Dalam perjalanan ke rumah sakit, Yuni semakin kuatir akan terjadi sesuatu yang lebih buruk. Sepanjang jalan ia menggenggam tangan Mellisa erat sambil terus berdoa dalam hati. Sesekali bibirnya bergetar memanggil lirih, “Mel… Mel bangun, jangan tinggalin kakak…” Namun Mellisa tetap tidak bergerak, matanya terpejam, hanya denyut nadinya yang masih terasa meski lemah.
Surya yang menyetir di depan tidak kuasa menahan rasa sedih. Berkali-kali ia melirik lewat spion, melihat kondisi Mellisa yang terkulai. Pikirannya kacau, antara takut dan sedih bercampur jadi satu. Ia tidak banyak bicara, hanya fokus membawa mobil secepat mungkin menuju rumah sakit.
Sesampainya di sana, dokter jaga langsung membawa Mellisa ke ruang UGD untuk mendapat perawatan medis. Surya dan Yuni menunggu dengan cemas di luar ruangan.
Beberapa jam kemudian, dokter keluar dengan wajah sedikit tenang.
“Pasien sudah stabil,” ujarnya. “Ia mengalami komplikasi karena kehamilannya. Tubuhnya masih belum terbiasa dengan janin di dalam perut, tapi tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Dengan istirahat cukup, kondisinya akan membaik beberapa minggu ke depan.”
Mendengar itu, Surya dan Yuni langsung menghela napas lega. Semua pikiran buruk mereka perlahan hilang.
Sebelum dokter pergi, Yuni memberanikan diri bertanya, “Dok, apakah kami boleh menemui Mellisa sekarang?”
“Iya, silakan. Pasien sudah sadar dan bisa dikunjungi,” jawab dokter singkat, lalu meninggalkan mereka.
Dengan tergesa Yuni dan Surya masuk ke ruang perawatan. Di sana, Mellisa sudah membuka mata. Ia mencoba bangun, namun wajahnya tampak pucat, matanya sembab bekas menangis. Saat melihat keduanya datang, Mellisa terlihat terkejut. Wajahnya ketakutan dan ia tidak berani menatap mereka.
Yuni kemudian mendekati Mellisa. Namun Mellisa tidak berani menatap kakaknya, takut dimarahi lagi seperti sebelumnya. Tapi kali ini, Yuni menahan emosinya. Sikapnya berubah lebih tenang, seolah menerima keadaan yang sudah terjadi.
“Mel… kakak nggak mau terlalu keras sama kamu lagi. Sekarang kamu jaga kesehatanmu dulu, ya. Soal kehamilanmu itu, nanti kita bicarakan lagi. Yang penting sekarang kamu sehat dulu, supaya bayi ini juga bisa sehat nantinya,” kata Yuni dengan nada lembut.
Mellisa terkejut mendengar nada kakaknya yang berbeda. Tanpa sadar, air matanya jatuh, lalu ia memeluk Yuni erat-erat.
“Kak… maafin Mellisa. Aku nggak bisa jaga diri,” ucapnya sambil menangis.
Yuni berusaha menahan air matanya. Meskipun hatinya sedih, ia membalas pelukan adiknya dengan hangat. Surya yang berdiri di samping hanya bisa terdiam, hatinya ikut terenyuh. Dalam pikirannya hanya satu yang terus berputar: Apakah bayi ini akan lahir tanpa ayah? Atau… apakah harus ada jalan lain, meski itu berarti janin ini tidak bisa dilanjutkan?
Ruangan menjadi hening. Tidak ada yang berbicara, hanya saling tatap dengan banyak pertanyaan yang menggantung.
Tiba-tiba, suara dering telepon memecah keheningan. Yuni dan Mellisa menoleh ke arah Surya, yang buru-buru mengambil handphone-nya. Nama ibunya tertera di layar.
“Ibu? Malam-malam begini kenapa telepon?” batin Surya gelisah.
Saat diangkat, terdengar suara tinggi dari seberang.
“Surya! Mama ada di depan rumah kamu. Ini pintunya terkunci, mama udah capek ketok-ketok! Kamu lagi di mana?” suara ibunya meninggi.
Surya kaget. “Bu… saya lagi di rumah sakit. Mellisa pingsan,” jawabnya cepat.
“Pingsan? Mellisa? Kok bisa, Sur?” tanya ibunya dengan nada selidik.
“Kecapekan, Bu. Tubuhnya memang lemah,” jawab Surya singkat, berusaha menahan kegugupan.
“Ya sudah. Cepat pulang! Mama tunggu di sini, di luar gelap banyak nyamuk!” bentak ibunya lagi.
Surya menghela napas, lalu menutup telepon. Dengan wajah tak tenang, ia berkata,
“Yun, ibu datang. Ayo kita pulang, dia udah nunggu dari tadi.”
Yuni langsung merasa berat. Ia tahu mertuanya itu sering menyindir kenapa ia belum juga punya anak. Dengan nada malas, ia menjawab,
“Sur, kamu aja yang pulang. Aku masih mau di sini jagain Mellisa.”
Tak lama berselang Surya sampai di rumah. Kemudian ia menghampiri ibunya yang sedang duduk di teras sambil bergumam kesal karena digigit nyamuk.
Surya salim mencium tangan ibunya dan berkata,
"Ma..kenapa ngga bilang mau datang? Kan bisa dijemput, jadi ga mendadak seperti ini." Surya mengeluh tentang kedatangan ibunya yang tiba-tiba.
"Hape mama lowbat, Sur..tadi ngga bisa menelpon. Baru sampai disini mama mengecas sebentar." dalih ibu Surya.
Surya membuka pintu rumah dan ibunya langsung bergegas masuk..lalu duduk di sofa ruang tamu. Surya menutup pintu lalu berjalan ke dapur mengambil secangkir minuman diberikan kepada ibunya.
"Ma...minum dulu. Ada apa mama kemari mendadak sekali?" Surya berkata dengan nada datar.
"Sur, mama pingin menimang cucu.. gimana si Yuni istrimu belum juga mengandung?" Ibu Surya bertanya penuh selidik.
Surya diam atas ucapan ibunya yang kali ini membuatnya tersudut karena ia memang belum memiliki anak dari Yuni.
"B-blum, Ma," jawab Surya gugup.
"Surya... ceraikan istrimu itu. Cari aja yang lain... masa sudah 5 tahun belum juga punya anak! Mama ijinkan kamu kawin lagi." Ibu Surya berkata meninggi membuat ia tak bisa berkutik.
"Ma..jangan bicara seperti itu..aku mencintai Yuni. Kenapa mama bicara seperti itu." Bantah Surya tanpa menatap wajah ibunya.
Ibunya mendekati Surya dan berkata dengan penuh emosi,
"Sur..dengar!.. perempuan kalau tidak bisa memberikan anak kepada suaminya, perempuan itu tidak ada artinya! Perempuan diciptakan untuk melahirkan, Sur!"
Perkataan ibunya menusuk jantungnya. Surya terdiam, wajahnya pucat. Hatinya guncang, antara membela Yuni atau menuruti perkataan ibunya. Dalam pikirannya ia berontak: Apa benar cinta cukup tanpa anak? Bagaimana kalau mama benar? Apa aku harus menyerah?
Namun di sisi lain, ia tidak sanggup membayangkan hidup tanpa Yuni. Ia terlalu mencintainya.
Lalu ibunya bertanya kembali, "Itu siapa adiknya?"
Surya menjawab kembali, "Mellisa, Bu."
"Sakit apa dia, bisa pingsan seperti itu?"
"Dia itu... sedang hamil, Bu."
"Hah!...hamil? Adiknya istrimu itu lebih subur dari kakaknya. Hmm..lalu ia sudah menikah?"
"Belum, Bu. Ia hamil ditinggal oleh kekasihnya." Surya mengarang cerita sebenarnya, keringat dingin membasahi pelipisnya.
Ibunya terdiam sejenak lalu menatap tajam, sorot matanya penuh perhitungan.
"Gimana kalau bayi itu kamu adopsi aja? Atau..." ibunya mendekat, suara lirih tapi menusuk telinga,
"...kamu nikahi saja adik istrimu itu supaya tak menanggung malu kita semua."
Surya terhenyak. Kata-kata itu menghantam telinganya lebih keras daripada teriakan. Napasnya tercekat. Ia tak bisa membayangkan kalau ibunya sampai tahu kebenaran yang sesungguhnya.
Kata-kata ibunya berputar-putar di kepalanya, "Perempuan diciptakan untuk melahirkan. Kalau tidak bisa, ia tak ada artinya." Kalimat itu seperti cambuk, membuat Surya semakin bimbang antara cintanya pada Yuni atau tekanan keluarga yang menuntut hadirnya seorang anak.