalah kehidupan rumah tangganya, terutama keinginannya untuk melahirkan seorang buah hati bersama Surya. Setelah sholat subuh, Yuni menoleh ke arah Mellisa, adik tirinya yang masih tertidur lelap. Ia menatap Mellisa dengan iba lalu menghela napas panjang. “Mel... bagaimana nanti bayi ini? Tak punya ayah... dan kamu harus menanggung beban semua ini,” kata Yuni dalam hati, penuh kecemasan. Ia sadar bahwa Surya butuh sarapan, kemudian ia berniat pulang ke rumah. Ia mencoba menelepon Surya barangkali Surya sudah bangun dari tidurnya. Namun telepon tak juga diangkat meski sudah beberapa kali mencoba. “Mungkin Surya masih tidur... biarlah aku pulang sendiri,” pikir Yuni. Yuni memesan driver online, jaraknya pun tidak jauh dari rumah. Tak berselang lama kemudian mobil datang menjemputnya. Ia pun pulang. Sesampainya di rumah, Yuni mengetuk pintu sambil memanggil. “Surya!... Surya!” teriak Yuni dari luar sambil menggedor pintu dengan keras. Ia hendak mengetuk kembali, namun urung ketika mendengar suara langkah kaki mendekat dari dalam. “Surya!... itu kamu? Bukain pintunya, aku lupa bawa kunci!” kata Yuni sambil memegang gagang pintu. Tak lama kemudian pintu terbuka... wajah Yuni seketika pucat begitu melihat siapa yang berdiri di balik pintu itu. Ternyata yang membuka pintu adalah ibu Surya. Seketika Yuni gugup, jantungnya berdebar kencang. Dengan senyum kaku ia mencoba menyapa, “Ibu? Kapan datangnya?... kenapa ngga bilang dulu?” Ucap Yuni basa-basi, padahal sebenarnya ia sudah tahu kalau ibu Surya datang semalam. Ibu Surya tidak langsung menjawab. Tatapannya tajam menelusuk wajah Yuni, jelas sekali ada rasa tak senang di matanya. Hingga akhirnya ia membentak, “Dari mana saja kamu, Yun? Itu lihat dapur berantakan! Kamu ini gimana sih jadi istri? Bukannya mengurus suami, malah pulang pagi begini!” Yuni terdiam, berusaha menahan perasaannya. Ia sudah terbiasa dengan sikap mertuanya yang sering membuatnya merasa tak berguna. Apa pun yang ia lakukan selalu salah di mata ibu Surya. Hatinya perih, tapi ia hanya bisa menunduk, berusaha bersabar dengan semua tuduhan dan aturan yang kerap datang dari mertuanya. Yuni tak menanggapi perkataan mertuanya. Ia berlalu begitu saja. Mertua yang melihat kelakuan Yuni hanya menggumam, “Ngga sopannya sama sekali… dikasih tahu main pergi aja. Wuh!” Yuni melanjutkan membersihkan piring dan gelas yang masih berserakan karena semalam tidak sempat akibat Mellisa pingsan. Mertua memperhatikan dari jauh dengan tatapan tajam penuh ketidaksukaan. Tak lama kemudian Surya bangun. Dilihatnya Yuni sudah pulang, ia langsung menghampiri dan hendak mencium dahinya. Namun, Yuni menolak, wajahnya cemberut, seolah tak menggubris kedatangannya. Surya heran—biasanya Yuni suka jika ia memberi perhatian begitu. “Mungkin karena bertengkar dengan ibu…” pikirnya. Ia berusaha menghapus prasangka, bersiap-siap untuk berangkat kerja. Tiba-tiba ibunya memanggil, “Mama ikut kamu aja. Mama mau tinggal di rumah Henny. Di sini mama ngga betah lihat istrimu itu, ngga ada sopannya sama orang tua!” Surya tercekat, tapi cepat menjawab, “Iya, Ma. Nanti Surya antar ke rumah Henny.” Yuni yang mendengar hanya membatin, “Syukur… kalau mertua ngga tinggal di sini. Bisa jadi neraka tiap hari mendengar ocehan yang ngga penting.” Dalam perjalanan menuju rumah Henny, ibunya mulai bicara dengan suara tinggi, “Surya! Istrimu itu kurang ajar. Mama bicara, eh dia malah ninggalin mama begitu aja.” Surya menggenggam setir erat, mencoba menahan sabar. “Ma, udahlah… jangan diperpanjang. Surya capek lihat Mama dan Yuni selalu bertengkar. Apa ngga bisa baikan sedikit saja?” “Baikan? Dengan perempuan kayak dia? Ah, kamu ini selalu belain istrimu! Sudah ngga bisa kasih anak, masih berani melawan mama lagi!” bentak ibunya. Surya menoleh sejenak, wajahnya serius. “Cukup, Ma! Jangan bicara seperti itu ke Yuni. Surya mencintai dia. Walaupun menurut Mama Yuni tidak sempurna, buat Surya dialah yang terbaik.” Akhirnya sampai dikediaman Henny adiknya Surya..lalu ibunya keluar dari mobil tanpa bicara sedikitpun. Ia menyalami Henny dan kedua anaknya , kelihatan mama senang ketemu sama cucu yang lucu. Henny melambangkan tangan kearah Surya, dan Surya membalas lambaian tangan Henny. Namun, di kepalanya berkecamuk: ibunya yang menuntut cucu, Yuni yang makin dingin, dan Mellisa dengan rahasia besar di rahimnya. Semuanya menunggu jawaban darinya. Namun laju mobil Surya tak mengarah ke kantor seperti biasanya. Tangannya justru memutar setir ke arah rumah sakit, tempat Mellisa dirawat. Ada sesuatu yang membebaninya hingga ia tak bisa langsung bekerja. Jantungnya berdetak lebih cepat seiring bayangan wajah Mellisa yang hamil itu terlintas di benaknya. “Kenapa aku ke sini? Apa sebenarnya yang kucari?” pikirnya. Semakin dekat dengan rumah sakit, hatinya makin gelisah. Ia berhenti tepat di depan pintu masuk… Bersambung. -
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD